Teori & Aplikasi Antisipasi dalam Higiene Industri

Antisipasi dan Higiene Industri
Antisipasi dan Higiene Industri
Bagikan

Teori & Aplikasi Antisipasi dalam Higiene Industri

Oleh: Muhyidin, SKM

Definisi Higiene Industri

Berikut ini definisi higiene industri menurut AIHA dan IOHA.

American Industrial Hygiene Association (AIHA) –> Industrial hygiene is science and art devoted to the anticipation, recognition, evaluation, prevention, and control of those environmental factors or stresses arising in or from the workplace which may cause sickness, impaired health and well-being, or significant discomfort among workers or among citizens of the community. Kalau diterjemahkan kurang lebih seperti ini: Higiene industri adalah ilmu dan seni yang ditujukan untuk antisipasi, pengenalan, evaluasi, pencegahan, dan pengendalian faktor-faktor lingkungan atau tekanan yang timbul di atau dari tempat kerja yang dapat menyebabkan penyakit, gangguan kesehatan dan kesejahteraan, atau ketidaknyamanan yang signifikan di antara pekerja atau di antara para pekerja. warga masyarakat.

International Occupational Hygiene Association (IOHA) –> Industrial hygiene is the discipline of anticipating, recognising, evaluating, and controlling health hazards in the working environment with the of protecting worker health and well-being and safeguarding the community at large. Terjemahannya kurang lebih: Higiene industri adalah disiplin mengantisipasi, mengenali, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya kesehatan di lingkungan kerja dengan melindungi kesehatan dan kesejahteraan pekerja dan melindungi masyarakat luas.

Dari kedua definisi itu ada beberapa benang merah, bahwa higiene industri itu terkait kegiatan yang kalau disingkat menjadi AREC (Anticipation, Recognition, Evaluation dan Control).

  • Antisipasi: mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja sebelum diperkenalkan.
  • Rekognisi/mengenali: mengidentifikasi potensi bahaya yang ditimbulkan oleh bahan kimia, fisik atau biologis – atau situasi ergonomis yang merugikan – terhadap kesehatan.
  • Evaluasi: evaluasi tingkat paparan bahaya kimia, agen fisik atau biologis (atau situasi ergonomis yang merugikan) di tempat kerja. Hal ini sering kali melibatkan pengukuran paparan pribadi seorang pekerja terhadap bahaya/agen di tempat kerja, khususnya pada antarmuka yang relevan antara lingkungan dan tubuh, misalnya zona pernapasan, zona pendengaran, dan penilaian data dalam hal batas paparan kerja yang direkomendasikan (OEL), jika kriteria tersebut ada.
  • Kontrol: pengendalian bahan kimia, fisik atau biologis – atau situasi ergonomis yang merugikan, dengan prosedural, rekayasa atau cara lain di mana evaluasi menunjukkan bahwa ini diperlukan.

Teori Antisipasi dalam Higiene Industri

Secara sederhana antisipasi merupakan upaya yang dilakukan oleh seorang ahli higiene industri untuk memprediksi atau melakukan perkiraan-perkiraan terhadap kemungkinan potensi bahaya kesehatan yang ada di tempat kerja. Antisipasi sebaiknya dilakukan pada tahap awal. Tahap awal yaitu awal dari suatu proses atau industri tersebut berjalan atau awal dari suatu proses yang sudah mendapatkan modifikasi atau perubahan untuk dijalankan kembali.

Kunci dalam tahapan antisipasi adalah informasi. Contoh informasi yang diperlukan antara lain adalah karakteristik bangunan tempat kerja, mesin yang digunakan, proses kerja, bahan baku, reaksi kimi, interaksi kimia, produk, limbah produk, prosedur kerja, alat yang dipakai, cara kerja yang dilakukan, atau jumlah dan karakteristik pekerja. Fokus dari semua informasi ini adalah diketahuinya potensi bahaya serta risiko baik untuk kesehatan ataupun keselamatan kerja.

Langkah antisipasi bertujuan untuk mengetahui potensi bahaya dan risiko lebih dini sebelum muncul menjadi bahaya dan risiko yang nyata, mempersiapkan tindakan yang perlu sebelum suatu proses dijalankan atau suatu area dimasuki dan meminimalisasi kemungkinan risiko yang terjadi pada saat suatu proses dijalankan atau suatu area dimasuki.

Tahapan melakukan antisipasi terdiri dari 3 langkah. Langkah pertama merupakan pengumpulan informasi melalui studi literatur, penelitian terkait, dokumen perusahaan, survey lapangan, legislasi yang berlaku, ataupun pengalaman-pengalaman pada masa lalu. Langkah selanjutnya adalah analisis dan diskusi dengan pihak yang terkait yang berkompeten. Tahap terakhir yaitu pembuatan hasil dari antisipasi.

Hasil dari tahap antisipasi merupakan daftar potensi bahaya dan risiko. Daftar tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan lokasi atau unit, kelompok pekerja, jenis potensi bahaya ataupun tahapan proses produksi.

Aplikasi Antisipasi dalam Higiene Industri

Contoh aplikasi di lapangan yaitu sebuah perusahaan akan membuat gedung laboratorium baru. Blueprint dan engineering design sudah dibuat. MOC (Management of Change) request sudah dibuat dan direview oleh Tim dari lintas departmen untuk membahas perubahan tersebut. Metode yang digunakan dalam mengantisipasi hazard tersebut menggunakan metode What If. Analisa “what if” banyak digunakan pada studi ekonomis yang merupakan tindak lanjut dari pada evaluasi ekonomis, untuk menguji sensitivitas parameter suatu perencanaan terhadap keadaan yang akan datang, dimana dengan adanya perubahan parameter akan mempengaruhi hasil proposal yang telah direncanakan.

Contoh aplikasi antisipasi pada pekerjaan konstruksi adalah kegiatan mengidentifikasi isu, sebelum proyek dilaksanakan, managemen harus melakukan analisa isu yang mungkin terjadi apabila proyek tersebut dijalankan, isu ini dapat berupa isu kesehatan, keselamatan, kualitas, atau sebagainya. Dengan adanya identifiasi isu yang mungkin terjadi dari kegiatan proyek maka akan dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian dari issue yang telah diidentifikasi. Sebagai contoh proyek pada kegiatan konstruksi akan menghasilkan kebisingan yang memungkinkan mengganggu kesehatan pekerja maupun kenyamanan penduduk sekitar, maka dari itu diperlukan pengendalian terhadap isu kebisingan ini dengan menganalisa alat kerja yang akan digunakan, pengaturan waktu kerja, pemasangan sound barrier di pagar-pagar proyek, pengukuran kebisingan secara berkala, dan penggunaan APD untuk orang yang berada di area kerja. Data yang digunakan dalam mengantisipasi hazard/bahaya diantaranya:

A. Data Sekunder:

  • Perencanaan Industri (design & dimensi)
  • Alur Proses
  • Bahan utama & tambahan
  • Material handling & storage
  • Unit operasi & unit kerja
  • Deskripsi metoda kerja
  • Prosedur ijin kerja
  • Produksi dan sampah
  • Pengelolaan sampah dan disposal
  • Data-data pekerja meliputi a.l. jumlah, jenis pekerjaan dll

B. Data Primer

  • Wawancara
  • Pengawasan tempat kerja / inspeksi dengan tahapan sebagai berikut :
    • Membandingkan isi & nilai infomasi yang ada pada bagian yang akan diinspeksi
    • Menggunakan check list, melakukan survei, interview dll utk menemukan hal-hal yang berkaitan dengan fungsi kesehatan kerja
    • Siapkan rekomendasi sementara dan diskusikan dgn wakil bagian yg bersangkutan
    • Siapkan rekomendasi akhir
    • Bundel dan simpan semua dokumen inspeksi dengan baik

Referensi:

Spellman, Frank R. (2006). Industrial Hygiene Simplified: A Guide to Anticipation, Recognition, Evaluation, and Control of Workplace Hazards. Government Institutes.

Hirst, Adrian. (2010). Basic Principles of Industrial Hygiene. October. Accessed Mar 1, 2021

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: