Categories: Akhlak

Tetap Memberi Walau Tengah Kelaparan

Bagikan

Pelajaran Hidup dari Syeikh Abdul Qadir Jaelani: Tetap Memberi Walau Tengah Kelaparan

Kata ulama, menjadi manusia yang dicintai Allah Ta’ala bukan tentang seberapa kaya atau mulianya kita di mata dunia, tetapi tentang bagaimana kita mampu membawa manfaat bagi orang lain.

Sebuah tindakan kecil seperti memberi makan kepada yang lapar, memaafkan kesalahan orang lain, atau sekadar menolong saudara yang kesulitan bisa menjadi jalan untuk meraih cinta-Nya. Simaklah apa yang Nabi ﷺ sabdakan:

“Amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam diri seorang Muslim, atau engkau menghilangkan kesulitannya, atau melunasi utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya.” (HR Ath-Thabrani)

Pengamalan akan hal ini terlihat nyata dalam kisah hidup tokoh-tokoh besar Islam, semisal Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, yang telah melewati masa-masa sulit dengan penuh kesabaran.

1 – Beratnya Menahan Lapar

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, salah satu ulama besar Islam, mengalami masa-masa sulit di masa mudanya. Saat menuntut ilmu di Baghdad, ia harus berjuang untuk bertahan hidup, terutama ketika harga-harga makanan melambung tinggi.

Hari itu, Abdul Qadir muda benar-benar kelaparan. Tubuhnya lemah, dan harapan untuk mendapatkan makanan hampir pupus. Ia mencoba mencari sisa-sisa sayuran di tepi sungai, tetapi setiap kali ia mendatangi sebuah tempat, orang lain telah lebih dulu mengambilnya.

Kelaparan yang terus mendera membuat beliau berjalan ke tengah kota Baghdad. Ia berharap menemukan sesuatu untuk dimakan, tetapi nasib belum berpihak.

Akhirnya, tubuhnya yang lemah membawa beliau ke Masjid Yasin di pasar minyak wangi. Dengan sisa tenaga, Abdul Qadir masuk dan duduk di sudut masjid.

2 – Pertemuan Tak Terduga

Di tengah kelaparan yang menyiksa, ia melihat seorang pemuda non-Arab ke dalam masjid. Pemuda itu membawa roti dan daging panggang. Ia duduk tak jauh dari Abdul Qadir dan mulai menyantap makanannya.

Setiap kali pemuda itu menyuapkan makanan ke mulutnya, tanpa sadar mulut Abdul Qadir ikut terbuka. Rasa lapar yang begitu dahsyat membuat beliau sulit menahan dirinya.

“Setiap kali dia mengangkat tangannya untuk menyuapkan makanan ke mulutnya, mulutku ikut terbuka, karena aku benar-benar lapar. Sampai-sampai, aku mengingkari hal itu atas diriku.

Aku bergumam, ‘Apa-apaan ini?’ Aku kembali bergumam, ‘Di sini hanya ada Allah atau kematian yang telah Dia tetapkan’,” ujarnya kala itu.

3 – Pengakuan yang Menggetarkan

Pemuda ini ternyata memperhatikan gerak-gerik Abdul Qadir. Dengan penuh kasih, ia berkata, “Bismillah, makanlah wahai saudaraku.” Namun, Abdul Qadir menolak tawaran itu.

Si pemuda bersumpah untuk memberikan makanannya, akan tetapi Abdul Qadir tetap enggan menerima. Baru setelah beberapa kali memohon, akhirnya Abdul Qadir pun mengiyakan.

Ketika makan, pemuda ini mulai bertanya, “Siapakah engkau? Dari mana asalmu?”

Dia menjawab, “Aku berasal dari Jailan. Namaku Abdul Qadir, cucu Abdillah Ash-Shauma Az-Zahid.”

Wajah pemuda itu sontak berubah. Ia gemetar dan berkata:

“Demi Allah, aku datang ke Baghdad membawa amanah berupa uang delapan dinar dari ibumu untukmu. Namun, selama beberapa hari aku tidak memiliki uang untuk makan. Aku pun terpaksa menggunakan uangmu untuk membeli roti dan daging ini.

Bekalku habis, dan aku telah mencari dirimu selama ini. Sekarang, makanan ini milikmu. Akulah tamumu, yang sebelumnya engkau adalah tamuku.”

4 – Memaafkan dan Memberi Lebih

Mendengar cerita pemuda itu, Abdul Qadir muda merasa haru. Ia lalu bertanya, “Bagaimana ceritanya?”

Pemuda ini menjawab, “Ibumu telah menitipkan kepadaku uang 8 dinar untukmu. Aku menggunakannya karena terpaksa. Aku meminta maaf kepadamu.”

Beliau pun memaafkan pemuda tersebut dan bahkan memberikan sedikit bekal sebagai tanda kasih sayang. Si pemuda menerima pemberian itu dengan penuh rasa syukur dan segera pergi.

📝 … Disarikan dari Kisah-kisah Kesabaran Para Ulama karya Syeikh Abdul Fatah.

Muhyidin, SKM

Recent Posts

Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit

Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…

22 hours ago

Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga

Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…

22 hours ago

Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit

Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…

2 months ago

Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya

Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…

3 months ago

Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih

Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…

7 months ago

Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya

Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…

8 months ago

This website uses cookies.