Cara Orang Beriman Menghadapi Wabah

Cara-orang-beriman-menghadapi-wabah
Ilustrasi foto: Kuttab Al Fatih
Bagikan

Cara Orang Beriman Menghadapi Wabah

Daftar Isi

Oleh: Finny Hiraini (diambil dari resume kajian Sapa Pagi Ustadz Budi Ashari, Lc, 22 Maret 2020)

Dipersembahkan oleh Kuttab Al Fatih & TAWAF

1.Orang beriman bersikap selalu menggunakan ilmu  dan tidak pernah merugikan orang lain.

Jangan berpendapat tentang Wabah Corona ataupun wabah yang lainnya ini tanpa ilmu, agar tidak  timbul menyebarnya berita hoax yang membuat  cemas orang banyak.

Jika dengan berita  hoax yang kita sebar  membuat orang cemas  dan panik, maka sistem imun dalam tubuh orang  tersebut akan berkurang,  jika sistem imun berkurang,  maka virus akan dengan  mudah menginfeksi tubuh.

Tuh kan! gara gara sebar  berita hoax, bisa memperbanyak  peluang Virus Corona menyebar!  hati hati dalam menyebarkan  berita di media sosial ya.

Stop hoax
Stop Hoax. Ilustrasi foto: Kuttab Al Fatih

2. Orang beriman selalu melihat permasalahan tidak hanya dari fisik, tetapi dari hatinya (kacamata iman).

Bagaimana kita melihat wabah Covid-19 ini dari kacamata iman?

Pertama, berhusnudzan kepada Allah SWT, yakinlah bahwa akan ada banyak kebaikan dari semua musibah ini, sebagaimana firman-Nya:

….لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ….

“…Jangan menyangka bahwa musibah ini jelek untuk kalian, karena disitu ada kebaikan untuk kalian….” (QS. An Nur: 11)

Imam Syafi’i pun mengingatkan dalam nasihatnya:

“Tiba-tiba dunia ini sempit sampai kita menduga bahwa kita akan mati, tapi tiba-tiba kelembutan Allah hadir dan tiba-tiba menumbuhkan hati yang tercerai berai. Katakakan pada orang yang pesimis dan sudah sempit hatinya bahwa rahasia bahagia itu Husnuzhan-mu kepada yang menciptakan kehidupan ini dan membagi rizki. Itulah rahasia kebahagiaan.”

Kedua, Optimis bahwa musibah ini semua akan berlalu,  dan Allah selalu akan memberikan yang terbaik setelah  musibah ini.

Rasulullah SAW bersabda:

“Betapa otimisme membuatku takjub, dan optimisme itu adalah kata yang baik” (HR. Muslim)

Nasihat optimisme pun disampaikan juga oleh Imam Syafi’i rahimahullah:

“Biarkanlah hari-hari bertingkah semaunya, tapi tugas  kita adalah nyamankan hati, jadikan hatimu baik ketika  telah datang takdir Allah SWT don jangan kalian gelisah, cemas,khawatir atas peristiwa malam (musibah, sakit)  karena  tidak ada peristiwa  di dunia yang abadi. Dan  jadilah orang yang karakter dirinya kokoh, teguh diatas  kesulitan, jadikan diri kita lapang dan wafa (membalas  kebaikan dengan kebaikan).”

Bahkan Nabi Allah Ayyub a.s. pun optimis dalam  menghadapi ujian penyakitnya, Saat istrinya meminta Nabi Ayyub berdo’a kepada Allah SWT untuk disembuhkan. Nabi Ayyub justru malu karena sudah 80 tahun diberikan kebahagiaan duniawi oleh Allah dan baru 7 tahun diuji sakit sudah mengeluh. Masya Allah betapa  optimisnya Nabi Ayyub dalam menghadapi ujian sakitnya.

Tingkatkan Iman & Takwa

3. Jadikan musibah ini, menjadi ajang kita meningkatkan  keimanan dan ketaqwaan kita pada Allah SWT

Sungguh , untuk orang beriman, musibah seperti wabah  Covid-19 ini tidak pernah membuatnya rugi.

Pahala syahid saat wabah
Ilustrasi foto: Kuttab Al Fatih

Dan orang yang keimanannya pada Allah SWT meningkat, maka Allah akan menjadi pelindungnya,  sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS At Taubah: 51)

4. Maksimalkan lkhtiar dengan mengikuti  instruksi Pemerintah, Ahli Medis dan Ahli Ilmu.

Jika kita berada di lokasi yang paling banyak terjadi  Wabah Virus Corona ini, maka jangan melanggar  aturan pemerintah, ahli medis, dan ahli ilmu tanpa  dasar ilmu yang jelas, karena ini bisa membahayakan  diri sendiri dan keluarga.

#dirumahaja
Ilustrasi foto: Kuttab Al Fatih

Maksimalkan Ikhtiar dan Do’a

5. Setelah memaksimalkan lkhtiar Fisik, maka kita  berdo’a pada Allah SWT sesuai tuntunan  Nabi agar pertolongan Allah segera hadir.

Do’a-do’a yang dianjurkan dari Al Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Do’a Nabi Adam a.s:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf: 23)

Do’a Nabi Musa a.s:

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dia (Musa) mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Qasas: 16)

Do’a Nabi Nuh a.s:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Hud: 47)

Do’a Nabi Yunus a.s:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”. (QS. Al Anbiya: 87)

Perbanyak Dzikir dan Sedekah

6. Lakukan Dzikir Pagi dan Petang, serta rutinkan  bersedekah membantu sesama yang kesulitan  atas musibah ini.

Dzikir pagi dan petang
Ilustrasi foto: Kuttab Al Fatih
Bersedekah membantu sesama
Ilustrasi foto: Kuttab Al Fatih

Kapan Wabah Penyakit Diangkat (Hilang)?

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan:

“Pada umumnya Wabah penyakit yang terjadi di negara­  negara kaum muslimin sepanjang sejarah, terjadi selama  musim semi, kemudian diangkat (hilang) pada awal  musim panas.” {Lihat dalam kitab nya Badzlul Maa’un  Fii Fadhlith Thooun Lil Hafidz, Hal.369)

Dan awal musim panas saat ini bertepatan pada awal bulan Ramadhan. Jangan jadikan diri kita rugi, dengan tidak bertambah keimanan dan amal shaleh dalam menyambut Ramadhan. Wallahu a’lam.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: