Khutbah Jumat: Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kebahagiaan Semu

Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kebahagiaan Semu
Ilustrasi foto: suaramuhammadiyah.id
Bagikan

Khutbah Jumat: Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kebahagiaan Semu

Oleh:Ust.Abdullah Haidir, Lc

Kaum muslimin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah… Siapapun manusia di muka bumi ini menginginkan kebahagian dalam hidupnya. Apapun bangsanya, agamanya, rasnya, warna kulitnya, profesinya, tidak ada seorang pun yang tidak menginginkan kebahagiaan.

Hanya saja pertanyaannya, bagaimana kebahagiaan itu diraih? Banyak ragam dan cara manusia mencari kebahagiaan. Namun sayangnya, tidak sedikit yang mencari kebahagian dengan cara dan jalan yang justeru dapat merusak kebahagiaan itu sendiri. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, justeru yang didapat adalah kesengsaraan dan kepedihan.

Para hadirin yang dirahmati Allah

Sumber kebahagiaan sesungguhnya ada dalam hati dan jiwa kita. Maka siapapun yang ingin meraih kebahagiaan hidup, mau tidak mau dia harus berusaha bagaimana menjadikan hati dan jiwanya sehat dan tenang. Karena sehat dan tenangnya hati dan jiwa merupakan asas kebahagiaan.

Bagaimana caranya? Allah lah yang menciptakan hati dan jiwa kita, maka Dia lah yang paling tahu bagaimana caranya kita menjadikan jiwa kita sehat dan hati kita tenang. Syariat Islam secara utuh, baik berkaitan dengan aspek zahir maupun batin sesunguhnya merupakan terapi paling baik atas hati dan jiwa. Maka mengamalkan syariat Islam, sejatinya bukan hanya terkait dengan pahala dan janji surga, tapi juga merupakan syarat dasar untuk menghadirkan hati dan jiwa yang sehat sebagai asas menggapai kebahagiaan. Dengan singkat, hal ini dapat disebut dengan istilah zikrullah, berzikir kepada Allah.

Allah taala berfirman,

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Para ulama menyebutkan bahwa zikrullah yang sempurna adalah zikir yang melibatkan hati, lisan dan gerak perbuatan. Hati selalu ingat Allah, lisan selalu melafazkan asma Allah dan gerak kita selalu mengikuti syariat Allah. Sebuah rumus yang sangat sederhana dan terpampang jelas, tinggal menunggu siapa yang ingin mengambil dan mengamalkannya, agar dia meraih hati dan jiwa yang tenang dan sehat yang menjadi asas kebahagiannya di dunia maupu di akhirat.

Namun yang sangat disayangkan, banyak orang yang berpaling dari jalan kebahagiaan ini. Mereka justeru mencari-cari sumber kebahagian lainnya dengan mengira-ngira dan mengikuti selera hawa nafsunya. Ada yang menganggap bahwa kebahagiaan ada pada harta yang berlimpah, jabatan yang megah atau popularitas yang mewah dengan mengabaikan kondisi hati dan jiwa, jauh dari ajaran dan syariat Allah. Tidak jarang akibatnya semua itu ditempuh dengan cara dan jalan yang kotor dan tercela yang pada gilirannya dapat menjadi sumber kesengsaraan. Ada korupsi, menipu, menjual diri, memfitnah, dan semacamnya.

Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan berbagai ragam kemaksiatan dan kemunkaran, seperti mabuk-mabukkan, berjudi, berzina, dsb. Mereka mengira disanalah sumber kebahagiaan. Mereka tidak dapat membedakan antara kenikmatan dan kebahagiaan. Kenikmatan orientasinya adalah pemenuhan hawa nafsu dan syahwat. Sedangkan kebahagiaan yang dipenuhi adalah dahagi jiwa dan hati.

Sekedar mengejar kenikmatan untuk mendapatkan kebahagiaan dengan mengabaikan kondisi hati dan jiwa dan jauh dari syariat Allah tidaklah melahirkan kebahagiaan, walau sepintas menyenangkan. Jika seperti itu, pada hakekatnya yang dicari dan dikejar adalah kebahagiaan semu, bagaikan fatamorgana, sepintas dapat menghilangkan dahaga jiwa, namun yang terjadi justeru jiwa semakin merana, karena yang dia asupi sesungguhnya bukan jiwanya, tapi syahwatnya.

Karena itu, jangan heran, mereka yang dikerap dinilai orang-orang sangat bahagia dengan hartanya, jabatannya dan popularitasnya, ternyata jiwanya merana, kering kerontang. Hidupnya penuh tekanan kejiwaan, labil menghadapi berbagai macam ujian, stress dan tidak tenang, atau bahkan karena kemunkarannya dia harus berurusan dengan pihak berwenang yang menjatuhkan martabat dan kehormatannya. Adapula yang kemudian menjadikan minuman keras hingga narkoba sebagai pelarian atas tekann kejiwaannya. Dan berbagai macam fenomena lain yang kerap kita dapati di sekitar kita atau dapat kita baca di berbagai media.

Fenomena ini persis seperti apa yang Allah nyatakan,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124)

Kaum muslimin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah.

Cukuplah berbagai peristiwa menjadi pelajaran berharga bagi kita, untuk segera menata kehidupan sebelum terlambat, meguatkan hati dan jiwa agar kuat, yaitu dengan mendekatkan diri kita kepada Allah. Hadirkan selalu kebesaran Allah dalam hati dan lisan kita, tunaikan hak Allah dan hak manusia sebagaimana yang Allah ajarkan. Boleh jadi di sana banyak ujian dan cobaan, namun jika kita sabar, istiqomah, akan Allah berikan ketenangan dan kekuatan jiwa dan akhirnya terwujud bahagia sejati dan hakiki.

Jika hal ini terwujud, maka kesenangan dan kenikmatan dunia akan melahirkan kebahagiaan hakiki dan mendatangkan maslahat dunia, bukan malah menjadi sumber kesengsaraan dan petaka.

Allah Taala berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

 

بارك الله لي وليكم في القرآن العظيم

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: