Sejarah Islam di Bulan November

Sejarah Islam di Bulan November Tuanku Imam Bonjol
Ilustrasi foto: quora.com
Bagikan

Sejarah Islam di Bulan November

Daftar Isi

Berikut ini beberapa tanggal sejarah Islam yang terjadi di bulan November.

4 November 1955

Wafatnya KH. Agus Salim, seorang pahlawan nasional yang berperan besar dalam pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947. Beliau laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia sehingga kerap kali digelari “The Grand Old Man”

6 November 1864

Wafatnya Tuanku Imam Bonjol, seorang ulama kharismatik, pejuang, dan guru bangsa. Beliau menginspirasi masyarakat Sumatera untuk bangkit melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1838. Beliau wafat di tempat pengasingannya di Lotta, Minahasa

16-19 November 636

Allah menganugerahkan kemenangan pada kaum muslimin di pertempuran Qadisiyah. Hari-hari itu adalah detik-detik penting umat Islam membebaskan Persia, sebab peristiwa ini sangat berperan dalam membuka gerbang dakwah ke negeri-negeri Benua Asia lainnya.

20 November 1935

Syahidnya ulama pejuang Palestina, Syaikh Izzudin Al Qassam. Beliau syahid setelah pasukan Inggris mengepung kota Yabad di Palestina dan terjadi baku tembak antara kedua pasukan. Perjuangannya menginspirasi anak-anak muda Palestina dan hari ini namanya diabadikan menjadi sayap militer pejuang di Gaza

21 November 1248

Jatuhnya Kota Sevilla ke cengkeraman Kerajaan Castille. Lebih dari 400.000 muslim diusir dari Sevilla dan menyebar tanpa kepastian ke banyak negara. Masjid Jami Sevilla diubah menjadi gereja dan simbol-simbol Islam dihapuskan.

25 November 1177

Terjadinya pertempuran Tel Al Jazir, antara pasukan Shalahudin Al Ayyubi dengan pasukan Baldwin IV, pemimpin kerajaan Kristen Yerusalem. Pada pertempuran ini, kaum muslimin ditakdirkan kalah, namun sepuluh tahun kemudian Shalahudin membebaskan Masjid Al Aqsha.

Pelajaran Penting dari Pendahulu Bangsa

  1. Bercita-cita tinggi. Pendahulu bangsa kita memiliki visi yang sangat jauh dan cita-cita yang tinggi. Deliar Noer menulis, “Mereka bisa dikatakan senantiasa berjuang tanpa memperhatikan nasib diri sendiri. Dana yang pemerintah berikan pun mereka benar-benar gunakan untuk kepentingan bersama”. Seperti yang diperlihatkan Hatta pada 1956 dan Natsir pada 1951, sisa dana yang diperoleh dari negara mereka kembalikan ke kas negara.
  2. Kehidupan yang sederhana. Rumah para pemimpin terdahulu sederhana. Harta yang mereka miliki tidak berlebihan, walaupun sebenarnya bisa saja menjadi sangat kaya. Seperti H. Agus Salim, Bapak Syafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem. Mereka semuanya adalah diplomat yang tahun pintu-pintu uang, namun mereka memilih untuk hidup menjadi sederhana

Pesan Ulama

“Pandanglah anak-anak kita sebagai penerus sujud kepada Allah. Penerus mentauhidkan Allah. Penerus perjuangan agama Islam. Jika demikian, berapapun biaya yang kita keluarkan untuk anak kita pada hakikatnya kita membiayai agama Allah.” – KH. Bahaudin Nursalim (Gus Baha)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: