Khutbah Jumat: HIKMAH PERGILIRAN WAKTU

Khutbah Jumat HIKMAH PERGILIRAN WAKTU
Ilustrasi foto: mmc.kalteng.go.id
Bagikan

Khutbah Jumat: HIKMAH PERGILIRAN WAKTU

Oleh:Ust.Abdullah Haidir, Lc

Kaum muslim jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah.

Selain kesehatan, waktu merupakan nikmat Allah yang sering kita lupakan nilai dan kedudukannya. Padahal dia adalah nikmat yang sangat besar. Bahkan nikmat waktu dan sehat adalah asas bagi kita untuk merasakan nikmat-nikmat Allah lainnya. Apalah arti makanan yang lezat, rumah mewah, harta berlimpah, dan lain sebagainya, jika ternyata tubuh kita sakit atau kita sudah tidak punya waktu lagi alias sudah wafat. Tidak akan dapat kita nikmati nikmat-nikmat Allah lainnya.

Namun kenyataannya, sedemikian besar nikmat waktu ini, sering tanpa sadar kita menyepelekannya, bahkan melupakannya bahwa dia adalah nikmat yang sangat besar.

Rasulullah saw mengingatkan kita akan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam shahihnya,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Karena itu hadirin jamaah shalat jumat yang dimuliakan Allah, setiap kali pergantian waktu, dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, pekan ke pekan, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun, sejatinya adalah nikmat demi nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dari sisi ini saja, sudah tak terhingga nikmat Allah kepada kita. Apalagi dengan nikmat Allah yang lainnya.

Selain permasalahan kesadaran tentang nikmatnya waktu, permasalahan lainnya adalah bagaimana kita mengisi dan memanfaatkannya? Karena tidak ada satupun nikmat yang Allah berikan kepada kita kecuali akan Dia tanyakan nanti di hari kiamat, untuk apa semua nikmat ini akan digunakan.

Allah berfirman dalam surat At-Takatsur ayat 8

ثُمَّ لَـتُسۡـَٔـلُنَّ يَوۡمَٮِٕذٍ عَنِ النَّعِيۡمِ

“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)

Bahkan di hari kiamat nanti, sebelum kaki seorang hamba melangkah, sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadits riwayat Tirmizi, di antara pertanyaan yang pertama kali diajukan kepada setiap hamba adalah;

عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ

“…Tentang umurnya untuk apa dia habiskan.” (HR. Tirmizi)

Pada hakekatnya, pertanyaan untuk apa umurnya dia habiskan adalah pertanyaan tentang waktu-waktu kita, karena umur tak lain merupakan kumpulan waktu yang kita lewati, perdetik, permenit, perjam, perhari, perpekan, perbulan dan pertahun.

Itu maknanya, setiap pergiliran waktu seharusnya menjadi semacam peringatan bagi kita, apa yang telah kita lakukan dengan nikmat waktu yang Allah berikan ini. Maka beruntunglah orang yang selalu menjadikan pergiliran waktu sebagai sarana untuk mengingat atas perbuatan yang telah dilakukan. Jika ada kekurangan, dia akan berusaha untuk memperbaikinya, jika ada kekhilafan dia akan berusaha untuk meluruskan, jika sudah di isi dengan kebaikan, dia berusah untuk mempertahankannya.

Karena itu, Maha benar Allah Taala dengan firmannya terkait dengan pergiliran waktu, bahwa pergiliran waktu merupakan sarana bagi mereka yang ingin ambil pelajaran dan bersyukur.

Dalam surat Al Furqan ayat 62 Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur. (QS. Al-Furqan: 62)

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Taala.

Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tindakan sebagian orang yang berhura hura dan berpesta pora saat melewat pergantian tahun adalah tindakan yang bertentangan dengan pesan Allah dalam ayat di atas. Selain bahwa dia adalah tindakan yang jauh dari nilai dan spirit syariat, jauh dari nilai-nilai budaya dan bahkan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Dari aspek syariat, atas nama apa pesta pora dan hura hura akhir tahun dilakukan sedemikian rupa. Jika yang kita lakukan adalah amal saleh, bukan begitu cara mensyukurinya. Jika yang kita lakukan adalah maksiat dan kemunkaran, justeru seharusnya kita bersedih dan menyesali perbuatan tersebut, bukan malah berhura-hura dan pesta pora.

Dari aspek kebudayaan pun perkara ini jauh dari nilai-nilai budaya bangsa kita. Dia bukanlah perkara yang bersumber dari akar budaya kita, melainkan budaya yang datang dari luar dan baru dikenal belakangan seiring perkembangan zaman dan proses globalisasi, dimana kita cenderung mengekor kebudayaan asing yang didukung media dan modal kuat.

Dari aspek kemanusiaan pun tindakan ini sangat tidak elok. Di tengah berbagai musibah dan bencana yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai pelosok tanah air, di tengah pandemi yang masih membayangi, di tengah situasi ekonomi yang kian sulit, maka berpesta pora dan hura-hura di pergantian tahun, apalagi jika ditambah dengan kemaksiatan dan kemunkaran, adalah tindakan yang sangat tidak simpatik dan tidak berakhlak, karenanya sangat tidak layak dilakukan seorang muslim.

Yang terbaik adalah sebagaimana pesan ayat yang kita baca di atas, pergiliran waktu hendaknya membuat kita semakin banyak bersyukur atas besarnya nikmat Allah kepada kita yang hingga kini kita masih diberikan kesempatan melalui kehidupan ini, sementara tak sedikit saudara-saudara kita, yang bahkan sebagiannya lebih muda dari kita, telah mendahului kita meninggalkan dunia ini.

Juga hendaknya, pergiliran waktu ini mengingatkan kita bahwa setiap waktu yang bergulir harus siap kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Itu artinya, kita semestinya berusaha agar waktu-waktu kita diisi dengan nilai-nilai positif, tidak banyak yang terbuang percuma tanpa manfaat bagi urusan dunia maupun akhir. Apalagi, jangan sampai, waktu-waktu kita banyak yang diisi untuk kemaksiatan, kemunkaran dan kezaliman.

Semoga Allah jadikan kita orang yang pandai bersyukur atas nikmat waktu dan pandai mengambil peringatan atas pergiliran waktu yang telah Allah tentukan.

بارك الله لي وليكم في القرآن العظيم

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: