Sejauh Mana Urusan Akhirat Mendominasi Pikiran Kita

Sejauh Mana Urusan Akhirat Mendominasi Pikiran Kita
Bagikan

Sejauh Mana Urusan Akhirat Mendominasi Pikiran Kita

“(Orang bertakwa adalah) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan, mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS Al-Baqarah, 2: 3-4)”

•┈┈•••❁ 1⃣

Kadar keyakinan seseorang kepada Allah Azza wa Jalla bisa dilihat dari ciri-cirinya. Apakah itu? Satu yang paling kentara adalah kuatnya keyakinan dia pada akhirat.

Hal ini terlihat dari bagaimana dia bersikap terhadap apa yang Allah Ta’ala titipkan kepadanya. Apa sajakah itu?

  1. Dia selalu berusaha agar apa yang Allah Ta’ala titipkan kepadanya bisa menjadi bekal kepulangannya ke akhirat.
  2. Dia tidak akan berat mengeluarkan apapun yang dimilikinya, entah itu berupa harta, tenaga, ilmu, atau waktunya untuk kepentingan akhirat.
  3. Dia yakin kalau dirinya akan mati. Dan, saat kematian itu datang, dia tidak akan membawa apa-apa dari dunianya kecuali apa yang dia gunakan untuk bekal akhiratnya.
  4. Dia akan lebih banyak memikirkan akhiratnya daripada dunianya. Andaipun memikirkan dunia dia memikirkannya dalam rangka meraih kebahagiaan akhiratnya.

•┈┈•••❁ 2⃣

Orang yang yakin kepada Allah, secara otomatis dia akan menjadi sosok yang dermawan. Dia akan ringan membelanjakan hartanya di jalan Allah. Bagaimana tidak ringan, dia sangat paham bahwa apa yang disedekahkannya pasti dilihat, dicatat, dan dibalas Allah Ta’ala dengan balasan terbaik.

Maka, apabila ada seseorang yang dianggap orang saleh, rajin ibadah, luas ilmu agamanya. Namun, pada saat bersamaan dia kikir dan rakus terhadap harta, pasti ada yang tidak beres dengan keyakinannya.

Sesungguhnya, seseorang menjadi kikir, pelit, dan kedekut adalah karena dia lebih sibuk memperturutkan keinginan nafsunya. Dia tidak sadar kalau rezeki itu hakikatnya ada tiga: yang dimakan menjadi kotoran, yang dipakai menjadi usang, dan yang dinafkahkan di jalan Allah menjadi abadi.

•┈┈•••❁ 3⃣

Pertanyaannya, kita termasuk yang mana? Sejauh mana keyakinan kita kepada janji Allah Ta’ala? Sejauh mana urusan akhirat mendominasi pikiran kita?

Kita bisa mengukur keyakinan kepada Allah saat kotak infak lewat. Saat itu akan ada pertarungan antara dunia dan akhirat. Ketika kita memegang uang 120 ribu dua lembar (100 ribu dan 20 ribu), mana yang dimasukkan ke kotak infaq? Yang 100 ribu ataukah 20 ribu?

Kalau kita punya 3 lembar 125 ribu, yang mana dimasukkan ke kotak infaq? Yang 100, 20 ataukah 5 ribu? Kalau uangnya 127 ribu, mana yang dimasukkan: 100, 20, 5 ribu atau 2 ribu?

Apakah kita lebih terjamin dengan uang yang kita pegang atau lebih terjamin dengan janji dan jaminan dari Allah Azza wa Jalla?

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَه لَه اَضْعَافًا كَثِيْرَةً وَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصطُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah (berupa) pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak …” (QS Al-Baqarah, 2:245)

Disarikan dari salah satu tausiyah KH Abdullah Gymnastiar.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: