Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Masyarakat

Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Masyarakat
Ilustrasi foto: p2ptm.kemkes.go.id
Bagikan

Definisi dan Karakteristik Penyakit Tidak Menular

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit yang tidak memiliki tandaklinis secara khusus sehingga menyebabkan seseorang tidak mengetahui dan menyadari kondisi tersebut sejak permulaan perjalanan penyakit (Kemenkes RI, 2014). Penyakit yang tidak disebabkan oleh mikroorganisme adalah penyakit tidak menular, sedangkan penyakit penyebabnya adalah mikroorganisme (misalnya virus dan parasit) adalah penyakit menular. PTM merupakan masalah yang tengah berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat.

PTM sering dikaitkan dengan berbagai faktor risiko seperti pencemaran lingkungan, akibat penggunaan berbagai bahan kimia toksik yang dipadukan dengan perilaku / gaya hidup yang menyebabkan masyarakat tertentu terpajan pada kondisi lingkungan yang “tidak alamiah”. Secara genetika, hubungan interaktif antara manusia dengan lingkungannya dapat menimbulkan perubahan-perubahan struktur genetik yang menyusun hidup.

Pada tahun 2016, sekitar 71 persen penyebab kematian di dunia adalah PTM yang membunuh 36 juta jiwa per tahun. Sekitar 80 persen kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah. 73% kematian saat ini disebabkan oleh penyakit tidak menular, 35% diantaranya karena penyakit jantung dan pembuluh darah, 12% oleh penyakit kanker, 6% oleh penyakit pernapasan kronis, 6% karena diabetes, dan 15% disebabkan oleh PTM lainnya (WHO, 2018).

Penyakit tidak menular (PTM), termasuk penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes dan penyakit paru-paru kronis, secara kolektif bertanggung jawab atas hampir 70% dari semua kematian di seluruh dunia. Hampir tiga perempat dari semua kematian PTM, dan 82% dari 16 juta orang yang meninggal secara prematur, atau sebelum mencapai usia 70 tahun, terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Epidemi PTM menimbulkan konsekuensi kesehatan yang menghancurkan bagi individu, keluarga dan komunitas, dan mengancam sistem kesehatan. Biaya sosial ekonomi yang terkait dengan PTM membuat pencegahan dan pengendalian penyakit ini menjadi pembangunan utama yang penting di abad ke-21.

Berbeda dengan penyakit menular, manajemen penyakit tidak menular dalam perspektif kesehatan masyarakat merupakan upaya yang sangat sulit dan kompleks. Hal ini disebabkan karena :

  1. Penularan penyakit tidak melalui suatu rantai penularan tertentu
  2. Masa inkubasi yang panjang dan laten
  3. Perlangsungan penyakit yang berlarut-larut (kronis)
  4. Banyak menghadapi kesulitan diagnosis
  5. Mempunyai variasi yang luas
  6. Memerlukan biaya yang tinggi dalam upaya pencegahan maupun penanggulangannya
  7. Faktor penyebabnya bermacam-macam (multikausal), bahkan tidak jelas.

Program Pengendalian PTM di Indonesia

Program Pengendalian PTM di Indonesia diprioritaskan pada strategi 4 by 4 sejalan dengan rekomendasi global WHO (Global Action Plan 2013-2020), fokus pada 4 penyakit PTM Utama Penyebab 60% kematian yaitu:

  • Kardiovaskulair,
  • Diabetes Melitus,
  • Kanker,
  • Penyakit Paru Obstruksi Kronis

Selanjutnya befokus pada pengendalian 4 faktor risiko bersama yaitu:

  • Diet tidak sehat (diet gizi tidak seimbang, kurang konsumsi Sayur dan Buah serta tinggi konsumsi Gula, Garam dan lemak),
  • Kurang aktivitas fisik,
  • Merokok, serta
  • Mengkonsumsi alkohol.

Pengendalian 4 “faktor risiko bersama” ini dapat mencegah terjadinya 4 Penyakit Tidak Menular Utama sampai 80%. Selain keempat Penyakit Tidak Menular Utama, fokus pengendalian PTM juga diarahkan pada berbagai Penyakit dan kondisi yang dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas Hidup manusia, yaitu

  • Gangguan Pendengaran,
  • Gangguan Penglihatan,
  • Disabilitas, dan
  • Gangguan Thyroid, serta

Penyakit yang menyebabkan beban pembiayaan kesehatan seperti Lupus, Thalassemia, Osteoporosis dan Psoriasis.

Manajemen Terpadu PTM

1.Pos Pembinaan Terpadu PTM (Posbindu PTM)

Posbindu PTM merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, pemantauan dan tindak lanjut dini faktor risiko PTM secara mandiri dan berkesinambungan. Kegiatan ini dikembangakan sebagai bentuk kewaspadaan dini terhadap PTM karena sebagian besar faktor risiko PTM pada awalnya tidak memberikan gejala (Kemenkes RI, 2014).

Kegiatan Posbindu bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dini masyarakat terhadap faktor risiko PTM melalui pemberdayaan dan peran serta masyarakat dalam deteksi dini, pemantauan faktor risiko PTM dan tindak lanjut dini, sehingga dampak yang fatal dari PTM dapat dihindari. Sasaran kegiatan Posbindu PTM adalah kelompok masyarakat yang sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia ≥15 tahun.

Kegiatan Posbindu PTM dapat dilakukan di lingkungan tempat tinggal dalam lingkup desa/kelurahan ataupun fasilitas publik lainnya seperti sekolah dan perguruan tinggi, tempat kerja, tempat ibadah, pasar, tempat kos, terminal dan lain sebagainya Pelaksana kegiatan Posbindu PTM adalah kader kesehatan yang sudah terbentuk atau kelompok orang dalam organisasi/lembaga/tempat kerja yang bersedia mengadakan kegiatan Posbindu PTM yang dilatih secara khusus, dibina atau difasilitasi untuk melakukan pemantauan faktor risiko PTM di masing-masing kelompok atau organisasi tersebut berada.

Langkah-langkah penyelenggaraan Posbindu PTM dilakukan dengan cara:

  1. Identifikasi Kelompok Potensial

Identifikasi merupakan kegiatan mencari, menemukan, mencatat data mengenai kelompok-kelompok masyarakat potensial yang merupakan sasaran atau subyek dalam pengembangan Posbindu PTM (Kemenkes RI, 2014). Identifikasi diperlukan untuk menyesuaikan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya, sehingga masyarakat dapat mandiri dan kegiatan Posbindu dapat berlangsung secara berkesinambungan.

Kelompok potensial merupakan kelompok orang yang secara rutin berkumpul untuk melakukan kegiatan bersama, yaitu antara lain karang taruna, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK)/dasawisma, pengajian, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi profesi,

klub olah raga, koperasi dan kelompok masyarakat di tempat kerja, perguruan tinggi, sekolah dan lain-lain. Identifikasi dilakukan pada tingkat kabupaten sampai wilayah kerja puskesmas. Informasi didapat dari kegiatan wawancara, pengamatan, angket, partisipasi dan focus diskusi kelompok terarah (Kemenkes RI, 2014)

  1. Sosialisasi dan Advokasi

Sosialisasi dan advokasi dilakukan kepada kelompok potensial terpilih, mereka diberi informasi tentang besarnya permasalahan PTM yang ada, dampaknya bagi masyarakat dan dunia usaha, upaya pencegahan dan pengendalian serta tujuan dan manfaat kegiatan deteksi dini dan

pemantauan faktor risiko PTM melalui Posbindu PTM. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat agar diperoleh dukungan dan komitmen dalam menyelenggarakan Posbindu PTM. Tindak lanjut dari advokasi adalah kesepakatan bersama berupa penyelenggaraan kegiatan Posbindu PTM (Kemenkes RI, 2014).

  1. Pelatihan Petugas Pelaksana Posbindu PTM

Menurut Kemenkes RI (2014), pelatihan adalah kegiatan memberikan pengetahuan tentang PTM, faktor risiko, dampak dan upaya yang diperlukan dalam pencegahan dan pengendalian PTM, memberikan kemampuan dan keterampilan dalam memantau factor risiko PTM dan melakukan konseling serta tindak lanjut lainnya. Peserta pelatihan adalah calon kader pelaksana kegiatan Posbindu PTM, setiap Posbindu PTM paling sedikit mempunyai lima kader dengan kriteria mau dan mampu melakukan kegiatan Posbindu PTM, dapat membaca dan menulis dan lebih utama berpendidikan minimal SLTA atau sederajat. Peserta pelatihan maksimal 30 orang agar pelatihan berlangsung efektif, jadi maksimal ada enam Posbindu PTM yang akan dilaksanakan oleh kader. Waktu pelaksanaan pelatihan berlangsung selama 3 hari atau disesuaikan dengan kondisi setempat dengan modul yang telah dipersiapkan.

2. Program Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (Gentas)

Kegiatan GENTAS adalah suatu gerakan yang melibatkan masyarakat dalam rangka pencegahan obesitas sebagai faktor risiko PTM. Pelaksana kegiatan yaitu dokter, perawat, kader terlatih, pengelola program Puskesmas dan masyarakat. Capaian yang diharapkan yaitu Persentase warga Negara yang berusia yang diperiksa Indeks Massa

Tubuh (IMT) dan atau Lingkar Perut di suatu wilayah. Sasaran program Gentas yaitu setiap warga negara usia 15 tahun keatas yang berada di wilayah tersebut dengan kegiatan meliputi :

  • Pengukuran Indeks Massa Tubuh (BB, Lingkar perut dan tinggi badan).
  • Wawancara Perilaku berisiko.
  • Edukasi perilaku gaya hidup sehat.

3. Program Pelayanan Terpadu (Pandu) PTM

Kegiatan PANDU PTM adalah kegiatan penemuan dan penanganan kasus PTM dan manajemen faktor risiko PTM di FKTP secara terpadu. Pelaksana kegiatan yaitu dokter, perawat dan bidan. Kegiatan manajemen faktor risiko meliputi pemeriksaan:

  • Perilaku merokok.
  • TD > 120/80 mmHg.
  • Gula darah sewaktu > 200 mg/dL.
  • Kolesterol atau kolesterol rata-rata.
  • Wanita usia 30-50 tahun atau wanita yang pernah berhubungan

4. Program Penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

Kegiatan penerapan KTR di sekolah adalah suatu kegiatan pencegahan perilaku merokok pada masyarakat, sekolah dan tempat kerja. Kegiatan meliputi :

  • Penetapan KTR.
  • Pembentukan satgas.
  • Memenuhi 8 indikator penerapan KTR.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: