Hati Itu Berada dalam Jemari Tuhan

Hati Itu Berada dalam Jemari Tuhan
Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM
Qo postingan materi kemarin ditutup gak ada nama Ayana bang ? Hussh.. kalo Yang Maha Indah sudah ada untuk apa kita berpaling pada yang lain. Kalo ada Allah maka kita tak memerlukan yang lain. Paham ya…
Dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash Radiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :
“Sesungguhnya hati-hati bani Adam seluruhnya berada diantara dua jemari Ar Rohman laksana satu hati Ia bolak-balikkan hati tersebut sekehandaknya.” Kemudian Rasulullah ﷺ berdoa : “Ya Allah Dzat yang membolak-balikkan hati palingkanlah hatiku untuk mentaati-Mu”
Dan dari Nawwas bin Sam’an ia berkata aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :
“Tidaklah ada satu hatipun melainkan berada diantara dua jemari dari jari jemari Ar Rahman bila ia kehendaki, Ia akan meneguhkannya dan bila Ia kehendaki, Ia akan menyesatkannya.” (diriwayatkannya oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad dan Ibnu Majah. Dishohihkan oleh syaikh Albani)
Ada sebuah cerita tentang Abdul Malik bin Marwan, Imam Adz Dzahabi berkata tentangnya, “Sebelum menjadi Khalifah, dia adalah satu dari tujuh fuqoha’ Madinah”.
Nafi’ berkata “Tak ada yg lebih fakih dan lebih ‘alim tentang kitabullah di Madinah melainkan Abdul Malik bin Marwan”.
Wuiih… dahsyat menjadi ulama kabir di masa salaf adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Ini bukan ulama kaleng2an yang cuma ngajar Iqro tapi maunya dipanggil al mukarram wal muhtarom.
Tapi… Ketika menjadi Khalifah dia terkenal menjadi seorang diktator yang memerangi Abdullah bin Zubair. ? Gila sahabat nabi ﷺ diperangi… bahkan ketika Khalid bin Walid mencela Abdurrahman bin Auf maka Rasulullah ﷺ bersabda:
”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.” (HR Bukhari Muslim)
Khalid bin Walid adalah sahabat sedang Abdurrahman bin Auf juga sahabat hanya lebih senior. Sahabat mencela sahabat aja dilarang kemudian datang seorang yang bukan sahabat membunuh sahabat. Kebayang gak dosanya
Imam As Suyuti dalam Tarikh Khulafa’ menceritakan ketika mendengar kabar dirinya akan dilantik menjadi Khalifah, Abdul Malik saat itu sedang membaca Al Qur’an kemudian dia berkata “ini adalah malam terakhir antara aku dan engkau (Al Qur’an)”. ?
Adalah Abdullah Al Qoshimiy, diberi julukan Ibnu Taimiyah dijamannya. Karena dia dikenal sangat Alim terhadap berbagai disiplin ilmu2 syariat, dia muhaddits (ahli hadits), mufassir (ahli tafsir), mu’arrikh (sejarawan) dan faqih. Dia mampu membuat syair2 dengan sangat megah. Tapi dimasa tuanya dia memilih untuk melepaskan semua identitas keagamaan dan menjadi atheis. ?
Kejadian2 semisal ini sering kali kita saksikan. Didalam negeri sendiri kita liat bagaimana ketum ormas yg disertasi S3 nya begitu hebat menelanjangi keyakinan2 menyimpang seperti syi’ah dan sekuler tapi saat ini justru lebih getol mendistorsi ajaran2 islam itu sendiri.
Contoh lain, ada orang yang dulunya di kenal sebagai aktivis Islam yg militan. Sebagai kader muhammadiyah terkenal hebat mendoktrin kader2 muda muhammadiyah tentang kemuhammadiyaan. Tapi kiprahnya sekarang menjadi penentang aktivis Islam, yang rajin nonton ILC tau bagaimana dia selalu menyelisihi para aktivis Islam. ?
Dan contoh terakhir yang baru saya posting buku tentang salah satu tokoh yang menjadi penggagas 212 bersama ulama lain. Namun sekarang malah satu kubu dengan pihak pembenci Islam. Segala kezhaliman yang kasat mata dia diam. ?
Semua kisah diatas adalah bukti kebenaran dari sabda Nabi ﷺ bahwa hati itu berada di jari jemari Ar Rohman, bisa berubah sesuai kehendakNya.
Itu sebabnya kita harus membaca doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Amalkan do’a tersebut untuk memohon keteguhan dan keistiqomahan dalam menjalani ajaran Islam. Doa yang paling sering dibaca Nabi ﷺ adalah doa,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah ﷺ, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi ﷺ menjawab,
“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dalam riwayat lain dikatakan, “Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3/257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy (kuat) sesuai syarat Muslim)
Lalu timbul pertanyaan, sebetulnya sih pertanyaannya mas Iqbal, saya copas disini : kira2 bgmn hrs bersikap thd org yg pernah berbuat baik dg kita atau memberi kita ilmu, trus ada pihak lain membuka sisi buruknya (walau itu benar) ?
Ini jawabannya harus dikira2 jugakah atau yang pasti2 ajah…?
Tipe pertanyaan wong Jowo kayak gini, pake bahasa penghalus : kira2, seandainya, jika, dsb.
Saya kutip kisah Abu Hurairah dalam hadits Bukhari berikut ini :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ pernah mewakilkan padaku untuk menjaga zakat Ramadhan (zakat fitrah). Lalu ada seseorang yang datang dan menumpahkan makanan dan mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Demi Allah, aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah ﷺ.” Lalu ia berkata, “Aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku pun sangat membutuhkan ini.” Abu Hurairah berkata, “Aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi ﷺ berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya.” Nabi ﷺ bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.”
Aku pun tahu bahwasanya ia akan kembali sebagaimana yang Rasulullah ﷺ katakan. Aku pun mengawasinya, ternyata ia pun datang dan menumpahkan makanan, lalu ia mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah ﷺ.” Lalu ia berkata, “Biarkanlah aku, aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku tidak akan kembali setelah itu.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun menaruh kasihan padanya, aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi ﷺ berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya pergi.” Nabi ﷺ bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.”
Pada hari ketiga, aku terus mengawasinya, ia pun datang dan menumpahkan makanan lalu mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah ﷺ. Ini sudah kali ketiga, engkau katakan tidak akan kembali namun ternyata masih kembali. Ia pun berkata, “Biarkan aku. Aku akan mengajari suatu kalimat yang akan bermanfaat untukmu.” Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?” Ia pun menjawab, “Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat kursi ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum …‘ hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.”
Abu Hurairah berkata, “Aku pun melepaskan dirinya dan ketika pagi hari Rasulullah ﷺ bertanya padaku, “Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi ﷺ bertanya, “Apa kalimat tersebut?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’. Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.” Nabi ﷺ pun bersabda, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi ﷺ berkata, “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari no. 2311).
Setan ngajarin Abu Hurairah tentang faedah ayat kursy. Lalu apakah gara2 setan itu pendusta ilmu ini dibuang oleh Abu Hurairah ? tidak. Nabi ﷺ tidak mengatakan ajaran ini salah justru beliau membenarkannya. Sehingga para sahabat semangat mengamalkannya.
Kemudian datang seorang ustadz mengajarkan kepada kita ilmunya. Belakangan ketauan kalo dia tercela dalam agama lalu bagaimana dengan ilmunya ? seandainya yang ngajarin itu adalah setan, tetap kita laksanakan kebenaran dalam ajaran tersebut.
Inilah makna dari hadits : “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)
Entah hikmah itu ada pada setan atau pada seorang yang tercela maka kita boleh mengambilnya. Jelas ya… ?
Jadi kalo Iqbal belajar tajwid kepada Budi : sukun ketemu sukun = kasroh, maka amalkan ilmu ini.
Atau boleh juga Iqbal belajar kepada Irma : sukun ketemu minyak = gorengan, maka bagi2lah ke kita2… ?

Recent Comments