Kisah Musa vs Firaun: Training

training
Ilustrasi foto: ainyfauziyah.com
Bagikan

Kisah Musa vs Firaun: Training

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Kisah ini mungkin duel terbesar sepanjang sejarah manusia. Iya gimana gak terbesar, wong sebelum tanding Nabi Musa ditraining dulu oleh Allah secara langsung. Saat di lembah Thuwa Allah berfirman :

Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman : “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, (Thaha : 19-21)

Itu nabi Musa tidak pernah nanya kenapa tongkatnya harus berubah jadi ular. Kalo saya di posisi ini pengennya bukit Thur berubah jadi emas trus bikin kerajaan Condet Empire buat ngalahin kerajaan Mesir atau buat nyumpel mulut orang yang ngomong punya uang 11ribu trilyun dikantongnya. Lebih dahsyat bagi dakwah daripada punya tongkat berubah jadi ular. Tapi begitulah hikmah Allah berjalan tanpa kita ketahui. Nabi Musa pun gak kepo nanya kenapa harus ditraining seperti ini.

Selesai training teken kontrak. Job pertamanya gak main2, melunakkan hati Firaun agar mau tobat ! Masya Allah

Saya pertama kali ceramah pas dauroh didepan temen2, kultum bada sholat. Grogi, cuma yang namanya ceramah didepan temen sendiri yang ilmunya sama2 ngepas, cuek aja. Gak kebayang kalo ada orang baru kenal Islam trus disuruh ceramah digrup ini, tempat kongkownya para master tarbiyah apa gak gemetaran badannya. Apalagi kalo sebelumnya dia liat video ceramahnya Beben yang menggetarkan, itu kening bolak balik dilap saking nervous-nya.

Ceramah pertama Nabi Musa adalah kepada Firaun, sosok pemimpin yang mengumpulkan semua kerusakan dalam dirinya. Orang kalo berhadapan dengan Firaun mati kutu gak ada yang berani berbeda sikap apalagi meluruskan. Ini gambaran betapa Firaun adalah sosok yang menggetarkan jiwa jika berhadapan, kudu punya jiwa kuat biar gak terkencing2. Bahkan mendengar namanya saja orang bisa takut walau sosoknya tak ada disitu. Kejamnya tiada kira pun auranya sampe kamana2. Itu sebabnya jasad Firaun yang tenggelam Allah munculkan agar Bani Israel yakin bahwa Firaun telah mati. Iya segitu takutnya Bani Israel terhadap Firaun sehingga berita kematiannya harus disaksikan oleh mata kepalanya sendiri.

Singkat cerita Firaun menolak dakwah Musa as. Bahkan untuk membuktikan bahwa Musa adalah kelompok intoleran yang akan memecah belah Mesir, Firaun ngajak tanding agar terbukti kelemahan ajaran Musa yang baru seumur jagung, menurutnya.

maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya). (Thaha : 58)

Firaun gak bikin chat palsu untuk tangkep Musa atau bikin hoax untuk menggugurkan statemen Musa atau bikin tuduhan palsu untuk penjarain Musa. Tidak. Firaun itu kejam bukan hina. Beda dengan pemimpin Congo, segala chat palsu lha dikerjain intelejennya. Hanya orang2 hina yang berbuat serendah itu. Dan kesudahan orang hina itu adalah kehinaan pula, coba kalian perhatikan kelak. Firaun ingin mengalahkan Musa dengan cara ksatria, yakni adu sihir.

Ini namanya laki2 gentle. Jangan beraninya cuma dialog dengan tukang becak dan pedagang sayur doang, nanya berapa harga cabe sekarang. Atau dialog sama anak SD cuma nanya nama2 ikan. Giliran diajak dialog dengan para ekonom membedah visi dan misinya kicut.

Firaun menerima kedatangan Musa ke istananya, ini tanda dia berani berhadapan dengan oposisi. Musa as diterima datang bukan untuk makan sate senayan tapi berdialog menepis ajaran ketuhanan Firaun dan pembebasan Bani Israil dari perbudakan. Firaun pun meladeni dialog tersebut, ini tanda dia cerdas. Iyalah kalo gak cerdas gak mungkin seluruh penduduk Mesir bisa tunduk dan patuh kepadanya. Tanpa buzzer dan tanpa media, Firaun telah membangun citra dirinya yang hebat.

Dialog Musa dan Firaun buntu. Saatnya uji kebenaran. Disepakati satu tempat pada waktu untuk uji kebenaran antara para penyihir Firaun dengan Nabi Musa yakni pada waktu dhuha dan di hari raya, hari berkumpulnya rakyat Mesir.

(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya.  (Thaha : 65-67)

Disinilah baru terbuka hikmah tongkatnya Musa berubah menjadi ular. Ternyata Firaun menginginkan pembuktian kebenaran melalui adu sihir bukan siapa yang paling tajir. Kalo mukjizat yang diterima adalah bukit Thur berubah menjadi emas maka di hari yang vital ini tak ada gunanya. Awalnya kita pikir mukjizat tongkat berubah menjadi ular dampaknya tidak sehebat bukit Thur jadi emas. Dengan harta sedemikian banyak Nabi Musa bisa membangun imperium besar untuk Bani Israil dan mensejahterakan rakyatnya seperti yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman sesudahnya.

Namun begitulah hikmah Allah selalu diketahui belakangan. Lewat sebuah tongkat terbukalah hakikat kebenaran mengalahkan kepalsuan isme Firaun yang selama ini tak tersibak. Iya gara2 sebatang tongkat kayu yang digunakan Musa untuk bertelekan dan mencari daun untuk kambingnya bisa menggoncangkan istana Firaun. Masya Allah.. betapa mudahnya bagi Allah menghancurkan kedigjayaan sebuah tiran. Bukan dengan bencana hebat atau pasukan besar tapi dengan sebatang tongkat. Pun bukan tongkat komando atau tongkat khatib Jumat tapi tongkat penggembala !

Saya gak bisa bayangin bagaimana perasaan Firaun menyaksikan ideologinya yang hebat, yang belum pernah ada sebelumnya, yang dibangun dengan susah payah selama bertahun2, dan yang telah menumbalkan ratusan nyawa hancur karena sebatang tongkat. Kalian liat pemimpin besar nan durjana saja hancur karena sebatang tongkat lalu bagaimana kesudahan pemimpin hina nan plonga plongo ?

Kesulitan kita saat ini tidak sebesar kesulitan Musa berhadapan dengan Firaun. Jika Musa telah menjalani training kitapun telah menjalaninya yakni saat Ramadhan kemarin. Jika Musa ridho dengan perintah dan takdir Allah maka kita harus ikhlas menjalankan perintah Allah dan ridho dengan apa yang menimpa kita sekarang yakni kesulitan pangan dan pekerjaan.

Musa tak pernah mengeluh punya senjata sebatang tongkat penggembala berhadapan dengan ratusan tongkat penyihir yang jauh lebih bagus dan lebih baik. Kitapun tak boleh mengeluh dengan apa yang ada pada diri, coz pada saatnya nanti kita akan mensyukurinya.

You may also like...

1 Response

  1. ani says:

    kisah dg bahasa yg santuy tp berat man…. Good bener

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Silahkan di share, jangan di copas ya...