Manajemen Gangguan Otot Rangka Akibat Kerja

Manajemen Gangguan Otot Rangka Akibat Kerja
Ilustrasi foto: disabilitylaw.com
Bagikan

Manajemen Gangguan Otot Rangka Akibat Kerja

Oleh: Muhyidin, SKM

Salah satu masalah kesehatan di tempat kerja yaitu gangguan otot rangka akibat kerja atau disingkat dengan GOTRAK. Gotrak ini umumnya berkaitan dengan masalah faktor risiko ergonomi yang tidak dicegah / diatasi dengan baik.

Musculoskeletal disorders (MSD) adalah masalah kesehatan pada alat gerak, termasuk otot, sendi, tulang rangka, tulang rawan, jaringan dan syaraf.  MSD meliputi semua jenis sakit dari ringan, gangguan sementara, tidak dapat disembuhkan hingga cacat (WHO, 2003).

Work-related musculoskeletal disorders (WMSD) adalah kondisi dimana lingkungan kerja dan performa kerja berkontribusi secara signifikan terhadap kondisi tersebut dan kondisinya diperparah atau bertahan lama karena kondisi kerja (CDC, 2020).

MSD terjadi jika beban mekanis lebih tinggi daripada kapasitas bantalan beban dari komponen yang ada dalam sistem musculoskeletal, mengakibatkan cedera pada otot, ligamen, dan tulang. MSD ini dapat terjadi secara akut maupun secara kronik. MSD akut disebabkan beban berat yang kuat dan dalam jangka waktu pendek mengakibatkan kegagalan dalam struktur dan fungsi sedangkan MSD kronik disebabkan beban permanen, yang mengakibatkan peningkatan rasa sakit dan disfungsi bagian tubuh.  Kronik terjadi dalam jangka waktu yang lama karena pekerja mengabaikan resikonya dan dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan (WHO, 2003).

Faktor Potensial yang Berkontribusi terhadap MSDs

Faktor fisik:

  • Gerakan mengangkat, membawa, menarik, menahan, mendorong, menggunakan perkakas,
  • Gerakan berulang
  • Posisi janggal atau posisi statis dalam jangka waktu lama
  • Tekanan lokal dari alat atau permukaan
  • Getaran tangan & lengan / seluruh tubuh
  • Bekerja dalam suhu dingin

Faktor individu

  • Riwayat medis terdahulu
  • Kapasitas fisik
  • Umur
  • Obesitas
  • Kebiasaan Merokok

Faktor organisasi

  • Tuntutan pekerjaan, kurangnya pengendalian terhadap tugas yang dilakukan
  • Kepuasan kerja yang rendah
  • Gerakan berulang dan monoton
  • Kurangnya support dari rekan kerja dan atasan
  • Waktu istirahat yang tidak memadai (Kurniawidjaja & Ramdhan, 2019)

Jenis Gangguan Musculoskeletal Disorder

Gangguan ini berupa gangguan ortopedik, berupa cumulative trauma disorders atau repetitive strain injuries, yaitu cidera kumulatif atau tegang berulang yang sering terjadi dalam pekerjaan akibat penggunaan anggota tubuh secara paksa berulang atau terpajan alat getar tangan.

  1. Strain: kondisi otot atau tendon yang tegang akibat didorong atau ditarik oleh beban ekstrim, biasanya berupa kekuatan eksternal yang tak terduga seperti terjatuh
  2. Sprain: disebut juga dengan keseleo merupakan cedera ligament yang meregang di luar batas dan menyebabkan robekan atau gangguan pada otot dalam substansi ligamentum
  3. Tendinosis / tendinophaty: perubahan degeratif tendon dengan gangguan serat kolagen , pembentukan kapiler, dan fibrosis. Gangguan ini sering kali berupa penyakit inflamasi primer seperti rheumatoid arthritis atau karena cedera mekanik
  4. Bursitis: peradangan pada bursa. Contohnya yaitu olecraron bursitis yang  berupa peradangan pada bidang jaringan tipis antara kulit dan os olecranon
  5. Arthrosis: gangguan sendi yang disebabkan oleh cidera, penyakit, atau kelainan bawaan. Contohnya yaitu arthritis pasca-traumatis atau osteoarthritis dari sendi basilar pada ibu jari
  6. Peripheral neurophaties: gangguan saraf perifer  pada ekstremitas atas yang terjepit di lokasi tertentu di lengan, seperti saraf yang melintasi di dalam tunnel. Hal ini diduga disebabkan oleh kompresi eksternal, pajanan alat getar tangan, pekerjaan tangan yang berulang, atau postur janggal yang berkelanjutan
  7. Tenosynovitis: peradangan selubung tendon (Kurniawidjaja & Ramdhan, 2019)

Faktor Risiko Ergonomi Manual Handling

  1. High Task Repetition: membawa mengangkat dan menurunkan beban dengan frekuensi yang berulang
  2. Forceful Exertions: Pengerahan tenaga yang kuat, mengangkat benda berat tanpa menggunakan alat bantu atau pegangan menyebabkan kerja otot meningkat dan dapat menyebabkan gangguan muskulosketal
  3. Postur janggal: Postur janggal saat membawa beban mengakibatkan gangguan pada bahu/lengan dan leher. Postur janggal saat mengangkat barang mengakibatkan gangguan pada punggung bagian bawah dan bagian atas. Postur janggal saat menurunkan beban mengakibatkan gangguan pada lengan, bahu dan punggung.
  4. Kerja Statis: Harus Mempertahankan Sikap diam untuk waktu yang lama pada suatu aktivitas
  5. Sikap tubuh yang tidak alamiah dan dipaksakan: seperti membungkuk, memutar, meregang, jongkok dan berlutut.

Ergonomic Assessment Tool / Alat Penilaian Ergonomi

Ada beberapa tool yang bisa digunakan untuk penilaian / assessment ergonomi, berikut ini contohnya. Untuk file excelnya bisa langsung di klik di tautan tersebut:

  1. NIOSH Lifting Equation Scoring Sheet Tool
  2. Rapid Entire Body Assessment (REBA) Explained Tool
  3. Rapid Upper Limb Assessment (RULA) Calculator Tool

Baca juga:

Ergonomi Perkantoran (Office Ergonomic)

Konsep Dasar Ergonomi

Referensi:

  • Kurniawidjaja L.M & Ramdhan D.H. 2019. Penyakit Akibat Kerja dan Surveilans. Jakarta: UI Publishing
  • Kuniawidjaja L.M. 2015. Teori dan aplikasi Kesehatan kerja, UI Publishing, Jakarta.
  • Osha.europa.eu/en/publications/factsheet-71-introduction-work-related-musculoskeletal-disorders
  • www.cdc.gov/workplacehealthpromotion/health-strategies/musculoskeletal-disorders/
  • Luttman, Atwin, dkk. Preventing Musculosceletal Disorder in the Workplace, WHO 2003, Germany Berlin

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: