Khalifah Umar Bin Khaththab RA.

Umar bin Khattab
Ilustrasi foto: detik.com
Bagikan

Khalifah Umar Bin Khaththab RA.

Oleh: Dr.Said Ramadhan Al Buthy (dikutip dari buku Fiqih Sirah)

Dialah amir al-mu’minin Umar ibn Khaththab ra. yang mendapat julukan AI-Faruq dari Rasulullah Saw. Julukan tersebut disandangkan kepadanya karena Umar adalah sosok yang sangat tegas membedakan antara yang benar dan yang salah. Umar dibaiat sebagai khalifah pada hari yang. sama dengan hari mangkatnya Abu Bakar AI-Shiddiq ra. Gaya kepemimpinan Umar tidak jauh berbeda dengan Abu Bakar ra., baik dalam tindakan, keteguhan dalam berjihad, maupun kesabaran.Sungguh, Allah Swt. telah membuat Islam semakin kokoh lewat tangan Umar. Kebijakan pertama yang dilakukan Umar sebagai khalifah adalah mencopot Khalid ibn Walid dari jabatannya, kemudian menggantinya dengan Abu Ubaidah ra.

Umar-lah khalifah pertama yang mengalami secara langsung penaklukan Baitul Muqaddas (Baitul Maqdis atau Yerusalem). Di kota suci itu, Umar tinggal selama sepuluh hari, sebelum kemudian kembali ke Madinah bersama Khalid ra. Yang dicopot dari jabatannya. Ketika Khalid ra. mengkritik Umar ra. atas pencopotan dirinya, Umar menjawab, ”Demi Allah, wahai Khalid, sesungguhnya engkau adalah orang yang amat mulia bagiku dan sangat kucinta”

Bahkan Umar ra. juga mengirimkan surat ke berbagai penjuru untuk menyampaikan pernyataan yang berbunyi, “Sesungguhnya aku tidak memecat Khalid karena marah atau pengkhianatan. Akan tetapi, aku memecatnya karena mengkhawatirkan kesetamatan banyak jiwa dari sikap Khalid yang tangguh dalam berperang.”

Apalagi, sebagaimana diketahui bersama, Khalid ibn Walid ra. Sebenarnya tidak lain adalah anak dari salah satu bibi Umar ibn Khaththab ra. sendiri. Khalid wafat di kota Himsh pada saat Umar masih memerintah.

Pada masa pemerintahan Umar, Damaskus berhasil ditaklukkan dengan cara damai, sekaligus dengan kekuatan senjata. Daerah Himsh dan Ba’labak ditaklukkan dengan cara damai. Bashrah dan Abillah ditaklukkan dengan kekuatan senjata. Semua kota tersebut ditaklukkan pada tahun keempat belas Hijriah.

Shalat Tarawih Berjamaah

Pada tahun yang sama, Umar ra. berinisiatif melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah. Jumlah rakaat yang dipilih Umar sebanyak dua puluh.Pada tahun kelima belas Hijriah, seluruh kawasan Yordania sudah berhasil ditaklukkan pasukan Islam lewat kekuatan senjata, kecuali daerah Tiberia yang jatuh ke tangan pasukan Muslim lewat cara damai. Dalam rangkaian penaklukan Yordania inilah terjadi Pertempuran Yarmuk dan al-Qadisiyyah yang terkenal itu.

Dalam kitab Tarikhnya, lbnu Jarir menyatakan, pada tahun inilah Umar mengangkat Sa’d sebagai gubernur Kufah, menetapkan undang-undang, menyusun beberapa tulisan, dan memberikan bagian harta kepada para sahabat dengan melihat siapa yang terlebih dulu masuk Islam dari mereka.

Pada tahun keenam belas Hijriah, kawasan Ahwaz dan Mada ‘ in berhasil ditaklukkan. Sa’d yang menjadi gubernur di kawasan itu melaksanakan shalat Jum’at di dalam istana Kisra. Shalat yang diprakarsai Sa’d itu menjadi shalatJum’at pertama yang dilakukan di lrak.

Pada tahun itu, Umar ibn Khaththab ra. meminta saran dari para sahabat, termasuk Ali ibn Abi Thalib ra., untuk dapat memimpin langsung pasukan Islam dalam menghadapi pasukan Persia dan Romawi.

Mendengar usul itu, Ali berkata, “Sesungguhnya perkara ini, mendatangkan kemenangan maupun tidak, tidak berhubungan dengan jumlah yang banyak atau sedikit. Karena ini adalah agama Allah yang akan diunggulkan oleh-Nya melalui bala tentara yang Dia siapkan hingga mencapai kejayaan. Adapun posisi pemimpin bagi perkara ini adalah bagaikan tali yang mengikat manik-manik dan menghimpunnya menjadi kalung. Jika aturan yang mengikat itu putus, maka manik-manik emas itu pastilah akan tercerai berai dan tidak akan pernah menyatu kembali. Maka, jadilah engkau sebagai pangkal poros dan ‘putarlah penggiling gandum’ peperangan kepada orang-orang Arab, lalu kobarkanlah api peperangan. Karena jika engkau pergi dari tanah ini, maka seluruh Arab pasti akan melawanmu dari segenap penjuru hingga tidak ada lagi perkara yang lebih penting bagimu selain apa yang telah ada pada dirimu saat ini.”

Pertempuran Jalula dan Perluasan Masjid Nabawi

Pada tahun keenam belas Hijriah ini juga terjadi pertempuran Jalula’ yang menjadi titik kekalahan Yazdajrid, penguasa Persia, sehingga memaksa putra Kisra itu mundur ke daerah Rayy. Pada tahun inilah kota Tikrit berhasil ditaklukkan. Di tahun yang sama, Umar mengerahkan pasukannya menuju Yerusalem. Di kawasan Jabiyah, Umar menyampaikan pidato yang begitu terkenal. Pada tahun ini, daerah Qinsirin berhasil ditaklukkan dengan kekuatan senjata, begitu pula kota Aleppo (Halaba), Antiokhia, dan Manbakh juga berhasil ditaklukkan lewat jalan damai. Pada bulan Rabi’ AI-Awwal tahun keenam belas Hijriah, musyawarah digelar. Dalam pada itu, Ali ibn Abi Thalib ra. memberikan saran kepada Umar ibn Khaththab ra., seperti yang telah disebutkan di atas.

Pada tahun ketujuh belas Hijriah, Umar melakukan perluasan bangunan Masjid Nabawi. Di tahun ketujuh belas ini terjadi kemarau panjang, sehingga Umar pun mengajak rakyatnya melakukan shalat lstisqa. Setelah melakukan tawasul dengan menyebut nama Abbas, kemarau panjang pun berakhir. lbnu Sa’d meriwayatkan, ketika Umar keluar untuk melakukan shalat lstisqa, ia mengenakan jubah Rasulullah Saw. Pada tahun ketujuh be las Hijriah ini, kawasan Ahwaz berhasil ditaklukkan dengan jalan damai.

Wabah ‘Ihaun Amwas

Pada tahun kedelapan belas Hijriah, Syam diserang wabah Thaun. Sekian banyak prajurit Muslim terjangkit penyakit ini. Serita itu pun sampai ke telinga Umar yang baru akan berangkat ke Syam untuk kedua kalinya. Umar lalu meminta saran dari para sahabat, dan mereka pun saling berselisih pendapat mengenai perkara tersebut. Dalam pad a itu, Abdurrahman ibn Auf ra. berkata kepada semua yang hadir, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Jika mendengar ada wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian datangi negeri itu. Dan jika suatu wabah terjadi di sebuah negeri ketika kalian sedang berada di negeri itu, maka janganlah kalian melarikan diri dari negeri tersebut.” Mendengar hadis itu, Umar pun kembali ke Madinah bersama rombongannya.

Pada tahun kesembilan belas Hijriah, daerah Qaysari berhasil ditaklukkan dengan kekuatan senjata.

Pada tahun kedua puluh Hijriah, Mesir berhasil ditaklukkan dengan kekuatan senjata. Akan tetapi, ada pula pendapat yang menyatakan, sebenarnya seluruh wilayah Mesir ditaklukkan pasukan Islam dengan jalan damai, kecuali kota Alexandria yang terpaksa ditaklukkan dengan kekuatan senjata. Pada tahun ini, Maghrib (Maroko) berhasil ditaklukkan dengan kekuatan senjata. Selain Kaisar Romawi meninggal dunia, Umar ibn Khaththab ra. mengusir semua orang Yahudi dari daerah Khaibar dan Najran karena mereka memberontak.

Di tahun kedua puluh satu Hijriah, Alexandria dan Nahawand berhasil ditaklukkan dengan kekuatan senjata. Sejak saat itu, bangsa asing tidak pernah lagi dapat menggafang kekuatan di kawasan ini.

Pada tahun kedua puluh dua Hijriah, Azerbaijan berhasil ditaklukkan dengan kekuatan senjata. Ada pula yang menyatakan, kawasan ini berhasil ditaklukkan dengan jalan damai. Pada tahun ini, daerah Dainur berhasil ditaklukkan dengan kekuatan senjata; Hamadan ditaklukkan dengan kekuatan senjata, beserta daerah Tharablus (Tripoli) Barat dan Rayy.

Penaklukan Persia

Pada tahun kedua puluh tiga Hijriah, semua daerah di Persia yang belum berhasil ditaklukkan, akhirnya berhasil ditundukkan. Daerah-daerah itu antara lain: Kirman, Sijistan, lshfahan, dan sekitarnya. Pada paruh akhir tahun kedua puluh tiga Hijriah, amir al-mu’minin Umar ibn Khaththab ra. melakukan ibadah haji.

Sa’id ibn Musayyab ra. berkata, ” Ketika Umar melakukan nafar dari Mina, ia menetap sebentar di Abthah. Pada saat itu, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, aku telah tua, kekuatanku telah berkurang, rakyatku ada di mana-mana, maka kembalikanlah aku kepada-Mu bukan sebagai seseorang yang lalai lagi berlebihan.” Dan, setelah bulan Dzulhijjah tahun itu baru saja berlalu, Umar pun terbunuh.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dari Aslam yang menyatakan bahwa Umar berdoa, “Ya Allah, anugerahi aku rezeki berupa syahid di jalan-Mu, dan jadikan kematianku di negeri Rasul-Mu.”

Pembunuhan Umar ibn Khaththab ra.

Umar ibn Khaththab ra. dibunuh seorang pemuda Majusi bernama Abdul Mughirah alias Abu Lu’ lu’ah. Dalam sejarah disebutkan, pembunuhan itu berawal ketika Abu Lu ‘ lu’ah mendatangi Umar untuk mengadukan pajak yang harus ia bayar. Umar berkata kepada Abu Lu’ lu’ah, “Pajak yang engkau keluarkan itu sama sekali tidak banyak.” Dibakar api amarah yang meluap-luap, Abu lu’ lu’ah pun pergi meninggalkan Umar seraya berkata, “Semua orang mendapatkan keadilan darinya, kecuali aku.” Dan tebersitlah niat di hati Abu Lu ‘ lu’ah untuk membunuh Umar ra.

Setelah mengambil sebilah belati, Abu Lu ‘ lu’ah langsung mengasah dan membubuhinya racun. Abu Lu’lu’ah memang seorang perajin yang dapat membuat berbagai macam senjata.

Dengan belati di tangan, Abu lu’ lu’ah bersembunyi di salah satu sudut masjid. Ketika Umar muncul untuk melaksanakan shalat Subuh, seperti yang biasa ia lakukan, Abu Lu ‘ lu’ ah pun menghujamkan belatinya ke tubuh Umar sebanyak tiga kali. Tikaman itu membuat amfr al-Mu’minfn Umar ibn Khaththab AI-Faruq ra. roboh seketika. Setelah berhasil melukai Umar, Abu Lu ‘ lu’ah yang terkepung para sahabat terus mengayunkan belatinya ke setiap orang yang berusaha mendekatinya. Salah seorang sahabat melemparkan selembar kain ke tubuh Abu Lu’lu’ah. Dan, ketika durjana Majusi itu menyadari dirinya tak kan sanggup lagi melakukan perlawanan, ia langsung menusukkan belati yang digunakan menikam Umar ra. ke dadanya sendiri.

Baiat Kepada Utsman

Setelah itu, Abdurrahman ra. beranjak menuju Masjid Nabawi bersama Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Di sana ia meminta semua tokoh Islam dari kalangan Anshar dan Muhajirin untuk segera datang ke masjid. Tidak lama kemudian, Masjid Nabawi sesak dipenuhi banyak orang.

Kala itu Abdurrahman ra. berkata, “Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah bertanya kepada kalian semua, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, tentang apa yang kalian inginkan. Ternyata, aku tidak menemukan seorang pun dari kalian yang setara dengan kedua orang ini, baik Ali maupun Utsman. Abdurrahman lalu berseru ke arah Ali, “Sekarang, majulah engkau kemari, wahai Ali”

Ali berjalan mendekati Abdurrahman. Sembari menggamit tangan Ali, Abdurrahman berkata, “Apakah engkau berbaiat kepadaku untuk selalu berpegang kepada Kitabulah dan Sunah Rasulullah serta semua tindakan Abu Bakar dan Umar?”

Ali menjawab, Allahumma, tidak, Akan tetapi, sebatas kemampuan dan usahaku dari semua itu.”

Abdurrahman melepaskan tangan Ali dan berkata kepada Utsman, ” Kemarilah engkau, wahai Utsman.”

Utsman mendekat. Seperti yang dilakukan kepada Ali, Abdurrahman pun menggamit tangan Utsman seraya berkata, “Apakah engkau berbaiat kepadaku untuk selalu berpegang kepada Kitabulah dan Sunah Rasulullah serta semua tindakan Abu Bakar dan Umar?”

Utsman menjawab, Allahumma, ya.” Mendengar jawaban Utsman itu, Abdurrahman langsung menengadahkan kepala ke atap masjid, sementara tangannya masih menjabat Utsman.

Abdurrahman berkata, “Ya Allah, dengar dan saksikanlah. Ya Allah, dengar dan saksikanlah. Ya Allah, sesungguhnya aku telah menanggalkan beban dari pundakku. Selanjutnya, kuserahkan beban itu kepada Utsman.”

Ali Pertama Membaiat Utsman

Setelah Abdurrahman mengucapkan kalimatnya itu, orang-orang ramai membaiat Utsman ra. di bawah mimbar Rasulultah Saw. Pada saat itu, Ali merupakan orang pertama yang membaiat Utsman ra. sebagai khalifah. Akan sampai jenazah keponakannya itu selesai dikafani. Bahkan, ketika terdengar tangis para wanita berangkai-rangkai meratapi kepergian  Khalid, Umar ditegur salah seorang sahabat, “Apakah engkau tidak mendengar {tangisan itu)? Mengapa engkau tidak melarang?” Umar yang terkenal tegas itu bungkam seribu bahasa. la balik bertanya, “Tidakkah layak perempuan-perempuan Quraisy itu menangisi Abu Sulaiman {Khalid), selama mereka tidak berlebihan?”

Ketika Umar mendekati jenazah Khalid, ia melihat seorang wanita berkerudung sedang menangisinya. Umar berkata, “Siapakah gerangan perempuan ini ?” Seseorang rnenjawab, ”Ibunya:’ Mendengar itu, Umar berkata, “Ibunya?! Ia di sini untuk Khalid: ‘Umar mengulang kata-katanya itu tiga kali. Kemudian ia berkata, ‘Akankah seorang wanita mampu meninggalkan orang seperti Khalid?”

Tempat Pemakaman Khalib ibn Walid

Kedua, dari pemaparan di atas, kita dapat mengetahui bahwa Khalid ibn Walid ra. wafat dan dimakamkan di Madinah. Pendapat inilah yang banyak disebut-sebut oleh para scjarawan. Akan tetapi, jumhur ulama menyatakan, Khalid wafat dan dimakamkan di kota Himsh. Pendapat inilah yang dianggap benar oleh Imam Ibnu Katsir, dan kemudian ia nukil dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah. Apalagi, jelas-jelas diketahui, setelah Umar mencopot jabatannya, Khalid pergi ke Mekah untuk mclaksanakan umrah, kemudian kembali ke Syam sampai akhirnya wafat pada tahun dua puluh satu Hijriah.

Bagaimana pun juga, yang perlu diketahui adalah bahwa Umar selalu memuji Khalid, baik ketika keponakannya itu masih hidup maupun setelah wafat.

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dari Al-Waqidi bahwa ketika Umar melihat rombongan jamaah haji asal Himsh, ia bertanya kepada rombongan itu, ‘Apakah ada berita yang perlu kami ketahui?” Mereka menjawab, “Ya, Khalid telah wafat.”

Maka, Umar pun mengucapkan kalimat istirja‘. Setelah itu, ia berkata, “Demi Allah, dialah pembendung arus datangnya musuh dan jiwa yang penuh berkah:’

Walaupun tentu saja, pujian yang sering diberikan Umar kepada Khalid itu sama sekali tidak berlawanan dengan beberapa masalah perbedaan ijtihad yang terjadi antara mercka berdua, di mana masing-masing melakukan apa yang menurut pendapat mereka benar.

Sungguh, andaikata orang-orang yang menyerang Khalid dengan dalih apa yang dilakukan Umar, atau menyerang Umar dengan dalih tindakan yang diambilnya itu, mau mclihat perkara ini secara komprehensif, juga memahami bahwa ijtihad apa pun pasti akan diganjar pahala. Apa pun pilihan mereka, tidaklah mungkin sahabat Rasulullah Saw. melakukan penyimpangan pemikiran dan moral.

Kerjasama Umar dan Ali

Ketiga, salah satu hal yang paling menonjol bagi setiap pengamat yang mencermati masa kekhalifahan Umar ibn Khaththab ra. Adalah kerja sama yang terjalin begitu baik dan tulus antara Umar dan Ali. Bagi Sayidina Umar ra., Imam Ali karamallahu wajhah adalah orang pertama yang dimintai saran setiap kali pemimpin umat Islam itu menghadapi masalah. Dan, setiap kali Ali mengajukan saran kepada Umar ra., amir al-mu’minin tersebut selalu menjalankan sarannya dengan sepenuh hati.

Tampaknya, cukuplah bagi Anda untuk mengetahui, betapa pentingnya peran Ali ra. bagi Umar ra. Umar pernah berkata, “Sungguh, kalau bukan karena ada Ali, Umar pasti binasa”.

Sementara itu, Ali sendiri selalu mcmberikan nasihat yang tulus dalam kondisi apa pun. Dari uraian di atas, Anda mengetahui bahwa Umar meminta saran kcpada Ali berkenaan dengan keinginannya untuk memimpin sendiri pasukan Islam dalam memerangi pasukan Persia.

Pada saat itu, Ali menyarankan agar Umar mcngurungkan niatnya dan menyerahkan kendali pcrang kepada orang Arab selain dirinya, sementara dirinya tctap berada di Madinah. Ali juga mengingatkan, jika Umar berangkat ke medan perang, pasti sepeninggalnya akan muncul berbagai kesulitan yang jauh lebih berbahaya dari musuh di medan pertempuran.

Anda tentu mengerti bahwa jika memang Rasulullah Saw. mengumumkan bahwa khalifah yang akan mcnggantikan beliau adalah Ali, mungkinkah ia menolak perintah Rasulullah itu? Mungkinkah ia.

Anda telah mengetahui bahwa penunjukan Utsman sebagai khalifah di antara keenam calon yang ada, justru diawali dengan musyawarah internal antarkeenam tokoh itu. Setelah musyawarah, barulah dilakukan pembaiatan diikuti semua kaum muslimin atau kalangan ahl al-hill wa al-aqd. Imam Ali karamallahu wajhah termasuk salah satu dari keenam tokoh terse but. la juga menjadi salah satu orang pcrtama yang berbaiat kepada Utsman ra.

Jamaah Tunggal

Dari uraian di atas, kita dapat langsung menyimpulkan bahwa sampai periode ini, bahkan dapat pula dikatakan sampai akhir masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib ra., 304 kaum muslimin masih menjadi jamaah tunggal. Pada saat itu, tidak pernah tcrlintas scdikit pun di dalam benak umat Islam, khilafah akan menjadi masalah serius dalam rangka menentukan siapa yang paling berhak menduduki tampuk kepemimpinan umat Islam. Sampai saat itu, yang perlu dilakukan hanyalah musyawarah untuk memilih seorang khalifah dcngan berlandaskan pada tata cara pemilihan yang sesuai dengan syariat Islam.

Bahkan, meskipun diteliti lebih cermat lagi, Anda tidak akan menemukan satu pun pertentangan pada periodc ini; apakahAl-Qur’an dan Sunah Rasulullah Saw. telah menetapkan secara eksplisit siapa saja yang berhak menjabat sebagai khalifah setelah beliau wafat, atau tidak? Anda juga tidak akan mcnemukan satu pun kritik atau hujatan terhadap tata cara menetapkan khalifah ketiga tersebut.

Jadi, kapan dan apa gerangan faktor yang telah mendorong tetjadinya perpecahan dalam tubuh umat Islam gara-gara khilafah ini? Bukankah sebelumnya mereka bersatu dan bahu melewati masa pemerintahan ketiga orang khalifah terscbut, sehingga mereka terpecah mcnjadi dua kclompok besar?

Kami akan menjelaskan jawaban atas pertanyaan tersebut pada tempat yang tepat, yaitu dalam pembahasan khilafah Imam Ali ra. Di situ juga akan dibahas beberapa kejadian penting yang terjadi pada masa pemerintahannya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: