Ghazwul Fikry, yang Sudah Dilupakan

Ghazwul Fikry
Ilustrasi foto: daaruttauhiid.org
Bagikan

Ghazwul Fikry, yang Sudah Dilupakan

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Oerang tempo doeloe pasti ingat materi ghazwul fikry (perang pemikiran) saat dauroh pertama kali. Materi ini satu paket dengan materi marifatulloh, marifaturrasul, dan marifatunnaas. Entah apakah kids jaman now masih mendapat materi ini kalo dauroh atau entah apakah dauroh masih ada.

Inti materi ini adalah musuh2 Islam telah meninggalkan perang senjata dan mulai menerapkan perang pemikiran lewat budaya, gaya hidup, kebiasaan, dsb. Biarkan yang menguasai negeri2 muslim adalah putra2 daerah, yang penting mereka memuja barat sebagai ideologinya atau bergaya hidup seperti barat.

Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan. Tahun 90-an alm ust Rahmat dalam kajiannya pernah ngomong begini : setiap awal Ramadhan salah satu koran nasional selalu menampilkan foto umat Islam yang tidur atau tidur2an di masjid Istiqlal dan dikasi judul : istirahat pertama di bulan Ramadhan.

Kompas sedang membuat framing bahwa puasa bikin orang males, bawaannya mau tidur atau tidur2an aja.

30 tahun kemudian tepatnya sekarang, koran nasional tsb memberitakan perihal orang sholat di masjid tertular corona. Saya cari di website-nya dengan keyword ‘sholat di masjid tertular corona’ ditemukan 897 berita. Sementara saat saya cari ‘asrama bethel tertular corona’ langsung keluar 7.740 berita tapi hanya 6 berita yang relevan. Ini namanya framing berita. Secara kontinu koran tsb beritakan masjid sebagai tempat penularan. Sehingga akan tertanam di kepala pembaca bahwa masjid bukan tempat yang aman.

Inilah perang pemikiran !

Mereka tidak melakukan kebohongan atau sebarin hoax dalam pemberitaannya sehingga tidak bisa dituntut secara hukum. Yang mereka lakukan adalah mengekspose yang satu dengan meninggalkan yang lain. Walau yang ditinggalkan adalah berita besar seperti kasus asrama bethel dengan 34 positif corona, bikin wilayah petamburan jadi red zone. Kalau di masjid kan yang kena hanya 1-2 orang gak sampe puluhan.

Kita hidup di masa media dikuasai oleh musuh2 Islam maka berhati2lah dalam melakukan suatu hal yang merugikan agama. Maryam memberi contoh bagaimana beliau sedih sampe ngomong lebih baik mati gara2 menanggung beban yang berat yakni mempertaruhkan kemuliaan agama dengan dirinya yang hamil tanpa suami. Mengenai kisah ini ada 3 materi yang nanti akan saya sampaikan.

Intinya begini kita jangan jadi individu yang merugikan Islam. Sholat di masjid disaat wabah corona bakal merugikan agama. Jika terjadi penularan disana otomatis jadi mangsa empuk media2 mereka. berhari2 mereka akan turunkan berita seputar itu.

Dahulu di tahun 749 H tersebar wabah di Syam, orang-orang keluar dan berkumpul untuk berdo’a, dan setelah itu jumlah korban yang terkena wabah semakin banyak. Tahun 833 H di Mesir, dalam sehari meninggal sampi 40, mereka kemudian keluar dan berkumpul untuk berdo’a dan setelah itu jumlah yang meninggal semakin banyak bahkan mencapai 1000 dalam sehari.

Dari sinilah sebagian ulama di zaman itu memfatwakan bahwa keluar berkumpul walau dimaksudkan untuk berdoa dan ibadah saat wabah merebak itu dilarang karena khawatir wabah semakin merebak, dan andaipun tidak dikhawatirkan orang2 berburuk sangka bahwa do’a para ulama dan orang-orang shaleh itu tidak dikabulkan.

(Kitab Badzlul ma’un fi fadhli at-tha’un : 328-329, Al-Hafidz ibnu Hajr)

Paham ya.. ? Saya tidak bicara tentang protokol kesehatan atau SOP pencegahan penularan corona. Saya bicara agar kita berpikir ulang jangan sampai lagi2 agama ini dijadikan bulan2an media sekuler.

Islam ada di pundak kita masing-masing

Maka jangan bikin acara pembacaan ratibul athos dan ratibul hadad agar corona ilang di Indonesia seperti yang dulu pernah ada. Jangan ubah covid-19 dengan nama qif (berhenti) 19 agar corona berhenti infeksi orang. Jangan viralkan corona akan hilang di bulan Ramadhan karena kemuliaan bulan tersebut. Ternyata upaya2 tersebut tak membuahkan hasil, beruntung media sekuler tidak mengendusnya sehingga tidak ada yang berburuk sangka bahwa doa orang Islam tidak didengar Allah. 

Jangan terawih di masjid, jangan jumatan di masjid, jangan bikin sholat ied, pokoknya jangan bawa2 agama dalam keramaian selama masa pandemi ini. Coz kita membawa Islam di pundak masing2. Sekali kita jatuh maka mereka akan menjembreng Islam seraya menertawakannya. ??

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: