Perbedaan Cerebral Palsy & Global Development Delay

Balita
Ilustrasi foto: newsmedia.co.id
Bagikan

Perbedaan Cerebral Palsy & Global Development Delay

Oleh: Muhyidin, SKM

Sejarah Cerebral Palsy

Cerebral Palsy berasal dari kata Cerebral yang artinya otak dan Palsy yang artinya kelumpuhan. Masyarakat umumnya mengartikan Cerebral Palsy dengan Kelumpuhan Otak. Menurut WHO (2014), Cerebral Palsy yaitu kelainan otak yang ditandai dengan gangguan mengontrol hingga timbul kesulitan dalam bergerak dan meletakkan posisi tubuh disertai gangguan fungi tubuh lainnya.

Cerebral Palsy telah didokumentasikan sepanjang sejarah, dengan deskripsi yang diketahui terjadi dalam karya Hippocrates pada abad ke-5 SM dalam karyanya “Corpus Hippocraticum”. Studi lebih lanjut tentang contoh dan definisi kondisi dimulai pada abad ke-19 oleh William John Little, yang setelahnya diplegia kejang disebut “Penyakit Little”.

Sir William Osler (1849-1894), yang dianggap sebagai tokoh penting dalam memajukan pengobatan modern, menulis buku pertama tentang Cerebral Palsy. Sigmund Freud (1856-1939), bapak psikoanalisis, mengusulkan gagasan bahwa Cerebral Palsy mungkin hasil dari perkembangan janin yang tidak normal – berpuluh-puluh tahun sebelum bidang medis menganut konsep tersebut.

Jumlah Kasus CP

Cerebral Palsy (CP) adalah gangguan gerakan yang paling umum pada anak-anak. Jumlah kasus CP Ini terjadi pada sekitar 2,1 per 1.000 kelahiran hidup (Oskoui et al, 2013). Studi pada anak usia 8 tahun di Amerika Serikat menemukan bahwa 1 dari 303 teridentifikasi menyandang CP. Studi tersebut menemukan sejumlah fakta diantaranya:

  • CP lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan
  • Sebanyak 77,4% anak teridentifikasi CP tipe spastik
  • Lebih dari setengahnya (58,2%) teridentifikasi CP dapat berjalan secara mandiri, 11,3% berjalan menggunakan alat bantu dan 30,6% memiliki kemampuan terbatas dan tidak dapat berjalan.

Penyebab CP

Hingga saat ini belum ada yang bisa memastikan penyebab pasti CP. Menurut Sheresta N (2017), secara umum penyebab CP dibagi dalam 3 bagian yaitu prenatal, perinatal, dan pasca natal.

1.Prenatal

Penyebab CP terjadi karena infeksi yang terjadi ketika bayi dalam kandungan. Infeksi ini menyebabkan kelainan pada janin. Penyebabnya diantaranya oleh lues, rubella, toksoplasmosis, dan penyakit inklusi sitomegalik. Anoksia dalam kandungan, terkena radiasi sinar-X dan keracunan kehamilan juga dapat menyebabkan CP di fase ini.

2.Perinatal

Penyebab pada fase ini terbagi menjadi 4 yaitu anoksia/hipoksia, perdarahan otak, prematuritas, icterus, dan meningitis purulenta. Penyebab terbanyak pada masa ini yaitu “brain injury” atau “cidera otak”. Keadaan ini menyebabkan terjadinya anoksia. Bayi lahir prematur kemungkinan menderita perdarahan otak karena pembuluh darah, enzim dan faktor pembekuan darah masih belum sempurna.

3.Pascanatal

Penyebab terjadinya CP di fase ini karena ada kerusakan pada jaringan otak yang mengganggu perkembangan, misalnya trauma kapitis, meningitis, ensefalitis, dan luka parut pada otak pasca operasi.

Klasifikasi CP

Menurut Kemala (2014), CP dapat diklasifikasikan berdasarkan letak kelainan otak dan fungsi gerak dibagi menjadi 4 yaitu:

1.CP Spastik

CP spastik merupakan tipe terbanyak dengan kasus 70-80% dari total kejadian CP. Otot mengalami kekakuan dan secara permanen akan menjadi kontraktur. Kontraktur yaitu terbatasnya gerakan akibat adanya pemendekan atau kekakuan jaringan. Sendi sulit digerakkan, kadang disertai nyeri.

Pada saat berjalan, kedua tungkai tampak bergerak kaku dan lurus. CP spastik dibagi menjadi 4 berdasarkan jumlah ekstremitas yang terkena.

  • Monoplegia: terjadi pada 1 ekstremititas saja, biasanya pada lengan
  • Displegia: terjadi pada 4 ekstremitas. Akan tetapi kedua kaki lebih berat dari kedua lengan
  • Tetraplegia/Quadriplegia: mengenai 3 ekstremitas (tetraplegia) dan 4 ekstremitas dengan derajat yang sama (quadriplegia)
  • Hemiplegia: salah satu sisi tubuh dan lengan terkena lebih berat.

2.CP Athetosis/Diskenetik

CP jenis ini terjadi pada 10-20% penderita CP. Karakteristiknya yaitu gerakan-gerakan involunter dengan ayunan yang melebar. Pasien mengalamai masalah gerakan abnormal, masalah koordinasi otot bicara, dan selalu mengeluarkan air liur.

3.CP Ataksid/Ataxia

Penderita CP tipe ini sering menunjukkan koordinasi yang buruk, berjalan tidak stabil dengan kaki terbuka lebar, berjalan gontai, kesulitan menulis, bicara dan mengancingkan baju. Penderita juga memiliki masalah dengan persepsi kedalaman, tremor, dan rentangkan kaki saat berjalan.

4.CP Campuran

Penderita mempunyai 2 atau lebih kelainan dari tipe di atas. Jenis ini terjadi pada kurang dari 10% kejadian CP.

(Baca juga: Abyan, Pejuang Cerebral Palsy Cilik)

Gangguan Penyerta (komorbid)

Pada penderita CP dapat terjadi gangguan-gangguan lain yang menyertai. Gangguan penyerta tersebut diantaranya yaitu:

  • Epilepsi

Sebanyak 15-55% terjadi pada kasus CP mengalami epilepsi atau kejang. Tipe hemiplegia dan quadriplegia lebih sering terjad dibandingkan tipe diplegia. Dokter akan memberikan obat untuk mengobati epilepsinya. Obat ini harus diminum rutin selama rentang waktu tertentu.

  • Gangguan kognitif

Terdapat 50-70% level IQ berada di kisaran 69 ke bawah. Penderita mengalami disabilitas intelektual. Lebih sering terjadi pada tipe spastik quadriplegia. Menurut Dharmakarya (2018), anak yang berada di SLB mengalami retardasi mental sebanyak 90,7%.

  • Gangguan emosi dan perilaku

Persentasenya sekitar 30-80%  (berbeda-beda antar penelitian). Penderita CP biasanya ada yang tipe hiperaktif, pasif, marah, sedih, impulsive, emosi tidak stabil, rendah diri dan cemas. Macam-macam tergantung individu. Penelitian di Eropa, sebanyak 26% gangguan emosi dan perilaku pada CP, peer relationship (32%), hiperaktif (31%) dan emosional (29%).

  • Gangguan nutrisi

Feeding problem pada CP (intensitas ringan hingga berat) sebanyak 58%. Faktor risiko yaitu kemampuan oromotor yang lemah, ketidakmampuan makan sendiri atau ketidakmampuan mengkomunikasikan rasa lapar.

  • Respirasi

Terganggunya kontrol alat pernafasan, batuk, aspirasi karena kesulitan menelan dan reflux.

  • Saluran kemih dan saluran cerna

Terganggunya pengendalian saluran kemih & cerna berupa mengompol, infeksi saluran kemih, atau tidak bisa kencing.  Walau anak sudah besar, anak CP masih mengompol karena tidak bisa menahan kencing. Dapat juga berupa konstipasi (sulit buang air besar), nafsu makan berkurang dan mobilitas menurun jika diet tidak tepat.

  • Gangguan oromotor

Penderita CP biasanya memiliki gerakan menyusui yang lemah, gangguan gerakan saat proses menelan, posisi lidah terjulur, sehingga terjadi gangguan makan dan aspirasi. Penderita juga mengalami gangguan bicara, drooling (ngeces) atau kesulitan mengontrol air liur.

  • Gangguan densitas mineral pada tulang

Hal ini dapat menyebabkan keroposnya tulang pada penderita CP. Risiko ambulasi tidak berjalan dan risiko fraktur (patah tulang). Penting bagi penderita CP untuk aktifitas berdiri menapak (weight bearing) untuk mencegah hal tersebut.

Mengenal Bagian Otak

Otak merupakan bagian tubuh yang paling kompleks dan berfungsi sangat vital. Ada sekitar 100 miliar saraf di otak. Miliaran syaraf tersebut saling berkomunikasi dan saling terhubung di otak kita. Secara garis besar otak terbagi menjadi otak besar, otak kecil, batang otak, densefalon dan ganglia basal.

Otak besar terbagi 2 yaitu otak kanan dan otak kiri. Bagian otak yang bertanggung jawab untuk berpikir, konsentrasi, mengatur gerakan tubuh, alat indera, emosi, menulis dan sebagainya yaitu otak besar. Otak kecil untuk mengatur keseimbangan tubuh. Batang otak untuk refleks tubuh dan mempertahankan kehidupan.

Diensefalon untuk fungsi sensorik dan pengatur suhu tubuh termasuk siklus tidur. Ganglia basal memiliki fungsi koordinasi dan mengelola pesan di bagian otak.

Untuk mengenal CP dan Global Development Delay, kita harus mengetahui tentang otak. Karena kedua penyakit tersebut sangat erat kaitannya dengan fungsi otak. Kita perlu mengenal mengenal bagian otak dan fungsi-fungsinya. Gambar di bawah ini menggambarkan bagian dan fungsi otak.  

Fungsi & bagian otak
Fungsi dan bagian otak. Ilustrasi foto: k8schoollessons.com

Perbedaan CP dan GDD

Global development delay (GDD) dalam bahasa Indonesia dikenal dengan keterlambatan perkembangan global. GDD merupakan kondisi tahapan tumbuh kembang anak yang mengalami keterlambatan.  Keterlambatan 2 atau lebih domain pertumbuhan & perkembangan anak. Domain tersebut antara lain motorik halus, motorik kasar, Bahasa/berbicara, interaksi sosial, kognitif dan aktifitas sehari-hari. Istilah GDD digunakan untuk anak usia kurang dari 5 tahun. Kejadian keterlambatan perkembangan sekitar 10% dari total populasi anak di seluruh dunia. Sementara angka GDD nya mencapai 1-3% pada anak-anak usia kurang dari 5 tahun (I Gusti Ngurah Rai, 2008). Contoh dari GDD yaitu autisme dan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder).

Sedangkan CP merupakan salah satu bentuk cidera otak (brain injury). Cidera otak ini dapat mempengaruhi pengendalian sistem motorik. CP disebut juga karena gangguan perkembangan atau rusaknya sebagian otak yang bertanggung jawab untuk fungsi motorik.

Perbedaan CP dan tunadaksa yaitu, tunadaksa sama sekali tidak bisa menggerakkan bagian tubuh tertentu. Sedangkan CP dapat menggerakkan anggota tubuhnya walaupun gerakannya terganggu.

GDD dapat disebabkan oleh kelainan genetik, metabolik, endokrin, trauma, cerebral palsy, infeksi dan toksin / racun. Penderita CP dapat mengalami GDD namun penderita GDD belum tentu CP.

Referensi:

Panteliadis, C; Panteliadis, P; Vassilyadi, F (April 2013). “Hallmarks in the history of cerebral palsy: from antiquity to mid-20th century”. Brain & Development35 (4): 285–92. 

https://www.cerebralpalsy.org/about-cerebral-palsy/history-and-origin. Diakses tanggal 16 Juni 2020

Oskoui, M; Coutinho, F; Dykeman, J; Jetté, N; Pringsheim, T (June 2013). “An update on the prevalence of cerebral palsy: a systematic review and meta-analysis”. Developmental Medicine & Child Neurology55 (6): 509–19.

www.solider.id/baca/5527-mengenal-luas-cerebral-palsy#:~:text=Sejarah. Diakses tanggal 16 Juni 2020

Centers for Disease Control and Prevention. (2013). Data & statistics for cerebral palsy. Retrieved August 10, 2013, from http://www.cdc.gov/ncbddd/cp/data.html

I Gusti Ngurah Suwarba dkk (2008). Profil Klinis dan Etiologi Pasien Keterlambatan Perkembangan Global di RSCM, Jakarta. Sari Pediatri Vol.10, No.4, Desember 2008.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Silahkan di share, jangan di copas ya...