Prinsip Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan

Prinsip Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
Ilustrasi foto: indosurvival.com
Bagikan

Prinsip Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

Oleh: Muhyidin, SKM

Definisi Pertolongan Pertama yaitu penilaian dan tindakan yang diberikan kepada korban  kecelakaan atau kesakitan yang akut dan dilakukan oleh orang sekitar (atau oleh korban) tanpa peralatan medis atau minimal.

Definisi Penolong yaitu seseorang dengan latihan formal dalam pertolongan pertama, perawatan darurat atau kedokteran yang memberikan pertolongan pertama.

Tujuan P3K:

  1. Mempertahankan hidup
  2. Mencegah agar keadaan penderita tidak jatuh ke kondisi yang lebih kritis
  3. Membantu mempercepat proses penyembuhan

Tidak ada kesempatan untuk hidup jika bantuan hidaup dasar terlambat lebih dari 10 menit. Ingat!! Waktu emas (golden period) hanya 4 menit.

Tanggung jawab Penolong

  1. Dapat menilai keadaan penderita
  2. Mengidentifikasi kondisi kecelakaan yang dialami penderita
  3. Memberikan pertolongan pengobatan dengan cepat dan tepat serta memadai.
  4. Menentukan kasus-kasus mana yang memiliki luka lebih parah dan yang lebih membutuhkan perhatian dibandingkan dengan yang lain
  5. Mengatur evakuasi penderita dengan tidak mengulur waktu menurut seriusnya keadaan penderita
  6. Melaporkan kejadian yang dialami oleh si penderita kepada dokter atau perawat yang menangani selanjutnya

Apa yang perlu dilakukan oleh Penolong?

Untuk memudahkan, ingatlah prinsip DRABC (Danger, Response, Airway, Breathing, Circulation)

1. Amankan tempat kejadian (Danger).

Nilai lokasi di mana korban berada, apakah ada bahaya yang potensial masih mengancam ?

Penolong wajib menjaga keselamatan dirinya dan orang sekitar agar tidak menjadi korban berikut.

Jika terdapat bahan kimia di lokasi kejadian, perhatikan bahan berbahaya yang terlibat dan symbol bahaya kimia yang ada.

Kecelakaan mungkin terjadi akibat kebocoran bahan berbahaya atau terlepasnya uap toksik. Jangan memberi pertolongan kecuali yakin tidak akan mengalami kontak dengan bahan berbahaya.  Usahakan orang sekitar menjauh dari tempat kejadian mengingat uap berbahaya dapat terlepas dan bergerak cukup jauh. Berdiri melawan arah angin dari tempat kejadian untuk memastikan bahwa setiap uap tertiup menjauh dari penolong

Tanda bahaya kimia pada kendaraan memperingatkan bahwa kendaraan sedang membawa bahan berbahaya. Jika meragukan keselamatan sendiri atau tandanya, jagalah jarak terutama jika terjadi kebocoran, atau jika melihat huruf “E” (lihat bawah kiri). Kode informasi yang ada dimengerti oeh petugas emergensi, jadi buat catatan mengenai kode tersebut dan berikan sewaktu minta pertolongan melalui telepon.

Pengkajian awal yang perlu dilakukan:

  • Pengenalan masalah gawat darurat
  • Mekanisme kecelakaan/kejadian
  • Lokasi
  • Bahaya
  • Alat pelindung diri
  • Bantuan –> ERT, Security, EMS (clinic), orang sekitar
  • Jumlah Korban –> Multiple & Mass Casualty –> START (Simple Triage And Rapid treatment)

Pada kondisi bahaya kebakaran, cobalah berpikir dan bertindak cepat. Pada kebakaran asap yang timbul dan terhirup akan membuat kesadaran menurun! Tinggalkan ruangan segera. Tutup pintu yang dilewati, Jalan cepat bukan berlari, hindari ruang penuh asap, jika harus melewati ruang berasap usahakan sedekat mungkin dgn lantai, aktifkan alarm jika ada, buka jendela yang ada.

Untuk mencegah infeksi silang/penularan penyakit, lakukanlah:

  • Cuti tangan dan pakailah sarung tangan jika memungkinkan. Terutama untuk menangani korban yang mengeluarkan cairan tubuh seperti darah dan cairan tubuh lainnya.
  • Gunakan alat khusus untuk melakukan RJP / CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) terutama saat memberikan nafas buatan sehingga mulut anda dan mulut korban tidak bersentuhan langsung.

2. Nilai & Periksa Keadaan Korban (Response)

Setelah penolong memeriksa lingkungan sekitar aman, penolong harus memeriksa respon korban. Untuk memeriksa respon, tepuk bahu korban, dan tanyakan “apakah kamu baik-baik saja ?”

Jika korban memberi respon tetapi terluka atau membutuhkan bantuan medis, tinggalkan korban untuk menelpon minta bantuan medis. Kemudian kembali secepatnya dan memeriksa kembali keadaan korban.

Jika seorang penolong menemui seorang dewasa tidak memberi respon (misalnya tidak bergerak atau memberi respon terhadap rangsangan), penolong harus mengaktifkan menghubungi kontak darurat lewat telepon atau media komunikasi lain, dan kembali ke korban untuk memberikan resusitasi jantung paru (RJP) dan melakukan defibrilasi jika diperlukan.

Jika ada 2 atau lebih penolong, satu penolong mulai langkah RJP sedangkan penolong ke-2 meminta bantuan emergency response team (ERT) untuk di perusahaan atau meminta bantuan medis terdekat (jika di luar perusahaan).

Ketika menelpon minta bantuan, penolong harus siap menjawab pertanyaan mengenai:

  • lokasi,
  • apa yang terjadi,
  • jumlah dan kondisi korban, dan
  • jenis bantuan yang diberikan  
Pada kasus kebakaran, lakukan penilaian kebakaran yang sedang terjadi dengan:
  • Nilai besarnya api, apakah bisa diatasi sendiri atau perlu bantuan?
  • Apakah ada alat pemadam api?
  • Jika api tak bisa padam dalam 30 detik segera tinggalkan ruang atau gedung.
  • Dalam keadaan terbakar tidak boleh berlari!
  • Korban yang terbakar segera baringkan ke lantai dan bungkus dengan kain yang tebal. Gulingkan perlahan di lantai hingga api padam.
Pada kasus trauma karena tersengat listrik voltase tinggi:
  • Biasanya fatal. Korban akan terlempar karena kontraksi otot mendadak, tak sadar dan menderita luka bakar serius.
  • Jangan mendekati lokasi karena tegangan listrik dapat “melompat” hingga sejauh 18 meter.
  • Setelah sumber listrik diputus baru dekati lokasi kecelakaan. Insulator seperti kayu kering atau kain bisa tak berfungsi karena tingginya tegangan. 

Pada kasus trauma karena tersengat listrik voltase rendah:

  • Penting!! Jangan langsung memegang korban yang sedang tersengat listrik !!
  • Matikan sumber arus listrik. Jika tak bisa, berdiri diatas insulator, bisa berupa buku atau kertas koran yg tebal dan gunakan tangkai sapu untuk menjauhkan korban dari sumber arus listrik atau sebaliknya.
  • Rawat luka bakar yang terjadi !
Amankan sumber listrik

3. Beri bantuan hidup dasar (Airway-Breathing-Circulation)

Untuk memberikan bantuan hidup dasar lakukanlah metode ABC di bawah ini:

a. Airway (jalan nafas)

“cek dan bersihkan/amankan jalan nafas”

  • Head Tilt Chin Lift (tengadahkan kepala korban dan angkat dagu korban)
  • Bersihkan/amankan dari sumbatan

b. Breathing (pernafasan)

“cek nafas korban selama < 10 detik”

  • Lihat naik turunnya dada
  • Dengarkan suara nafas
  • Rasakan hembusan nafas

Jika korban bernafas normal, cari apakah ada luka-luka lain/perdarahan hebat. Lakukan survey kedua dan jika normal lakukan recovery position (posisi pemulihan)

Apabila korban tidak bernafas/nafas tidak normal, lakukan CPR.

c. Circulation (sirkulasi)

“Peredaran Darah”

  • Bila korban bernafas, cek dan segera hentikan perdarahan hebat
  • Bila korban tidak bernafas, lakukan CPR dengan 30 kali tekan dada dan 2 kali pemberian nafas (30:2).

Cara melakukan CPR

  • Posisi korban : terlentang diatas permukaan keras dan datar
  • Lokasi penekanan : 1 tumit tangan diletakkan tepat ditengah dada korban, sementara satu tangan lagi diatasnya.
  • Kedalaman tekanan : 4 – 5 cm kedalam atau 1/3 tebal dada
  • Kecepatan : 100 x/per menit
  • Rasio : 30 x penekanan dada &  2 x nafas efektif
https://www.youtube.com/watch?v=pFDHkw8Biew

RJP / CPR tidak boleh berhenti kecuali:

  1. Korban menunjukkan nafas normal
  2. Bantuan medis dengan peralatannya datang dan mengambil alih
  3. Penolong letih dan tidak sanggup melanjutkan RJP yang efektif

4. Lakukan Posisi Pemulihan (recovery position)

  • Lepaskan kacamata dan barang-barang berbahaya
  • Berlututlah di sisi korban dan pastikan kedua kaki korban dalam keadaan lurus
  • Letakkan lengan korban yang terdekat dengan anda dalam posisi terbuka,  dengan siku tertekuk serta telapak tangan menghadap ke atas
  • Angkat lengan korban yang jauh dari anda melintang dada, dan tahan punggung telapak tangan pada pipi korban sisi terdekat dengan anda.
  • Dengan tangan anda yang lain raih tungkai yang terjauh di atas lutut dan tarik ke atas dengan telapak kaki tetap di tanah.
  • Pertahankan tangan korban menekan pipi, tarik tungkai terjauh dan gulingkan korban ke arah anda sehingga korban berbaring pada sisi tubuhnya
  • Atur tungkai atas sehingga panggul dan lutut tertekuk pada sudut yang sesuai
  • Dongakkan leher untuk memastikan jalan napas tetap terbuka
  • Atur posisi telapak tangan di bawah pipi bila perlu untuk menjaga kepala tetap terdongak
  • Periksa pernapasan secara teratur
Cara melakukan posisi pemulihan
Cara melakukan posisi pemulihan
Posisi akhir pemulihan
Posisi akhir pemulihan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: