Sejarah Komunitas SiJum Garut

Para Pejuang SiJum Garut
Bagikan

“Sesungguhnya orang terbaik diantara kalian adalah orang yang memberi makan”. (HR. Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, Ath-Thobroni).

Sejarah Berdirinya Komunitas SiJum Garut

Komunitas Berbagi Nasi Jum’at Kabupaten Garut (SiJum Garut) pertama kali terbentuk dan mulai melakukan aktifitasnya di di pertengahan bulan Februari 2017. Awalnya kami ada 3 emak-emak cantik yang memiliki ide dan terinspirasi kegiatan SiJum di tempat lain untuk kemudian ingin tahu bagaimana caranya hal tersebut bisa diterapkan juga di Garut. Pendiri awal SiJum Garut adalah Teh Tina, Teh Yanti, dan Teh Dewi, 3 orang sahabat ini akhirnya bersepakat untuk kemudian berkonsultasi dengan koordinator SiJum Bandung, yang bernama Kang Itang. Singkat cerita, akhirnya berdirilah komunitas SiJum Garut.

Awalnya kami bertiga ingin jadi koordinatornya secara satu kesatuan tak terpisahkan. Namun aturan di SiJum Pusat hanya satu orang yang bisa menjadi koordinator, maka ditunjuklah Teh Tina untuk mengemban amanah sebagai koordinator dalam dunia persilatan SiJum ini. Teh Yanti ditunjuk sebagai bendahara dan Teh Dewi sebagai koordinator lapangan.

SiJum Garut berawal dari donasi “0” (NOL) rupiah dari para donatur. Kami ingat perkataan guru kami Ust.Andre Raditya, bahwa gerakan kebaikan ini bukan soal uang. Kami bertiga pun akhirnya patungan dan Alhamdulillah terwujud 30 porsi makanan yang kami bagikan sepanjang jalan kepada tukang becak, tukang kebersihan, dll. Saat itu kami belum berani berbagi ke Masjid karena merasa masih minim dalam hal pendanaan. Dana yang terkumpul dari patungan tadi kami belikan nasi kotak untuk kemudian kami bagikan.

Barulah 4 bulan kemudian, kami beranikan diri berbagi nasi kotak di Masjid. Sebelum shalat Jum’at kami sudah standby, sehingga ketika bubaran Jum’atan nasi kota bisa dibagikan. Awal pembagian nasi kotak tersebut ternyata jumlahnya kurang, karena banyak jamaah yang tidak kebagian. Hal ini tak membuat kami patah arang. Kami jadikan semangat untuk terus berbagi dan mengajak orang dalam kebaikan.

Perkembangan SiJum Garut

Awal kegiatan SiJum Garut, tidak ada proses memasak. Kami beli paket nasi ke rumah makan yang ada di Garut untuk kemudian kami bagikan.

Tapi kini Alhamdulillah, sedikit demi sedikit sudah mulai banyak yang bergabung dengan komunitas kami terutama dari kalangan ibu-ibu di Garut. Kami percaya benar bahwa kebaikan akan menemukan jalannya. Berikut data Dapur Operasional (Daop) SiJum Garut:

1. Daop Gordah – Mba Seri (sudah tidak tidak beroperasi lagi karena sudah pindah ke Riau ikut suami)

2. Daop Puri – Bu Bibah dan Bu Lia

3. Daop Hampor – Bu Iis

4. Daop Bianca – Bu Cici

5. Daop Pataruman – Bu Wida

Tambahan Daop baru yaitu:

6. Daop Simlim – Bu Entit

7. Daop Hampor – Mamih ,dan

8. Daop Pesona Intan – Pa Arif

Untuk packing dan pendistribusian, dikoordinatori oleh Teh Nuy dan dibantu oleh beberapa tim seperti Teh Nenden, Bu Ai, dll.

Untuk yang ingin mengenal lebih jauh SiJum Garut silahkan WA/SMS/ Telp Teh Tina 0852-9462-0404

Jangan lupa follow Instagram kami di @sijum_garut dan buat temen-temen yang mau langsung Gabung SiJum Garut (Whatsapp Grup) bisa klik bit.ly/sijumgarut.

Kami membuka kesempatan yang selebar-lebarnya kepada para donatur yang ingin berkontribusi dalam kegiatan ini. Bagi yang ingin infak/shadaqoh, silahkan transfer ke rekening berikut ini:

No rekening Mandiri: 131.000.5872.751 atas nama Tina

No rekening BCA: 148.064.7676 atas nama Tri Handayani

Setelah transfer, mohon konfirmasi ke: 085294620404 (Teh Tina)

Kisah Sedekahnya Ahli Ibadah

Terakhir, kami ingin menyampaikan sebuah kisah inspiratif yang mudah-mudahan kita jadi lebih banyak sedekah kepada sesama untuk keberkahan harta, ketenangan hidup dan berbagai fadhilah lainnya yang sangat banyak.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dalam sahihnya tentang kisah seorang ahli ibadah. Suatu hari, ahli ibadah ini keluar dari tempat ibadahnya dan bertemu wanita cantik hingga akhirnya ahli ibadah tersebut berzina dengan si wanita.

Setelah berzina, ahli ibadah kemudian menyesali perbuatannya, kemudian menangis hingga pingsan. Di tengah kesediahannya, datang pengemis kepadanya untuk diberikan makanan.

Ahli ibadah memiliki 2 potong roti dan diberikan kepada pengemis itu. Setelah sedekah tersebut, ahli ibadah terus menangis dan menyesal hingga akhirnya ia wafat.

Di akhirat, ternyata amal si ahli ibadah kurang lebih 60 tahun masih kalah dibandingkan zina yang pernah dilakukannya. Setelah amal sedekah roti ditimbang, amal kebaikannya ternyata jadi lebih berat sehingga dosanya diampuni.

Jangan bangga dengan amal ibadah kita yang pasti mengantarkan kita ke surga. Ibadah ritual harus dilengkapi juga dengan ibadah sosial seperti kisah di atas. Ibadah sosial tersebut semoga bisa menjadi tabungan kita di akhirat.

Memberi makan kepada orang lain adalah amal sosial yang mulia dan sangat dianjurkan Islam. Yuk, gabung bersama komunitas SiJum, semoga hal ini semakin menambah amal timbangan kebaikan kita, aamiin.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: