Lanjutan Tadabbur Surah Al Kahfi

Lanjutan Tadabbur Surat Al Kahfi
Ilustrasi foto: kidungilmu.blogspot.com
Bagikan

Lanjutan Tadabbur Surah Al Kahfi

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Allah Ta’ala berfirman :

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. (Al Kahfi : 19)

Umat Islam demen banget kalo uda ngomongin sesuatu yang membawa pada pembicaraan tak berujung, debat kusir. Yang lebih miris ternyata pembicaraan tersebut sudah menjadi khilaf (perbedaan) ulama ratusan tahun silam. Yang lagi hot debat partai gelora yang merapat ke istana antara kader gelora dan PKS. Sebelumnya ada debat masalah aswaja dan wahabi mana yang lebih mendekati Islam antara NU (atau simpatisannya) dan alumni timteng (dan simpatisannya).

Debat masalah bumi bulat atau datar pernah menghiasi medsos. Kemudian debat ‘dimana Allah’, trus debat Allah turun ke langit dunia pada 1/3 malam. Katanya masalah ini menyangkut iman. Padahal Nabi ﷺ pernah mempersaksikan iman seorang wanita yang berkata Allah ada di langit. Wanita ini tidak bilang Allah bersemayam di atas Arsy seperti yang diyakini oleh penganut dalil namun pernyataannya dibenarkan oleh Nabi ﷺ. Just se simple itu berislam.

Yang harus kita ingat. Saat di kuburan malaikat akan bertanya “siapa Tuhanmu” bukan “dimana Tuhanmu”. Akhirnya debat panjang2 jadi tiada berguna.

Dan 2 bulan lagi bakal rame debat hukum memberi ucapan selamat natal kepada kaum nasrani. Duh… demen banget mengulang2 debat yang itu2 aja selama bertahun2. Padahal ulama uda berbeda pendapat masalah hukumnya, ngapain juga orang bodoh seperti kita ikut2an berbeda sampe gontok2an. Tinggal pilih ikut pendapat yang mana terus diem. So sesimple itu.

Pemuda Kahfi juga pernah terpaku pada debat yang tiada guna, cuma gak panjang. Yakni saat mereka dibangunkan dari tidurnya. Yang diperdebatkan adalah lamanya mereka tidur. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”.

Pemuda Kahfi terpecah menjadi dua kubu. Yang satu menjawab sehari atau setengah hari sedang yang lainnya mengatakan lebih dari itu. Coba kalian bayangkan, ditengah kejaran seluruh aparat, jadi DPO pemerintah malah ngeributin berapa lama tidur. Beruntung ada yang berpikiran jernih menyudahi debat dengan perkataan “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).” Seraya menyodorkan realita dilapangan, “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu”

Mau tidur setengah hari kek atau seharian atau lebih dari itu, yang jelas kalo bangun perut laper. Ini bukannya mikir gimana cari makanan malah ributin lamanya tidur.

Begitulah umat ini. Ditengah paham komunis masuk dalam kebijakan pemerintah, ditengah krisis kepemimpinan nasional yang parah dari presiden, menteri hingga kepala daerah, ditengah persekusi ulama yang masih terjadi, dan ditengah pandemi malah debatin AM dan FH masuk istana dan dukung pencalonan keluarga presiden. Kalo cuma sekilas info sih gak pa2, namanya informasi kan berguna untuk menentukan strategi ke depan. Tapi kalo pembicaraannya menghangat dan berkepanjangan ini namanya perbuatan sia2.

Situasi yang dialami pemuda Kahfi sungguh mencekam. Dikejar2 seluruh polisi dan tentara serta menjadi musuh negara dan masyarakat membuat mereka tak bisa mencari perlindungan pada seseorang atau satu suku. Tak ada yang mau kasi suaka politik kepada mereka. Hanya gunung, mahluk Allah terbesar di muka bumi yang menjadi tempat perlindungannya. Alhasil mereka berlindung di dalam gua.

Orang menyangka ini adalah akhir kisah mereka padahal justru kisah mereka baru dimulai. Gua (bukan gue bahasanya Salam) menjadi titik kulminasi (titik tertinggi) perjalanan mereka. Itu sebabnya mereka dikenal dengan pemuda Kahfi (pemuda penghuni gua). Dan memang terkadang manusia melihat satu peristiwa sebagai titik nadir (titik terendah) dalam hidupnya padahal justru Allah jadikan itu sebagai titik kulminasi. Orang melihat PHK ditengah pandemi sebagai kejatuhannya padahal boleh jadi itu sebagai era kebangkitannya. Orang menyangka perceraian adalah awal kesempitan padahal boleh jadi itu sebagai awal keberhasilan. Itu sebabnya ayat yang dikenal sebagai seribu dinar ada dalam surah Ath Thalaq.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah : 216)

Kisah Nabi Yusuf jadi contoh nyata. Saudara2nya menyangka sumur menjadi titik nadir kehidupan Yusuf. Apalah yang bisa diharapkan dari orang yang terperangkap di dalam sumur, kalopun bisa keluar paling jadi budak. Tidak ada satupun yang memprediksi bakal jadi raja. Berabad2 kemudian kita juga tak menduga jika yang keluar dari got bisa menjadi presiden.

Intinya jangan pesimis dengan takdir sekarang. Pengetahuan kita sedikit maka berbaik sangkalah kepada Dzat Yang Maha Mengetahui.

Ditengah kondisi yang gawat darurat yang dialami pemuda Kahfi, ada sekelumit cerita yang menakjubkan. Saat bangun setelah ditidurkan selama 350 tahun, pemuda Kahfi mencari makanan. Kepada orang yang jadi seksi konsumsi diberikan SOP :

dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, (Al Kahfi : 19)

Dia bukan sekedar nyari makanan yang baik tapi lebih baik. Kata azka berbentuk superlatif, yang tertinggi. Jadi kalo ada nasi uduk, nasi kebuli, dan nasi Bryani maka yang dipilih adalah nasi Bryani. Yang mahal dan yang paling enak.

Saya jadi inget waktu pertemuan pertama di PKPU. Saat makan siang yang deket situ pilihannya ada warteg, RM Sederhana, dan Pizza Hut (yang ini malah berdempetan). Beli Pizza aja, kata saya. Soalnya ini makanan yang jarang dibeli kalo gak patungan. Budi yang saya ceritain perihal patungan uda pengen transfer aja saat pertemuan kedua. Gak usahlah kata saya, kalo masih 100-200 ribu masih kecil. Ntar kalo uda diatas 500 ribu baru sultan banjar yang bayarin.

Harun saya suruh beli tapi Agus menyodorkan dirinya dan Arief pun condong kepadanya. Saya tetap keukeh Harun yang beli. Akhirnya mereka berdua yang beli Pizza, tinggallah saya berdua dengan Arief. Dan ternyata pilihan saya tepat. Agus bingung dengan menu PHD. Untung ada Harun yang membantu. Makanya yang tadi saya suruh adalah Harun, kata saya saat Agus cerita kebingungannya. Saya gak ungkap kalo wajah Agus bukan wajah pemburu kuliner seperti Harun.

Kenapa harus pizza ? Karena ini makanan terbaik menurut saya, yang kalo gak patungan gak bisa kebeli. Lagi ngomongin pesantren qo makanannya mewah ? jangankan yang ngomongin pesantren, yang lagi dikejar2 aparat satu negeri aja masih nyari makanan terbaik dan itu ada dalam Al Quran.

Jadi masalah hidup adalah satu sisi sementara menikmati hidup adalah sisi lain. Biar kata ada pandemi bukan berarti kita tak boleh wisata. Biar kata ada resesi bukan berarti kita tak boleh makan yang enak.

Dalam tafsir Al Qasimi disebutkan, “Ayat ini menunjukkan disyariatkannya memperbaharui makanan dan memilih yang seenak mungkin, karena gaya bahasa yang digunakan adalah kata yang menunjukkan peningkatan. Karena makanan yang enak yang memenuhi syarat2 kesehatan akan memberikan manfaat kepada tubuh, tidak bikin lelah dan malas. Karena itulah diwajibkan secara medis untuk memperhatikan kualitas dan kesehatan makanan”.

Ini hari pasar, belilah kepada saudara2mu para pedagang. Kemarin saya tanya Sigit mana yang lebih banyak gaji dari kang AC atau dari kang jualan. Dia bilang masih lebih banyak dari kang AC. Hmm… berarti ada dari kalian yang hanya order sesekali saja.

Tau kenapa 212 mart pada bangkrut ? Karena umat tidak konsisten belanja disana.
Tau kenapa Taliban berhasil menguasai pemerintahan Afghanistan dan diakui oleh dunia padahal sebelumnya hanya sebuah kubu kecil ? Karena mereka istiqomah dalam berjuang.

Iya istiqomah itu mahal, banyak yang berguguran. Jangankan istiqomah dalam menerapkan syariat Islam, istiqomah dalam buy muslim first aja sulit.

Sebagian orang kecewa dan putus asa melihat kezaliman melenggang dengan pongahnya. Bukan hanya bertahan dengan status quo nya, kezaliman beranak pinak semakin membesar seakan2 tiada akan terkalahkan.

Dulu kita pikir jika ujung tombaknya usai setelah 2 periode maka akan ada napas baru bagi kehidupan. Ternyata anak dan mantunya ikut berpolitik bermodalkan dukungan seluruh aparat. Hmm.. mereka bakal mengulangi kesuksesan ‘salah hitung’.

Lalu kapan semua ini akan berakhir ?

Kita harus ingat bahwa perjuangan para nabi dahulu bukanlah terjadi satu dua hari. Tidak secepat kita membaca kisah mereka di dalam Al Qur’an.

Nabi Nuh berdakwah 950 tahun lamanya baru kezaliman dihancurkan Allah. Begitu juga dengan Nabi Hud, Shaleh, Luth, dll. Semua merupakan perjalanan panjang bagi dakwah.

Fir’aun berkuasa 67 tahun. Begitu juga dengan para durjana lainnya. Mereka diberi tangguh oleh Allah sebelum dibinasakan dengan tujuan dan hikmah yang sangat mulia. Dan kita tak boleh lupa, pemuda Kahfi butuh 350 tahun untuk meraih kemenangan dengan binasanya kezaliman.

Karenanya kita tidak perlu putus asa melihat kezaliman yang lagi berjaya. Bila waktu yang ditentukan Allah datang, mereka akan binasa dengan cara yang tidak kita sangka2.

وَتِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰۤ أَهۡلَكۡنَـٰهُمۡ لَمَّا ظَلَمُوا۟ وَجَعَلۡنَا لِمَهۡلِكِهِم مَّوۡعِدࣰا
“Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zhalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka”. [Al-Kahf : 59]

Tugas kita bukan berjuang agar kezaliman itu hancur, coz pada waktunya mereka akan binasa. Tugas kita adalah menjadi bagian dari kebaikan dan yang penting jangan menjadi bagian dari kezaliman. Soal kezaliman ? Tinggal tidur aja seperti pemuda Kahfi, ntar juga mereka hancur sendiri.

Jangan lupa baca surah Al Kahfi malam ini sampai besok.

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Silahkan di share, jangan di copas ya...