Barrier

Barrier
Ilustrasi foto: merdeka.com
Bagikan

Barrier

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Ini jaman resesi. Uang gak berputar. Mayoritas terhenti di kalangan orang2 kaya. Orang2 bawah seperti kita kebagian sedikit. Akibatnya banyak yang buka lapak, jadi reseller. Jika mereka ditanya seandainya Allah kabulkan doa kalian apa yang bakal diminta ? Saya yakin jawabannya seragam : pengen dagangannya laku, pengen jadi pedagang besar/distributor dimana perputaran uangnya mencapai ratusan juta rupiah perbulan seperti keinginan Rahma Anjas, eeh… Rachma Febriana (kudu pake c).

Kalo pertanyaan serupa ditanyakan ke saya maka saya ingin menjadi pembeli atas barang2 yang kalian jual. Berarti minta pekerjaan dengan gaji besar dong ? Gak.
Lho ? urusan rezeki darimana itu urusan Allah. Perihal Allah kasi rezeki via job atau yang lain itu bukan urusan saya. Urusan saya hanya meminta. Kalian liat hadits dibawah ini :

Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)

Apa diatas disebut barangsiapa yang bekerja dan berdoa ? Tidak, tak ada kata kerja/usaha dalam hadits tersebut. Allah tak mensyaratkan kerja sebagai wadah menampung rezekiNya. Pintu rezeki itu ada banyak, ada dari hadiah, ada dari warisan, ada dari hibah, ada dari gaji, dan ada dari jalan yang tidak kita sangka2. Itu sebabnya saat umur melewati 40 tahun, saya tak lagi berdoa minta diterima kerja. Saya bilang ke istri ganti doamu, minta agar mendapat rezeki. Urusan apakah datangnya dari pekerjaan atau dari yang lain itu urusan Allah.

Bukti Allah memberikan rezeki kepada saya adalah saya tak pernah meminta atau meminjam uang dari kalian, kata saya kepada Arief pada pertemuan pertama.
Buktinya adalah kalian bisa makan ini, kata saya kepada Taqim dan Alim pada pertemuan kedua seraya menunjuk kebab. Mereka kira kebab itu ada yang kasi gratis.

Rezeki itu luas, seluas yang ditampung oleh nama Al Waasi’ (Yang Maha Luas) salah satu nama-namaNya. Jadi kenapa harus dibatasi hanya keluar dari satu tempat saja. Jangan seperti Luna Maya, kata saya kepada Taqim, dia cari jodoh pengusaha, kaya, ganteng, dan kalo bisa tau agama. Akhirnya sampe sekarang gak kawin2. Taqim mendengar omongan ini berbinar2, entah karena dapet ilmu baru atau karena mendengar nama Luna Maya. Kalo Luna Maya berdoa pas umroh tahun lalu agar mendapat jodoh yang baik tanpa embel2 yang lain maka dari sebelum pandemi dia uda nikah. Coz stok laki2 yang baik itu banyak. Sampai disini saya liat Taqim menelan air ludahnya, entah apa maksudnya. Mungkin kehausan karena Arief yang ditugasi bawa air belum nongol.

Tapi kalo nyari laki2 ganteng, pebisnis sukses, tajir, baik hati, usia masih seumuran uda kayak nyari jarum dalam jerami. Dalam era 100 tahun hanya muncul sekali seperti Reino Barack, itupun harus bersaing dengan Syahrini. Membatasi permintaan hanya dari jalan tertentu membuat susah diri sendiri. Agus pengalaman masalah ini. Punya kriteria calon istri banyak2 tapi gak ada yang jadi. Ada yang gagal saat tukeran biodata, ada yang gagal saat proses taaruf, dan ada yang gagal saat ketemu calon mertua. Menyedihkan pokoknya sementara temen2 seangkatannya uda pada keramas tiap hari, dia masih berkutat pada mandi sunnah Jumat. Terakhir minta nasehat ke saya trus saya bilang cari perempuan yang mau sama antum. Akhirnya dapet, gak pake lama. Iya setelah penghalang2 itu dibuka datanglah jodohnya.

Rezeki juga begitu. Kalo Arief minta rezeki ratusan juta dengan membatasi pada profesinya sebagai ASN, bagaimana mungkin ? Begitupun jika Taqim minta rezeki mengandalkan gaji dosen. Mau ngajar full dari pagi sampe malam, 7 hari dalam sepekan, nonstop tiada henti tak bakal menyentuh angka 100 juta. Itu karena penghalang2 tersebut masih melekat pada dirinya.

Jadi kita harus tau dulu bahwa karunia Allah itu luas. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. Setidaknya ada 6 ayat dalam Al Quran yang mengandung kalimat ini. Pemberian Allah itu luas namun jika manusia membatasi jalan keluarnya maka jadilah mereka kesulitan.

Penghalang rezeki itu seperti hanya berharap dari usaha yang dirintisnya akhirnya gak kaya2. Sedang penghalang jodoh maunya yang begini begitu, akhirnya gak nikah2.
Ada ikhwan gak bang, tanya Taqim ke saya.
Emang ente punya stok akhwat, tanya saya balik.
Ada yang nitip ke ane, kata Taqim.

Ternyata ada akhwat FKM usia diatas 30 yang belum nikah. Bilangin ke mereka (maksudnya ke yang belum nikah) agar menurunkan standar. Nantilah ane jelasin di materi, kata saya.

Pahami bahwa Allah Maha Luas pemberian-Nya, itu merupakan nama-Nya al Waasi’. Al-Wasi’ adalah pecahan kata dari sa’ah (lapang). Kata sa’ah terkadang disandarkan kepada ilmu yang berarti luas informasinya terhadap segala sesuatu. Tapi terkadang disandarkan kepada perbuatan baik dengan membentangkan nikmat-nikmat, dan bagaimana ia ditakdirkan serta melalui jalan apa ia diturunkan. Karenanya Al-Wasi’ yang mutlak hanyalah Allah, yang Maha Luas ilmu-Nya dan Maha Luas kebaikan serta nikmat-Nya melalui cara takdir dan jalan yang Dia inginkan.

Pastilah bingung terutama Agus dan Sigit, anggota sekte lempeng. Saya permudah begini, ada temen saya gelarnya S1 ekonomi tapi jabatannya manager information system yang ngurusin jaringan komputer di hotel. Kuliahnya di ekonomi tapi dia lebih ngerti bahasa pemrograman. Ada lagi contoh temen saya jadi chief security di hotel. Punya rumah, mobil, dan sering traktir rekan2 kantor. Termasuk orang kaya, punya banyak duit. Namun kekayaannya bukan dari gaji hotel tapi dari setoran angkot. Dia punya beberapa angkot yang beroperasi di Bogor.

Allah Maha Luas pemberian-Nya. Belajar di FE tapi ilmu komputer yang dimilikinya. Kerja di hotel tapi dikasi rezeki dari jalan lain. itu karena Allah Maha Mengetahui dari jalan mana rezeki itu akan timbul. Makanya kata Waasi’ (Maha Luas) lebih banyak digandengkan dengan kata ‘Aliim (Maha Mengetahui).

Wanita karir memliki jabatan, usia diatas 30. Kalo dia keukeuh mau dapetin laki2 yang selevel atau lebih tinggi jabatannya, itu sama aja dia ngajakin Luna Maya jadi rival. Berat…

Tapi kalo dia turunkan standar, seorang OB pun gak pa2 jadi suaminya misalnya maka dia akan mendapati bahwa karunia Allah itu luas. Atau dia turunkan lagi standar menjadi ikhlash dita’adud dan tak perlu nafkah dari suami karena gajinya sudah lebih dari cukup. Yang seperti ini sungguh dia telah menempuh al Waasi’.

Ini cerita nyata, ada tetangga saya di Bekasi seorang ustadz kampung yang ngajar ngaji. Dia bersama anak istrinya ngontrak di deket rumah saya. Satu ketika naik bis bertemu dengan seorang perempuan, ngobrol lah mereka berdua. Si perempuan usianya diatas 35, kerja sebagai ASN, punya jabatan, cuma entah kenapa pada saat itu dia kepengen naik bis karena biasanya bawa mobil sendiri. Ngobrol kesana kemari si perempuan tertarik dengan kepribadian ustadz dan singkat ceritanya bersedia dimadu. Mereka menikah dengan sepengetahuan istri pertama ustadz. Sebagai bentuk penghormatannya sang ustadz dibelikan rumah untuk ditinggali dengan istri pertamanya. Begitulah masalah kejombloan perempuan dan masalah ekonomi keluarga ustadz selesai dengan pernikahan ini.

Turunkan standar, begitu beberapa kali saya sampaikan kepada Taqim. Ada teman sekantor saya di tambang, usia uda sepuh maklum pensiunan ASN, menikah lagi dengan wanita perawan usia 35 tahun, setahun setelah istrinya wafat. Jadi ASN berjilbab ini menikah dengan duda 1 anak yaitu teman saya. Padahal teman saya ini penyakitan, punya diabet kronis. Pernah tak sadarkan diri di kantor. Berarti istrinya yang baru bakal capek ngerawatin orang tua. Tapi begitulah kalo gak turunin standar yang luas akan terasa sempit.

Ada lagi wanita usia 35-an tahun tak bekerja mengharap calon suami yang bisa memberi nafkah dirinya. Ini sulit, secara umum walau tak pernah saya tanyakan tapi saya yakin jika bapak2 disini ditawarkan menikahi wanita 25 atau yang 35 maka secara absolut mereka akan milih 25. Kecuali yang 35 selevel Chelsea Islan, tentu beda lagi hasilnya.

Kasian banget bang perempuan disuruh turunin standar begitu, kayak gak ada pilihan lain aja. Lagian soal jodoh kan di tangan Allah bukan bang Deni yang tentuin. Apa yang saya sampaikan itu realita duniawi. Tapi kalo mau tempuh realita ukhrawi dengan berkeyakinan bahwa jodoh di tangan Allah silakan perbanyak doa di malan hari.

Ini kalimat bagus : “rezeki sudah diatur oleh Allah”, tapi kalo yang ngomong Budi, orang yang jarang bangun malam jadi rusak kandungannya, kata saya kepada Budi. Kenapa ? Karena yakin bahwa Allah sebagai pengatur rezeki tapi tidak yakin Allah memerintahkan kita untuk bangun malam sama juga bo’ong. Tak jauh beda dengan orang yang yakin jodoh ada di tangan Allah tapi tidak yakin dengan perintah Allah untuk bangun malam, sama bodohnya.

Jadi pilihannya sederhana kalo tidurmu lelap maka turunkan standarmu namun jika dzikir malammu berlari2 maka biarkan tangan malaikat bekerja merajut dua hati. Sebagaimana kisah nyata saat istri saya bertemu seorang perempuan usia 50 tahun di kantor imigrasi. Dia ngurus paspor mau ke Amerika nyusul suami yang baru menikahinya. Jadi usia 50 baru nikah dan dapetnya suami berkelas yang gajinya pake dollar.

So.. jika ibadah malammu melesat kencang jangankan Luna Maya, Lu Mau lari berapa juga bakal kesalip.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Silahkan di share, jangan di copas ya...