Cara “Mudah” untuk Menebus Dosa Ghibah

Cara “Mudah” untuk Menebus Dosa Ghibah
Bagikan

Cara “Mudah” untuk Menebus Dosa Ghibah

Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya dia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini.

Sebelum tiba hari Kiamat yang mana tidak bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu, apabila dia mempunyai amal shalih, maka akan diambil seukiran kezaliman yang dia perbuat.

Apabila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudia dibebankan kepadanya.” (HR Al-Bukhari No. 2449)

1⃣ •┈┈•••❁

Tidak ada perkara yang paling mudah dilakukan selain berbicara atau mengucapkan kata-kata. Untuk melakukannya, seseorang tidak perlu usaha ekstra, tidak pakai biaya, dan bisa dilakukan kapan saja.

“Gerakan tubuh yang paling ringan adalah lisan, akan tetapi dialah yang paling berbahaya bagi seorang hamba,” demikian Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan.

Karena mudahnya ini, tidak ada yang paling sulit dilakukan selain menjaga kata-kata dari kedustaan, dari bicara yang tidak berguna, dari ghibah, sum’ah, namimah, dan sejenisnya. Siapa mampu melakukannya karena Allah, dia akan mendapati keselamatan dari aneka keburukan.

2⃣ •┈┈•••❁

Sesungguhnya, malapetaka yang ditumbulkan oleh dosa-dosa akibat lisan ini sangat besar dan mengerikan. Dosa ghibah misalnya, keburukannya bersifat lintas dimensi, efeknya dunia dan akhirat.

Di dunia dia bisa menghancurkan persaudaraan, menumbuhkan permusuhan, menghilangkan rasa saling percaya, menghanguskan amal kebaikan, mengeraskan dan mematikan hati, menghilangkan sakinah dalam diri, dan banyak lagi.

Adapun di akhirat, akibatnya lebih dahsyat lagi. Satu di antaranya adalah mendatangkan siksa kubur. Hal ini sebagaimana hadits dari Abu Bakrah bahwa dia berkata:

“Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:

‘Keduanya sedang disiksa, dan mereka disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak menjaga kebersihan ketika kencing. Adapun yang lain disiksa karena berbuat ghibah’.” (HR Ibnu Majah, No. 343)

3⃣ •┈┈•••❁

Lalu, apabila kita sudah terlanjur mengghibahi orang lain, bagaimana cara menebus dan menghapuskan dosanya, sehingga kita bisa selamat dari keburukannya?

Terkait hal ini, ada satu perkataan dari Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullâh bahwa, “Penebus dari dosa ghibah adalah engau memohonkan ampunan (kepada Allah) untuk orang yang engkau ghibahi.” (Majmu’ Fatawa, 3/183)

Adapun jika ghibahnya termasuk kelas berat, yaitu dilakukan berulang kali atau bahkan menghancurkan kehormatan orang lain, tebusannya adalah memohon maaf dan keridhaannya.

“Siapa pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan (dirinya) atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya dia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini.

Yaitu, sebelum (tibanya hari Kiamat yang mana) tidak lagi bermanfaat dinar dan dirham …” demikian sabda Rasulullah ﷺ (HR Al-Bukhari dan At-Tirmidzi dalam At-Targhib wat Tarhib)

Dan tentu saja, kita bisa memperkuat kedua hal ini dengan memperbanyak istighfar dan tobat, serta berusaha menghiasi lisan dengan zikrullah, tilawah dan perkataan baik lainnya. Bukankah amal kebaikan bisa menghapus amal keburukan?

Disarikan dari Tazkiyatun Nafs karya Syeikh Dr. Ahmad Farid dan sumber lainnya

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: