Ketika Biduk Goyang

Ketika Biduk Goyang
Ilustrasi foto: percikaniman.id
Bagikan

Ketika Biduk Goyang

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Berumah tangga tidak selamanya berjalan diatas ombak yang tenang. Terkadang datang badai besar yang mengguncang biduk. Disaat itulah seharusnya suami istri memurnikan ketaatan kepada Allah, mengencangkan doa kepadaNya. Karena dengan begitu perahu menjadi selamat.

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (QS. Al-Ankabut: 65)

Konflik rumah tangga yang dialami keluarga Nabi ﷺ menjadi sebuah gambaran utuh bagi kita bagaimana memanage sebuah bahtera. Kita tau bagaimana cemburunya Aisyah. Pada suatu malam ‘Aisyah merasa kehilangan Rasulullah ﷺ, maka ia pun meraba-raba mencari beliau. Ia menyangka beliau pergi ke rumah istri yang lain. Ternyata ‘Aisyah mendapatkan beliau sedang ruku’ atau sujud seraya berdoa:

سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau. ‘Aisyah pun berkata, “Sungguh, aku berada dalam satu keadaan, sementara engkau berada dalam keadaan yang lain.” (HR. Muslim no. 485)

Hal pertama yang harus dilakukan oleh para suami adalah memperbaiki habluminallah. Semakin dekat hubungannya dengan Allah membuat istri tunduk kepadanya. Kondisi suami yang berada pada puncak ketundukan dihadapan Allah membuat istri mengakui kemampuan nahkoda suami dalam menjalankan bahtera. Pengakuan Aisyah terhadap diri suaminya yang beda kelas adalah buktinya.

Pekan terakhir bulan Ramadhan kemarin dateng sodara curhat masalah rumah tangga. Yang laki uda poligami sementara penghasilan pas2an lebih tepatnya pekerjaannya gak jelas. Istri pertamanya kerja dengan gaji cukup, gak nuntut macem2 pada suami kecuali perhatian kepada keluarga. Suami merasa diatur mentang2 gajinya kecil. Terjadilah konflik dan makin lama makin rumit. Uda pisah ranjang hingga mau proses cerai. Uda runyam begini baru dateng ke saya.

Waduh.. nambah lagi orang miskin tapi berpoligami. Entah uda berapa orang yang saya kenal melaksanakan poligami dalam kondisi miskin. Dan semuanya berakhir dengan cerai. Ada yang malah kedua istrinya dicerai hingga dia jadi jomblo.

Kepada sodara ini saya cuma kasi nasihat laksanakan sholat dengan berjamaah kemudian biasakan sholat tahajud. Berapa sih gaji kamu sebagai supir, kata saya, paling tinggi 5 juta itupun supir perusahaan asing. Pasaran gaji supir pribadi 2 juta diluar lembur dan uang makan. Gaji segini gak bisa bikin kaya. Tapi dengan menjaga sholat berjamaah dan melaksanakan sholat tahajud, Allah akan menjamin rizkimu.

Masalah rumah tangganya bertambah kalut, istrinya saya ajak ketemuan gak mau. Saya mau ketemu keluarganya juga dilarang. Dia uda menutup rapat pintu rekonsiliasi. Gimana mau diselesaikan. Biarkan tahajudmu yang berbicara, pesan saya, bawa masalahmu kehadapan Allah. Insya Allah ada jalan keluarnya.

Gampang kan ? Iya gampang kalo ditulis tapi susah dipraktekkin. Ada seorang jamaah nanya ke saya, abang kerjanya apa sih, qo enak benar keliatannya ada di rumah terus ?

Saya gak kerja, kata saya sambil jelasin panjang lebar perihal rezeki. Saya kirimi dia materi tentang rezeki yang pernah diposting disini. Ternyata dia baru tau bahwa pintu rezeki ada banyak. Kemudian saya ‘baiat’ dia untuk sholat tahajud. Hasilnya, di awal pelaksanaan subuhnya kesiangan gara2 jam 2 sholat tahajud terus tidur lagi. Saya kasi trik sholat jangan terlalu awal, cukup 15-30 menit sebelum subuh bagi pemula. Dan setelah berjalan 2 bulan hasilnya malah berantakan.

Saya sih gak heran ibadah ini sulit dijalankan. Biar kata yang nanya ini orang Padang yang dasar keislamannya bagus dan usianya masih muda dibawah 30 tahun, baru kemarin punya anak kembar. Secara fisik kuat dan secara ilmu ada tapi secara kemampuan lemah. Begitulah… Ganjaran semakin besar, ibadahnya semakin sulit.

Dan saya juga tak heran jika suatu saat bertemu kalian dan ternyata masih ada yang bangunnya kejar2an ama kokok ayam walau beribu kata telah teruntai dan berpuluh dalil telah tersampaikan. Yang ketemu muka dan saya tentir aja masih lose apalagi yang cuma nasehat via WA kayak gini. Lagian nih kalo dakwah via WA bisa merubah perilaku, gak usah capek2 Nabi Muhammad ﷺ berdakwah kesana kemari mempertaruhkan nyawa. Cukup bikin grup kajian gurun pasir. BC aja Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah, dll tiap hari. Ajak masuk Islam.

Hubungan suami, istri, dan Allah adalah hubungan triangle (liat pict). Semakin suami dan istri menuju keatas, mendekat kepada Allah maka semakin dekat hubungan mereka berdua. Sebaliknya salah satu atau keduanya jauh dari Allah maka jarak hubungan keduanya semakin lebar. Ini membuktikan statemen pegawai KUA yang pernah saya posting bahwa 90 % perceraian terjadi karena suami/istri tidak sholat.

Rumah tangga Rasulullah mengalami konflik yang disebabkan oleh kecemburuan istri2 beliau. Tak pernah konflik itu membawa kepada perpisahan sebesar apapun konfliknya termasuk saat rame2 ummahatul mukminin memboikot Nabi ﷺ perihal uang belanja. Turun ayat yang menegur mereka dan merekapun kembali kepada Allah dan rasulNya. Masalah selesai sedemikian mudah. Iyalah jika orang itu sholat, taat kepada Allah, dikasi ayat aja langsung patuh.

Rumah tangga kita juga ada konfliknya, itu pasti. Dan bersama kita ada ayat Al Quran. Apakah masalah selesai ? Tergantung kedekatan kita kepada Allah.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: