Sulaiman, Ni’mal ‘Abdu

Sulaiman, Ni’mal ‘Abdu
Ilustrasi foto: https://muslim.okezone.com/
Bagikan

Sulaiman, Ni’mal ‘Abdu

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Nabi Daud menjadi raja, memiliki riil kekuasaan dan harta. Bukan sebagai boneka atau petugas partai yang keputusannya selalu dianulir oleh bawahannya. Hartanya pun jelas didapat sebagai penguasa wilayah Yerusalem dan sekitarnya (termasuk Yordania) bukan kayak pejabat di wakanda baru setahun menjabat hartanya melesat dari 1M menjadi 10 M, benar2 MENAG-jubkan.

Namun dari semua kekayaan yang dimiliki Daud, ada satu yang paling berharga hingga disebut dalam Al Quran yakni anak.
Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya), (Shad : 30)

Al Quran tidak menyebut harta atau kekuasaan sebagai karunia yang Allah berikan kepada Daud, justru menyebut anak. Harta dan kekuasaan berharga, sebagai sarana dakwah agar orang tunduk dan patuh kepada Rabbul ‘Alamin. Namun masih kalah berharga dibanding anak.

Sulaiman bukan sekedar anak, beliau disebut sebaik2 hamba dan memiliki sifat awwab (amat taat kepada Tuhannya). Dari sini kita tau sebanyak2nya harta yang dimiliki dan setinggi2nya kekuasaan yang diraih tak bisa menyamai kedudukan anak shalih. Harta dan kekuasaan bisa habis namun keturunan tetap langgeng. Harta Qorun yang seabreg2 ambyar, kekuasaan Jengis Khan yang pernah menguasai separuh dunia hilang tapi keturunan Rasulullah ﷺ tetap ada hingga hari kiamat dan konsisten menjaga agama ini.

Karena berharga maka anak harus dijaga dengan baik laksana Yanti Kurniasih ’05 menjaga tabungan santunan yatim, bentar2 ditengok bentar2 diliat kuatir ada yang berkurang. Tapi sekarang kita harus hati2 bilang anak adalah karunia yang berharga. Kuatir kena pajak… ?

Al Quran memuji Nabi Ismail dalam mendidik anak2nya
Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. (Maryam : 55)

Ada banyak hal yang perlu dipelajari dalam hidup anak tapi yang diperintahkan oleh nabi Ismail adalah sholat dan zakat dan inilah yang utama. Mengalahkan semua ilmu berharga bagi kehidupan anak kelak.

Saya ceritakan cara seorang public figure mendidik anaknya. Sebagai komedian termahal Komeng membelikan untuk keperluan anaknya mobil Fortuner. Namanya orang jail punya anak pun jail juga. Cuma karena alasan tidak ada sunroof mobil tersebut dijual oleh anaknya yang masih SD dengan harga 200 jutaan padahal di pasaran mobil tersebut masih 400 jutaan. Dijual diem2 tanpa ada omongan. Komeng pulang liat mobil gak ada, yang ada uang 200 juta diatas meja. Marahkah Komeng ? tidak. Dia diem aja.

Dalam acara talkshow anak2nya Komeng ditanya pernah gak dimarahi bapaknya ? Dijawab pernah kalo gak sholat. Mobil dijual hingga rugi 200 juta didiemin tapi begitu anak gak sholat langsung dimarahi. Dunia itu murah sehingga orang kafir bisa mengambilnya tapi sholat itu mahal sehingga hanya muslim taat yang mampu melaksanakannya. Begitulah pendidikan yang diajarkan Komeng.

Sementara kita marah kalo nilai rapor jelek, rangking rendah marah, piring gelas pecah marah, rumah berantakan marah, anak gak ngaji marah, anak gak sholat marah. Semua hal tersebut menjadi penting bagi kita. Akhirnya yang direkam oleh anak adalah kedudukan sholat sama seperti piring dan gelas, keutamaan sholat seperti keutamaan dapat nilai bagus di rapor. Kita menyamakan apa yang para nabi membedakannya.

Seharusnya kita marah jika anak melalaikan sholat, kita marah jika anak enggan bersedekah. Dan kita menegur anak ketika males belajar. Perhatikan perbedaan tensinya sehingga anak bisa membedakan mana yang paling berharga dalam hidup.

Pembelajarannya begini. Jika kita menyuruh anak2 tidur maka ucapkan : tidurlah sudah malam, besok pagi harus sholat subuh. Sehingga orientasi anak adalah akhirat. Dan bukan : tidurlah sudah malam, besok harus sekolah. Orientasinya jadi dunia.

Lagian kadang aneh juga saya liat ada ortu yang marahin nilai rapor anak SD yang jelek. Siapa didunia ini yang liat rapor anak SD ? Hanya panitia PPDB selebihnya tidak ada. Jadi tuh rapor SD gak ada gunanya ketika anak masuk SMP. Begitu pula ketika masuk SMA, rapor SMP masuk tong sampah. Dalam dunia kerja yang diliat adalah pendidikan terakhir bukan histori pendidikan. Dan asal kalian tau semua jejang pendidikan kita menjadi tak berguna dibandingkan gelar profesor kehormatan bidang ilmu pertahanan lewat 16 lembar jurnal ilmiah ! ?

Emang kalo nilai jelek gak dimarahin bang ? Gak usah cukup ditegur aja jika anak tidak serius belajar. Semester lalu saya sidang anak karena ada beberapa pelajaran yang nilainya pas2an. Kalo rajin belajar dan disiplin pasti nilainya gak seperti ini, kata saya. Rajin dan disiplin adalah bekal untuk masa depan. Jadi nilai rapor sekedar ikut, semakin rajin semakin bagus namun gak penting untuk masa depan. Terlintas dalam pikiran saya untuk merobek rapor tersebut didepan anak tapi gak jadi. Nilai tidak penting yang penting adalah karakter disiplin dan rajin.

Trend sekarang adalah menyekolahkan anak di sekolah tahfidz. Biar bisa kasi mahkota kepada ortu di akhirat kelak, begitu alasannya. Ini bagus tapi kita harus tau bahwa menghapal adalah step pertama dalam interaksi dengan Al Quran. Maka jangan ketika anak sudah hapal sekian juz tapi perilakunya kasar kita jadi terkejut. Jangan ketemu seorang hafidz yang tak punya adab kita jadi kaget. Orang yang hapal Al Quran tidak otomatis dia rajin sholat dan sedekah. Tidak.

Al Quran itu diturunkan bukan untuk dihapal tapi untuk ditadaburi, demikian kata ust Firanda. Waktu saya ngomong begini saat survey, Eva Fajriyati ’99 langsung menyitir ayat :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci ? (Muhammad : 24)

Hebat juga dalam hati saya fungsionaris DPD Tangsel ini. Ternyata dia pengajar tahsin, pantes aja cerewet, ups… maksud saya pantes aja hapal ayat ini. ?

Al Quran memerintahkan kita untuk mentadaburi bukan menghapalnya. Namun bagi orang yang menghapal akan lebih mudah untuk mentadaburinya. Itu sebabnya saya bilang jadi hafidz adalah step pertama bukan step akhir.

Maka ketika anak2mu pulang dari pesantren trus kelakuannya qo begitu, belum berubah. Atau kalian liat perilaku teman2 pesantrennya kurang sreg di hati padahal sudah hapal sekian juz. Itu karena mereka belum menggunakan ilmunya untuk mentadaburi Al Quran. Jelas ya..? Jadi jika kalian masukin anak ke pesantren Husnul Khatimah bukan berarti kewajiban sebagai ortu selesai. Mengingatkan dan menyuruh anak untuk sholat tetap harus dilakukan.

Ketika anak sudah mengetahui pentingnya sholat dalam hidup maka dia akan senantiasa taat kepada Tuhan (awwab). Sifat inilah yang dimiliki oleh Sulaiman dan dipuji oleh Allah. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). Allah tidak akan menyebut ni’mal abdu kecuali hamba ini benar2 rajin ibadah. Dan itulah yang ada pada diri Sulaiman. Dan hebatnya gelar ini diperoleh ditengah jabatan beliau sebagai pemimpin tertinggi di negaranya.

Lha kita baru jadi ketua RW uda bolong2 lailnya, baru jadi sekretaris RT uda sulit istiqomah dalam ibadah, baru jadi manager uda lupa baca al matsurat. Yang kayak gini jangankan dipuji dari langit, ketemu saya langsung tak cecar. Tapi sekarang saya uda gak nanya2 lagi perihal semalam bangun jam berapa. Yang nanya uda bosen, yang jawab juga bosen, dan yang baca pun sama. Kemarin saya tanya merk springbed. Untung yang ditanya gak kepo ada apa ya… karena penjelasannya ada dimateri selanjutnya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: