Teori Human Factor SHELL Model

Teori Human Factor SHELL Model
Source: Civil Aviation Authority, 2002
Bagikan

Teori Human Factor SHELL Model

SHELL model adalah suatu diagram praktis yang menggunakan Blok-blok menggambarkan komponen komponen yang berbeda dari faktor manusia, Shell Model sangat membantu dalam memahami faktor manusia,. SHELL model dapat dibangun secara bertahap , satu persatu dengan menggambarkan hubungan antara komponen komponen yang berbeda tersebut, oleh karena itu SHELL model memungkinkan kita untuk mengubah pola pikir kita secara bertahap.

Teori Human Factor SHELL Model

Source: Civil Aviation Authority, 2002

Gambar 1. Shell Model oleh Hawkin (Civil Aviation Authority, 2002)

Konsep SHELL ini berasal dari singkatan dari huruf huruf yang menyusunnya yaitu Software, Hardware, Environtment, Liveware , Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Edwards pada tahun 1972 dan kemudian dimodifikasi oleh Hawkins pada tahun 1975 dengan merubah diagram untuk menggambarkan konsep tersebut.

Manfaat SHELL model adalah merubah paradigma atau cara pandang kita terhadap manusia sebagai tenaga kerja atau bagian dari system.

  • Merubah paradigma manusia sebagai penyebab masalah menjadi penerima masalah
  • Merubah intervensi yang berfokus pada manusia menjadi intervensi yang berfokus pada organisasi tekhnologi dan informasi
  • Merubah paradigma Teknologi dan pekerjaan adalah tetap, manusia yang beradaptasi menjadi tekhnologi dan pekerjaan yang menyesuaikan terhadap kekuatan dan kelemahan manusia
  • Merubah anggapan bahwa orang orang tertentu saja yang mampu melaksanakan suatu pekerjaan mejadi Teknologi yang harus direkayasa untuk tahan eror dan toleran terhadap eror tidak peduli siapapun operatornya
  • Merubah respon ketika ada masalah safety di fokuskan kepada manusia menjadi difokuskan pada tekhnologi
  • Psikologi digunakan untuk mempengaruhi perilaku manusia menjadi psikologi digunakan untuk memahami persepsi manusia sehingga kita bisa memodifikasi sistem untuk manusia

Penjelasan SHELL Model

1.Central Liveware

Central Liveware dalam pusat diagram SHELL adalah manusia, posisi paling kritis sekaligus paling fleksible, manusia memiliki jangkauan kapasitas yang sangat besar antara manusia satu dan manusia yang lain, serta manusia memiliki banyak keterbatasan-keterbatasan, oleh karena itu blok atau bagian-bagian disekitar lifeware lah yang harus disesuaikan kemampuan serta keterbatasan dari Central Liveware, sehingga sebuah sistem kerja yang efektif dapat tercapai.

Untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian agar dapat tercipta sistem kerja tersebut, terlebih dulu kita haru smngerti karakteristik dari Central Liveware:

  1. Bentuk dan ukuran fisik

Untuk mendesign tempat kerja atau alat kerja haruslah memperhatikan ukuran dan bentuk fisik yang berbeda antar manusia, antar suku, dan antara jenis kelamin. Design yang didasarkan ukuran dan pergerakan tubuh yang unik ini sangat penting dilakukan sebelum bekerja, dengan menggunakan data yang tersedia dari pengukuran anthropomentri dan biomekanik

  1. Kebutuhan fisik

Kebutuhan fisik manusia seperti oksigen, air dan makanan.

  1. Karakteristik input

Manusia dibekali dengan panca indera yang mengumpulkan informasi disekitarnya sehingga manusia tersebut dapat merespon kondisi sekitar maupun melakukan pekerjaan. Namun panca indera ini adalah subyek dari kekurangan manusia seperti kehilangan fokus akibat teralihkan perhatiannya oleh suara benda jatuh misalnya.

  1. Memproses informasi

Kemampuan memproses informasi pun sangat berbeda antar manusia, oleh karena itu instrument kerja yang buruk dan desain sistem peringatan yang buruk biasanya adalah hasil dari keterbatasan manusia dalam memproses informasi. Banyak hal yang memperngaruhi manusia dalam memproses informasi, seperti ingatan jangka pendek dan jangka panjang, stress dan motivasi,

  1. Karakteristik output

Setelah informasi diterima dan diproses maka munculah output atau respon yang dapat berupa gerakan ataupun informasi yang dikomunikasikan, oleh karena kemampuan dan keterbatasan manusia berbeda-beda maka kualitas dan kuantitas output juga akan berbeda-beda

  1. Keterbatasan terhadap lingkungan

Manusia memiliki keterbatasan terhadap suhu, kelembaban, tekanan udara, kebisingan, pencahayaan yang kesemuannya dapat mempengaruhi produktifitas kerja serta kesejahteraan hidupnya, kondisi lingkungan kerja juga dapat mempengaruhi sikap dan perilaku manusia.

2. Liveware – Software

Hal ini membahas cara-cara bagaimana manusia berinteraksi dengan komponen yang bersifat non-fisik, seperti prosedur, checklist, aturan-aturan lainnya yang berisi simbol-simbol, istilah dan lay-out yang bertujuan untuk memudahkan pemahaman manusia/pekerja pada saat memahami maksud dari komponen non fisik tersebut sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran atau pemahaman yang dapat menimbulkan celaka/kerugian yang bersifat fatal.

Simbol-simbol yang sederhana saja dapat membingungkan apabila tidak memiliki penjelasan yang dapat dipahami dengan mudah oleh para pekerja. Prosedur kerja yang dibuat oleh perusahan dengan harapan para pekerja akan mengikuti prosedur tersebut bisa menimbulkan kesalahpamahan dalam menginterpretasikan maksud dan tujuan dari prosedur tersebut karena prosedur menggunakan kata-kata yang terlalu banyak dan kurang tepat.

Beberapa pekerja di suatu perusahaan menuliskan kembali prosedur sesuai dengan pemahaman yang mereka terima, hal ini dikarenakan prosedur resmi dari perusahaan sulit dimengerti oleh para pekerja, sehingga perusahaan memiliki beberapa prosedur yang sama sesuai dengan pemahaman masing-masing pekerja. Perusahaan yang memiliki prosedur dengan banyak versi dapat mengalami kerugikan atau kesalahan dalam proses kerja karena perusahaan sudah tidak dapat mengendalikan pekerjaan yang akan dilakukan pekerja. Pekerja tidak mempunyai tupoksi yang jelas sebab perusahaan tidak mendesain prosedur, checklist atau symbol yang sesuai dengan kegunaannya.

Karena pekerja tidak mengerti prosedur, checklist atau symbol maka kemungkinan terjadinya kecelakaan akan sangat besar. Oleh karena itu dalam interaksi antara Liveware – Software diperlukan sosialisasi dan evaluasi  terkait prosedur, checklist atau symbol sehingga para pekerja memahami maksud dan tujuan sesuai dengan kegunannya.

3. Liveware-Hardware

Saat manusia bekerja, tentunya ada interaksi dengan peralatan atau benda fisik yang digunakan untuk mempermudah pekerjaannya. Benda fisik atau peralatan ini bisa kita sebut sebagai hardware. Hardware ini didesain sedemikian rupa sesuai dengan bentuk tubuh, kemampuan, atau nalar manusia.

Misalnya, saat kita bekerja dengan komputer, ada interaksi antara kita dengan kursi, mouse, monitor dan lain-lain. Kursi tersebut tentunya didesain secara ergonomis sesuai dengan bentuk tubuh kita, sehingga kita nyaman duduk di kursi tersebut pada waktu yang cukup lama dan tidak cepat mengalami kelelahan bahkan cedera, begitu pula dengan desain mouse yang sesuai dengan anatomi telapak tangan. Selain itu, mesin kokpit pesawat maupun panel pada control room pun juga didesain sesuai supaya operator mudah menganalisa dan berkonsentrasi pada alat tersebut, sehingga mudah digunakan dan potensi terjadinya human error dapat diminimalisir. Mayoritas orang-orang yang menggunakannya mungkin tidak menyadari akan pentingnya desain dari hardware tersebut saat menggunakannya, karena saat kita menggunakan hardware maka kita akan berupa supaya alat tersebut dapat kita gunakan tanpa menyadari adanya bahaya dari kesalahan desain. Maka dari itulah pentingnya desain dari Hardware dengan mempertimbangkan faktor manusia.

4. Liveware-Environment

Environment (Lingkungan) bisa berupa elemen alami seperti cuaca, suhu, jarak pandang dan dapat juga mencakup hal-hal yang merupakan buatan manusia seperti ruang terbatas (confined space), kebisingan, dan tingkat pencahayaan. Kondisi lingkungan dapat mengakibatkan berbagai masalah faktor manusia seperti kelelahan, stres, kurang fokus dan tingkat konsentrasi yang buruk. Masing-masing elemen ini semuanya memiliki dampak negatif pada seseorang yang melakukan pekerjaan.

Di dalam dunia penerbangan, interaksi antara Liveware-Environment pada awalnya menitik beratkan pada penyesuaian manusia terhadap lingkungan tempat bekerja misalkan penggunaan helmet, pakaian terbang, masker oksigen dan pakaian anti gravitasi pada pilot pesawat terbang. Namun di kemudian hari, pendekatannya berubah yaitu dengan mengadaptasi lingkungan untuk mencocokkan kebutuhan manusia (misalkan penyesuaian tekanan dan sistem pendingin udara, peredaman suara di kokpit). Semua hal tersebut dilakukan dalam rangka untuk mengurangi dampak negatif yang dapat ditimbulkan factor lingkungan terhadap seseorang, dalam hal ini seorang pilot. Salah satu dampak negatif dari yang dapat ditimbulkan dari factor lingkungan dalam dunia penerbangan adalah terjadinya kesalahan-kesalahan persepsi seorang pilot, misalnya ilusi yang terjadi selama mendarat dan mengangkasa. (Civil Aviation Authority 2002, Fundamental Human Factors Concepts, CAP 719)

5. Liveware-Liveware

Interaksi liveware-liveware adalah interaksi diantara manusia (Civil Aviation Authority, 2002). Pekerja, dalam hal ini, adalah pusat liveware dan liveware di perifer adalah manusia lain, seperti kolega, pelanggan dan supplier yang berinteraksi dengan pekerja saat bekerja. Liveware meliputi semua metode interaksi manusia, bukan hanya face to face, misalnya radio, email, dan sebagainya.

Dua orang yang berbeda dapat mengartikan pemberian instruksi yang sama persis dengan cara yang berbeda. Ketika orang-orang dari kultur budaya yang berbeda bekerja bersama, kebingungan dapat muncul dengan mudah dan kecelakaan atau insiden yang serius dapat terjadi sebagai akibatnya. Miskomunikasi akibat perbedaan bahasa maupun budaya dapat terjadi.

Komunikasi melalui media, misalnya melalui radio pada pesawat atau kapal laut, juga membuka peluang terjadinya miskomunikasi, baik itu karena kesalahan menangkap informasi yang diberikan atau respon yang lambat terhadap komunikasi (IHF, 2017).

Pada interaksi liveware-liveware diperlukan kepemimpinan, kerjasama antara anggota-anggota tim serta interaksi teamwork dan interpersonal yang baik. Termasuk juga di dalamnya, hubungan staff/manajemen, iklim kerja, iklim organisasi dan tekanan organisasi yang dapat mempengaruhi performa manusia. Komunikasi yang efektif diperlukan agar interaksi ini dapat berjalan dengan baik (Dumitru IM dan M Boscoianu, 2015).

Referensi:

Dumitru, IM dan M Boscoianu. 2015. Human Factors Contribution to Aviation Safety.

Integrated Human Factors. 2017. An Introduction to SHELL Model.https://ihf.co.uk/wp-content/uploads/2017/03/Shell_Model_Ebook_v4.pdf.

Civil Aviation Authority. 2002.  CAP 719 Fundamental Human Factors Concepts.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Silahkan di share, jangan di copas ya...