Gizi dan Kesehatan Masyarakat

Gizi dan Kesehatan Masyarakat
Ilustrasi foto: primaindisoft.com
Bagikan

Gizi dan Kesehatan Masyarakat

Oleh: Muhyidin, SKM

Pengertian dan Ruang Lingkup Gizi dan Kesehatan Masyarakat

Istilah gizi baru mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1952-1955 sebagai terjemahan kata bahasa Inggris nutrition. Kata gizi berasal dari bahasa Arab, ghidza yang berarti makanan.Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca ghizi. Selain itu sebagian orang menterjemahkan nutrition dengan mengejanya sebagai nutrisi. Namun yang lazim dan resmi, baik dalam tulisan ilmiah maupun dokumen pemerintah, hanya digunakan kata gizi (Sunita, 2009; Yuniastuti, 2008).

Gizi adalah keseluruhan dari berbagai proses dalam tubuh makhluk hidup untuk menerima bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut agar menghasilkan pelbagai aktivitas penting dalam tubuhnya sendiri (Hartono dan Kristiani, 2011). Pengertian gizi menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 17 Tahun 2015 adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, air, dan komponen lain yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.

Gizi didapatkan dari pangan yang kita makan. Secara umum, pangan dikelompokkan menjadi dua yaitu pangan hewani dan pangan nabati. Sedangkan penggolongan pangan oleh FAO dikenal sebagai Desirable Dietary Pattern (Pola Pangan Harapan/PPH). Kelompok pangan dalam PPH ada sembilan yaitu : padi-padian, umbi-umbian, pangan hewani, minyak dan lemak, buah biji berminyak, kacangkacangan, gula, sayur dan buah serta lain-lain (minuman dan bumbu). Penggolongan pangan terdapat juga dalam Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM), pangan digolongkan menjadi 10 golongan, yaitu serealia, umbi-umbian dan hasil olahannya, biji-bijian, kacang-kacangan dan hasil olahannya, daging dan hasil olahannya, telur, ikan, kerang, udang dan hasil olahannya, sayuran dan buah-buahan, susu dan hasil olahannya, lemak dan minyak, serta serba serbi (Yuniastuti, 2008).

            Kecukupan gizi merupakan salah satu hal terpenting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tubuh manusia memerlukan zat gizi atau zat makanan, untuk dapat melakukan kegiatan fisik sehari-hari, untuk memelihara proses tubuh dan untuk tumbuh dan berkembang khususnya bagi yang masih dalam pertumbuhan. Masalah gizi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat. Istilah yang digunakan untuk masalah gizi yaitu malnutrisi (mal berarti salah dan nutrisi berarti gizi). Dalam arti yang lebih luas, masalah gizi tidak hanya kekurangan asupan gizi saja tetapi juga kelebihan gizi.

Hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan bahwa jumlah gizi kurang/buruk di kalangan anak balita cukup tinggi, sementara jumlah anak gemuk juga meningkat. Fenomena beban ganda ini sedang dihadapi bangsa Indonesia. Kondisi gizi masyarakat juga dibebani oleh persoalan anak pendek (stunting) yang jumlahnya sepertiga anak balita (Setyawati, 2018). Kerangka konseptual UNICEF tentang determinan / faktor penentu kekurangan gizi pada anak terdapat pada Gambar 1 di bawah ini.

Kerangka konseptual UNICEF tentang determinan / faktor penentu kekurangan gizi pada anak

Gambar 1. Kerangka konseptual UNICEF tentang determinan / faktor penentu kekurangan gizi pada anak

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Balita

Perkembangan bayi dan balita dipengaruhi oleh berbagai faktor genetik dan faktor lingkungan seperti lingkungan pranatal, perinatal, dan postnatal. Lingkungan pranatal meliputi riwayat gizi ibu saat hamil, mekanis, toksin/zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunisasi, anoksia embrio. Pada lingkungan perinatal faktor asfiksia, trauma lahir, hipoglikemia, hiperbilirubinemia, Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), infeksi dapat mempengaruhi perkembangan bayi dan balita.

Lingkungan postnatal terbagi menjadi faktor biologis yang dapat mempengaruhi perkembangan seperti ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, status gizi, perawatan kesehatan, kerentanan terhadap penyakit, kondisi kesehatan kronis, fungsi metabolisme, hormon. Faktor fisik yaitu cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi, keadaan rumah, radiasi. Faktor psikososial, stimulasi, motivasi belajar, ganjaran/hukuman yang wajar, kelompok sebaya, stres, sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas interaksi anak – orangtua. Faktor keluarga dan adat istiadat: pekerjaan/pendapatan keluarga, pendidikan ayah/ibu, jumlah saudara, jenis kelamin dalam keluarga, stabilitas rumah tangga, kepribadian ayah/ibu, pola pengasuhan, adat istiadat, agama, urbanisasi, kehidupan politik (Soetjiningsih dan Ranuh, 2015).

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain (Kemenkes, 2016):

1). Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak

  • Ras/etnik atau bangsa

Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.

  • Keluarga

Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau kurus.

  • Umur

Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.

  • Jenis kelamin

Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

  • Genetik

Genetik (heredokostitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetic yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil (stunting).

2). Faktor luar (eksternal)

A. Faktor Prenatal
  • Gizi

Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan janin.

  • Mekanis

Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital seperti club foot.

  • Toksin/zat kimia

Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin, Thalldomid dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.

  • Endokrin

Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, hiperplasia adrenal.

  • Radiasi

Paparan radium dan sinar rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongenital mata, kelainan jantung.

  • Infeksi

lnfeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks) dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu tuli, mikros efali, retardasi mental dan kelainanjantung kongenital.

  • Kelainan imunologi

Eritobaltosi fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibody terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan Kem icterus yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.

  • Anoksia embrio

Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu.

  • Psikologi ibu

Kelainan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.

B. Faktor Persalinan

Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.

C. Faktor Pasca Persalinan
  • Gizi

Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang cukup..

  • Penyakit kronis/ kelainan kongenital, Tuberkulosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.
  • Lingkungan fisik dan kimia

Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif (Pb, Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak negative terhadap pertumbuhan anak.

  • Psikologis

Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

  • Endokrin

Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid akan menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.

  • Sosio-ekonomi

Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak.

  • Lingkungan pengasuhan

Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

  • Stimulasi

Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.

  • Obat-obatan

Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

Bawah Garis Merah (BGM) pada Balita

Balita dengan BGM (Bawah Garis Merah) adalah balita dengan berat badan menurut umur (BB / U) berada di bawah garis merah pada KMS (Kartu Menuju Sehat). Balita BGM dapat di jadikan salah satu indikator awal bahwa balita tersebut mengalami masalah gizi yang perlu segera ditangani. Pertumbuhan anak dapat dipantau dan diamati dengan menggunakan KMS balita. KMS merupakan salah satu alat yang dapat di gunakan untuk memprediksi status gizi anak berdasarkan kurva yang terdapat pada KMS. Bila masih berada dalam batas hijau maka status gizi dalam katagori baik, apabila di bawah garis merah maka status gizi buruk. (Marimbi, 2010).

Banyak upaya yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki status gizi balita BGM di wilayah setempat, yakni salah satunya adalah dengan memberikan makanan tambahan. Selain itu juga memberikan penyuluhan kepada orang tua tentang gizi yang baik, serta melakukan pemantauan gizi balita dengan penambahan frekuensi kunjungan balita. Oleh karena itu peran seorang ibu juga penting dalam membantu mengatasi masalah gizi pada balita yaitu dengan memperhatikan asupan gizi pada keluarga, mulai dari penyiapan makanan, pemilihan bahan makanan, sampai menu makanan. Oleh karena itu pengetahuan seorang ibu juga harus ditingkatkan pengetahuan ibu tentang gizi dan perilaku ibu dalam membentuk keluarga sadar gizi.

Masalah gizi kurang adalah suatu masalah gizi yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka panjang. Jenis penyekit gizi kurang ditentukan berdasarkan jenis zat gizi apa yang kurang dikonsumsi. Banyak juga yang terjadi masalah gizi kurang yang komplek karena kurangnya 2 atau lebih zat gizi. Jenis masalah gizi kurang meliputi:

  • KEP (kekurangan energy protein)
  • KVA (kekurangan vitamin A)
  • GAKY (gangguan akibat kekurangan yodium)
  • Anemia
  • Stunting (tinggi badan seseorang lebih rendah dibandingkan orang lain dengan umur dan jenis kelamin yang sama).
  • Defisiensi vitamin
  • Defisiensi mineral

Peran Posyandu dalam Mengatasi Tingginya Prevalensi Gizi Buruk

UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga) dan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan program yang secara khusus dilaksanakan untuk menurunkan prevalensi gizi buruk. Peningkatan kedua program tersebut nampaknya berdampak positif untuk menurunkan gizi buruk. Meskipun demikian keterlibatan aktif masyarakat, organisasi-organisasi wanita dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) serta perbaikan keadaan ekonomi mempunyai andil yang besar di dalam keberhasilan meningkatkan status gizi anak balita. Kegiatan utama program UPGK (dari aspek gizi) yang dilaksanakan sampai saat ini berupa penimbangan anak balita, penyuluhan gizi (KIE, Komunikasi, Informasi dan Edukasi), peningkatan pemanfaatan pekarangan, pemberian makanan tambahan, pemberian oralit (untuk penderita diare), pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi, dan pemberian kapsul besi kepada ibu hamil.

Kegiatan ini melibatkan beberapa lembaga terkait yang mempunyai tugas dan tanggung jawab yang saling menopang untuk keberhasilan program (Departemen Kesehatan, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional/BKKBN, Departemen Pertanian, Departemen Dalam Negeri, Departemen Agama). Pelaksanaan kegiatankegiatan tersebut di tingkat desa atau di tingkat yang lebih kecil, dikoordinasikan dalam bentuk Posyandu. Hal ini disebabkan keterbatasan tenaga kesehatan yang tersedia dan luasnya wilayah kerja sektor terdepan pelayanan kesehatan (Pusat Kesehatan Masyarakat/Puskesmas). Dengan demikian peran kader desa yang telah terlatih serta tokoh masyarakat setempat sangat menentukan kelangsungan pelaksanaan Posyandu (Muchtadi, 2001).

Pelayanan langsung kepada kelompok sasaran dilaksanakan dalam bentuk pelayanan gizi di Puskesmas dan pelayanan gizi di Posyandu dengan sasaran khusus ibu dan anak, dipadukan dengan kegiatan pelayanan kesehatan dasar dan KB (Keluarga Berencana). Sedangkan pelayanan tidak langsung di masyarakat dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan gizi masyarakat, fortifikasi bahan makanan dengan vitamin A atau iodium, dan pemanfaatan tanaman pekarangan.

Masalah Lain Selain Gizi Buruk

Masalah lain selain gizi buruk yaitu masalah gizi lebih. Masalah gizi lebih sering disebut dengan noncommunicable disease atau diartikan dengan penyakit yang tidak menular. Masalah gizi lebih tersebut yaitu obesitas dan penyakit degeneratif (jantung coroner, stoke, diabetes mellitus, asam urat, osteoporosis, hipertensi, dyslipidemia, gagal ginjal dan lainnya) (Setyawati, 2018).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memotret masalah kegemukan dan obesitas di dunia menggunakan data yang sebagian besar diperoleh dari jurnal imiah yang terbit dalam rentang waktu 20 tahun (1983 – 2004). Hampir separuh publikasi yang dijadikan referensi adalah terbitas di atas tahun 2000. Data tersebut menunjukkan sekitar 50% atau lebih penduduk di negara maju mengalami kegemukan, sementara di negara berkembang 20-30%. Bahkan di Amerika Serikat hampir sepertiga penduduknya menderita obesitas. Hal itu terkait dengan tingkat kesejahteraan negara-negara maju sehingga masyarakatnya mengkonsumsi kalori dan lemak jauh melebihi kebutuhan tubuh. Beda halnya dengan di Jepang, walaupun termasuk negara maju, prevalensi kegemukan disana hanya 23,4% dan obesitas 3,1%.

Mengapa Ada Balita yang Dianjurkan untuk Mengonsumsi Makanan Hewani dan Ada yang Mendapatkan Makanan Tambahan

Anemia gizi merupakan salah satu masalah gizi utama yang umum dijumpai di masyarakat. Dari kesehatan masyarakat, penyebab utama timbulnya anemia gizi adalah karena kekurangan zat besi. Karenanya anemia gizi yang ada sering disebut sebagai anemi kurang besi, atau dengan istilah yang lebih populer, anemia gizi besi (AGB). Kekurangan asam folat dapat merupakan faktor kontribusi yang menyebabkan terjadinya anemia. Kekurangan vitamin B12, menurut beberapa hasil penelitian tidak berperanan penting dalam etiologi terjadinya anemia gizi di Indonesia. Konsumsi zat besi yang tidak cukup dan penyerapan (absorpsi) zat besi yang rendah dari makanan yang dikonsumsi, terutama dari pola makan yang menitikberatkan pada pangan nabati, diduga merupakan penyebab utama terjadinya anemia gizi besi. Beberapa penelitian menemukan bahwa konsumsi zat besi dari pola makanan tersebut lebih rendah dari kecukupan konsumsi zat besi yang dianjurkan. Penelitian lain menunjukkan pula peranan infestasi cacing dan penyakit malaria terhadap timbulnya anemia gizi besi.

Dalam daging, Fe terdapat dalam bentuk Heme (heme iron) yang merupakan bagian dari mioglobin (pigmen daging) dan hemoglobin (pigmen dari sel darah merah). Penyerapan zat besi dari makanan oleh usus (kecil) sangat rendah dan dipengaruhi oleh bentuk zat besi dalam makanan tersebut, serta terdapat atau tidaknya zat-zat yang menghambat atau meningkatkan penyerapan. Besi heme yang berasal dari pangan hewani lebih mudah diserap oleh usus (sekitar 10-20 %), sedangkan zat besi non heme yang berasal dari pangan nabati lebih sulit untuk diserap (hanya sekitar 1-5%).

Zat-zat yang dapat menghambat penyerapan zat besi antara lain: asam fitat, asam oksalat dan tanin (terdapat dalam serelia, sayur-sayuran, kacang-kacangan dan daun teh). Sedangkan protein, terutama protein hewani, dan vitamin C, dapat meningkatkan penyerapan zat besi oleh usus.

Penyakit yang timbul akibat defisiensi iodium (hipotiroidisme) dikenal sebagai GAKI (gangguan akibat kekurangan iodium) atau IDD (iodine deficiency disorders), yang dapat berupa pembesaran kelenjar tiroid (gondok), kretinisme dan miksedema. Sumber iodium yang utama adalah bahan pangan hewani, terutama yang berasal dari laut seperti ikan, udang dan lain-lain, serta rumput laut. Karena umumnya produk dari laut ini sulit diperoleh di daerah-daerah gondok endemik, maka penduduk di daerah tersebut mengalami kekurangan konsumsi iodium. Oleh karena itu, untuk kedua contoh gizi di atas (anemia gizi besi dan gangguan akibat kekurangan iodium) perlu dilakukan intervensi dengan menganjurkan balita mengkonsumsi makanan hewani.

Selama hamil, wanita memerlukan tambahan energi untuk pertumbuhan janin, plasenta dan jaringan-jaringan tambahan lainnya. Mereka memerlukan tambahan 285 kkal/hari. Pada saat laktasi seorang ibu memerlukan tambahan energi untuk memproduksi air susu ibu (ASI) dan energi yang akan disimpan dalam ASI ibu sendiri. Dalam keadaan normal (baik si ibu maupun bayi) pada periode enam bulan pertama energi bayi dapat disediakan dari ASI. Disamping itu si ibu sendiri juga memerlukan tambahan energi untuk memulihkan kesehatannya sehabis melahirkan. Untuk itu, memerlukan tambahan masukan energi bagi ibu kira-kira 700 kkal/hari. Pada enam bulan kedua, bayi harus sudah diperkenalkan dengan sejumlah makanan tambahan, namun peranan ASI masih tetap diperlukan. Tambahan masukan energy untuk ibu pada masa itu dianjurkan rata-rata sebanyak 500kkal /hari. Untuk tahun kedua dianjurkan tambahan sebanyak 400 kkal/hari. Seperti halnya AKE, untuk Angka kecukupan Protein (AKP) bagi wanita hamil dan laktasi juga memerlukan tambahan (ekstra) yaitu, untuk wanita hamil 12 g protein/hari, untuk laktasi enam bulan pertama 16g/hari, untuk 6 bulan kedua 12g /hari, dan untuk tahun kedua 11g/hari (Arisman, 2007).

Contoh pada ibu hamil dan balita yang sedang menyusui ASI perlu dilakukan intervensi untuk diberikan makanan tambahan. Contoh lainnya untuk menangani kasus gizi buruk pada balita sehingga diharapkan dapat meningkatkan status gizi mereka setelah dilakukan intervensi. Secara garis besar UNICEF telah memberikan pedoman terkait Intervensi dan pendekatan khusus nutrisi dan peka nutrisi yang mengatasi beban ganda yaitu kekurangan gizi, defisiensi mikronutrien, dan kelebihan berat badan serta obesitas seperti pada Gambar 2.

Intervensi dan pendekatan khusus nutrisi dan peka nutrisi yang mengatasi beban ganda yaitu kekurangan gizi, defisiensi mikronutrien, dan kelebihan berat badan serta obesitas

Intervensi dan pendekatan khusus nutrisi dan peka nutrisi yang mengatasi beban ganda yaitu kekurangan gizi, defisiensi mikronutrien, dan kelebihan berat badan serta obesitas

Intervensi khusus nutrisi, jika diskalakan dan dimanfaatkan, dapat secara signifikan mengurangi stunting, defisiensi mikronutrien dan wasting serta risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Intervensi ini sebagian besar berfokus pada wanita, khususnya wanita hamil dan menyusui, dan anak-anak di bawah usia 2 tahun, terutama pada populasi yang paling kurang beruntung. Pendekatan sensitif nutrisi mengatasi faktor penentu yang mendasari kekurangan gizi dan kelebihan berat badan serta obesitas di masa depan dan dapat berfungsi sebagai platform untuk intervensi khusus nutrisi. Meskipun jarang ada bukti yang mendukung pendekatan peka nutrisi di beberapa sektor, ada beberapa bukti yang mendukung peningkatan skala di negara tertentu dan konteks lokal; ini termasuk pertanian, transfer sosial, pengembangan anak usia dini, pendidikan dan program cuci tangan dengan sabun (WASH).

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: