Sejarah & Perkembangan Epidemiologi

Sejarah & Perkembangan Epidemiologi
Ilustrasi foto: kompas.com
Bagikan

Sejarah & Perkembangan Epidemiologi

Oleh: Muhyidin, SKM

Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani. Epi berarti atas, pada, tentang. Demo berarti penduduk. Logos berarti studi atau ilmu. Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan status atau kejadian yang berhubungan dengan kesehatan populasi tertentu, dengan penerapan pada pengendalian masalah kesehatan (J.M. Last, 1996). Definisi lain dari epidemiologi  yaitu Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (penyebaran) masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta determinannya (faktor – faktor yang mempengaruhinya) (Bustan M.N, 2002).

Dari pengertian epidemiologi di atas, terdapat 3 hal pokok, yaitu frekuensi, distribusi, dan determinan masalah kesehatan.

  • Frekuensi yang dimaksudkan disini menunjuk pada besarnya masalah kesehatan yang terdapat pada sekelompok manusia/masyarakat. Yang perlu dilakukn yaitu menemukan masalah kesehatan tersebut dan melakukan pengukurannya.
  • Distribusi yaitu pengelompokan masalah kesehatan menurut Man (orang/siapa yang terkena penyakit), Place (dimana penyebaran atau terjadinya penyakit), dan Time (kapan terjadinya penyebaran penyakit).
  • Determinan yaitu faktor penyebab dari suatu penyakit / masalah kesehatan.

Tujuan Epidemiologi yaitu:

  1. Menggambarkan, memantau & memprediksi status kesehatan, besarnya masalah kesehatan atau kejadian & beban penyakit di masyarakat dalam rangka perencanaan layanan & fasilitas kesehatan.
  2. Mempelajari/mengkaji riwayat alamiah & prognosis penyakit dalam rangka mengupayakan pencegahan dan pengendalian penyakit yang sesuai dengan tingkat/fase perjalanan penyakit.
  3. Menyelidiki, mengidentifikasi & menjelaskan etiologi/ determinan/ faktor penyebab (cause)/ faktor risiko suatu penyakit atau masalah kesehatan.
  4. Mengevaluasi program intervensi penyakit (pencegahan dan terapi) & modus layanan kesehatan.
  5. Menyuguhkan dasar-dasar untuk mengembangkan kebijakan (policy) & program pengendalian (control program) kesehatan masyarakat / publik yang rasional, berbasis bukti-bukti ilmiah empiris (evidence based)

Sejarah Epidemiologi

1. Era Masyarakat Primitif

Pergeseran dari gaya hidup pemburu-pengumpul ke model pertanian menyediakan pasokan makanan yang lebih aman dan memungkinkan perluasan populasi. Namun, hewan peliharaan tidak hanya menyediakan makanan dan tenaga; mereka juga membawa penyakit yang bisa menular ke manusia. Orang-orang juga mulai sangat bergantung pada satu atau dua tanaman, sehingga makanan mereka sering kali kekurangan protein, mineral, dan vitamin. Orang-orang mulai hidup dalam kelompok yang lebih besar dan tinggal di tempat yang sama, sehingga lebih banyak peluang untuk penularan penyakit.

Pada masyarakat primitif yang sangat padat berkembang setelah revolusi pertanian. Penduduk padat seperti ini seringkali tidak memiliki sarana yang memadai untuk membuang sampah dan limbah yang cenderung menumpuk. Hewan pengerat dan vektor serangga tertarik ke pemukiman manusia, menyediakan sarana penyebaran penyakit. Pada masa ini, penyakit dipercayai terkait dengan kekuatan supranatural dan manusia harus berdamai dengan alam. Ketika peristiwa meningkatnya prevalens rabies dianggap terjadi akibat munculnya bintang sirius (anjing) di langit.  Demikian juga meningkatnya kasus disentri pada penduduk di sekitar sungai Nil akibat adanya perubahan pada aliran sungai Nil yang terjadi karena adanya kekuatan supranatural.

2. Era Hypocrates (460-377 SM)

Hippocrates

Hippocrates – Bapak Kedokteran & Epidemiologi Pertama

Pada zaman ini, Hippocrates berpendapat bahwa sakit bukan disebabkan hal-hal yang bersifat supranatural. Terjadinya penyakit ada kaitannya dengan:

  • Elemen-elemen bumi, api, udara dan air
  • Elemen-elemen tersebut menyebabkan kondisi, dingin, kering, panas dan lembab

Kondisi dingin, panas, lembab dan kering dari bumi berpengaruh pada cairan tubuh, darah, cairan empedu kuning dan empedu hitam. Pada zaman ini Hippocrates telah menghubungkan antara kejadian sakit dengan faktor-faktor lingkungan dan diet yang mempengaruhi kesehatan.

Hippocrates adalah Bapak Epidemiologi. Dia dianggap sebagai The First Epidemiologyist, ahli epidemiolog pertama di dunia karena dialah yang pertama kali mengajukan konsep analisis kejadian penyakit secara rasional. Pikiran-pikirannya dituliskan dalam tiga bukunya: Epidemic I, Epidemic II, dan On Airs, Waters and Places. Dalam bukunya ini diajukanlah konsep tentang hubungan penyakit dengan faktor tempat (geografi), penyediaan air, iklim, kebiasaan makan dan perumahan. Dia yang memperkenalkan istilah epidemi dan endemi.

3. Era Galen (129 – 199 M)

Galen adalah seorang ahli bedah tentara Rumawi iangsering dianggap sebagai The Father of Experimental Physiology.  Dia mengembangkan teori Hippocrates dan mengembangkan konsep 2 elemen tambahan  dimana status kesehatan berkaitan dengan kepribadian / temperament (personality type) dan lingkungan kerja & gaya hidup / Procatartic (lifestyle factors). Menurut Galen, penyakit terjadi oleh karena interaksi 3 kumpulan faktor yaitu tubuh, sikap hidup dan atmosfer. Dapat dikatakan pada masa Galen ini telah ada pemikiran bahwa penyakit terjadi karena dipengaruhi oleh lingkungan dan sikap hidup.

4. Era Teori Miasma

Pada era ini, penyebab penyakit (misal kolera) adalah emanasi material non-organik berupa gas berbau busuk. Miasma diyakini merupakan uap beracun yang dihasilkan dari dekomposisi atau pembusukan organik yang umum ditemukan dalam kehidupan.

5. Era Jasad Renik (Germ) & Penyakit Infeksi/Menular

Pada era ini terdapat konsep seminaria contagium oleh Fracatorius / Fracastoro (1478 M). Menurut konsep ini sakit terjadi karena adanya proses kontak /bersinggungan dengan sumber penyakit. Dapat dikatakan pada masa ini telah ada pemikiran adanya konsep penularan.

Deskripsi dan statistik vital populasi dengan metode pengukuran kuantitatif yang pertama kali oleh John Graunt (1662 M). Graunt disebut sebagai The Columbus of Biostatistics. Kajian hubungan kematian dan kepadatan pendudukan serta peletakan dasar-dasar International Classification of Disease (ICD) oleh William Farr (1839 M).

Penyelidikan epidemiologi lapangan pada kasus kolera oleh John Snow sehingga Snow disebut sebagai Bapak Epidemiologi Lapangan. Pada masa itu John Snow (1813-1858), melakukan observasi mengenai riwayat alamiah penyakit kolera, dan bagaimana model transmisi/penularannya. Snow mengamati bahwa :

  • Kolera ditularkan dari manusia ke manusia
  • Penyebabnya adalah sel hidup yang tidak terlihat tapi dapat memperbanyak diri secara cepat
  • Transmisi melalui pencernaan dan atau air
  • Sumber penularan berasal dari faeces yang infeksius.

Walaupun Snow telah memunculkan teori mengenai penyebab kolera adalah mikroorganisme
tertentu, tapi teori tersebut belum diterima sepenuhnya. Ketika terjadi wabah kolera di Inggris (1853-1854), John Snow membuat hipotesa penyebab wabah tersebut (walaupun kuman kolera belum ditemukan saat itu).

Snow percaya adanya agent / contagion yan gmenyerang pencernaan melalui mulut dan dapat disebarkan melalui air (waterborne) yang tercemar tinja. Air sungai yang tercemar ini merupakan medium penularan. Untuk membuktikan hipotesanya, Snow menggunakan 3 metode epidemiologi:

  • Membandingkan mortality rate kolera dari wilayah yang berbeda (studi ekologi)
  • Membandingkan mortality rate dari kelompok individu pengguna suplai air minum yang berbeda (studi kohort)
  • Membandingkan sumber air minum pada kelompok kasus kolera dan non kasus (studi kasus kontrol)

Beberapa peristiwa penting pada era ini yaitu:

  • Penemuan mikroskop dan mikroorganisme (animalculuc) oleh A. Van Leeuvenhoek
  • Penanggulangan penyebaran jasad renik pada demam nifas oleh Ignaz Sammelweis (1818 M)
  • Penyelidikan penyakit cacar dan penemuan vaksin cacar oleh Edward Jenner (1796 M)
  • Penyelidikan penyakit rabies serta penemuan metode pasteurisasi dan vaksinasi rabies oleh Louis Pasteur (1827 M). Pasteur menemukan mikroorganisme pada proses fermentasi. Disamping itu mikroorganisme tersebut terdapat pula pada udara atmosfer.  Pada masa itu Pasteur dapat mengisolasi kuman /bakteri anthrax kemudian dibuat kultur dan dilemahkan, kemudian disuntikkan pada ternak, terjadi kekebalan pada ternak tsb sehingga timbullah konsep imunisasi/vaksinasi. Pasteur juga menemukan “virus”, istilah yang dipakai untuk mikroorganisme yang bersifat pathogen tapi tidak dapat dikultur/ditanam.
  • Penemuan mikroorganisme Mycobacterium tuberculosis oleh Robert Koch (1882) dan formulasi “Postulat Koch” juga oleh Robert Koch (1890) berdasarkan konsep penyebab dan akibat tunggal yang spesifik (single causation). Koch merupakan orang pertama yang dapat mengisolasi agen penyebab penyakit TBC dan kolera di Asia. Berikut ini isi postulat Koch:
    1. Kuman harus ada pada setiap kasus penyakit dan dapat dibuktikan melalui kultur
    2. Kuman-kuman tersebut tidak ditemukan pada kasus-kasus yang disebabkan oleh penyakit lain
    3. Kuman tersebut harus menimbulkan penyakit yang sama pada binatang percobaan
    4. Dari binatang percobaan yang telah sakit, dapat ditemukan kuman yang sama dengan
      kuman penyebab penyakit.

Kelemahan dari postulate Koch ialah tidak dapat diterapkan pada semua penyakit:
• Pada penyakit-penyakit akibat virus (virus belum dapat di kultur)
• Pada penyakit-penyakit tertentu seperti campak –> penyakit ini dapat menyebabkan sakit
pada manusia, tapi tidak dapat menyerang semua binatang percobaan kecuali hanya pada
anjing-anjing kecil
• Penyakit-penyakit canine distemper, dapat menyerang anjing tapi tidak dapat menyerang
manusia –> sehingga harus ada host yang spesifik untuk kuman-kuman tertentu

• Ada kuman-kuman pathogen yang menginfeksi manusia tapi tidak menimbulkan sakit –> orang sehat terinfeksi virus sering tidak menimbulkan sakit

6. Era Transisi Epidemiologi

Pada era ini terjadi perubahan pola kesehatan dan pola penyakit yang berinteraksi dengan demografi, ekonomi, dan sosial. Transisi epidemiologi berkaitan dengan transisi demografi, begitu juga dengan transisi teknologi. Misalnya pergantian dari penyakit infeksi ke penyakit man-made disease atau lifestyle disease. Pergeseran penyakit ini dapat dibuktikan dengan berubahnya pola penyakit penyebab kematian tertinggi antara tahun 1960, dengan wabah penyakit pneumonia, tuberkulosis, dan diare, dengan 1990 penyakit jantung, neoplasma, dan penyakit otak-pembuluh darah.

Penyebab terjadinya transisi epidemiologi antara lain:

  • Teknologi kedokteran
  • Perubahan standar hidup
  •  Angka kelahiran
  • Peningkatan gizi
  • Kontrol vektor dan sanitasi
  • Perubahan gaya hidup

7. Era Penyakit Non Infeksi & Infeksi Baru

Beberapa peristiwa penting pada era ini, yaitu:

  • Terdapat konsep penyebab dan akibat ganda (multiple causation).
  • Metode studi epidemiologi diperluas untuk meneliti bukan hanya penyakit infeksi, tapi juga penyakit non-infeksi.
  • Studi observational dan eksperimental oleh Josep Goldberg dkk (1923) tentang Pelagra membuktikan bahwa penyakit ini bukan akibat infeksi tapi akibat defisiensi nicotinic acid.
  • Studi kasus kontrol merokok dan kanker paru (oleh Doll & Hill, 1950). R.Dool dan A.B.Hill adalah dua nama yang berkaitan dengan ceritera berhubungan merokok dan kanker paru. Keduanya adalah peneliti pertama yang mendesain penelitian yang melahirkan bukti adanya hubungan antara rokok dan kanker paru. Keduanya adalah pelopor penelitian di bidang epidemiologi klinik
  • Studi kohort faktor risiko penyakit kardiovaskuler Framingham di Framingham, Massachusetts, USA (oleh Dawber dkk, 1955).
  • Studi uji lapangan (field/community trial) vaksin poliomyelitis pada anak sekolah (Frances, 1950)
  • Studi jantung Bogalusa (Freedman dkk, 1985)
  • Studi uji pencegahan penyakit jantung Stanford (Farquhar dkk, 1985)

Referensi:

  • Leon Gordis (2014). Epidemiology. Elsevir Saunders. Fifth Edition
  • Zata Ismah (2018). Bahan Ajar Dasar Epidemiologi. FKM UIN Medan, USU.
  • dr.Mondastri Korib. M.Sc, D.Sc (2020). Sejarah & Perkembangan Epidemiologi. FKM UI.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Silahkan di share, jangan di copas ya...