Pendekatan Rekayasa Faktor Manusia dan Ergonomi

Human factors & ergonomics
Ilustrasi foto: menafn.com
Bagikan

The Human Factors Engineering and Ergonomic Approach (HF/E)

Rekayasa faktor manusia (atau ergonomi), adalah subjek multidisiplin yang berkaitan dengan optimalisasi peran individu dalam sistem manusia dengan mesin. Teknik ini menjadi terkenal selama dan setelah Perang Dunia II sebagai hasil dari pengalaman dengan sistem teknik yang kompleks dan berkembang pesat. Pada satu tahap perang, lebih banyak pesawat hilang karena kesalahan pilot daripada melawan aksi musuh. Menjadi jelas bahwa keefektifan sistem ini, dan selanjutnya sistem lain di sektor sipil seperti transportasi udara, mengharuskan perancang untuk mempertimbangkan kebutuhan manusia serta perangkat keras untuk menghindari kegagalan sistem yang mahal.

Dari perspektif HF / E tradisional, kesalahan dilihat sebagai konsekuensi dari ketidaksesuaian antara tuntutan tugas dan kemampuan fisik dan mental individu atau tim operasi. Versi tambahan dari perspektif ini dijelaskan di Bab 1, Bagian 1.7. Pendekatan dasar HF / E adalah untuk mengurangi kemungkinan dari kesalahan dalam penerapan desain prinsip dan standar agar sesuai dengan kemampuan manusia dan tuntutan tugas. Ini mencakup lingkungan fisik (misalnya, panas, pencahayaan, getaran), dan desain tempat kerja bersama dengan elemen tampilan dan kontrol dari antarmuka manusia-mesin. Contoh pendekatan diberikan dalam Wilson dan Corlett (1990) dan Salvendy (1987).

The Human-Machine Interface

Human machine-interface (antarmuka manusia dan mesin) merupakan pendekatan HF/E yang berfokus pada pengurangan human error. Interface adalah batas di mana informasi dari plant process diubah oleh sensor dan selanjutnya ditampilkan dalam bentuk yang dapat digunakan oleh manusia dalam pengendalian proses. Informasi yang ditampilkan pada interface melewati beberapa proses sebelum respon dibuat dalam bentuk tindakan pengendalian.

Gambar 1. The Human-Machine Interface ( Wickens, 1984)

Gambar 1. The Human-Machine Interface ( Wickens, 1984)

Tahap pertama yaitu penginderaan dan persepsi, melibatkan informasi yang ditangkap oleh saluran sensorik dan selanjutnya disimpan dalam penyimpanan terbatas yang disebut memori kerja. Kemudian, interpretasi informasi dalam memori kerja dipengaruhi pengetahuan dan pengalaman dari memori jangka panjang pengamat. Setelah itu, proses diagnosis dan memberikan respons yang sesuai. Berikut adalah beberapa fungsi dari interface :

  1. Menampilkan informasi proses sesuai kebutuhan dan ekspektasi pekerja
  2. Menyediakan respon cepat sebagai tindakan pengendalian
  3. Membantu dalam melakukan diagnosa, pengambilan keputusan, dan perencanaan
  4. Memfasilitasi pemilihan tindakan pengendalian yang sesuai dan meminimalisir kecelakaan

Beberapa prinsip yang diterapkan untuk mencapai fungsi interface tersebut adalah layout kontrol panel yang representatif, design yang berurutan serta sesuai frekuensi penggunaan dan prioritas, dan hirarki informasi yang terorganisir.

Human Error at the Human-Machine Interface

Pada bagian ini menjelaskan bahwa kesalahan dapat terjadi dalam setiap tahapan desain tatap muka antara manusia dan mesin (HMI) seperti panel kontrol dan computer kendali akibat dari kesalahan pemrosesan informasi pada tahapan persepsi, pengambilan keputusan dan tindakan kontrol. Desain HMI yang tidak memperhitungkan kebutuhan teknis opertornya tentu akan menjadi masalah dikemudian hari. Buruknya desain HMI akan menyebabkan operator menafsirkan keputusan yang salah sehingga menimbulkan perintah kerja yang salah.

1.Persepsi

Kesalahan manusia pada tahapan ini juga bersumber dari ketidakmampuan mesin menampilkan isyarat dengan baik, ketidakmampuan indera menangkap isyarat dengan baik, ketidakmampuan operator menafsirkan isyarat dengan baik (Santosa dkk, 1998). Sebagai contoh, saat pekerja menyalakan pengaduk pada reaktor menggunakan indicator local pada ruang panel untuk memastikan sistem bekerja dengan baik. Pada saat proses muncul beberapa indicator berupa nyala blink di beberapa sistem. Pada saat ini pekerja tidak memungkinkan memindai seluruh informasi secara bersamaan di waktu tertentu, pada saat ini pula kemungkinan terjadi salah persepsi dari pekerja untuk memilih informasi mana yang harus diprioritaskan untuk dikendalikan atau ditindaklanjuti (CCPS, 1994).

2.Pengambilan Keputusan

Selama tahapan pengambilan keputusan, informasi dari sistem akan masuk dalam memori kerja individu dan akan berkaitan dengan memori jangka panjang untuk memutuskan tindakan yang tepat. Pengambilan keputusan juga akan melibatkan perhitungan, referensi ke prosedur dan pengalaman serta ingatan jangka panjang. Dalam perspektif HF/E, banyak kesalahan muncul dari pemrosesan informasi yang berlebihan dan dari ketidaksesuaian antara tuntutan dan kemampuan (CCPS, 1994).

3.Tindakan Kontrol

Tahapan akhir dari rantai pemrosesan informasi melibatkan pemilihan dan pelaksanaan tindakan atau respon kontrol atas dasar keputusan yang sudah dibuat pada tahap sebelumnya. Kompleksitas pemilihan tindakan kontrol dipengaruhi oleh sejumlah strategi kontrol yang dipilih pekerja, karakteristik fisik dari kontrol dan kemiripan dari tindakan kontrol (CCPS, 1994). Contoh lain, kemungkinan terjadinya kesalahan manusia pada tahapan ini seperti ketidakmampuan anggota badan melaksanakan gerakan-gerakan kerja (pengendalian) sesuai dengan keputusan dan ketidakmampuan mesin menerima gerakan-gerakan pengarahan (pengendalian) dari anggota badan operator (Santosa dkk, 1998).

Information Processing and Mental Workload

Sebagai upaya untuk mengurangi errors, sangat penting untuk menyesuaikan mental workload tersebut dengan kemampuan seseorang. Jika beban kerja melebihi kemampuan dalam rentang nilai moderate (sedang) seseorang mungkin dapat melakukan pencegahan jangka pendek dengan melakukan “coping strategies” untuk mempertahankan kinerjanya. Namun strategi ini (coping strategies) seringkali melibatkan elemen pengambilan resiko yang mengarah pada beberapa pembiayaan baik dari sisi physical or psychological. Percobaan telah membuktikan bahwa pekerja yang berpengalaman seperti ATC dapat mempertahankan kinerjanya meskipun mereka.menghadapi intensitas penerbangan yg cukup tinggi  tetapi mereka  sering memiliki gejala stress yg cukup serius ketika diharuskan menjaga performance kerjanya yang sangat ketat  untuk periode yg cukup lama. Jika pekerja dipaksa untuk melakukan “Coping Strategies” sebagai bagian rutin dari pekerjaannya kemungkinan besar perasaan tertekan baik secara kejiwaan dan fisik akan timbul. Ini dapat menyebabkan permasalahan di masa yang akan datang seperti stress dan absenteeism. Pada tingkat beban mental kerja yang sangat tinggi, bahkan upaya “coping strategies” tidak akan efektif dan errors akan meningkat secara tajam.

Summary and Evaluation of the HF/E Perspective on Human Error

Pendekatan teknik & data terkait faktor manusia dan ergonomi (HF/E) tradisional sangat relevan untuk mengoptimalkan performa manusia dan mengurangi kategori kesalahan (error) tertentu dalam operasi proses industri kimia. Penerapan utama metode faktor manusia dan ergonomi yaitu pada desain sistem baru. Namun demikian, daftar periksa audit tersedia untuk mengevaluasi kekurangan HF / E yang dapat menimbulkan kesalahan dalam sistem yang ada.

Sebagai bagian dari proses desain ini, banyak faktor yang mempengaruhi kinerja yang diperhitungkan. Kekurangan dari perspektif HF / E klasik sebagai dasar prediksi kesalahan manusia telah ditinjau sebelumnya. Pendekatan ini berfokus terutama pada aspek eksternal kinerja manusia dan tidak menyediakan metode sistematis apa pun untuk identifikasi kesalahan atau untuk mengatasi penyebab kesalahan. Selain itu, pendekatan HF / E tidak menyediakan kerangka kerja sistematis untuk menangani dan menghilangkan kesalahan kognitif di berbagai bidang seperti diagnosis dan pemecahan masalah.

 

Referensi:

  • American Institute of Chemical Engineers (1994). Guidelines for Preventing Human Error in Process Safety. Center for Chemical Process Safety of the American Institute of Chemical Engineers. New York 10017.
  • Moningka, Clara. 2016. Ergonomi: Human Error dan Antisipasinya. Artikel Ilmiah Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara. Vol 2. No. 19. ISSN No 2447-1686. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/121-ergonomi-human-error-dan-antisipasinya (diakses pada tanggal 21 Oktober 2020 jam 12.31 WIB)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: