Nabi Sulaiman, Innahu Awwab

Nabi Sulaiman, Innahu Awwab
Ilustrasi foto: www.inews.id
Bagikan

Nabi Sulaiman, Innahu Awwab

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Contoh sikap selalu kembalinya nabi Sulaiman kepada Tuhan dijelaskan pada ayat berikutnya :
(ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shad : 31-33)

Kalo ada makelar tanah nawarin ke konglomerat pasti yang luasnya berhektar2, gak main yang meteran. Kalo ada sales nawarin mobil kepada the rich man pasti yang limited edition. So… kalo ada orang bawa kuda ke nabi Sulaiman pasti bukan sembarang kuda. Ini kuda pilihan, limited edition, gak semua orang punya atau mungkin cuma satu2nya di dunia. Istimewanya kuda tersebut adalah tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari.

Ciri orang kaya dari dulu adalah penggemar kendaraan. Jaman nabi Sulaiman kendaraan yang berharga adalah kuda. Semua penggemar kuda pasti senang dengan kuda yang memiliki akselerasi cepat. Konsekuensi dari kuda pelari ini adalah disaat diam kakinya selalu bergerak2, tidak bisa 100% silent paling minim vibrate. Sementara kuda milik nabi Sulaiman memadukan dua hal yang bertolak belakang, yakni tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari.

Jaman sekarang orang super kaya koleksi supercar di garasinya. Dari semua supercar yang ada didunia ini tidak ada satupun yang bermesin halus yang suaranya nyaris tak terdengar. Semua bersuara gahar walaupun tidak digas, maklum aja tenaganya besar. Jika mau bersuara halus ada pada mobil 1.000 – 1.200 cc yang tenaganya terbatas. Teknologi kendaraan manusia saat ini tidak mampu menggabungkan kehalusan dengan kekuatan mesin.

Yang ditunjukkan kepada Sulaiman ini bukan sembarang tunggangan. Benar2 kuda pilihan, tak ada kembarannya di dunia. Wajarlah jika nabi Sulaiman tertarik dan terpesona. Saya aja sampe ngeces bayangin punya motor bersuara Honda Beat namun begitu digas tenaganya kayak Suzuki Hayabusa. CBR 150-nya Iqbalur Ramadan ’00 bakal melongok abis… ?

Namun gara2 asyik dan terpesona melihat kuda yang menunjukkan keistimewaannya membuat Sulaiman lalai berdzikir. Jadi ada satu waktu dari waktu2 rutin lain yang digunakan oleh Nabi Sulaiman untuk berdzikir. Nah diwaktu inilah beliau lalai. Cuma satu waktu dalam satu hari ya.., bukan seluruh waktu dalam satu hari. Kalo bagi kita seperti zikir setelah sholat. Nah ada satu waktu karena sibuk, zikir tersebut ditinggalkan. Gak pa2 sih, namanya juga meninggalkan yang sunnah, tidak berdosa. Namun bagi nabi Sulaiman itu adalah sebuah aib. Bagi orang shalih apalagi level para nabi lalai dari mengingat Allah adalah dosa.

Apa yang dilakukan oleh nabi Sulaiman ? “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.
Wuiih… kuda istimewa hanya ada satu jenisnya dimuka bumi langsung dipotong dan dagingnya dibagi2kan ke fakir miskin. Bagi nabi Sulaiman jangankan kuda, bumi beserta 7 lapisnya dan langit beserta 7 lapisnya tak mampu menandingi kalimat Laa ilaha illallah.

Allah berfirman, “Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya –selain Aku– dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat “Laa ilaha illallah” diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat Laa ilaha illallah lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban No. 6218. Al-Hakim mensahihkan hadis ini).

Dzikirullah lebih berat daripada bumi dan langit apalagi dari supercar limited edition. Itulah seorang Sulaiman, hamba yang dipuji Allah karena selalu awwab (kembali kepada Tuhan).

Uda jadi nabi, ma’shum, tajir tapi tetap istiqomah dalam ibadah. Dahsyat bener gak kayak… aah u know lah that I mean. ?

Kebiasaan ini juga dilakukan oleh nabi Muhammad ﷺ yang rutin sholat malam hingga bengkak2 kakinya. Ditanya oleh Aisyah bukankah Allah sudah mengampuni dosa2mu ? Jawab nabi ﷺ afala akuunu abadan syakuraa.

Gaji 13 uda abis buat bayar anak masuk TK, cerita Arief Maulana ’01, lebih tepatnya curhat saat survey kemarin.
Ente kalo bayar masuk TK dari gaji 13 berarti ada yang salah dalam hidupmu, timpal saya. Arief mengiyakan kalo masih sulit istiqomah.

5 tahun lalu mobil ini saya upayakan untuk disewa, cerita saya. Biarlah mobil tidak ada, yang penting ada uang lumayan buat nutupin cicilan. Tetangga sebelah punya 2 mobil yang disewa oleh perusahaan. Saya titip mobil ya, kata saya, tunggu punya tunggu ternyata gak berhasil karena antreannya penuh. Ada teman akrab punya mobilio disewa oleh grab, tiap bulan terima uang 3 juta. Saya titip mobil ya, pesan saya, ternyata uda penuh juga.

Gagal didunia saya bawa ke langit. “Ya Allah manusia telah menutup pintunya dariku. Tak ada satupun pintu didunia ini yang terbuka untukku kecuali pintuMu. Laa haula wala quwwata illa billah (100 x). Rabbi Laa tatrukni ‘an janabik, Tuhanku jangan Engkau singkirkan aku dari sisiMu. Fa in taraktani fa inahu laa haula wala quwwata illabika, jika Engkau singkirkan aku maka tiada daya upaya melainkan milikMu”. Ini doa dan dzikir yang selalu saya baca setiap malam selama 5 tahun. Kalian ingat baik2 5 tahun ya…

Sekarang mobil ini saya pegang kuncinya bisa digunakan kapan saja dan tidak dijadikan gocar namun menghasilkan uang tiap bulannya. Tanpa perlu disewakan mobil ini menghasilkan uang. Lima tahun lalu saya memilih antara mobil atau uang. Kini di tangan Allah dua2nya dihimpunkan ke saya. Padahal 5 tahun lalu saya dan istri tidak pernah terpikir bakal seperti ini ternyata Allah berikan rezeki dari jalan yang tidak kami sangka2. Masya Allah…?

Makanya saya diam aja, kata Eva ’99 ketika denger Arief saya ceramahi. Dia takut salah kata, wong Arief yang rada diem aja bisa kena kuliah apalagi yang rame kayak Eva. Harun yang nyupir ketika perjalanan pulang juga ikutan diam. Beberapa responden yang biasa saya WA seperti Budi Kuswanto dan Feri Suranto uda diam ketika ditanya, memilih jalur aman. Tapi saya tau walau terdiam mereka semua masih berjuang untuk istiqomah dalam ibadahnya.

Kalo kalian tadaburi kisah nabi Sulaiman ini maka yang menarik adalah Al Quran lebih banyak menceritakan rasa syukurnya dan ibadahnya, bukan menceritakan kekayaannya. Menjelaskan bagaimana dia menggunakan kekuasaan dan hartanya untuk ta’abudi bukan menjabarkan bagaimana beliau mengakhiri masa jabatannya atau menghabiskan hartanya.

Sulaiman kaya ? Itu jelas, tapi beliau dikenal sebagai seorang hamba bukan sebagai konglomerat. Ini tentu kontras dengan para milyarder saat ini. Jika disebut nama mereka maka yang pertama kali terlintas dalam benak kita adalah kerajaan bisnisnya, hartanya, dan kekuasaannya. Berbeda dengan Sulaiman yang disebut Al Quran innahu awwab.

Al Quran bercerita tentang manusia dengan hartanya seperti Qorun, tentang pemilik 2 kebun dalam surat Al Kahfi, atau tentang pemilik kebun dalam surat Al Qalam, semuanya tercela. Namun ketika bicara tentang Sulaiman dengan hartanya plus kekuasaannya justru Al Quran memujinya. Jadi ini pujian bukan sembarang pujian, gelarnya bukan kaleng2 langsung dari langit ketujuh.

Begitulah seorang Sulaiman yang uda kaya dari lahir, gak pernah mengalami susah model Rafathar anaknya Raffi-Gigi. Ditambah lagi memiliki kekuasaan sebagai seorang raja. Namun beliau tetap merutinkan ibadah dzikir. Lha kita kaya masih jauh, jabatan cuma jabatan administrasi, susah banget merutinkan dzikir. Tidur cuma di kasur springbed biasa aja susah banget bangun malamnya.

Jadi begini, sejak tahun 2009 saya tidur di kasur springbed lama yang pegasnya rusak dibagian pinggir. Namanya dipake makin lama makin parah rusaknya. Alhasil itu kasur gak bisa dipake tidur berdua makanya saya tidur di bawah pake kasur busa. Nyebutnya sih busa tapi hakekatnya uda mati. Tidur disini lebih parah, badan bisa pegal2 kalo bangun. Ketika grup kajian ini dibuat tahun 2016 saya uda tidur di kasur busa. Untungnya gara2 kasur ini saya jadi mudah bangun malam.

Kemudian negara api menyerang, raja Ozai menyerang 3 elemen hingga keadaan berubah, wes iki ngomong opo tho. Intinya bulan Ramadhan kemarin saya beli springbed baru. Pertama kali tidur di kasur dengan matras diatasnya, masya Allah uda kayak dipeluk bidadari. Punggung bisa lurus, badan gak pegal2 lagi. Namun akibatnya saya bangun jam 3…. Ya Allah biasa bangun jam 1 gara2 springbed baru bangunnya jam 3. Satu minggu saya berjuang agar bisa bangun malam seperti sediakala. Dan akhirnya man jadda wa jada.

Terlintas dalam pikiran saya gimana nasib seorang Budi Kuswanto. Coz dia juga baru beli springbed baru, bagaimana dia melawan pelukan bidadari. Budi saya ceritain kekuatiran ini ketawa aja. Saya duga dia lebih banyak nyaman dengan bidadari daripada dengan sajadahnya.

Hikmah yang saya ambil adalah ibadah dikala kondisi susah jauh lebih mudah daripada ibadah dikala kondisi lapang. Tidur di kasur standar lebih mudah bangunnya daripada tidur di kasur bagus, harusnya. Namun kemarin saya tanya Mustakim ’06, Sigit Nugroho ’05, dan Rachma Febriana ’02, apa merk kasurnya. Ada yang standar dan ada yang lumayan bagus. Saya liat di toped harga barunya ada yang murah dan ada yang setengah mahal. Kondisi springbed mereka berbeda tapi keadaan mereka sama. Sama2 susah rutin ibadah malam.

Duh… kasurmu bukan KingKoil tapi uda susah bangun, uda berasa dipeluk bidadari. Kecuali bidadari kehilangan selendang gak bakal ada yang mau tidur dikasurmu

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: