Kisah Khalifah Abu Bakar r.a.

Abu Bakar
Ilustrasi foto: detik.com
Bagikan

Kisah Khalifah Abu Bakar r.a.

Oleh: Syarifudin & Lilik Agus Suyanti

Jika kita mencermati kehidupan saat ini, kita banyak menyaksikan orang-orang saling berebut kekuasaan dan saling menjatuhkan dalam meraih suatu jabatan. Banyak orang mencari dukungan untuk menduduki jabatan sebagai kepala daerah, anggota dewan, dan lain sebagainya.

Hal tersebut berbeda dengan kehidupan sahabat Nabi saw diantaranya adalah Abu Bakar As-Siddiq.

Riwayat Hidup Abu Bakar r.a.

Abu Bakar yang bernama asli Abdul Ka’bah lahir dua tahun setelah kelahiran Nabi saw di tahun 573. Setelah masuk Islam, oleh Rasulullah saw., ia dipanggil Abdullah. Nama Abu Bakar merupakan nama julukan karena ia merupakan orang yang paling awal (pagi-pagi) masuk Islam. Bakar berarti “pagi-pagi atau awal.”

Ayah Abu Bakar yaitu Usman, atau Abu Quhafah. Ibunya bernama Salma binti Sakhar. Silsilah beliau adalah Abu Bakar bin Usman (Abu Quhafah) bin Umar bin Ka’ab bin Sa’id bin Taimi bin Murrah bin Ka’ab. Silsilah (nasab)nya bertemu dengan nasab Rasulullah saw.

Abu Bakar dikenal sebagai orang yang berperilaku terpuji dan pandai menjaga kehormatan diri. Ia tidak pernah minum khamar (minuman keras) yang sangat membudaya pada zaman jahiliah. Abu Bakar merupakan orang yang terpandang di kalangan penduduk Mekah dan sekaligus seorang saudagar kaya. Ia merupakan orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki dewasa.

Pernikahan Abu Bakar

Semasa hidupnya, Abu Bakar pernah menikah dengan empat orang wanita dan memperoleh lima orang anak. Pernikahannya yang pertama terjadi sebelum masa kedatangan Islam dengan seorang wanita bernama Qatilah binti Sa’ad. Dari hasil pernikahannya, ia memperoleh satu orang putra yang bernama Abdullah bin Abu Bakar dan seorang putri yang bernama Asma’ binti Abu Bakar. Setelah istrinya wafat, Abu Bakar menikah kembali dengan Ummu Ruman dan memperoleh satu orang putra yang bernama Abdurrahman bin Abu Bakar serta seorang putri bernama ‘Aisyah binti Abu Bakar, yang nantinya diperistri oleh Rasulullah saw.

Pernikahannya yang ketiga berlangsung setelah Ummu Ruman meninggal dunia, yaitu dengan seorang wanita bernama Asma’ binti Umais dan memperoleh seorang putra yang bernama Muhammad bin Abu Bakar. Perkawinannya yang terakhir dengan seorang wanita dari suku Khazraj bernama Habibah binti Zaid, kemudian menghasilkan seorang putri yang dinamai Ummu Kulsum oleh ‘Aisyah.

Abu Bakar adalah sahabat yang menemani Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah. Ketika menetap di Madinah, Abu Bakar merupakan tangan kanan Nabi saw. Di luar semua itu, Abu Bakar adalah mertua Rasulullah saw., karena putrinya, ‘Aisyah, diperistri Rasulullah saw.. Pendek kata, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang telah berbagi suka dan duka bersama Rasulullah saw

Abu Bakar meninggal dunia pada tanggal 23 Jumadil Akhir tahun 13 H, bertepatan dengan bulan Agustus tahun 634 M pada usia 63 tahun. Ia dimakamkan di bekas rumah putrinya, ‘Aisyah, di samping makam Rasulullah saw

2. Gelar As-Siddiq kepada Abu Bakar r.a.

Abu Bakar mendapat gelar “as-Siddiq”, yang berarti “yang sangat membenarkan.” Pemberian gelar tersebut berkaitan dengan peristiwa Israk Mikraj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw.. Sebab, Abu Bakar merupakan sahabat yang pertama kali membenarkan peristiwa Israk Mikraj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw.

Peristiwa tersebut bermula ketika orang-orang kafir Quraisy di Mekah menjadi gempar ketika mendengar peristiwa Israk Mikraj.

Atas peristiwa tersebut, Abu Bakar mendapat gelar as-Siddiq. Gelar tersebut diberikan kepadanya karena keyakinannya akan kebenaran peristiwa Israk dan Mikraj yang dialami oleh Nabi Muhammad. Beliaulah yang benar-benar meyakini kebenaran Israk Mikraj yang dilakukan Nabi Muhammad saw. tanpa keraguan sedikit pun.

3. Pemilihan dan Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah

Pada saat para sahabat dan umat Islam memusatkan perhatiannya untuk mengurusi jenazah Nabi Muhammad saw., Bani Sa’idah berinisiatif melakukan sidang di Saqifah Bani Sa’idah. Sidang tersebut membahas kepemimpinan umat sepeninggal Rasulullah saw.. Bani Sa’idah menghendaki agar pengganti Rasulullah saw. berasal dari kaum Ansar, dan secara khusus berasal dari suku mereka, yaitu dengan mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai pengganti Rasulullah saw.

Berita tentang sidang yang dilakukan oleh Bani Sa’idah akhirnya terdengar oleh para sahabat dan kaum Muhajirin. Setelah berunding, kaum Muhajirin sepakat mengirim tiga tokoh untuk mendatangi tempat persidangan. Setelah Sa’ad bin Ubadah menyelesaikan pidatonya, konon Umar bin Khattab hampir saja tidak dapat menahan amarahnya, namun dapat diredakan oleh Abu Bakar as-Siddiq.

Pidato Abu Ubaidah

Terjadilah perdebatan mengenai siapa yang paling berhak untuk menggantikan Rasulullah saw.. Kaum Ansar menginginkan jabatan tersebut. Ketika perdebatan dan ketegangan memuncak, Abu Ubaidah bin Jarrah maju ke depan dan berkata, “Sahabat-sahabatku dari kaum Ansar, kalian adalah pihak yang pertama-tama menyokong dan membantu. Janganlah kalian menjadi pihak yang pertama-tama berubah dan berganti pendirian.”

Pidato yang pendek dari Abu Ubaidah ternyata telah menyadarkan sekalian kaum Ansar. Marilah kita bersama-sama bertakwa kepada Allah. Janganlah kita saling berbantah dan bertengkar.”

Dalam suasana yang sudah reda itu, Abu Bakar maju ke depan dan berkata: “Marilah kita semuanya kini memusatkan perhatian kepada dua tokoh dan silakan pilih, yaitu Umar bin Khattab ataupun Abu Ubaidah bin Jarrah”.

Engkau adalah tokoh termulia di kalangan Muhajirin, engkau menyertai Rasulullah di Gua Sur, dan engkau pula yang menggantikan Rasulullah sebagai imam salat! Silakan ulurkan tanganmu dan kami akan mengangkat baiat terhadapmu”. Bagai sengatan arus listrik, tiba-tiba seluruh yang hadir dalam sidang itu membaiat Abu Bakar as-Siddiq sebagai pengganti Nabi saw.

Setelah sekalian umat Islam melakukan bai’at kepadanya, Abu Bakar naik mimbar di dalam Masjid Nabawi dan berpidato untuk yang pertama kalinya. Setelah mengucapkan puji dan syukur kepada Allah, Abu Bakar berkata: “Saudara-saudara, saya sudah terpilih untuk memimpin kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kamu sekalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya… Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka.

4. Kekhalifahan Abu Bakar r.a. (632-634 M)

Masa kekhalifahan Abu Bakar r.a. hanya berlangsung dua tahun. Masa kekhalifahannya yang pendek tersebut dihabiskan untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam negeri dan hanya memiliki waktu yang sangat sedikit dalam upaya perluasan wilayah Islam. Di antara usaha-usaha yang dilakukan Khalifah Abu Bakar pada masa pemerintahannya adalah memerangi Nabi palsu dan kaum murtad, pembukuan Al-Qur’an serta perluasan wilayah Islam ke Irak dan Syiria.

a.Memerangi Nabi Palsu dan Kaum Murtad

Bersamaan dengan adanya gerakan riddah, muncul empat tokoh yang mendakwakan dirinya sebagai seorang Nabi (nabi palsu), di antaranya:

1) Musailamah al-Kazzab (w. 663 M) dari bani Hanifah di Yamamah.

2) Sajah Tamimiyah dari bani Tamim. Ia merupakan istri dari Musailamah al-Kazzab.

3) Al-Aswad al-Ansi dari Yaman.

4) Tulaihah bin Khuwailid dari bani Asad.

Gerakan riddah dan kemunculan nabi-nabi palsu dapat ditumpas oleh Khalifah Abu Bakar r.a.. Sebelumnya, Khalifah Abu Bakar telah mengirim surat kepada mereka agar mau bertobat dan kembali ke jalan Islam. Akan tetapi, mereka tetap memberontak dan tidak mau kembali kepada ajaran Islam. Oleh karena itu, Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid untuk menumpas gerakan riddah dan nabi-nabi palsu. Adanya gerakan riddah dan nabi-nabi palsu tersebut dapat ditumpas oleh Khalifah Abu Bakar. Peperangan dalam rangka menumpas gerakan riddah dan nabi-nabi palsu tersebut dalam sejarah Islam dikenal dengan sebutan “Perang Riddah” (perang melawan kemurtadan).

b. Pembukuan Al-Qur’an

Pada masa Rasulullah saw., Al-Qur’an ditulis pada lembaranlembaran, baik daun-daun, kulit kayu atau binatang, pelepah kurma maupun batu-batu. Selain itu, banyak sahabat Nabi saw. yang hafal Al-Qur’an secara utuh, sebanyak 30 juz (hafiz Al-Qur’an). Namun, pada saat terjadi Perang Riddah untuk menumpas kaum murtad dan nabi-nabi palsu, banyak sahabat Nabi saw. yang hafiz Al-Qur’an 30 juz gugur dalam peperangan tersebut.

Zaid bin Sabit ditunjuk menjadi ketua panitia tersebut. Selama dua tahun, kepanitiaan tersebut bekerja dan berhasil menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dengan sempurna sesuai urutan ayat dan surah, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw.. Kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut selanjutnya disebut “mushaf.” Hasil pengumpulan mushaf tersebut diserahkan Zaid bin Sabit kepada Khalifah Abu Bakar, yang selanjutnya disimpan di rumah Hafsah binti Umar bin Khattab, janda Rasulullah saw., untuk dirawat dengan baik.

c. Perluasan Wilayah Islam ke Irak dan Syiria

Setelah menyelesaikan urusan dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim pasukannya ke luar Arabia. Khalid bin Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai al-Hirah pada tahun 634 M. Kota Hirah merupakan kota yang pertama di luar Jazirah Arabia yang dapat dikuasai umat Islam. Kota ini merupakan wilayah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Persia.

Untuk menaklukkan Syiria yang berada di bawah kekuasaan Bizantium, Abu Bakar mengirim empat orang jenderalnya, yaitu Abu Ubaidah, Amr bin Ash, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurahbil. Pertempuran terjadi di Ajnadin, tentara Romawi yang dipimpin oleh Theodore dengan kekuatan 200.000 orang dapat dikalahkan oleh tentara umat Islam yang berkekuatan 45.000 orang.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: