Hubungan Seorang Mukmin dengan Al Qur’an

Al Qur'an
Bagikan

Hubungan Seorang Mukmin dengan Al Qur’an

Oleh : Ust.Usep Ruhiyat dan Ust.Dr.Gungun Abdul Basith

1. Membangun Kemampuan Berinteraksi dengan Al-Qur’an

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S.2/ Al-Baqarah [2]:121)

            Kita seringkali mengeluh mengenai Al-Qur’an. Tak punya waktu untuk tilawah, tak lagi cukup muda untuk memulai tahfidz (menghafal), dan tak mampu tadabbur karena tak paham Bahasa Arab.

Jika kita kurang berinteraksi dengan Al-Qur’an, akan lahir para intelektual yang hanya kaya ilmu tapi tanpa ruh. Ilmu yang tanpa ruh akan kehilangan fungsi utamanya. Fungsi utama ilmu adalah untuk mengantarkan manusia kepada pengenalan (ma’rifah) kepada Allah Swt.

Kita perhatikan firman Allah Ta’ala

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (٢٤)

Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?(QS.47/Muhammad:24)

            Orang yang membaca Al-Qur-an akan mendapatkan kebaikan dan pahala dari Allah Ta’ala, oleh karenanya Rasulullah memotivasi umat Islam agar rajin membaca Al-Qur-an sebagai bentuk interaksi mereka terhadap kitab yang menjadi pedoman hidupnya’.

Al-Qur-an akan menjadi penolong setiap  mikmin yang rajin membacanya

عَنْ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

dari Zaid bahwa ia mendengar Abu Sallam berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Umamah Al Bahili ia berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti.

Bacalah Zahrawain, yakni surat Al Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir.

Mu’awiyah berkata; “Telah sampai (khabar) kepadaku bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir.” Dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Yahya yakni Ibnu Hassan, Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah dengan isnad ini, hanya saja ia mentatakan; “Wa Ka`annahumaa fii Kilaihimaa.” dan ia tidak menyebutkan ungkapan Mu’awiyah, “Telah sampai (khabar) padaku.” ( HR Muslim no:1337 Juz,4/231)

Rasulullah bersabda, tentang kedudukan orang yang hafal al-qur-an

عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ

dari Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Perumpamaan orang membaca Al Qur`an sedangkan ia menghafalnya, maka ia akan bersama para Malaikat mulia. Sedangkan perumpamaan seorang yang membaca Al Qur`an dengan tekum, dan ia mengalami kesulitan atasnya, maka dia akan mendapat dua ganjaran pahala.” ( HR Al-Bukhari, no: 4556- Juz:15/267)

Menurut Sayyid Qutb,berinteraksi dengan Al-Qur’an perlu disertai dengan aktivitas:

  1. Rajin membacanya.
  2. Rajin mengkaji isi dan ilmu-ilmunya.
  3. Hidup dalam kondisi di mana aktivitas, upaya, sikap, perhatian dan pertarungan sebagaimana kondisi di mana pertama kali Al-Qur’an diturunkan.
  4. Hidup bersama Al-Qur’an dengan sepnuh hati dan berkeinginan untuk melawan tradisi jahiliyah yang saat ini menyelimuti seluruh sendi kehidupan umat manusia.
  5. Membangun nilai-nilai Al-Qur’an di dalam diri masyarakat dan seluruh umat manusia.
  6. Siap menghadapi dan memberantas segala macam pemikiran jahiliyah serta seluruh tradisinya di dalam realitas kehidupan.

Adapun pertanyaan yang dapat menjadi bahan evaluasi kualitas interaksi dengan Al-Qur’an:

  1. Sudahkah kita beriman terhadap kebenaran Al-Qur’an, janji-janji yang ada di dalamnya, berbagai fadhillah yang dijanjikan Rasulullah Saw bagi orang yang rajin berinteraksi dengannya?
  2. Sudahkah kita mampu membacanya?
  3. Mampukah kita membacanya dengan baik sesuai dengan keaslian bacaan Al-Qur’an?
  4. Sudahkah kita membacanya secara rutin setiap hari? Kalau kita rajin dan konsisten membaca 1 juz per hari, artinya dalam setahun minimal 12 kali khatam. Para salafush shalih umumnya mampu khatam sepekan sekali, bahkan tiga hari sekali.
  5. Sudahkah kebiasaan membaca Al-Qur’an telah menambah bobot iman dan Islam kita? Sehingga tingkat loyalitas kita terhadap Allah Swt, Rasul-Nya dan Al-Qur’an semakin meningkat lantas menghasilkan energi yang membuat kita selalu siap berbuat apa saja untuk Islam ini?
  6. Adakah keinginan untuk melakukan kegiatan menghafal Al-Qur’an? 30 juz, 15 juz, 10 juz, 3 juz, atau sekedar 1 juz saja? Menghafal adalah upaya untuk menambah kedekatan dengan Al-Qur’an. Karena antara tilawah dan menghafal adalah 2 hal yang berbeda. Dengan menghafal, jiwa dan otak kita akan terus menyerap lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang diulang-ulang begitu banyak oleh lidah kita.
  7. Apakah kita merasa sedih dan penasaran jika ada ayat-ayat yang belum dipahami?
  8. Siapkah diri kita menjadi manusia yang Qur’ani seperti yang diungkapkan Aisyah Ra atas Rasulullah Saw bahwa tabi’at dan akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an?
  9. Ada iming-iming surga dan keselamatan dari neraka di akhirat kelak yang untuk mendapatkannya dibutuhkan pengorbanan jiwa dan harta untuk membela Islam (berjihad di jalan Allah), siapkah diri kita untuk merintisnya?

 2 Belajar dari Mukmin yang tinggi semangatnya

إِنّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُم وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّل َهُمُ الْجَنَّةَيُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّه ِفَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُون َوَعْدًاعَلَيْهِ حَقًّافِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّه ِفَاسْتَبْشِرُوابِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَالْفَوْزُالْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar (QS.At-Taubah [9]:111)

            Umumnya ayat tersebut sering dibahas berkaitan dengan motivasi berjihad di jalan Allah. Namun pada tulisan ini kami ingin mengajak kita semua untuk memahaminya dari sisi yang lain, yaitu yang menggambarkan keyakinan yang sedalam-dalamnya dalam diri orang -orang yang beriman terhadap nikmat dan keindahan surga. Keyakinan itulah yang memotivasi siapapun untuk bersusah payah dalam berjihad demi keyakinannya terhadap surga yang telah dijanjikan Allah Swt.

Beberapa mujahid yang keyakinannya terhadap surga begitu tinggi antara lain:

  • Abu Thalhah Ra, walau berusia 90 tahun tetap memacu dirinya untuk berjihad.
  • ‘Umair bin Al-Humam Ra yang segera menghentikan makannya karena tidak sabar ingin berjihad pada perang Badar.
  • Hanzhalah Ra yang segera bergegas berangkat berjihad sehingga lupa mandi junub, lalu ketika para sahabat melihat ada tetesan air keluar dari telinga jasadnya, Rasulullah menjelaskan bahwa jenazahnya telah dimandikan oleh para malaikat.

            Dari manakah semangat juang luar biasa ini? Semangat itu berasal dari kerinduan terhadap surga yang dijanjikan oleh Allah Swt.

            Jika saat ini kita telah dikaruniai oleh Allah kedekatan dengan Al-Qur’an – apakah dengan membaca, menghafal, mengajarkannya atau mengkajinya dan lain sebagainya – tantangannya adalah bagaimana bisa bertahan dalam karunia Allah Swt itu dalam kurun waktu yang panjang, bahkan sampai akhir hayat. Jawabannya adalah kembali kepada harapan apa yang selalu kita rindukan dari Allah Swt.

            Bila saat ini kita aktif dalam kegiatan berinteraksi dengan Al-Qur’an, tanyakan pada diri kita masing-masing: keyakinan apakah yang sesungguhnya melatarbelakangi kegiatan ini sehingga harus dipertahankan sedemikian rupa? Jika belum ada, kita harus segera mencarinya. Berikut ini adalah beberapa contoh keyakinan di balik kegiatan bersama Al-Qur’an.

  1. Keyakinan sebagian orang yang sudah lanjut usia/hidup di kampung/jauh dari pengaruh ghazwul fikr dalam hidup dengan Al-Qur’an.
    Hal tersebut berasal dari keyakinan mereka akan balasan pahala dan fadhillah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada orang yang ber-taqarrub dengan Al-Qur’an.
  2. Keyakinan para orientalis barat dalam mempelajari Al-Qur’an.
    Jika mereka menguasai semua literatur Islam, mereka yakin akan lebih leluasa untuk memutarbalikkan nilai-nilai Islam dari nash-nashsesungguhnya, sehingga mereka bisa mengalahkan, menugasai dan menjajah umat Islam dalam kurun waktu yang lama.
  3. Keyakinan para Qori’ dalam meraih kejuaraan MTQ.

     Berbekal keyakinan itulah, mereka begitu sabar dalam meraih apa yang mereka inginkan. Tantangannya adalah bagaimana menumbuhkan sebuah keyakinan yang dapat menghasilkan energi sekuat yang dimiliki oleh orang-orang tersebut di atas.

Ada sebuah realita pada sebuah komunitas yang paham tentang pentingnyaAl-Qur’an dalam proses aktivitas da’wah dan tarbiyah, bahkan terlibat aktif di dalamnya namun minimdan lemah semangat dan keyakinannya dalam meraih kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Bagi kelompok ini, baru menghafal juz 30 saja masih dirasakan sebagai beban yang nyaris tidak bisa dilaksanakan . Jika demikian halnya, lalu bagaimana dengan yang leih berat dan besar daripada itu? Semoga Allah Swt senantiasa menunjukkan jalan yang Ia ridhai untuk kita semua. Analisa dari fenomena tersebut adalah:

  1. Belum terbentuk suatu sistem kehidupan yang secara otomatis mendorong seseorang untuk melakukan apa yang diyakininya. Dalam prosestarbawi dan da’awi, seorang yang belum hafal 30 juz belum malu/merasa kurang. Demikian pula kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an belum menjadi sesuatu yang sangat didambakan dalam kehidupannya.
  • Belum ada penghargaan yang tinggi dari masyarakat terhadap orang yang lebih menguasai dan memiliki kemampuan ilmu tentang Al-Qur’an sehingga muncul suatu kesan “untuk apa bersusah payah berkecimpung di bidang Al-Qur’an jika masyarakat belum mengerti urgensinya?”

            Masyarakat sekarang lebih menghargai penceramah -orang menyebutnya da’i selebritis, peny – yang hanya bermodal keberanian berbicara dan popularitas, dibandingkan dengan guru Al-Qur’an yang memiliki kekayaan pengetahuan tentang ayat-ayat Al-Qur’an.

            Lemahnya motivasi untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dan minimnya keyakinan terhadap fadhillah-nya adalah penghambat perkembangan pendidikan Al-Qur’an. menjadi tugas kitalah untuk mengubah kedua fenomena tersebut, agar masyarakat menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an dan memahaminya dengan baik.

3. Siap Bekerja Keras dan Berlama-lama Dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an

“Hudzaifah Ibnul Yaman menjelaskan pengalamannya dalam bermujahadah bersama Rasulullah. ‘Pada suatu malam aku shalat bersama Rasulullah mulai dengan membaca surah Al-Baqarah. Hatiku berkata, ‘beliau akan ruku’ pada ayat ke-100′. Namun kemudian beliau melanjutkannya. Hatiku berkata lagi ‘barangkali beliau akan menghabiskan satu surah kemudian ruku’. Ternyata beliau melanjutkannya dengan menghabiskan surah An-Nisa. Begitulah perasaanku selalu berkata. Ternyata beliau melanjutkannya dengan surah Ali ‘Imran. Tiga surah di atas (yang hampir sama dengan 5,5 juz) dibacanya dengan tartil. Jika membaca ayat yang terdapat perintah tasbih beliau bertasbih. Jika membaca ayat yang memerintahkan untuk berdoa beliau berdoa. Begitu juga jika ayatnya memerintahkan untuk meminta perlindungan, Rasulullah berdoa meminta perlindungan. Kemudian belia ruku’, dan ternyata panjang ruku’nya hampir sama dengan lama berdirinya. Begitu juga saat i’tidal dan sujud.” (HR. Muslim)

            Bagaimana perasaan kita pada saat membaca hadits ini? Apakah terobesesi untuk mencobanya walaupun sekali seumur hidup? Atau kita menganggap hadits ini sekedar sekilas info saja dan kita pesimistis untuk bisa melakukannya? Padahal Allah telah memberikan kita berbagai macam daya dukung lahir dan batin. Al-Qur’an dan As-Sunnahlah yang dapat menjadikan kita mampu melaksanakannya.

Nilai tarbiyah yang terkandung di dalam kisah tersebut:

  1. Jika belum tergugah untuk melaksanakannya, berazzamlah untuk melaksanakannya walaupun  hanya sekali seumur hidup. Tabiat orang shalih adalah selalu ingin segera melaksanakan amal shalih, apalagi jika mala tersebut belum pernah dilaksanakan sebelumnya.
  2. Kekuatan dan keteguhan Rasulullah Saw dan para Shahabat dalam berda’wah dan berjihad serta memberikan kontribusi untuk Islam dan umatnya sangat ditentukan oleh kekuatan dan keteguhan dalam beribadah kepada Allah Swt dan beramal shalih dengan semua cabangnya.

Untuk dapat mencintai dan berinteraksi dengan Al-Qur’an diperlukan mujahadah sebagai berikut:

  1. Banyak beribadah, khususnya shalat.
    Al-Qur’an adalah Kalamullah (wahyu Allah) sehingga jiwa yang tidak dekat dengan Allah Swt tidak akan sejalan dan menyatu dengan ruh Al-Qur’an.
    Shalat menjadikan manusia terputus dari dunia luar dan hanya berkonsentrasi dengan bermunajat kepada Allah Swt, tentu akan memudahkan kita untuk mengerti ayat-ayat Allah Swt baik di dalam maupun luar shalat.

    Jika ada seseorang yang banyak beribadah tetapi tidak memiliki kecintaan standar dengan Al-Qur’an maka perlu evaluasi terhadap kondisi ibadah orang tersebut dari segi legalitas syar’inya, keikhlasannya, dan pengetahuan tentang ibadah yang dilakukannya.

Beribadah dan berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah satu paket aktivitas yang tidak terpisahkan.

Untuk mencapai kondisi seperti ini, perlu mujahadah.

  • Memperbanyak tilawah.
    Dari hadits tadi, kita ketahui bahwa Rasulullah tilawah 5,25 juz. Bila 1 juz butuh 40 menit, artinya butuh waktu sekitar 3,5 jam. Aktivitas seperti ini tidak mungkin dilakukan manusia yang tidak terbiasa memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Kalau ingin seperti Rasulullah Saw, perlu pemanasan, misalnya membiasakan diri shalat malam, berkomitmen untuk tilawah 1 juz per hari, memperbanyak khatam Al-Qur’an, banyak berdzikir kepada Allah Swt, banyak membaca kehidupan salafush shalih dalam beribadah dan lainnya.
  • Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Al-Qur’an
    Bila sesuatu dilakukan beramai-ramai, tentu akan timbul semangat yang tidak akan didapatkan bila melaksanakannya sendirian. Bahkan Hudzaifah pun mungkin tak dapat berlama-lama jika harus melaksanakan shalat malam sepanjang itu bila tidak sedang bersama Rasulullah Saw.

4. Melakukan Amal Shalih Sebanyak-banyaknya

لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ  يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ

 “Mereka itu tidak sama. Di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang yang shalih.” (QS Ali ‘Imran [3]: 113-114)

Berinteraksi dengan Al-Qur’an sesungguhnya merupakan dampak dari sekian banyak amal shalih yang telah kita lakukan. Antara Al-Qur’an dan amal shalih saling menimbulkan motivasi antara satu dengan yang lain. Hari-hari yang diisi tilawah satu atau dua juz tentu beda dengan yang tidak diisi dengan tilawah sama sekali. Perbedaan akan tampak dalam semangat shalat wajib dan sunnah, atau ketenangan dalam mengatasi berbagai permasalahan kehidupan.

perhatikan firman Allah Ta’ala

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا (٤)إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلا ثَقِيلا (٥)إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلا (٦)إِنَّ لَكَ فِي اَلنَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلا (٧)وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلا (٨)

.4tau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.5.Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat.6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.7. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).8. sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.

Jika sepakat dengan cara berpikir tersebut, maka dapat dipastikan bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an akan memiliki kebiasaan beramal shalih, misalnya:

  1. Mencintai Masjid
    Menurut surah At-Taubah [9]:18, kecintaan terhadap masjid harus dibuktikan dengan adanya indikasi ‘imarah (memakmurkan). Ketika Rasulullah Saw membaca ayat ini, beliau pun bersabda: “Jika engkau melihat seorang laki-laki mondar-mandir ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia memiliki iman yang baik.” (HR Ahmad dan Turmudzi) 
    Kita sering mengeluh tak dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an, padahal kita sendiri yang menciptakan kondisi itu. Buktinya adalah lemahnya hubungan kita dengan masjid. Dari shalat lima waktu yang seharusnya kita lakukan di masjid, kadang-kadang hanya dua atau tiga waktu saja yang kita lakukan di masjid. Keberadaan kita di masjid pun sangat singkat, datang menjelang takbiratul ihram dan keluar paling awal. Bayangkan berapa puluh amal shalih yang tertinggal dengan kondisi seperti itu. Sayang sekali bila kita tidak pernah merasakan suatu kerugian besar karena keterlambatan kita datang ke masjid.
  • Banyak Berdzikir
    Allah Ta’ala berfirman:

وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (١٠)

 dan carilah karunia Allah dan ingatlah (berdzikirlah) Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.( QS.62/al-Jumu’ah:10)

Perhatikan hadits nabi berikut:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا مَعَ عَبْدِي حَيْثُمَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ

 Abu Hurairah berkata , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku dan ketika kedua bibirnya bergerak.( HR Al-Bukhari Juz:23/50 dan Ahmad no:10505- Juz:22/83)

Berdzikir juga dapat dilakukan dalam keadaan apapun. Bukankah Allah telah menegaskan  bahwa di antara indikator Ulul Albab  adalah senantiasa berdzikir?

Firman Allah Ta’ala:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)

“ (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.( QS.3/Ali Imran:191)

Berdzikir kepada Allah Swt secara hati dan lisan dapat membangun kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al-Qur’an”.

Sudahkah amaliyah dzikir yang secara harian dilaksanakan oleh Rasulullah Saw kita amalkan secara rutin? Antara lain:

  • Dzikir ba’da shalat wajib terdiri dari tahlil 10 kali, tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali, membaca ayat kursi (QS.2/255) ditambah Du’a Sayyidul istighfar
    • Dzikir pagi dan petang yang dirangkum ‘ulama dalam Al-Ma’tsurat atau Al-Hisnul Muslim atau Al-Wirdul Latif
    • Dzikir dalam kegiatan seperti makan, minum, naik kendaraan, keluar masuk kakus dan lain sebagainya
  • Berkomitmen dengan Shalat Wajib dan Shalat Sunnah
    Jika pelaksanaan shalat membutuhkan kedisiplinan, maka demikian pula halnya dengan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Perhatikan hadit nabi di bawah ini:

Dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” ( HR Al-Bukhari no:2061- Juz:20/158)

  • Banyak Melakukan Shaum Sunnah

Orang yang sedang shaum akan mengisi sepanjang harinya dengan ketaatan kepada Allah Swt yang akan menghasilkan keterikatan yang kuat dengan Allah Swt lalu akan berdampak kepada pembersihan jiwa dan peningkatan kualitas maknawiyah.

  • Rajin Ber-tilawah

Ber-tilawah berarti melatih kesabaran dan ketundukan jiwa untuk berlama-lama dengan Al-Qur’an. Kalau saja kita bisa rutin khatamsebulan sekali maka kita akan semakin stabil dan tidak mudah tunduk kepada hawa nafsu. Jiwa akan lebih tenang karena selalu tersibukkan dengan Allah Swt. Bila jiwa dalam kondisi ini, maka niscaya kita akan selalu siap dengan interaksi yang lebih memerlukan kesabaran yang lebih besar.

Semua amal shalih pada hakikatnya saling terkait, seperti shalat, tilawah, i’tikaf di masjid dan lain sebagainya. Jangan biarkan jiwa kita terus mengeluh mengenai susah dan beratnya berinteraksi dan bergaul dengan Al-Qur’an.

Lakukanlah aksi, niscaya jarak menuju kepada yang kita cita-citakan akan semakin dekat. Insya Allah.

5 Mencari FigurTeladan

وَإِنَّكَلَعَلىخُلُقٍعَظِيمٍ (٤)

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam [68]:4)

Ketika iman kita semakin baik, tanpa terasa semakin banyak kebiasaan sehari-hari kita yang dipengaruhi oleh figur Rasulullah Saw yang kita cintai, kagumi, ikuti dan teladani. Figur seseorang dalam kadar tertentu biasanya sangat bermanfaat untuk menjadi sumber motivasi dan inspirasi dalam meraih suatu keinginan, termasuk untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Untuk itu, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:

  1. Jangan sampai mempunyai sikap hanya mau beramal shalih jika figurnya ada di sampingnya, sebagaimana sikap membelotnya bani Israil ketika ditinggalkan Nabi Musa As untuk menerima wahyu dari Allah Swt. Mereka syirik kepada Allah Swt dengan menyembah patung anak sapi dari emas.
  2. Tidak boleh mengultuskan figur. Betapapun berhasilnya ia dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, dia tetap manusia biasa yang punya lupa dan khilaf. Kekecewaan terhadap figur dapat mengakibatkanfutur yang mampu menghentikan amal. Fokuskan pandangan pada kelebihan seseorang, bukan orangnya. Kalau dia seorang penghafal Al-Qur’an maka fahamilah bahwa Allah Swt telah memberi kelebihan kepada hamba-Nya pada bidan tersebut sedangkan dalam bidang yang lain mungkin belum dikuasainya, karena kesempurnaan hanya milik Allah Swt.
  3. Mulailah mencari figur terjauh dan terdekat, mulai dari Rasulullah Saw, para Shahabat, Tabi’in, Tabi’it Tabi’in, dan orang-orang shalih setelah mereka hingga di sekeliling kita. Dengan berfigur kepada orang yang saat ini masih ada di sekitar kita, kita akan dapat melihat langsung sepak terjangnya, keikhlasannya, kontribusinya, kegigihannya dan lain sebagainya. Caranya bisa dekat dengan pribadinya, baik melalui tulisan, ceramah, maupun tilawahnya secara langsung maupun tidak.
  4. Manfaat figur hanya sebatas patokan dalam beramal. Jangan berharap lebih, tetaplah menjadi diri sendiri. Yang menjadi figur bagi Umar bin Khattab Ra adalah Rasulullah Saw, tetapi pada kenyataannya potret kehidupan mereka berbeda dan punya ciri khas masing-masing. Rasulullah Saw lembut sedangkan Umar Ra berwatak keras.

Jadi, hakikat berfigur kepada seseorang hanya sebatas kepada esensinya saja, tidak lebih

6 MengokohkanTekad

Katakanlah: “Bahwasanyaakuhanyalahseorangmanusiasepertikamu, diwahyukankepadakubahwasanyaTuhankamuadalahTuhan yang MahaEsa, Makatetaplahpadajalan yang Lurusmenujukepadanyadanmohonlahampunkepadanya. dankecelakaanbesarlahbagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, QS Fushshilat [41]:6)


Sikap istiqamah dan istighfar memiliki hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi. Dalam hal berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya menghafal, sering ada gangguan yang menyebabkan kita berubah pikiran.

Tadinya bersemangat dan sangat berkeinginan untuk menghafal Al-Qur’an, tiba-tiba kehilangan daya tarik untuk menyempurnakan keinginan menghafal Al-Qur’an yang selama ini diperjuangkan.

Kiat-kiat agar tak mudah berubah pikiran dan tetap memiliki keinginan yang terus hidup:

  1. Banyak berdoa kepada Allah Swt agar menetapkan dan meneguhkan hati kita, contohnya: “Ya Allah yang Maha Membolak-balik hati , tetapkan hatiku untuk terus menghafal kitab suci-Mu yang mulia”
  2. Menjaga dan memelihara lingkungan pergaulan. Bergaullah dengan para penghafal Al-Qur’an dan datangilah acara yang dihadiri para penghafal Al-Qur’an. Keinginan menghafal Al-Qur’an harus dipupuk bukan untuk dua atau lima tahun, tetapi untuk sepanjang hayat kita. Kita berharap saat bertemu dengan Allah Swt kelak, kita masih dalam kondisi terus mendekatkan diri dan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Salah satu doa khatam Al-Qur’an:

“Ya Allah jadikanlah Al-Qur’an ini bagi kami selama di dunia sebagai teman yang selalu bersama kami, di kubur sebagai penghibur, di hari kiamat sebagai pemberi syafaat, di atas shirat sebagai cahaya, ke Surga sebagai petunjuk dan sahabat, dan dari neraka sebagai penghalang dan penolak.” Membaca terus menerus hal-hal tentang fadhillah berinteraksi dengan Al-Qur’an, janji syafaat di hari kiamat, sejarah manusia yang sukses hidupnya bersama dengan Al-Qur’an dari Rasulullah Saw hingga manusia saat ini. Misalnya karya Yusuf Qardlawi atau Mustafa Al-Ghazali mengenai bagaimana berinteraksi dengan Al-Qur’an

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: