Dasar-Dasar Masyarakat Baru (Bag.1)

Dasar-Dasar Masyarakat Baru_Pembangunan Masjid
Ilustrasi foto: ponpesbaron.id
Bagikan

Dasar-Dasar Masyarakat Baru (Bag.1)

Oleh: Dr.Said Ramadhan Al Buthy (dikutip dari buku Fiqih Sirah)

Dasar Pertama: Pembangunan Masjid

Hijrah Rasulullah Saw. menjadi tanda berdirinya Dar alIslam pertama di muka Bumi. Di samping itu, hijrah juga menjadi maklumat bagi umat manusia bahwa Daulah lslamiyah telah berdiri di bawah kepemimpinan langsung baginda Rasulullah saw.

Sebab itu, tindakan pertama yang dilakukan Rasulullah saw adalah meletakkan dasar-dasar paling utama bagi negara baru ini. Dasar-dasar tersebut lalu mengejawantah dalam tiga tindakan utama yang diambil Rasulullah Saw sebagai berikut:

Pertama, pembangunan masjid.

Kedua, mengikat tali persaudaraan antarmuslim, khususnya antara Muhajirin dan Anshar.

Ketiga, menyusun undang-undang dasar yang mengatur kehidupan umat Islam, sekaligus mempertegas hubungan mereka dengan nonmuslim, khususnya dengan kelompok Yahudi.

Mari kita mulai pembahasan ini dari dasar pertama. Sebagaimana dijelaskan di depan, onta yang dikendarai Rasulullah saw akhirnya berhenti di sebuah tempat milik dua orang anak yatim dari kalangan Anshar. Konon, sebelum Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah, As’ad ibn Zararah telah menjadikan tempat itu sebagai mushalla, tempat salat bersama rekan-rekannya.

Oleh karena Rasulullah Saw. menjatuhkan pilihan di tempat itu, beliau pun memerintahkan agar di situ didirikan sebuah masjid. Rasulullah Saw. lalu memanggil dua anak pemilik tanah itu, yang berada di bawah kuasa perwalian As’ad ibn Zararah ra. kepada mereka beliau utarakan keinginannya untuk membeli tanah tersebut. Mendengar hal itu, kedua anak tersebut menyatakan akan menghibahkan tanah itu kepada Rasulullah. Akan tetapi, Rasulullah Saw. menolak, dan beliau tetap membayar harga tanah itu sebesar sepuluh dinar.

Kebetulan, di atas tanah itu tumbuh beberapa batang pohon Gharqad dan kurma. Selain itu, juga terdapat beberapa kuburan kuno. Rasulullah Saw. memerintahkan agar kuburan tersebut dibongkar, kemudian tulang-belulang yang ada di dalamnya dipindahkan. Sementara ltu, pohon-pohon yang tumbuh di tempat itu beliau perintahkan untuk ditebang. Kayu-kayu pohon itulah yang kemudian disusun pada bagian kiblat Masjid Nabi.

Panjang Masjid Nabi dari baglan depan sampai belakang adalah serratus hasta, sebagaimana kedua sisinya juga memiliki panjang yang hampir sama. Bagian dinding itu diperkuat dengan menggunakan batu bata. Dalam proses pembangunannya, Rasulullah Saw. terlibat langsung bersama para sahabat. Beliau ikut mengangkut batu. Pada saat itu, arah kiblat Masjid Nabi mengarah ke arah Baitul Muqaddas. Pilar-pilar masjid terbuat dari batang pohon kurma, sedangkan bagian atap terbuat dari pelepahnya.

Kala itu, Rasulullah Saw. ditanya oleh para sahabat, “Apakah kita akan membuatnya beratap?”

Rasulullah Saw. menjawab, ” Buatlah atap seperti dangaunya Musa as. yang terbuat dari beberapa ranting dan kayu Tsimam.” Sementara itu, bagian lantai masjid ditutupi bebatuan kecil dan kerikil.

Dalam AshShohih Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dari Anas ibn Malik bahwa ketika waktu salat sudah tiba, Rasulullah Saw. mendirikannya di kandang domba. Kemudian Rasulullah Saw. memerintahkan agar segera didirikan masjid. Beliau mengirim orang untuk menemui tokoh-tokoh Bani Najjar, dan mereka pun langsung datang menghadap. Kepada para tokoh itu Rasulullah Saw.bersabda, “Wahai Bani Najjar, tetapkanlah harga untukku atas bangunan kalian ini.” Akan tetapi, para tokoh Bani Najjar itu menjawab, “Demi Allah, kami tidak akan menjualnya, melainkan hanya kepada Allah saja.”

Anas juga mengatakan bahwa di tanah itu terdapat beberapa kuburan kuno orang-orang musyrik. Selain itu, juga terdapat reruntuhan bangunan dan beberapa batang pohon kurma. Rasulullah Saw. lalu memerintahkan agar kuburan orang- orang musyrik itu dibongkar, reruntuhan bekas bangunan diratakan, dan pohon-pohon kurma ditebang.

Anas mengatakan, kayu pohon kurma itulah yang dijajarkan menjadi dinding masjid bagian depan (kiblat). Sedangkan tiang pintu dan jendela terbuat dari batu. Dalam proses pembangunan, Rasulullah Saw. terjun langsung membantu para sahabat. Beliau ikut mengangkut batu. Kala itu, Rasulullah Saw. tak hentinya merapalkan doa yang berbunyi, Ya Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan akhirat. Mako, tolonglah orangorang Anshar don Muhajirin,” (HR Al-Bukhari).

Demikianlah bentuk Masjid Nabi seperti yang disebutkan di atas tetap bertahan tanpa perubahan sedikit pun hingga masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Setelah itu, Sayyidina Umar ibn Khaththab ra. melakukan beberapa perbaikan, meskipun tetap menjaga bentuk asli sebagaimana didirikan Rasulullah Saw. dengan menggunakan batu bata dan kayu kurma serta pilar yang tetap dibuat dari kayu. Sayyidina Utsman-lah yang kemudian melakukan renovasi besar-besaran terhadap Masjid Nabi dengan penambahan di beberapa bagian. Pada masa pemerintahan Utsman ra ., dinding Masjid Nabi sudah dibuat dari batu berukir dan diplester

Beberapa Ibrah

Dari uraian di atas, kita dapat memetik beberapa poin penting, antara lain:

Pertama. Posisi penting masjid di dalam sctiap masyarakat dan negara Islam.

Ketika Rasulullah Saw. tiba di .Madinah dan menetap di kota itu, ketika itu pula beliau memhangun sebuah masyarakat Islam yang kual, beranggot.ikan Muhajirin Jan Anshar sebagai eleman utamanya. Untuk itu, tindakan pertama yang dilakukan Rasulullah Saw. adalah mendirikan sebuah masjid.

Tidak mengherankan, karena pendirian masjid merupakan tindakan terpenting dalam proses pembangunan masyarakat Islam. Sebab, masyarakat Islam yang kuat harus berpegang pada aturan, akidah, dan prinsip-prinsip moral Islam, yang kesemua itu berhulu pada potensi spiritual masjid.

Salah satu elemen terpenting dalam sistem masyarakat Islam adalah terwujudnya hubungan persaudaraan antarumat Islam yang didasarkan pada cinta-kasih dan ketulusan. Tetapi, perlu disadari bahwa hubungan seperti itu hanya dapat dibangun di dalam masjid. Betapa tidak, jika umat Islam tidak pernah bcrjumpa satu sama lain di dalam rumah Allah, tentu semua perbedaan kedudukan, kekayaan, dan status sosial akan menghalangi terjalinnya hubungan persaudaraan yang tulus di antara mereka.

Elemen penting lain yang harus ada di dalam sistem masyarakat Islam adalah menyebarnya semangat kesetaraan dan keadilan di dalam tubuh umat Islam itu sendiri, walaupun mereka berasal dari strata social yang berbeda-beda. Tctapi, tentu saja semangat berkeadilan seperti ini tidak akan pemah tcrwujud dengan scmpurna jika umat Islam tidak pernah bertemu setiap hari dalam satu shaf untuk sama-sama berdiri di hadapan Allah Swt., menghadapkan jiwa dan raga mereka kepada-Nya, serta mempertautkan hati sepenuhnya dengan Zat Yang Mahatunggal dan Mahamulia. Jika setiap muslim beribadah kepada Allah di rumah masing-masing tanpa pernah mengecap indahnya kebersamaan, maka keadilan dan kcsctaraan yang mcrcka impikan pasti akan sulit terwujud, karena tcrhalang oleh sifat egois dan saling merasa paling unggul.

Elemen penting lain yang harus ada di dalam sistem masyarakat Islam adalah meluruhnya seluruh umat Islam dalam kesatuan pandangan yang dihubungkan oleh “Tali Allah~ yang menjadi aturan dan syariat bagi mcreka semua. Namun, jika di tengah masyarakat Islam itu sendiri tidak ada satu pun masjid yang dapat menjadi tempat bertcmunya umat Islam untuk mempelajari hukum-hukum Allah Swt. dan syariat yang Dia tetapkan, maka tentulah kesatuan mercka akan scgera hancur berkeping-keping. Tiap-tiap kclompok akan disibukkan oleh ambisi masing-masing.

Jadi, untuk mewujudkan semua elemen penting ini di tengah masyarakat dan negara Islam yang baru di Madinah, Rasulullah Saw. langsung memerintahkan pendirian masjid sebelum melakukan tindakan lainnya.

Kedua. Hukum jual-beli yang dilakukan dengan anak-anak atau kalangan yatim-piatu muslim yang belum balig. Sebagian ulama- antara lain dari kalangan Hanafiyah- menggunakan

hadits tentang pembelian yang dilakukan Rasulullah Saw. dengan dua anak yatim pemilik tanah yang menjadi tempat pendirian Masjid Nabi ini sebagai dalil diperbolehkannya melakukan transaksi jual-beli dengan muslim yang belum cukup umur. Jika jual-beli dengan anak-anak yang belum baligh dianggap tidak sah, Rasulullah Saw. tidak akan melakukan hal itu dengan kedua anak pemilik tanah tersebut.

Sementara itu, pendapat jumhur ulama yang menghukumi transaksi jual-beli dengan anak-anak tidak sah, didasarkan pada firman Allah Swt., “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa … “‘ ( QS Al-An’am [ 6) :152).

Adapun hadis tentang “tanah tempat penjemuran kurma,. Yang dikutip dalam uraian ini mereka tanggapi scbagai berikut:

Pertama, di dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Uyainah dikatakan bahwa Rasulullah Saw. sebenarnya melakukan transaksi bukan dengan kedu.i anak yatim tersebut, melainkan dengan paman yang menjadi wali mereka berdua. Jadi, apa yang dianut oleh kalangan Hanafiyah sama sekali tidak dapat dijadikan hujjah.

Kedua, dalam perkara seperti ini, sebenarnya Rasulullah Saw. berhak menjadi wali bagi kedua anak yatim tersebut. Sebab, sebagaimana diketahui, Rasulullah Saw. adalah wali bagi seluruh umat Islam. Maka, Rasulullah Saw. dapat membeli tanah tersebut dari kedua anak yatim dalam posisi sebagai “wali” bagi mereka berdua, sebagaimana beliau menjadi wali bagi seluruh umat Islam.

Ketiga. Dibolehkan membongkar kuburan untuk kemudiao dijadikan masjid asal tanah kuburan tcrscbut dibcrsihkan terlebih dahulu. Dalam mengomentari hadis “tanah pcnjemuran kurma” ini,

Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa hadis ini menjadi dalil dibolehkannya membongkar kuburan lama.

Hadis ini juga menjadi dalil bahwa tanah yang pernah dijadikan tempat pemakaman boleh dijual, tetap menjadi milik pemiliknya yang sah, dan tetap dapat diwariskan jika hak pewarisannya belum gugur.

Di dalamnya sudah tidak ada lagi potongan daging mayat ataupun darahnya. Namun, seiring dengan itu, Rasulullah Saw. kemudian mcmbongkar dan memindahkan scmua tulang-belulang yang ada di dalam kuburan-kuburan tersebut.

Menurut hemat penulis, kebolehan menggunakan tanah pekuburan sebagai tempat pendirian masjid hanya berlaku jika tanah tersebut bukan tanah wakaf. Tetapi, jika tanah pekuburan itu adalah tanah wakaf, maka tanah itu sama sekali tidak bolch dialihfungsikan dari apa yang telah diniatkan oleh orang yang mewakafkannya (waqif).

Keempat. Hukum membangun, mengukir, dan menghias Masjid Nabi.

Yang dimaksud dengan “membangun” di sini adalah memperkuat dinding, bangunan, atap, dan pilar masjid dengan menggunakan bahan batu-batuan. Adapun yang dimaksud dengan “mengukir” dan “menghias” adalah memberi tambahan hiasan dari elemen utama bangunan masjid.

Berkenaan dengan perkara “membangun’; semua ulama membolehkan, bahkan menganjurkan. Hal itu didasarkan pada tindakan Utsman bin Affan ra. yang pernah merenovasi bangunan Masjid Nabi Saw. di Madinah. ~1cskipun tindakan semacam itu {merenovasi masjid) tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw., bukan berarti terlarang. Alih-alih dianggap sebagai tindakan pengrusakan terhadap masjid, renovasi justru melukiskan tingginya perhatian terhadap syiar agama Allah Swt. Dalam hal ini, para ulama juga menggunakan dalil firman Allah yang berbunyi, “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang~orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian …” (QS At-Taubah [9]: 18). Padahal “memakmurkan .. hanya dapat dilakukan dengan melakukan renovasi dan memperkuat bangunan.

Adapun berkenaan dcngan masalah “mengukir” dan “menghias’; pada ulama sepakat menghukuminya makruh. Bahkan, di antara mereka ada yang mcngharamkan. Namun, kebanyakan dari mereka lebih memilih menghukumi “makruh tanzih~ Tetapi semua ulama, baik yang menyatakan “makruh” maupun “haram~ sepakat mengharamkan pcnggunaan harta wakaf untuk menghias masjid secara berlebihan.

Adapun jika harta yang digunakan untuk menghias masjid adalah milik yang mendirikan masjid tersebut, para ulama masih berselisih pendapat. Az-Zarkasyi, dengan menukil dari Imam Al-Baghwi, menyatakan bahwa hukum mengukir bangunan masjid yang pembiayaannya bcrasal dari harta wakaf adalah terlarang. Adapun hal itu dilakukan atas biaya pribadi, maka Az-Zarkasyi menyatakan itu makruh, karena hiasan yang berlebihan di dalam masjid dapat merusak kekhusyuan orang-orang yang melakukan shalat di dalamnya.

Perbedaan antara “membangun” dalam pengertian yang umum, dengan “mengukir” atau “menghias” dalam pengertian khusus tentu sudah jclas dan tidak perlu dibahas lebih Ianjut.

Alasannya, “membangun”-sebagaimana diuraikan di atas- sama sekali tidak merusak hikrnah dari perintah pendirian masjid. Sementara “mengukir” atau “menghias., sama-sama mengandung pengertian yang menyimpang dari hikmah awal pendirian masjid. Apalagi hiasan di dalam masjid melenakan hati orang-orang yang shalat dari kekhusyuan.

Mereka akan sibuk mengagumi “perhiasan dunia ~ padahal hikmah dari didirikannya masjid adalah agar manusia dapat melarikan diri dari gemerlap dunia dan mengosongkan hati dari segala pesona kchidupan yang fana.

Inilah perkara yang dulu pernah diingatkan oleh Umar bin Khaththab ra. Di dalam kitab Sahih yang disusunnya, Imam Al-Bukhari menyatakan bahwa ketika memcrintahkan pembangunan sebuah masjid, Umar berkata, “Lindungi manusia (para jamaah) dari hujan, dan jangan sckali-kali kau hias ia dcngan warna merah atau warna kuning, karena itu akan mcnjadi fitnah bagi manusia,” {HR Al-Bukhari).

Para ulama berselisih pendapat ihwal hukum menuliskan ayat AlQur’an di bagian kiblat masjid. Apakah hal itu termasuk “menghias” yang terlarang? Imam Az-Zarkasyi menyatakan di dalam kitab I’lam as-S,ljid, menulis ayat Al-Qur’an atau tulisan lain di bagian kiblat masjid hukumnya makruh. Imam Malik juga bcrpcndapat bcgitu. Namun, scbagian ulama ada pula yang mcmpcrbolchkan. Mereka menyatakan, hal itu boleh berdasarkan riwayat yang menjelaskan apa yang dilakukan Utsman bin Aff an ra. terhadap Masjid Nabi Saw. yang tidak pernah disangkal kebenarannya.

Dari apa yang tclah kami uraikan di atas, Anda tentu telah dapat mcmahami kekcliruan yang dilakukan sebagian saudara kita yang berlcbihan dalam mcmberi pcrhatian terhadap bangunan fisik masjid. Mereka berupaya semampunya untuk mengukir, menghias, dan mempercantik masjid hingga melampaui batas kepatutan, sampai-sampai orang yang masuk kc dalam masjid-masjid yang mereka bangun nyaris tidak dapat meresapi makna penghambaan manusia di hadapan Allah Swt. Alih-alih, mereka justru sibuk membincangkan berbagai macam hiasan dan teknik arsitektur dari masjid yang mereka masuki.

Dan kondisi terburuk dari semua ini adalah ketika setan akhirnya berhasil rnenggoda kalangan menengah bawah dari urnat Islam. Sebagairnana diketahui, jika semua masjid dibangun dengan sedemikian rnewah, maka tidak akan ada tcmpat lagi bagi kalangan muslim berpcnghasilan rendah untuk dapat mercsapi indahnya kescderhanaan dalam pcnghambaan manusia di hadapan Allah. Dengan berada di masjid, seharusnya muslim yang miskin dapat rnencmukan pelipur bagi kemiskinannya. Di sana mereka diajak keluar dari gemerlap dunia, segala pesona, dan pernak-pernik perhiasannya. Mereka diperintah menghadapkan hati ke arah akhirat yang kekal.

Andaikata semua masjid dibangun sedemikian mewah, orang-orang miskin akan semakin tersuruk dalam kesengsaraan. Padahal, masjid seharusnya menjadi “tempat berlindung’· bagi mereka. Tapi sebaliknya, orang-orang miskin justru merasa dikepung kemewahan yang semakin menyesakkan dada mereka.

Demi Allah, betapa buruknya apa yang dilakukan umat Islam jika mercka telah pergi meninggalkan esensi ajaran agamanya, untuk kemudian berpaling pada penampilan fisik yang seakan-akan menjadi bagian dari agama yang luhur ini. Padahal, hanya berisi kebusukan dunia yang menggelegakkan hawa nafsu dan kesombongan tak terkira.

Artikel berikutnya: Dasar-Dasar Masyarakat Baru (Bag.2)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: