Kisah Khalifah Umar bin Khattab r.a.

Umar bin Khattab
Ilustrasi foto: detik.com
Bagikan

Kisah Khalifah Umar bin Khattab r.a.

Oleh: Syarifudin & Lilik Agus Suyanti

Umar bin Khattab merupakan sahabat Nabi saw. yang paling pemberani, cerdas, dan tegas. Keberaniannya dibuktikan dengan melakukan perjalanan hijrah ke Madinah secara terang-terangan. Padahal, pada saat itu umat Islam berhijrah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi, karena takut dengan kaum kafir Quraisy. Karena keberaniaannya tersebut, Umar bin Khattab dijuluki sebagai Asadullah, yang artinya “Singa Allah”.

Beliau seringkali berbeda pendapat dengan Rasulullah saw.. Akan tetapi, seringkali pendapat Umarlah yang dikuatkan dan dibenarkan oleh wahyu dari Allah, yaitu Al-Qur’an. Oleh karena itu pula, Umar bin Khattab mendapat gelar Al-Faruq, yang berarti “Orang yang mampu membedakan antara yang haq dan batil.

1.Riwayat Hidup Umar bin Khattab r.a.

Umar lahir di tahun 583 M. Pada saat itu, Nabi Muhammad masih berusia 12 tahun. Silsilah beliau adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rizah bin Ady bin Ka’ab bin Luayyi. Khattab bin Nufail adalah nama ayahnya dan ibunya bernama Khantamah binti Hisyam. Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah saw. pada Ka’ab bin Luayyi.

Umar bin Khattab r.a. berasal dari keturunan suku terpandang, yaitu bani Ady, suku yang memiliki kedudukan tinggi di kalangan kaum Quraisy. Pada waktu itu, Umar bin Khattab sering menjadi wakil dari kaumnya dalam setiap menghadapi peristiwa-peristiwa penting dengan suku-suku lain di daerah Arab.

2. Umar bin Khattab r.a. Masuk Islam

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah berdoa kepada Allah swt. agar salah seorang diantara dua Umar masuk Islam. Dua Umar yang dimaksud adalah Amru bin Hisyam (Abu Jahal) dan Umar bin Khattab. Akhirnya, doa Nabi Muhammad saw. tersebut dikabulkan oleh Allah swt.dengan masuknya Umar bin Khattab ke dalam barisan umat Islam. Umar bin Khattab masuk Islam setelah Nabi Muhammad saw. mendakwahkan Islam selama 5 tahun.

Proses masuknya Umar bin Khattab ke dalam agama Islam diawali ketika Umar bin Khattab dalam keadaan marah mendatangi rumah adiknya, yaitu Fatimah dan suaminya, Said bin Zaid. Umar bin Khattab memasuki rumah Fatimah dengan membawa pedang terhunus. Di saat itu, Fatimah dan suaminya sedang membaca Al-Qur’an. Said bin Zaid yang membukakan pintunya. Umar bin Khattab dengan muka merah berkata: “Hai orang yang memusuhi dirinya sendiri, betulkah engkau sekarang telah mengikuti agama Muhammad?”

Setelah itu Umar mencekik leher Said dan membantingnya. Fatimah menolong suaminya yang dicekik Umar, bahkan kepalanya dipukul dengan keras oleh Umar hingga berdarah. Fatimah berkata: kalau engkau mau membunuh kami, bunuhlah! Aku tidak akan takut sedikit pun, aku tetap akan mengikuti agama Muhammad.”

Setelah mendengar suara adiknya dan melihat wajahnya berdarah, Umar bin Khattab duduk dan termenung tampak sangat menyesali perbuatan yang telah ia lakukan. Kemudian ia berkata: “Tolong berikan ayat-ayat Al-Qur’an itu agar aku dapat mempertimbangkan ajaran Muhammad.” Lalu, Fatimah mengambil Al-Qur’an dan memberikan kepada kakaknya. Baru saja Umar membaca kalimat bismillah, hatinya berdebar-debar. Ayat selanjutnya yang dibaca adalah Surah Taha (120) ayat 1-16.

Setelah membaca ayat tersebut, dia berkata: “Alangkah bagusnya ayat itu dan alangkah mulianya.” Kemudian melanjutkan katakatanya: “Ya Khabbab (bekas budak Umar)! Tunjukkan kepadaku tempat tinggal Muhammad, aku hendak datang bertemu dengannya, aku akan masuk Islam.” Kemudian Khabbab memberitahukan keberadaan Muhammad. Dia berada di kampung Safa dengan beberapa orang sahabatnya di rumah Arqam.

Umar Menemui Rasulullah

Setelah tiba di sana, dia mengetuk pintu dengan keras dan berkali-kali serta terus-menerus karena benar-benar tidak sabar. Tidak ada yang berani membuka pintu, karena mereka menyangka Umar masih menjadi musuh Islam, lebih-lebih dia datang dengan membawa pedang terhunus.

Kemudian Nabi Muhammad saw. meminta sahabat membukakan pintu. Ketika sudah dekat dengan Rasulullah saw., seketika badannya gemetar, takut yang luar biasa melihat wajah Rasulullah, Umar berkata: “Aku datang kemari sesungguhnya aku hendak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada apa-apa yang telah datang dari-Nya”. Rasulullah saw. menepuk dada Umar dengan tangan kanannya tiga kali dan ketika itu Umar bin Khattab membaca syahadat di hadapan Rasulullah saw.. Setelah Umar bin Khattab membaca syahadat dan didengar oleh kaum muslimin yang bersama Nabi saw., mereka bersama-sama membaca takbir tiga kali: Allahu akbar-Allahu akbar – Allahu akbar.

3. Proses Pemilihan Umar bin Khattab Menjadi Khalifah

Setelah Abu Bakar wafat, yang menggantikan kedudukannya sebagai khalifah adalah Umar bin Khattab. Seperti telah disebutkan di atas, pengangkatan Umar bin Khattab tidak melalui cara pemilihan terbuka, melainkan atas ide dan usulan Abu Bakar setelah melalui musyawarah dengan sahabat-sahabat yang lain. Para sahabat yang diajak bermusyawarah, sekalipun dengan cara bergantian, adalah Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, dan Talhah bin Ubaidillah.

Atas saran Talhah, Abu Bakar mengundang orang banyak. Abu Bakar yang sedang dalam keadaan sakit didudukkan oleh istrinya, Asma’ binti Umais, kemudian berkata: “Sudilah mengemukakan pendapat kalian semuanya mengenai orang yang akan aku tunjuk sebagai penggantiku. Aku menunjuk penggantiku itu Umar bin Khattab. Sudilah menerimanya dan mematuhinya”. Jawaban yang dikemukakan oleh orang-orang yang hadir ketika itu dengan serentak mengatakan; sami‘na wa ata’na (kami dengar dan kami patuh).

Setelah terpilih menjadi khalifah, Umar bin Khattab berpidato. Di antara kata-kata yang disampaikannya, antara lain: “Wahai kaum Muslimin, bagaimana sikap kalian seandainya aku cenderung kepada kesenangan duniawi? Sesungguhnya aku takut kalau aku berbuat salah, tetapi dari kalian tidak ada seorang pun yang menentangku karena hormat kalian kepadaku. Jika berlaku baik, bantulah aku, tetapi jahat harap kalian perbaiki”. Pada saat itu tiba-tiba berdirilah seorang di antara hadirin dan berkata: “Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, kalau kami melihat Anda membengkok, maka kami luruskan kembali dengan pedang-pedang kami”. Dengan tenang Umar bin Khattab menjawab: “Semoga Allah sayang kepada kalian, dan segala puji bagi Allah bahwa di antara kalian terdapat orang yang berani mengoreksi Umar dengan pedangnya.”

4. Kekhalifahan Umar bin Khattab r.a. (634-644 M)

Masa kekhalifahan Umar berlangsung selama 10 tahun 6 bulan, yaitu dari tahun 634 M – 644 M atau 13H – 23H. Masa pemerintahannya yang berlangsung selama sepuluh tahun itu tercatat sebagai pemerintahan yang paling menentukan bagi kelangsungan masa depan Islam. Pada masa pemerintahannya, imperium Romawi Timur (Bizantium) kehilangan bagian terbesar dari wilayah kekuasaannya yang berada di pesisir barat Asia dan pesisir utara Afrika.

Pada masa pemerintahannya pula, kekuasaan Islam dapat menghancurkan dan meruntuhkan imperium Persia serta mengambil alih seluruh wilayah kekuasaannya. Dengan memakai Syiria sebagai basisnya, perluasan kekuasaan diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr bin Ash, dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqas.

Iskandariah ditaklukkan pada tahun 641 M sedangkan Al-Qadisiah ditaklukkan pada tahun 637 M. Dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain, dan dapat ditaklukkan pada tahun itu pula. Pada tahun 641 M, wilayah Mosul dapat dikuasai. Dengan demikian, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, wilayah Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syiria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.

Penaklukan Kota Yerussalem

Dari sekian banyak penaklukan pada masa Umar bin Khattab, penaklukan atas Kota Yerussalem adalah yang paling menarik. Penaklukan kota yang dipandang suci ini tidak dilakukan dengan menumpahkan darah. Uskup Agung akan menyerahkan Kota Yerussalem dengan syarat diadakan gencatan senjata dan kota suci ini hanya akan diserahkan kepada penguasa tertinggi, yaitu Khalifah Umar bin Khattab.

Panglima perang ketika itu, Abu Ubaidah, setelah berunding dengan panglima lainnya, dapat menerima persyaratan itu. Akhirnya, berangkatlah Umar bin Khattab ke Yerussalem untuk menerima penyerahan kota suci tersebut. Penyerahan kota suci itu berjalan dengan damai. Khalifah Umar bin Khattab beserta para panglimanya disambut baik oleh para penduduk. Mereka pun dipandu untuk mengunjungi tempat-tempat suci.

Peristiwa menarik terjadi pada saat kunjungan ini berlangsung. Ketika Umar dan rombongan berada di dataran bukit Zion, tibalah saatnya untuk melaksanakan salat Zuhur. Tawaran yang ramah dari Uskup agar gereja dijadikan tempat shalat itu disambut dengan baik oleh Umar bin Khattab, tetapi kemudian ia berkata: “Kalau saya salat di gereja, saya khawatir orang-orang yang datang kemudian akan merampas gereja Tuan dan menjadikannya sebagai masjid.” Kemudian Khalifah Umar pun membuat garis untuk membangun masjid di sisi gereja. Di tempat itulah Khalifah Umar bin Khattab melaksanakan shalat Zuhur beserta para panglimanya. Di tempat itu kemudian didirikan masjid dan dikenal dengan sebutan Masjid Umar.

Penanggalan Kalender Hijriyah

Jasa Umar bin Khattab yang sangat monumental dan tak terlupakan adalah membuat penanggalan Islam yang dikenal dengan Kalender Hijriah. Khalifah Umar bin Khattab r.a. menetapkan tahun Hijriah sebagai tahun baru Islam dimulai dari hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah al Munawwarah. Pada waktu itu, para sahabat Nabi saw. bermusyawarah untuk menentukan kalender Islam. Di antara mereka ada yang mengusulkan mengikuti kalender bangsa Romawi, ada juga yang mengusulkan agar memulai dari kelahiran Nabi Muhammad saw., kemudian Ali bin Abi Talib mengusulkan dimulai dari hijrahnya Nabi Muhammad saw. ke Madinah (Yasrib). Usulan tersebut berkenan di hati Khalifah Umar bin Khattab. Kemudian Khalifah Umar bin Khattab r.a. menetapkan perhitungan tahun Islam berdasarkan peristiwa hijrah Rasulullah saw. ke Madinah.

Nama-nama bulan yang digunakan dalam kelender Islam (tahun Hijriah) sebagai berikut.

  1. Muharam
  2. Safar
  3. Rabiulawal
  4. Rabiulakhir
  5. Jumadil Ula
  6. Jumadil Sani
  7. Rajab
  8. Syakban
  9. Ramadhan
  10. Syawal
  11. Zulkaidah
  12. Zulhijjah

Perhitungan tahun Hijriah berdasarkan peredaran bulan mengelilingi matahari. Hal tersebut berbeda dengan perhitungan tahun Masehi yang mendasarkan pada peredaran matahari.

5. Akhir Hayat Khalifah Umar bin Khattab r.a.

Khalifah Umar bin Khattab r.a. memerintah selama 10 tahun. Masa jabatannya berakhir dengan pembunuhan. Khalifah Umar bin Khattab r.a. dibunuh oleh Abu Lu’luah, seorang budak Persia.

Kesuksesan Umar bin Khattab dalam memajukan Islam ternyata mengundang rasa dengki orang lain, salah satunya adalah Abu Lu’luah. Dia adalah seorang budak Persia yang nama aslinya Fairuz. Dia tersulut bara api dendam yang sangat besar. Khalifah Umar bin Khattab r.a. dianggap sebagai biang penyebab hilangnya Kerajaan Persia.

Akhirnya, pada suatu hari ketika Khalifah Umar bin Khattab mengimami jamaah salat Subuh, tiba-tiba datang Abu Lu’luah dan menikam Khalifah Umar bin Khattab r.a.. Beliau sempat dirawat di rumah beberapa hari dan akhirnya wafat. Khalifah Umar bin Khattab r.a. wafat pada bulan Zulhijah tahun 23 H/644 M dan dimakamkan di samping makam Khalifah Abu Bakar r.a. serta makam Nabi Muhammad saw..

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: