Seperti Inilah Syariat Puasa Ramadhan Disempurnakan

Seperti Inilah Syariat Puasa Ramadhan Disempurnakan
Bagikan

Seperti Inilah Syariat Puasa Ramadhan Disempurnakan

Adakah syariat puasa yang paling sempurna selain puasanya umat Islam? Adakah syariat puasa yang paling sesuai dengan fitrah selain puasanya umat Islam? Jawabannya adalah tidak ada!

Namun, tahukah kita bahwa kesempurnaan syariat puasa yang ada sekarang, dia hadir tidak secara langsung (ujug-ujug)?

Sejatinya, ada sejumlah tahapan atau proses yang mengawalinya, yang terbentang sejak masa Nabi Adam sampai Nabi Isa, untuk kemudian disempurnakan dan dimatangkan pada masa Nabi Muhammad ﷺ.

•┈•••❁ 1⃣

Pada periode Mekkah, syariat puasa Ramadhan belum turun. Namun demikian, Rasulullah ﷺ telah melakukan ritual puasa, yaitu berpuasa tiga hari pada pertengahan bulan (Ayyamul Bidh), sebagaimana dilakukan para nabi sebelumnya.

Beliau menunaikan pula puasa ‘Asyura setiap tanggal 10 Al-Muharram tanpa mewajibkannya kepada para sahabat. Dengan demikian, dalam setahun, Rasulullah ﷺ berpuasa selama 37 hari.

Setelah berhijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ mewajibkan puasa Asyura kepada sahabat. Hal ini berlangsung sampai turunnya perintah shaum Ramadhan (QS Al-Baqarah, 2:183). Dengan demikian, gugurlah status wajib dari puasa ‘Asyura.

‘Aisyah ra. mengatakan, “Pada awalnya ‘Asyura-lah puasa yang diwajibkan sebelum Ramadhan. Saat perintah puasa Ramadhan turun, orang yang mampu boleh memilih antara puasa atau tidak puasa.” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)

•┈•••❁ 2⃣

Pada awal pensyariatannya, puasa Ramadhan bersifat pilihan. Artinya, seseorang boleh memilih untuk berpuasa atau tidak. Apabila memilih tidak berpuasa, dia diwajibkan untuk membayar fidyah.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin …” (QS Al-Baqarah, 2:184)

Pada tahap selanjutnya, keringanan untuk berbuka dan membayar fidyah bagi yang mampu berpuasa dihapuskan. Hal ini ditandai dengan turunnya surat Al-Baqarah ayat 185.

“Siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa …”

Dengan demikian, setelah turun ayat penghapus ini, setiap Muslim yang mendapati hilal Ramadhan, dia wajib berpuasa sebulan penuh. Tidak ada lagi keringanan berbuka bagi orang yang mampu berpuasa.

Adapun fidyah, dia hanya berlaku bagi orang yang mempunyai uzur, semisal orangtua yang tidak sanggup berpuasa.

Sedangkan orang yang berhalangan untuk berpuasa, semisal karena sakit atau dalam keadaan safar, dia diperbolehkan untuk berbuka. Hanya saja, dia wajib mengqadha puasanya pada hari lain di luar bulan Ramadhan.

•┈•••❁ 3⃣

Namun demikian, sampai waktu itu tata cara puasa, termasuk waktu dan praktik pelaksanaannya, masih belum sempurna. Waktu puasanya adalah dari Isya sampai datangnya Maghrib.

Orang yang sudah menunaikan shalat Isya atau tidur, dia tidak boleh makan, minum atau berhubungan suami istri pada sisa malam tersebut sampai datangnya waktu Maghrib pada hari berikutnya.

Al-Bara’ bin ‘Azib ra. mengatakan, “Jika salah seorang sahabat berpuasa dan datang waktu berbuka, akan tetapi dia belum berbuka karena tidur, maka dia tidak diperbolehkan untuk makan dan minum pada malam itu sampai siang hari berikutnya dan berbuka pada sore hari (Maghrib).” (HR Al-Bukhari)

•┈•••❁ 4⃣

Ketentuan ini dirasa memberatkan. Bahkan, Qais bin Shirmah Al-Anshari ra. sampai pingsan saat tengah hari. Mengapa? Karena, pada waktu Maghrib dia tidak sempat berbuka karena ketiduran. Akibatnya dia harus melanjutkan puasa sampai hari berikutnya.

Ada pula kasus di mana Umar bin Khathab ra. menggauli istrinya sedangkan sang istri sudah tidur.

Atas sejumlah kejadian ini, Allah Ta’ala menurunkan surat Al-Baqarah ayat 187 yang berisi penghalalan bagi seorang Muslim untuk makan, minum dan berhubungan suami istri pada malah hari di bulan Ramadhan.

Sejak saat itulah, syariat puasa sebagaimana yang ada sekarang ditetapkan, yaitu menjauhi segala yang membatalkan, baik makan, minum, maupun berhubungan suami istri dari sejak terbitnya fajar shadiq sampai terbenamnya matahari.

Disarikan dari Fikih Puasa (Syeikh Dr. Muhammad Hasan Hitou), Zaddul Ma’ad (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah), Ash-Shaumu Junnatun (Syeikh Khalid bin Abdurrahman)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: