Seri Musa vs Firaun: Pengkhianat

pengkhianat
Ilustrasi foto: forgettingforward.com
Bagikan

Seri Musa vs Firaun: Pengkhianat

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Kisah nabi Musa ini penuh dengan tokoh. Dari kuis kemarin tentang laki2 yang bukan nabi dan rasul namun ucapannya direkam oleh Al Quran, ada 2 tokoh yang gak ketebak padahal uda saya kasi clue. Pertama laki2 yang beriman di kubu Firaun dalam surat al mu’min ayat 28-44. Kedua laki2 dari ujung kota yang kasi tau Musa akan rencana pembunuhan dirinya dalam surat Al Qashash ayat 20.

Selain mereka ada juga tokoh jahat, banyak malah yang diceritakan Al Quran. Sebut saja Firaun, Haman, dan Qarun, ini dari kubu sebelah. Dari kubu sendiri ada Samiri dan Bal’am. Samiri menggembosi akidah Bani Israil dengan membuat sapi yang bisa bersuara. Sementara Bal’am menggembosi keyakinan Bani Israil dengan kepindahannya pada kubu Firaun. Kedua orang ini adalah pengkhianat dalam dakwah Musa. Al Quran menceritakan sepak terjang mereka. Samiri disebut namanya sementara Bal’am hanya melalui isyarat.

Mana yang lebih berbahaya ? Jelas yang disebut karena ayatnya menjelaskan sepak terjang secara detil. Tidak semua orang menjadikan ulama sebagai panutan, bahkan yang kenal pun hanya sedikit. Tapi semua orang tau sosok seorang public figure. Samiry adalah public figure, dikenal luas dikalangan Bani Israil maka ketika dia mengajarkan kerusakan mayoritas dari Bani Israil mengikutinya.

Islam sangat menghargai kesetiaan. Beberapa ayat mengisyaratkan kesetiaan. Lagi nulis gini saya langsung inget ternyata pernah ada materi yang judulnya kesetiaan. Kisah tentang kesetiaan 47 samurai.

Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, (Al A’raf : 64)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (Mumtahanah : 4)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (Al Fath : 29)

Kalian liat secara khusus Al Quran menyebut kalimat : walladzina ma’ahu “dan orang2 yang bersamanya”. Kata bersamanya mengisyaratkan kesetiaan. Tidak disebut : “dan orang2 beriman”, padahal mereka dari kaum yang beriman.

Bersama2 itu artinya sama2 susah dan sama2 senang. Tatkala nabi Allah mendapat perlakuan kasar dari kaumnya mereka pun mendapatkannya. Dan begitupula tatkala nabi Allah mendapat pertolongan, merekapun termasuk didalamnya. Satu paket karena senasib sepenanggungan.

Kisah anjing yang mengikuti pemuda Kahfi juga menggambarkan kesetiaan. Mengikuti kemana pemuda Kahfi pergi termasuk saat dikucilkan didalam gua. Dengan setianya anjing tersebut menemani mereka. Al Quran menceritakan peristiwa tersebut dengan kalimat :

sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. (Al Kahfi : 18)

Bukan sekedar menemani tapi anjing tersebut menunggui dan menjaga mereka. Karena posisi kaki depan anjing yang menjulur adalah posisi siap sedia.

Kesetiaan adalah barang yang berharga. Lebih mahal dari milyaran rupiah uang pengganti biaya kampanye yang sudah keluar dari kantong capres/cawapres. Bahkan lebih mahal dari trilyunan, uang yang disumpel agar bersedia bergabung dengan pemerintah. Kesetiaan lebih mahal dari itu semua. Begitu langkanya kesetiaan kalian tak bakal mendapatkannya walau telah bergelar profesor doktor sekalipun. Begitu mahalnya kesetiaan kalian tak bakal mendapatkannya walau telah jadi milyarder.

Kesetiaan adalah barang mahal tidak dijual bebas, tak ada yang memperjualbelikannya. Kalian cari di mall Indonesia bahkan mall Pasific Place, tempat barang2 mahal gak bakal ada apalagi di onlen shop. Kesetiaan adalah gelar terhormat, tak ada satupun universitas yang bisa memberikannya termasuk UI. Kalian kuliah sampe ubanan dan keriput pun tak mungkin bisa meraih gelar walladzina ma’ahu. Itu karena kesetiaan tidak memerlukan biaya atau kecerdasan untuk mendapatkannya. Kesetiaan memerlukan keimanan. Itu sebabnya kesetiaan dipuji dalam Al Quran.

Adakah kesetiaan pada pengikut Musa ? Well.. ada sih cuma ya begitu. Kalian liat ayat berikut :

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (Asy Syuara : 60-61)

Walau Al Quran menyebut pengikut Musa as dengan kata ashabu (sahabat2) tapi kualitasnya terlihat tatkala mereka melihat pasukan Firaun seraya berucap : “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Bani Israil bener2 gampang putus asa, bukan tipe pejuang. Baru diuji sedikit langsung melempem. Kalian bandingkan dengan ucapan para sahabat ra tatkala melihat pasukan Ahzab : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. (Al Ahzab : 22).

Itu sebabnya Nabi Musa menimpali keluhan kaumnya dengan mengucap : “sesungguhnya Tuhanku besertaku,” Tidak disebut kami tapi aku, bentuk tunggal karena tidak ada kebersamaan dengan mereka. Jumlah banyak tapi berasa sendiri aja. Ini berbeda dengan ucapan Nabi ﷺ tatkala berdua dengan sahabatnya didalam gua : “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (At Taubah : 40). Menggunakan kata kita, berbentuk jamak. Ada kebersamaan walaupun cuma berdua sementara Musa merasa sendiri walau beramai2.

Emang Bani Israil di jaman nabi Musa ampun2 dah… punya Nabi yang mampu bercakap2 dengan Allah namun tak satupun umatnya yang bisa diandalkan. Masih lebih baik pengikut nabi Isa yang disebut hawariyun, lebih setia. Sementara bagi nabi Musa selain nabi Harun tak ada yang bisa diandalkan. Bani Israil melihat laut terbelah dan berjalan di tengahnya, melihat kematian Firaun, melihat air memancar dari batu tapi tak satupun yang bisa setia, tak satupun yang jadi kader inti. Mereka hanya penggembira, sekedar banyak2in jumlah aja. Begitu disuruh masuk ke Palestina guna memerangi kaum disana langsung menciut.

Makanya Al Quran menyebut pengikut Musa dengan kata man ma’ahu,

وَأَنجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجْمَعِينَ
Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. (Asy Syuara : 65)

Tatkala berbicara tentang pengikut Nuh as, Ibrahim as, dan Muhammad ﷺ Al Quran menggunakan kata walladzina ma’ahu dan orang2 yang bersamanya. Sikap dari pengikut kelompok ini jelas maka disebut alladzi sementara umatnya Musa as gak jelas maka digunakan kata man. Kita kalo nanya orang yang gak jelas atau gak dikenal pake kata man huwa ? (siapa dia). Padahal sosok Bani Israil jelas banyak ayat yang bercerita tentang mereka. Namun sikap ambigu yang ditunjukkan menjadikan mereka tak jelas.

Ada Samiri yang mengacaukan akidah pengikut Musa, ada Bal’am yang mengkhianati perjuangan Musa. Kapan itu terjadi ? Kalo munculnya sosok Samiri setelah tenggelamnya Firaun lebih tepatnya ketika Musa menghadap Tuhan selama 40 hari. Sementara kapan munculnya sosok Bal’am saya gak tau. Berarti pengkhianat2 itu muncul setelah kemenangan mulai terlihat.

Hal yang sama terjadi pada kaum muslimin di masa Rasulullah ﷺ. Munculnya orang munafik pada periode Madinah saat kekuasaan mulai terbentuk. Orang munafik tidak termasuk dalam kategori walladzina ma’ahu, dan orang2 yang bersama dia, karena tidak ada kesetiaan pada diri mereka. Secara zhahir orang munafik adalah muslim namun tidak bisa setia (konsisten) dengan keimanannya. Berarti orang setia lebih tinggi derajatnya daripada orang muslim. Tidak setiap muslim bisa setia sementara orang setia pasti muslim.

Kesetiaan kepada agama itu mahal. Kesetiaan kepada 212 mart juga mahal. Siapa diantara kalian yang sampai detik ini masih berbelanja di 212 mart ? Berarti kalian orang yang setia.

Kemarin viral seruan boikot produk unilever yang mendukung LGBT. Umat Islam ini demen banget lompat2 dalam beramal. Perihal gerakan belanja di toko muslim aja belum kelar uda bikin lagi gerakan boikot. Rutinkan saja belanja di 212 mart, urusan boikot biar 212 yang urus. Toh kalian tak pernah liat produk sari roti dijual di 212 kan ? Kesetiaan itu sulit dilakukan makanya banyak yang gugur dan mencari amal receh sekedar bersihin duri di jalan doang. Mereka tak sanggup setia.

Tapi kalian harus saya paksa untuk setia kepada pasanganmu. Ada tidak cocok trus mau cerai itu gampang. Gak perlu kuliah di FKM kalo ada konflik trus pisah. Gak perlu ngaji kalo ada ribut trus jatuhin talak. Sebab banyak orang tak bergelar dan tak ngaji yang bisa melakukannya dan gak ada bedanya jika ada diantara kita yang melakukannya.

Setia pada agama itu mahal sementara setia pada pasangan itu susah. Kita liat siapa disini yang bisa menjadi manusia setia kepada pasangannya hingga, mengucapkan till death do us part.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: