Seri Ibrahim dan Sarah: Kuasa istri

Kuasa istri
Ilustrasi foto: bersamadakwah.net
Bagikan

Seri Ibrahim dan Sarah: Kuasa istri

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Kan ane jadi susah kalo perlu uang gede perlu transfer perlu segala macem. Mesti rapat dulu kasih pengertian dulu, keluh Agus tatkala cerita tentang uang gajinya yang dipegang dan diatur oleh istri. Saya hanya kasi emot ? mendengar keluhan Agus. Nanti saya cerita, kata saya.

Permasalahan keluarga Ibrahim dan Sarah yang tidak memiliki anak. Siapa yang mengusulkan suami untuk taadud ? Sarah, padahal hak poligami ada pada suami bukan pada istri.

Permasalahan keluarga Imran. Siapa yang melakukan nadzar agar anaknya berkhidmat di Baitul Maqdis ? Istri Imran.
(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). (Ali Imran : 35)

Permasalahan keluarga Musa yang tersesat. Siapa yang dimuliakan sehingga tak perlu bersusah payah mencari kehangatan ? Istrinya Musa.

Ada 3 kisah diatas, Agus paham maksud saya ? tanya saya via wapri. Ternyata Agus belum paham, ya uda kita lanjutin pembahasannya. Seperti yang sudah2 kalo kalimatnya multitasking, ee multitafsir patokan saya slalu Agus. Dia paham maka yang lain pasti paham. Tipe Agus itu pelaksana yang kalo jalan lurus gak belok2. Saya bilang ke dia kalo jalan dari rumah ke stasiun sambil baca istighfar sekian ratus kali gak boleh disela oleh yang lain maka dia melakukannya. Beda dengan Nursalam, saya cerita pengasuhan anak harus pake teori, bukti, dan contoh2 baru dia mau melaksanakan, namanya juga tipe pemikir.

Dari kisah 3 orang mulia diatas, kesimpulan apa yang bisa kita ambil ? Kuasa istri atas suami. Sarah berkuasa atas taadud Ibrahim, istri Imran berkuasa atas khidmat anak, dan istri Musa berkuasa atas kenyamanan. Sementara kuasa suami seakan2 tidak ada.

(Baca juga: Seri Ibrahim dan Sarah: Kasih Sayang)

Rendahkah seorang suami yang hidup dalam pengaturan istri, yang bentar2 harus izin istri, yang apa2 harus ngomong dulu ke istri ? Tidak, justru keadaannya tersebut menunjukkan bahwa dia adalah orang baik.

Ada perkataan sahabat Muawiyah bin Abi Sofyan ra perihal ini : “Para istri itu menguasai suami yang baik dan dikuasai oleh suami yang buruk”. Makna kalimat tersebut adalah suami yang berada dibawah penguasaan istri, diatur pengeluarannya, diatur pakaiannya, diatur makanannya, dst jika dia ikhlash maka itu tanda suami yang baik. Adapun suami yang berada di atas istri, mengatur pengeluaran, mengatur gaya hidup istri, dsb maka dia adalah suami yang buruk.

Ada cerita dari temen saya yang punya temen orang cina PIK. Dia bandar judi di Singapura punya istri cantik banget. Istrinya dibatasi pergaulannya hanya kepada orang2 tertentu, diatur percakapannya hanya boleh bicara pada orang2 tertentu. Ini tanda suami yang buruk (iyalah bandar judi qo baik), demen ngatur2 bini. Dan saya perhatikan memang seperti itu tipe suami buruk. Ada wanita muda dinikahi siri oleh pejabat korup yang disembunyikan dari istri pertama. Dikasi apartemen, mobil, dan uang bulanan puluhan juta. Tapi dibatasi pergaulannya, diatur kemana aja boleh pergi, uda kayak burung dalam sangkar. Beda halnya jika ada pejabat yang menikah lagi dengan sepengetahuan istri pertama, gak bakal ada pembatasan dan pengaturan tersebut.

Di grup ini ada Ferry Suranto yang saya tau ATM-nya dipegang oleh istri, ada Agus Rahmanto yang setali tiga uang. Mereka berdua contoh suami yang baik asal gak ngeluh. Pernah 2 tahun lalu saya rapat santunan berdua Ferry di PKPU jam 17. Abis sholat Magrib saya mau ajak makan besar tapi kata Ferry dia mau makan dirumah coz istrinya uda masak. Lha trus nasib saya di PKPU piye ? Jadilah saya kelaperan. ?
Tapi gak pa2 kelaperan demi orang baik itu sebuah kenangan.

Jadi tipe suami manakah kalian ? Jangan gara2 jadi dosen diperluin mahasiswa trus di rumah gak mau diatur istri. Jangan uda jadi manager biasa perintah anak buah trus di rumah gak mau dibawah manajemen istri. Jangan mentang2 punya duit sendiri trus beli sepeda jutaan rupiah gak ngomong ke istri. Saya tidak bilang ini contoh suami yang buruk, yang jelas ini bukan perbuatan suami yang baik.

Sule beli moge ratusan juta gak ngomong ke Lina (dulu sebelum cerai). Keruan aja Lina marah. Suami sibuk kerja jadi hanya sekali2 liat tuh motor, lha istri tiap saat ngeliat jogrogan-nya karena dia saban hari di rumah. Dan ini yang jadi salah satu penyebab perceraian mereka, istri merasa tidak dihargai oleh suami. Apalagi sejak datang Teddy yang lebih menghargai dan memberikan perhatian kepada Lina maka uang belanja 200 juta/bulan dari Sule menjadi tak berarti. Kalian kasi uang ke istri gak sampe 20 juta/bulan aja uda gak hargai istri. Lha yang ngasi 200 juta aja tidak berarti apalagi yang 20 juta ?

Terakhir kalian masih ingat cinta pertama Nabimu kepada Khadijah ra. Cinta abadi yang selalu dikenangnya walau telah memiliki istri2 pengganti. Cinta yang membuat cemburu istri paling cantik dan paling muda Aisyah ra. Apa yang dilakukan oleh Khadijah ra ?

“Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.”
(HR. Ahmad, 6:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Perhatikan kalimat “ia telah membantuku dengan hartanya”. Ternyata Khadijah berada pada posisi atas !
Jadi seperti nabi Ibrahim as, nabi Musa as, nabi Muhammad ﷺ pun berada pada kuasa istri. Itu karena mereka adalah contoh suami yang baik bagi kita.

So.. para suami jangan pada ngeluh jika uangmu diatur oleh istri
Jangan pada gerutu jika keperluanmu dibatasi
Karena kalian sedang berproses menjadi suami yang baik.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: