Categories: Akhlak

Bahkan, di Tengah Beratnya Ujian, Seorang Muslim Masih Bisa Bersyukur!

Bagikan

Bahkan, di Tengah Beratnya Ujian, Seorang Muslim Masih Bisa Bersyukur!

Syukur tidak hanya tentang menikmati nikmat yang besar, tetapi juga tentang menghargai hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Bahkan dalam keterbatasan, syukur mampu melahirkan kelapangan dan kedamaian.

Syukur pun mengajarkan kita untuk tidak terfokus pada kekurangan atau ujian yang diberikan Allah. Sebaliknya, ia mendorong kita untuk menghitung-hitung nikmat yang masih dimiliki, sehingga hati menjadi tenang dan jiwa merasa cukup.

Maka, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa syukur adalah kunci kebahagiaan.

Tagihan yang Mengalirkan Air Mata

Seorang syeikh berusia 80 tahun menghadapi ujian besar dalam hidupnya. Ia hampir kehilangan pendengaran akibat infeksi telinga yang parah. Dokter menyarankan operasi untuk mencegah ketulian permanen.

Dengan penuh tawakal, syeikh ini menjalani operasi dan akhirnya dia dapat mendengar kembali dengan jelas.

Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi setelah ia menerima tagihan biaya operasi.

Saat melihat jumlah yang harus dibayarkan, syeikh ini menangis. Dokter, merasa iba, menawarkan untuk membebaskan biaya jika tagihan itu terlalu membebani.

Dengan penuh haru, dia berkata, “Aku bukan menangis karena uang yang harus kubayarkan, tetapi aku menangis karena Allah telah memberiku pendengaran yang sempurna selama 80 tahun. Namun, Allah tidak pernah mengirimiku tagihan.” (KisahIslam.Net)

Tagihan itu menjadi momen refleksi mendalam bagi lelaki tua ini. Ia menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah ia nikmati tanpa pernah memikirkan harganya.

Pernyataannya yang tulus menggambarkan kesyukuran yang lahir dari kesadaran mendalam atas nikmat yang sering terlupakan.

Maka, ada teguran halus dari Allah Ta’ala yang layak kita perhatikan:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hasyr, 59:19)

Bersyukur di Tengah Beratnya Ujian

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban, dalam Ats-Tsiqaat, kisah ini tentang seorang hamba Allah bernama Abu Ibrahim. Dalam perjalanan di padang pasir, ia menemukan kemah sederhana yang dihuni oleh seorang tua.

Orang tua itu buta, kedua tangannya buntung, dan hidup sendirian tanpa sanak saudara. Namun, yang membuat Abu Ibrahim takjub, orang tua tersebut terus mengulang kalimat:

“Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia.”

Penasaran, Abu Ibrahim bertanya, “Bagaimana mungkin engkau bersyukur dalam keadaan seperti ini? ”

Orang tua ini pun menjelaskan bahwa meskipun diuji dengan banyak kesulitan, ia masih memiliki nikmat yang luar biasa. Ia menyebutkan satu per satu: akal sehat untuk berpikir, pendengaran untuk mendengar azan, lisan untuk berzikir.

Dan, yang paling penting lagi paling mahal, dia masih memiliki keimanan sebagai seorang Muslim. Inilah rezeki termahal.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang Muslim yang menyembah-Nya, mengharap pahala dari-Nya, dan bersabar atas musibahku?” ujarnya.

“Iya benar,” Abu Ibrahim menjawab.

Lalu katanya, “Padahal, berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat! Maka, segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.”

Abu Ibrahim berkata, “Orang tua ini terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu persatu. Aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. Dia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah.”

Di akhir pembicaraan, lelaki tua ini (yang kemudian dikenali sebagai Abu Qilabah) mengingatkan bahwa musibah bisa menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Baginya, hidup adalah kesempatan untuk bersabar, berzikir, dan mengharap pahala dari Allah walau dengan keterbatasan fisik dan keadaan yang serba kekurangan.

Ada Pelajaran Besar Untuk Kita!

Kenikmatan bukan hanya berupa hadirnya materi dan kesehatan jasmani. Kemampuan untuk berpikir, mendengar, berbicara, dan terkhusus nikmat iman adalah anugerah terbesar kerap terlupakan.

Ketika seseorang mampu melihat hidup melalui perspektif syukur, aneka cobaan akan lebih ringan dihadapi. Dada pun akan terasa lapang dan jiwa menjadi lebih tenang.

Maka, segala puji bagi Allah Ta’ala yang memberikan kenikmatan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Muhyidin, SKM

Recent Posts

Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit

Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…

22 hours ago

Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga

Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…

22 hours ago

Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit

Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…

2 months ago

Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya

Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…

3 months ago

Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih

Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…

7 months ago

Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya

Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…

8 months ago

This website uses cookies.