Kesetiaan Samaw’al

Kesetiaan Samaw’al
Ilustrasi foto: islami.co
Bagikan

Kesetiaan Samaw’al

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Nilai matematika dan IPA anak kalian jelek ? gak pa2, kasi les privat 1 atau 2 tahun kemudian dijamin nilainya bagus.

Punya anak males sholat ? Gampang kasi motivasi dan reward biar semangat, kalo masih males kasi punishment. Pantau trus tiap hari, beberapa bulan ke depan pasti jadi rajin.

Hapalan Quran anak sedikit ? Suruh dia mengulang2 tiap hari, gak sampe sebulan juga hapal.

Anak tidak jujur ? Nah ini baru musibah.

Males, bodoh bisa diobati tapi kalo khianat (lawan jujur) ini karakter susah ngobatinnya. Namun uniknya ortu sekarang lebih ribut kalo rapor anak jelek ketimbang anak tidak jujur. Nilai rapor turun bisa panggil guru privat tapi ketika anak berbohong mau panggil siapa ?

Begitu pentingnya nilai kejujuran menjadi sebab salah satu sifat nabi,  sidiq (jujur).  Inilah nilai dasar yang mulia yang harus dimiliki manusia dalam hidupnya.

Sekolah yang harusnya merupakan tempat pembentukan karakter malah banyak kehilangan arah. Jebolan S1 seharusnya punya perilaku jujur dan terpercaya namun yang ada S1 hanya punya ijazah. Ini karena pada strata sebelumnya hanya ijazah oriented. Jadilah kita liat orang2 bergelar Doktor tapi tak punya tata krama dalam pergaulan. Kita liat orang2 bertitel panjang berbicara kebohongan. Ada seorang Kapolri yang PhD uda profesor kata wikipedia, gelarnya paling tinggi dari semua kapolri seingat saya. Namun apa yang dia ucapkan tentang 212, tentang pilkada DKI, dan pilpres kalian uda tau.

Pentingnya Karakter

Termasuk sekolah bertitel SDIT pun kadang lalai dari nilai2 kebenaran. Dulu di SDIT Buahati anak saya pernah kehilangan sepatu Tomkins di musholla. Selesai sholat sepatunya gak ada dan ditemukanlah sepatu yang mirip dengan rupa yang memprihatinkan. Itu sepatu alasnya uda kemakan sebelah, kalo dipake miring tambah lagi ada robek kecil di sisi kanan kiri. Warnanya uda abu2 dari yang seharusnya hitam. Rupanya ada yang nuker. Kalo ketuker kan gak mungkin coz beda jauh, sepatu anak saya masih bagus. Sepatu itu akhirnya saya buang, bahkan pemulung pun gak mau pake.

Anehnya ortu anak yang nuker sepatu tersebut gak terusik kenapa anaknya tiba2 pake sepatu bagus. Gak nanya ke sekolah sepatu siapa yang ketuker atau gak memberitahu pihak sekolah perihal sepatu tersebut. Enjoy aja liat anaknya sekolah pake barang yang bukan miliknya. Pihak sekolah pun saya tanya gak tau menahu dan menganggap biasa. Jangankan sepatu ketuker, jam tangan anak saya pernah hilang gara2 dipinjem temennya. Walasnya enteng jawab di WA : gak tahu. Istri saya ngomel2 coz jam tersebut dia beli 300 ribu. Saya ketawa aja, saya bilang kalo kamu kasi barang ke anak, kamu harus siap kehilangan. Kalo gak siap jangan beli yang mahal2.

Tanggung jawab adalah nilai yang harus ditanamkan. Orang pinjem barang trus hilang, pertama kali yang harus dilakukan adalah mengakui kecerobohan selanjutnya mengganti. Ini boro2 mengganti, yang ngaku aja gak ada. Yang bikin nyesek walas cuci tangan, gak mau terlibat. Gak ada upaya penyelidikan padahal ini menyangkut karakter anak. Membiarkan anak mengambil/meminjam barang tanpa disertai tanggung jawab jika terjadi kerusakan atau kehilangan berarti mendidik anak menjadi perusak.

Tanamkan Nilai Kebaikan Kepada Anak

Yang ingin saya tekankan adalah nilai2 kebaikan harus ditanamkan oleh ortu kepada anak, jangan mengandalkan pada sekolah atau lembaga lain. Kita mempersiapkan anak menghadapi jaman yang rusak bukan dengan sebuah nilai tapi dengan penanaman akhlak mulia. Coz dengan inilah manusia dikenal.

20 tahun sudah lewat saat Rudi posting foto2 lawas, yang terlibat ingat kapan dan dimana kejadian di dalam foto. Bahkan Rudi bisa menceritakan rute perjalanan rihlah ikhwah angkatan 96.

20 tahun lewat, ingatkah Rudi siapa mahasiswa S1 ’96 yang dapat nilai A untuk mata kuliah Anatomi dan Fisiologi ? Tidak, dan tidak ada dari kalian yang ingat padahal itu 4 SKS setara dengan skripsi.

Artinya nilai yang digadang2 pihak sekolah tak berguna 20 tahun kemudian. Tapi kebersamaan menjadi kenangan yang selalu diingat.

Berapa banyak A di transkip nilai kalian ? Tidak ingat.

Aneh juga ya belajar serius sampe malem buat ngejar nilai A malah gak diinget.

Siapa teman yang dipercaya waktu kuliah ? Si A, B, C,…

Siapa teman yang tidak disukai waktu kuliah ? Si Z, Y, X,…

Tapi orang yang memiliki karakter baik atau buruk diingat selalu.

Maka didiklah anak2 kita untuk memiliki karakter baik karena dengan inilah mereka bakal diingat orang. Didik mereka untuk berperilaku jujur, setia, berani, dan nilai2 kebaikan lainnya. Didik mereka untuk mengukir sejarahnya dengan tinta emas sebagaimana Samaw’al yang telah mengukir sejarah dengan kesetiaannya.

Saya akan ceritakan pada kalian satu kisah yang telah hilang di masa sekarang, yakni perihal kesetiaan.

Kesetiaan Samaw’al pada Imru Al Qois

Kesetiaan Samaw`al adalah simbol bagi manusia. Mau setia ? berlakulah seperti Samaw’al ! Kesetiaannya pada Imru`al Qois sangat dikenang dan menjadi kekal. Para penyair Arab juga menjadikan sikapnya sebagai pemisah antara orang setia dan orang khianat.

Jadi begini ceritanya, Samaw`al bersahabat baik dengan Imru`al Qois anak seorang raja di Yaman. Sang raja yang bernama  Hujr gugur dalam sebuah peperangan. Dan kekuasaannya diambil alih oleh musuh yang bernama Kindah.

Suatu hari Imru`al Qois datang kepada Samaw`al. Ia pengen merebut kembali kekuasaan ayahnya dengan meminta bantuan Persia. Untuk itu ia menitipkan semua harta dan senjatanya pada Samaw`al. Namun sebelum maksud tersebut tercapai Imru`al Qois wafat.

Suatu hari raja Kindah datang ke Samaw`al. Sang raja menuntut padanya untuk memberikan semua harta peninggalan Imru`al Qois. Tetapi Sama`al menolaknya. Raja Kindah pun marah. Ancaman dikeluarkan. Katanya, “Kalau kamu tak mau serahkan harta itu maka aku akan bunuh anak laki-lakimu.”

Samaw`al bergeming. Ia tak takut ancaman. Ia keukeuh menjaga harta Imru`al Qois. Amanah itu harus dijaganya. Harus dibelanya. Ia takkan serahkan pada orang lain walau nyawa dan keluarganya jadi tumbal. Samaw’al siap berkorban apapun demi menjaga amanah tersebut. Ia berkata pada Raja Kindah, yang dicatat oleh sejarah dengan tinta emas :

“Menyembelih anak lelakiku dihadapanku masih lebih ringan buatku dibandingkan semua bangsa Arab berkata sesungguhnya Samaw`al telah mengkhianati amanatnya.”

Dan Raja Kindah akhirnya menyembelih anak laki-laki malang itu dihadapan ayahnya.

Wuiiih… hebat. Kita liat anak terguling2 sakit aja nangis, bubar semua aktivitas untuk meredakan rasa sakitnya. Ini anak dibunuh didepan matanya tak bergeming sedikitpun. Ini yang namanya laki2. Omongannya dipegang, sekali dia berucap pantang surut ke belakang.

Jangan Jadi Pengkhianat

Realitas bangsa ini bikin kita sedih. Banyak sekali pengkhianat. Ada ulama jadi pengkhianat, ada aktifis jadi pengkhianat, ada aparat jadi pengkhianat, ada intelektual jadi pengkhianat, ada jundi jadi penghianat, dan ada murid jadi pengkhianat. Gampang banget orang jadi pengkhianat. Cuma diiming2i jabatan komisaris, murid mengkhianati guru. Diiming2i proyek hunian vertikal 1,5 T ulama mengkhianati umat. Diiming2i jabatan menteri mengkhianati koalisi Indonesia Makmur.

Sebagian besar orang Amerika tidak tau siapa presiden AS ke-8 atau ke-9, walau itu nomer cantik coz daftar presidennya sudah mencapai 45 orang. Begitupun di Indonesia, kelak orang Indonesia akan lupa siapa presiden yang suka mengkhianati rakyatnya.

Tapi orang tidak pernah lupa pada kesetiaan seorang Samaw’al.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: