Theory of Reasoned Action

Theory of Reasoned Action
Ilustrasi foto: psychology.iresearchnet.com/
Bagikan

Theory of Reasoned Action

Pendahuluan

Salah satu program penelitian yang paling luas dan berpengaruh dalam sejarah psikologi sosial dilahirkan oleh Theory of Reasoned Action Martin Fisbein dan Icek Ajzen. Theory of Reasoned Action (TRA), pertama kali dikembangkan pada tahun 1967 oleh Martin Fishbein, yang kemudian direvisi dan diperluas oleh Fishbein dan Icek Azjen pada dekade berikutnya. Ajzen (1985) mengembangkan teori ini menjadi Theory of Planed Behaviour (TPB) yang ditujukan untuk memprediksi perilaku individu secara lebih spesifik.

Theory of Reasoned Action (TRA) berfokus pada niat seseorang untuk berperilaku dengan cara tertentu dalam situasi tertentu – apakah seseorang akan melakukannya atau tidak. Untuk memahami niat perilaku, yang dianggap sebagai penentu utama perilaku, TRA melihat sikap seseorang (atau populasi) terhadap perilaku itu serta norma-norma subyektif dari orang-orang dan kelompok yang berpengaruh yang dapat mempengaruhi sikap tersebut.

Dengan berfokus pada sikap dan norma, TRA menyediakan kerangka kerja untuk mengidentifikasi dan mengukur alasan yang mendasari niat seseorang untuk berperilaku dengan cara tertentu (atau tidak). Teori ini disebut Theory of Reasoned Action karena penekanan pada pemahaman alasan-alasan ini, bukan karena keyakinan dan sikap itu sendiri selalu masuk akal atau benar. Semakin kita memahami tentang sikap dan norma yang memengaruhi niat, maka semakin akurat intervensi dapat dirancang untuk memengaruhi perilaku ke arah yang diinginkan. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai Theory of Reasoned Action serta contoh dari teori tersebut.

Konsep Theory of Reasoned Action

Menurut Theory of Reasoned Action (TRA), perilaku seseorang dipengaruhi oleh niat, sedangkan niat dipengaruhi oleh sikap dan norma subyektif. Sikap sendiri dipengaruhi oleh keyakinan akan hasil dari tindakan yang telah lalu. Norma subyektif dipengaruhi oleh keyakinan akan pendapat orang lain serta motivasi untuk mentaati pendapat tersebut. Secara lebih sederhana, teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin agar ia melakukannya. Hal ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Theory of Reasoned Action (Fishbein & Ajzen, 1975)

Theory of Reasoned Action (Fishbein & Ajzen, 1975)

Komponen – komponen TRA:

1.Keyakinan Perilaku (Behaviour Belief)

Mengacu pada keyakinan bahwa perilaku akan menghasilkan suatu keluaran atau keyakinan terhadap adanya konsekuensi karena melakukan perilaku tertentu, disini seseorang akan mempertimbangkan untung atau rugi dari perilaku tersebut.

2.Evauasi Konsekuensi (Evaluation of the Consequency)

Evaluasi konsekuensi merupakan evaluasi seseorang terhadap keluaran atau evaluasi terhadap konsekuensi dari keyakinan perilaku dengan mempertimbangkan pentingnya konsekuensi – konsekuensi yang akan terjadi bagi individu bila ia melakukan perilaku tersebut.

3.Sikap (Attitude)

Menurut Fishbein & Ajzein (1991), sikap adalah perasaan individu positif atau negatif tentang melakukan suatu perilaku. Hal ini ditentukan melalui penilaian dari keyakinan seseorang mengenai konsekuensi yang timbul dari perilaku dan evaluasi dari keinginan tersebut. Faktor sikap merupakan point penentu perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh perubahan sikap seseorang dalam menghadapi sesuatu. Perubahan sikap tersebut dapat berbentuk penerimaan ataupun sebaliknya, penolakan. Sikap terhadap perilaku dibentuk oleh  Behavioral Belief (keyakinan perilaku) dan  Evaluation of the Consequency (evaluasi konsekuensi).

4.Keyakinan Normatif (Normative Belief)

Keyakinan normative mencerminkan dampak dari norma–norma subyektif dan norma sosial yang mengacu pada keyakinan seseorang terhadap bagaimana dan apa yang dipikirkan orang–orang yang dianggap penting oleh individu.

5.Motivasi untuk Taat (Motivation to Comply)

Menurut Ajzen (2007), norma subjektif adalah sejauh mana seseorang memiliki motivasi untuk mengikuti pandangan orang terhadap perilaku yang akan dilakukannya (normative belief). Kalau individu merasa itu adalah hak pribadinya untuk menentukan apa yang akan dia lakukan, bukan ditentukan oleh orang lain di sekitarnya, maka dia akan mengabaikan pandangan orang tentang perilaku yang akan dilakukannya. Norma subjektif (subjective norms) dibentuk oleh  Normative Belief (keyakinan normatif) dan  Motivation to Comply (Motivasi untuk taat). Dorongan anggota keluarga, termasuk kawan terdekat juga mempengaruhi agar seseorang dapat menerima perilaku tertentu, yang kemudian diikuti dengan saran, nasehat dan motivasi dari keluarga atau kawan. Kemampuan anggota keluarga atau kawan terdekat mempengaruhi seorang individu untuk berperilaku seperti yang mereka harapkan diperoleh dari pengalaman, pengetahuan dan penilaian individu tersebut terhadap perilaku tertentu dan keyakinannya melihat keberhasilan orang lain berperilaku seperti yang disarankan.

6.Niat Berperilaku (Behavioural Intention)

Niat ditentukan oleh sikap, norma pentingdalam masyarakat dan norma subjektif. Komponen pertamamengacu pada sikap terhadap perilaku. Sikap ini merupakan hasil pertimbangan untung dan rugi dari perilaku tersebut (outcome of behavior). Disamping itu juga dipertimbangkan pentingnya konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi bagi individu (evaluation regarding of the outcome). Komponen ke dua mencerminkan dampak dari norma-norma subjektif dan norma sosial yang mengacu pada keyakinan seseorang terhadap bagaimana danapa yang dipikirkan orang-orang yang dianggap penting dan motivasi seseorang untuk mengikuti pikiran tersebut.

7.Perilaku (Behaviour)

Perilaku adalah sebuah tindakan yang telah dipilih seseorang untuk ditampilkan berdasarkan atas niat yang sudahterbentuk. Perilaku merupakan transisi niat atau kehendak ke dalam tindakan.

Konsep Planned Behavior Theory

Pada tahun 1988, Ajzen mengembangkan theory of reasoned action dengan menambahkan kepercayaan individu dan persepsi individu mengenai kontrol perilaku, yaitu kepercayaan bahwa individu dapat melakukan suatu perilaku didasari oleh kemampuan untuk melakukannya(Lee & Kotler, 2011). Teori ini dinamai dengan Teori Perilaku Terencana (theory of planned behaviour). Inti dari teori perilaku terencana mencakup 3 hal yaitu, keyakinan akan kemungkinan hasil serta evaluasi dari perilaku tersebut (behavioral beliefs), keyakinan akan norma yang diharapkan serta motivasi untuk memenuhi harapan yang diinginkan (normative beliefs), dan keyakinan tentang suatu faktor yang dapat mendukung atau menghalangi perilaku dan kesadaran akan kekuatan faktor tersebut (control beliefs).

Theory of planned behaviour

Theory of planned behaviour

 

Selain attitude toward the behavior dan subjective norm, dalam planned behavior theory terdapat pula faktor individual, yaitu persepsi tentang kontrol perilaku (perceived behavioral control). Secara konseptual, perceived behavioral control diharapkan dapat memoderasi pengaruh intensi pada perilaku yang dilakukan individu; sehingga suatu intensi yang kuat akan menghasilkan perilaku hanya jika perceived behavioral control yang dimiliki individu juga kuat. Sederhananya, kemudahan atau kesulitan secara persepsi untuk melakukan perilaku

Ajzen (2006) menyatakan bahwa intensi dan perceived behavioral control adalah berpengaruh terhadap suatu perilaku yang dilakukan oleh individu, namun pada umumnya, intensi dan perceived behavioral control tidak memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini dikarenakan setiap individu memiliki kontrol penuh terhadap perilaku yang akan ditampilkannya (Nelson, Fishbein, & Stasson; dikutip dalam Abrams & Moura, 2001). Azwar (dikutip dalam Christanti, 2008) menambahkan, perceived behavioral control sangat penting artinya ketika rasa percaya diri individu sedang dalam kondisi yang rendah.

Ajzen (2006) memaparkan perceived behavioral control sebagai fungsi yang didasarkan oleh keyakinan yang disebut sebagai keyakinan kontrol (control beliefs), yaitu keyakinan individu mengenai faktor pendukung dan atau penghambat untuk melakukan suatu perilaku (salient control beliefs). Keyakinan tentang faktor pendukung dan penghambat untuk melakukan suatu perilaku didasarkan pada pengalaman terdahulu individu tentang suatu perilaku, informasi yang dimiliki individu tentang suatu perilaku yang diperoleh dengan melakukan observasi pada pengetahuan yang dimiliki diri maupun orang lain yang dikenal individu, dan juga oleh berbagai faktor lain yang dapat meningkatkan ataupun menurunkan perasaan individu mengenai tingkat kesulitan dalam melakukan suatu perilaku.

Secara spesifik, dalam planned behavior theory, persepsi tentang kontrol perilaku (perceived behavioral control) didefinisikan sebagai persepsi individu mengenai kemudahan atau kesulitan untuk melakukan suatu perilaku. Perceived behavioral control ditentukan oleh kombinasi antara keyakinan individu mengenai faktor pendukung dan atau penghambat untuk melakukan suatu perilaku (control beliefs), dengan kekuatan perasaan individu akan setiap faktor pendukung ataupun penghambat tersebut (perceived power control).

Secara umum, semakin individu merasakan banyak faktor pendukung dan sedikit faktor penghambat untuk dapat melakukan suatu perilaku, maka individu akan cenderung mempersepsikan diri mudah untuk melakukan perilaku tersebut; sebaliknya, semakin sedikit individu merasakan sedikit faktor pendukung dan banyak faktor penghambat untuk dapat melakukan suatu perilaku, maka individu akan cenderung mempersepsikan diri sulit untuk melakukan perilaku tersebut (Ajzen, 2006).

Individu yang mempunyai persepsi kontrol tinggi akan terus terdorong dan berusaha untuk berhasil karena ia yakin dengan sumberdaya dan kesempatan yang ada, kesulitan yang dihadapinya dapat diatasi. Misalnya jika ada dua orang yang sama-sama ingin belajar menggunakan komputer, walaupun keduanya mencoba dan berlatih, individu yang mempunyai kontrol perilaku tinggi tahu mengenai tindakan yang perlu diambilnya pada saat mengalami kesulitan.

Ia tahu mengenai beberapa hal yang perlu dipersiapkan, kepada siapa ia meminta bantuan apabila mengalami kesulitan sehingga individu ini akan terus berusaha lebih keras. Itulah sebabnya Ajzen (2005) mengemukakan bahwa kontrol perilaku ini bersama dengan intensi erat hubungannya dengan dilakukan atau tidak dilakukannya sebuah perilaku.

Aplikasi TRA

Meskipun teori ini berangkat dari kajian psikologi sosial, dan dilahirkan oleh profesor di bidang psikologi sosial, tetapi aplikasi teori ini telah merambah ke banyak bidang kajian termasuk di bidang kesehatan ataupun keselamatan. Berikut adalah beberapa contoh aplikasi TRA:

a. Aplikasi TRA dalam analisa beberapa faktor yang berhubungan dengan niat mahasiswa pengguna NAPZA suntik untuk berkunjung ke klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT).

Contoh Aplikasi TRA di Bidang Kesehatan

Contoh Aplikasi TRA di Bidang Kesehatan

Seorang pengguna NAPZA suntik percaya bahwa berkunjung ke klinik VCT memberikan manfaat bagi orang yang berisiko HIV/AIDS seperti mendapat informasi tentang penggunaan NAPZA suntik yang aman (keuntungan), tetapi juga akan dijauhi teman-teman sesama pengguna NAPZA suntik (kerugian). Pengguna NAPZA suntik akan mempertimbangkan manayang paling penting diantara keduanya. Kemudian ia juga akan mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi setelah melakukan VCT, seperti setelah melakukan VCT dan dinyatakan HIV positif,ia tidak diperbolehkan untuk bekerja meskipun mampu untuk bekerja. Nilai dan norma dilingkungan masyarakat tidak mendeskriminasi pengguna NAPZA suntik setelah berkunjung keklinik VCT. Orang yang dianggap penting (teman sesama pengguna NAPZA suntik yang telah berkunjung ke klinik VCT) setuju (atau sebatas menasihati) untuk berkunjung ke klinik VCT dan pengguna NAPZA suntik termotivasi untuk patuh mengikuti petunjuk tersebut, maka terdapatkecenderungan positif berniat untuk berkunjung ke klinik VCT.

b. Aplikasi TRA dalam melihat perilaku menggunakan APD helm bagi pekerja konstruksi.

Contoh Aplikasi TRA dalam Bidang Keselamatan

Contoh Aplikasi TRA dalam Bidang KeselamatanSeorang pekerja yang ingin menggunakan APD Helm. Memiliki berbagai pertimbangan alasan untuk menggunakannya yang dipengaruhi oleh dua bagian besar yaitu Pribadi dan lingkungan. Pertimbangan sikap Pribadi dipengaruhi oleh dua faktor yakni keyakinan jika menggunaan APD Helm dapat melindungi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan dan evaluasi terhadap untung rugi jika Menggunakan APD, terkadang mereka menganggap bahwa menggunakan APD terlalu merepotkan untuk pekerjaan ringan, tetapi dilain hal mereka menginginkan Keselamatan walau harus berepot-repot menggunakan APD Helm. Lalu dari bagian kedua faktor lingkungan (Norma Subjektif) dipengaruhi oleh dua faktor lainya yaitu keyakinan normatif melihat lingkungan sekitar dengan menggunakan APD Helm dapat melindungin diri dan motivasi untuk mengikuti peraturan bahwa Bekerja harus menggunakan APD Helm dan pola kerja aman rekan kerja lainnya yang menggunakan APD Helm, membawa anggapan pribadi tersebut untuk juga memiliki niat / keinginan untuk menggunakan APD Helm. Jadi dengan adanya dua bagian besar faktor pertimbangan pribadi dan pertimbangan lingkungan dapat menggiring keinginan pribadi seorang untuk menggunakan APD Helm dalam pekerjaannya.

Manfaat TRA

Ada beberapa manfaat dari teori ini, antara lain:

  1. Dapat meramalkan dan memahami pengaruh-pengaruh motivasional terhadap perilaku yang bukan dibawah kendali atau kemauan individu sendiri. Untuk mengidentifikasi bagaimana dan kemana mengarahkan strategi-strategi untuk perubahan perilaku dan juga untuk menjelaskan pada tiap aspek penting beberapa perilaku manusia seperti mengapa seseorang memvaksin anaknya, memilih alat kontrasepsi, atau mengapa melanggar peraturan dan lain sebagainya
  2. Teori ini menyediakan suatu kerangka untuk mempelajari sikap terhadap perilaku. Berdasarkan teori tersebut, penentu terpenting perilaku seseorang adalah intensi untuk berperilaku. Intensi individu untuk menampilkan suatu perilaku adalah kombinasi dari sikap untuk menampilkan perilaku tersebut dan norma subjektif.
  3. Membantu menentukan dan mengembangkan intervensi yang efektif, dengan cara mempelajari determinan perilaku seseorang berdasarkan kerangka konsep TRA.

Keterbatasan TRA

Teori ini dikembangkan Tahun 1967, selanjutnya teori tersebut terus direvisi dan diperluas oleh Icek Ajzen dan Martin Fishbein. Beberapa kekurangan dari teori ini antara lain:

  1. Beberapa penelitian terbaru membuktikan kehendak dan perilaku hanya berkorelasi sedang, kehendak tidak selau menuju pada perilaku itu sendiri, terdapat hambatan-hambatan yang mencampuri ataumempengaruhi kehendak dan perilaku (Van Oost, 1991 dalam Smet, 1994).
  2. TRA tidak mempertimbangkan pengalaman sebelumnya dengan perilaku dan mengabaikan akibat-akibat jelas dari variabel eksternal (variabel demografi, gender, usia, dan keyakinan kesehatan) terhadap pemenuhan kehendak perilaku.

Kesimpulan

  1. Theory of Reasoned Action (TRA) menghubungkan antara keyakinan (belief), sikap (attitude), kehendak (intention) dan perilaku (behavior).
  2. Praktik atau perilaku menurut TRA dipengaruhi oleh niat, sedangkan niat dipengaruhi oleh sikap dan norma subyektif. Sikap sendiri dipengaruhi oleh keyakinan akan hasil dari tindakan yang telah lalu. Norma subyektif dipengaruhi oleh keyakinan akan pendapat oranglain serta motivasi untuk mentaati pendapat tersebut.
  3. Planned Behavior Theory, merupakan penyempurnaan TRA dengan menambahkan faktor keyakinan kontrol (control beliefs). Didefinisikan sebagai kemudahan atau kesulitan secara persepsi untuk melakukan perilaku.
  4. Manfaat TRA adalah meramalkan pengaruh motivasional terhadap perilaku, menyediakan suatu kerangka untuk mempelajari perilaku, dan sebagai dasar penentuan intervensi untuk perubahan perilaku.
  5. Keterbatasan TRA adalah TRA hanya dapat dilakukan pada kondisi individu yang memiliki konrol kuat terhadap dirinya sendiri. Jika tidak, maka kaitan antara niat dan perilaku akan menjadi lemah. Selain itu, TRA tidak mempertimbangkan pengalaman sebelumnya dengan perilakudan mengabaikan akibat-akibat jelas dari variabel eksternal (variabel demografi, gender,usia, dan keyakinan kesehatan) terhadap pemenuhan kehendak perilaku.
  6. Aplikasi TRA untuk meramalkan perilaku preventif dan telah digunakan dalam berbagai jenis bidang ilmu termasuk kesehatan dan keselamatan.

 

Referensi:

  • Hogg, Michael A. 1995. Social Psychology : An Introduction. Prentice Hall.
  •  

    Karen G, Barbara K, and Visnawath. 2008. Health Behavior and Health Education (Theory, Risearch, and Practice). San Fransisce: Jossey Bass.

  •  

    Lezin Nicole, Theories & Approaches – Theory of Reasoned Action (TRA). 2007 (http://recapp.etr.org)

  •  

    Trafimow David. 2009. The Theory of Reason Action. (www.researchgate.net)

  •  

    Ramdhani Neila. 2011. Penyusunan Alat Pengukur Berbasis Theory of Planned Behavior.

  •  

    Smert, Bart. 1995. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

  •  

    US Department of Health and Human Services. 2005. Theory at a Glance: A Guide for Health Promotion Practicei. National Institute of Health.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Silahkan di share, jangan di copas ya...