Narasi Haji

Narasi Haji
Oleh: Deni Prasetio, SKM
Kalo kalian berada di hijr Ismail mo doa apa, tanya saya
Budi jawab doa dikumpulkan Nabi ﷺ di surga
Zikri jawab minta istiqomah dalam ketaatan
Agus seperti biasa jawabannya panjang maklum uda S2: doa ampunan buat ortu, keselamatan dunia akhirat, dan diberi hidayah dan penjagaan buat keluarga, katanya.
Dulu Nabi ﷺ pernah berkata kepada sahabatnya mintalah kepadaku. Kata sahabat saya minta agar bisa bersama engkau ya Rasul di surga. Kata Nabi ﷺ, bantu saya dengan memperbanyak sujud. Jadi mau bersama Nabi ﷺ disurga syaratnya banyakin sujud.
Ada hadits belilah semua kesulitanmu dengan sedekah (HR Thabrani). Jadi ngarep keselamatan dan penjagaan adalah dengan amal sedekah bukan berdoa an sich.
Ada domain mutlak doa seperti mengharap kemudahan dalam urusan. Dan ada domain gabungan yakni perpaduan doa dan amal. Gak usah ngarep bersama Nabi ﷺ disurga. Selama Budi banyak sujud pasti kelak akan bertemu dengan Rasulullah ﷺ di telaga Kautsar.
Kalo ente ada di Hijr Ismail mau doa apa bang?
Saya doanya minta fulus, fulus, dan fulus.
Lho qo minta dunia?
Soub… harta itu ditangan orang sholeh seperti kalian pasti larinya ke yatim, dhuafa, pesantren, dan ke tempat2 yang baik. Gak mungkin harta tersebut kalian habiskan untuk dugem, judi onlen, miras atau narkoba. Itu bukan duniamu. Harta jika tidak dikuasai oleh orang2 baik maka akan dikuasai oleh orang2 fajir atau zhalim. Mereka bakal menghabiskannya untuk memerangi agama. Seperti membeli produk2 yang mendukung Israel. Maka kata Gus Baha mengutip perkataan Imam Syafii haram hukumnya orang Islam ketika ada kesempatan untuk kaya kemudian menolaknya. Bukan disini bab zuhud. Bab zuhud dibuka kalo kalian uda meraih dunia. Tapi kalo masih ngarep traktiran maka babnya sabar.
Jika kita baca Al Quran dari surat al Fatihah kemudian lanjut surat Al Baqarah maka ibadah yang pertama kali kita temui adalah sholat dan infak. Jauh sesudahnya baru ketemu ayat haji dan puasa. Kalian liat bagaimana tarbiyah Qurani pada pembacanya. Al Quran mencetak pembacanya untuk memiliki pondasi sholat dan sedekah yang kuat.
Sirah Nabi ﷺ juga menunjukkan hal tersebut. ketika turun perintah sholat 5 waktu, Nabi dan para sahabat langsung melaksanakannya. Bahkan pelaksanaan sholat tepat waktu termasuk salah satu yang harus disegerakan.
“Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh engkau tunda, yakni salat jika telah tiba waktunya, jenazah apabila telah hadir, dan wanita apabila telah ada calon suami yang sekufu.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad; hasan).
Ketika Nabi ﷺ teringat akan harta simpanannya maka beliau bergegas untuk sedekah.
Dari Uqbah bin Harits r.a., ia berkata, “Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabiﷺ, di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke kamar salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ. keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, ‘Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.” (Bukhari).
Tapi ketika perintah haji turun, yakni di tahun ke-9 hijriah menurut Ibnul Qoyyim atau ditahun ke-6 hijriah menurut Ibnu Hajar. Nabi ﷺ tidak langsung melaksanakannya, beliau mengakhirkan ibadah haji ditahun ke-10, yang dikenal dengan nama haji wada (haji perpisahan). Coz tahun berikutnya Nabi ﷺ sudah tiada.
Kalian liat yang dibentuk adalah pondasi sholat dan sedekah karena ini yang paling utama. Sedangkan haji walaupun wajib tapi kedudukannya masih dibawah sholat dan sedekah. Sengaja saya katakan begini karena orang Indo sudah kelewat batas dalam ibadah haji. Mereka memaksakkan diri berhaji walau tak dapat kuota. Dengan modal visa ziarah jadilah mereka berhaji secara ilegal.
Tahun ini 1.301 jamaah haji wafat dan 83% ilegal. Mereka tidak punya penginapan, jalan jauh dibawah terik matahari bersuhu 48 derajat celcius. Ada yang memaksa masuk ke tenda resmi haji. itu tenda uda padat jadi makin padat. Mereka bukannya ibadah tapi menzholimi orang lain. Kalo ditanya kenapa harus maksa berhaji, jawabnya karena kalo nunggu antrian haji lama. Soub… yang disegerakan itu ibadah sholat dan sedekah bukan haji. Kalian mati tanpa gelar haji bisa masuk surga tapi kalo lam nakum minal mushollin bakal masuk neraka saqar.
Kata haji dengan segala bentuknya diulang 12 kali dalam Al Quran. Narasi haji telah sukses memotivasi jamaah untuk pergi ke Mekkah. Ribuan orang antri haji hingga puluhan tahun. Cukup aneh juga padahal ibadah haji disyaratkan dengan kata mampu. Sementara tahajud yang gak pake syarat apapun malah segelintir yang antusias.
“Allah tidak memanggil yang mampu tapi Dia memampukan yang dipanggil”, demikian narasi haji yang bikin orang pengen dipanggil. Ini narasi batil, rusak, tidak ada dalam hadits atau perkataan ulama. Jangan kalian dengerin, buang jauh2 dari pikiranmu. Sepertinya ini omongan marketing travel saja. Adzan itu panggilan orang untuk sholat, siapa yang dipanggil? Semua muslim. Bahkan sahabat Abdullah bin Ummi Maktum yang buta tidak diberikan rukhshoh oleh Nabi ﷺ untuk sholat di rumah coz dia mendengar panggilan adzan.
Melalui lisan nabi Ibrahim tatkala selesai meninggikan Kabah panggilan haji pertama kali dikumandangkan, labaika Allahuma labaika. Kemudian Allah memanggil kaum muslimin melalui hatinya untuk menunaikan haji ke baitullah. Semua dipanggil, baik yang kaya dan yang miskin, yang mampu dan yang tidak mampu, yang sehat dan yang sakit, yang muda dan yang tua. Panggilan untuk semua namun dalam pelaksanaannya hanya pemilik strata istitha’ah (mampu) yang diwajibkan. Sama seperti adzan, semua orang mendengarnya namun dokter yang sedang melaksanakan operasi atau polisi yang sedang mengatur lalu lintas tak bisa memenuhi panggilan itu dengan segera. Begitulah haji, semua dipanggil walau tidak semua bisa memenuhi panggilannya.
Ibadah dalam Islam tidak ekslusif, bukan milik sekelompok orang saja. Semua dipersilakan untuk memasukinya. Sedekah yang butuh harta bukan domain orang kaya saja, orang miskin diperbolehkan walau nilainya tidak sebesar orang kaya. Hebatnya syariat Islam, ibadah wajib yang membutuhkan harta seperti zakat pake syarat tertentu, tidak diwajibkan atas semua. Hanya harta yang memenuhi nisab yang wajib dikeluarkan. Ibadah haji pun sama, hanya yang terkategori mampu yang diwajibkan. Namun ketika bicara sholat semua muslim wajib melaksanakannya, gak ada rukhsoh didalamnya.
Mirisnya orang lebih bela2in nabung buat haji selama bertahun2 daripada bangun tiap malam untuk sholat. Padahal dia jauh dari kategori istitha’ah (mampu). Kalau seseorang masih nyicil buat bayar haji berarti dia belum mampu. Yang disebut mampu itu kata Buya Yahya adalah jika pada saat ini seseorang punya tabungan 100 juta bukan untuk pendidikan anak atau biaya hidup, benar2 uang lebih. Maka saat itu kewajiban haji sudah ada pada dirinya. Wajib baginya tahun ini pergi haji.
Tapi di Indonesia beda, definisi kata mampu diperluas. Orang yang bisa nyicil dikategorikan mampu. Akibatnya di Indonesia antrian haji dari orang yang mampu dengan yang tidak mampu bercampur hingga bikin antriannya panjang. Jadilah uang DP ngendon bertahun2 di bank. Yang seneng pihak bank dapet rezeki nomplok, kemasukan uang milyaran rupiah hanya dengan iming2 antrian kursi tanpa kewajiban bayar nisbah (bunga kalo di bank konvensional).
Orang taro duit 5 juta di bank hanya dapet nomer antrian, berbondong2 yang daftar. Giliran Allah janjikan melipatgandakan uang yang disedekahkan malah sepi peminat.
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al Baqarah: 261)
Come on… masih banyak ibadah lain yang lebih wajib kita kerjakan dengan kondisi sekarang. Para ulama saja mengatakan haji yang kedua kali hukumnya sunnah dan lebih disarankan untuk disedekahkan. Ini kita lagi ngomongin haji yang hukumnya wajib, bukan umroh yang hukumnya sunnah. Maksud saya agama saja tidak memaksa kita untuk pergi haji (yang wajib) apalagi pergi umroh (yang sunnah).
Akibat pemahaman yang dipaksakan ini maka ada orang yang pergi haji dengan menjual satu2nya rumah miliknya, seperti tetangga saya. Pulang haji dia nyari kontrakan. Ada juga orang pergi umroh bersama istrinya. Dalam hati saya, duh haji aja gak wajib atasnya apalagi umroh. Dan beberapa bulan kemudian dia minjem duit buat beli motor anaknya. Padahal kalo 60 juta uang umroh disimpen tentu dia gak perlu nyari pinjaman.
Allah menjadikan agama ini mudah, kita aja yang bikin susah. Yang gak wajib atas kita malah dipaksakan sementara yang mudah malah dicuekin.
Sholat malam itu mudah modalnya tinggal bangun.
Sedekah itu mudah caranya tinggal liat didompet ada berapa maka keluarkan sebagiannya.
Allah mengulang kata sholat dan sedekah lebih banyak dari kata haji agar fokus pikiran kita terlebih dahulu ada pada keduanya. Dan ketika kondisi kita sudah tergolong mampu barulah fokus kita pada haji. Sehingga ketika gelar haji sudah tersemat maka yang muncul adalah haji yang dermawan dan ahli sujud.
Bukan seperti sekarang ada pak haji yang disodori proposal cuma bisa senyum doang. Sedekahnya gak keliatan. Sebetulnya bukan karena dia pelit tapi karena ekonominya pas2an, begitulah jika ibadah boleh maksa. Tapi kalo gak pake dipaksa gak pergi haji bang? Ini salah, yang dipaksa itu sedekah. Liat lagi materi saya tentang Al Aqabah. Walau kondisi ekonomi sulit (masghabah) kita dianjurkan memberi makan orang kelaparan. Adapun ibadah haji yang kudu ngeluarin harta yang banyak pake syarat istitha’ah (mampu) bukan paksaan.
Syariat itu mudah karena Allah telah berfirman:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS Al Baqarah: 286)
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS Al Baqarah: 185)
Yang bikin syariat itu jadi susah adalah marketing travel atau ustadz yang punya travel. Omongannya manis sehingga jamaah berlomba2 memaksakan dirinya untuk haji dan umroh. Kemarin ada tetangga ke rumah pamit mo naik haji. Dia pake ONH plus 175 juta, sampai hari H pelunasan kurang 50 juta. Alhamdulillah anaknya dapet rezeki sehingga kekurangannya tertutupi. Ketika dia tau saya belum pernah umroh, dia ngomong begini: Jadi mas Deni kalo umroh/haji itu yang penting niat dulu, insya Allah ada jalan seraya menceritakan perjalanan pelunasan biaya hajinya.
Saya yang denger senyum2 aja. Pasti ini omongan ustadz travel haji, dalam hati saya. Bahasanya gak jauh dari mengajak orang pergi haji dan umroh. Tetangga saya ini bukan jamaah subuh, baru keliatan subuh belakangan aja pas mo pergi haji. Seharusnya seorang muslim memaksakkan dirinya untuk subuh berjamaah setiap hari di masjid. Sehingga ketika dia pulang dari Mekkah tidak ada pak haji yang tidak sholat subuh berjamaah. Begitu pula dengan sedekah, sebelum berangkat haji seorang muslim harus membiasakan sedekah. Sehingga tidak ada istilah haji Sulam yang pelitnya na’udzubillah min dzalik.

Recent Comments