Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga
Ada seorang istri yang, di usia senjanya, datang tergesa kepada suaminya dengan satu permohonan. Bukan meminta harta, bukan pula menuntut perhiasan dunia.
Ia justru merelakan haknya yang paling berharga—giliran malamnya—agar tetap bisa menjadi istri sang suami kelak di surga.
Perempuan itu adalah Saudah binti Zam’ah. Dan suaminya adalah manusia termulia, Rasulullah ﷺ. Bagaimana kisahnya?
Usianya telah lanjut, dan Saudah takut hari gilirannya tidak lagi berarti. Namun, yang ia takutkan bukan kehilangan kemewahan, melainkan kehilangan kedudukan sebagai istri Nabi ﷺ di akhirat.
Maka ia mengambil keputusan yang mengharukan: menyerahkan jatah gilirannya kepada ‘Aisyah, istri yang paling dicintai Rasulullah ﷺ.
Permintaannya hanya satu—agar ia tetap dibangkitkan sebagai istri beliau pada hari Kiamat.
Inilah cinta yang melampaui ego. Inilah pengorbanan yang lahir dari iman. Lalu siapakah sesungguhnya perempuan mulia ini?
Namanya adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdu Syams Al-Quraisyah.
Garis keturunannya bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada Lu’ay, salah satu leluhur beliau. Ia berasal dari keluarga Quraisy yang dihormati di Mekkah.
Saudah memeluk Islam pada masa awal dakwah, ketika beriman berarti siap menanggung siksaan. Demi mempertahankan keyakinannya, ia berhijrah ke Habasyah bersama suaminya, Sakran bin Amr
Mereka berhijrah untuk menghindari kekejaman kaum Quraisy. Ini bukan keimanan yang nyaman, melainkan keimanan yang diuji.
Sepulang dari Habasyah, suami Saudah wafat. Ia pun hidup seorang diri dalam keadaan sangat membutuhkan perlindungan.
Yaitu, pada suatu masa ketika seorang janda rentan terhadap tekanan, terlebih apabila keluarganya belum memeluk Islam. Di sinilah ujian kesabarannya mencapai puncak.
Pernikahannya dengan Nabi ﷺ terjadi atas usulan Khaulah binti Hakim, tidak lama setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib—masa yang penuh kesedihan bagi beliau.
Saudah hadir bukan sekadar sebagai pendamping, tetapi sebagai penghibur.
Ia dikenal periang dan kerap melontarkan candaan yang membuat Rasulullah ﷺ tertawa, mengusir mendung kesedihan di rumah tangga beliau.
Saudah menikahi Rasulullah ﷺ saat beliau tengah membutuhkan sosok yang merawat putri-putrinya yang masih kecil. Dengan tulus, ia mengasuh Fatimah dan Ummu Kultsum.
Ketika hijrah ke Madinah, Saudah pun turut membawa serta putri-putri Nabi ﷺ.
Ia menjadi satu-satunya istri di dalam rumahtangga beliau selama kurang lebih tiga tahun, sebelum Rasulullah ﷺ menikahi yang lain.
Selepas wafatnya Khadijah, Saudah disebut sebagai salah satu istri Nabi ﷺ yang paling murah hati.
Diriwayatkan, ketika Umar bin Khathab mengirimkan sepanci penuh dirham kepadanya, Saudah bertanya isinya, lalu seketika membagikan seluruh uang itu kepada orang-orang di sekitarnya.
Harta baginya bukan untuk ditimbun, melainkan untuk disalurkan.
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Saudah memegang teguh perintah agar tetap tinggal di rumah.
Bahkan, ketika Umar membolehkan para istri Nabi ﷺ berhaji, Saudah memilih tidak pergi, seraya berkata bahwa Allah telah memerintahkannya untuk tinggal di rumah.
Ketaatannya begitu kokoh—diriwayatkan bahwa ia tidak keluar dari rumahnya hingga jenazahnya-lah yang dibawa keluar. Ia wafat pada akhir masa kekhalifahan Umar bin Khathab dan dimakamkan di Baqi’.
Sikap Saudah yang merelakan gilirannya demikian mulia, hingga turunlah ayat yang berkaitan dengannya dalam surah An-Nisā’ ayat 128, tentang perdamaian dan kerelaan dalam rumah tangga.
Saudah mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kecantikan atau kekayaan. Ia lahir dari teguhnya keimanan, tulusnya kesetiaan, dan kerelaan untuk mengutamakan akhirat di atas hak duniawi.
Sungguh, Saudah binti Zam’ah adalah teladan bagi setiap perempuan yang merindukan tempat di sisi orang-orang mulia—kelak, di surga.
Disarikan dari Biografi 35 Shahabiyah Nabi ﷺ (Syaikh Mahmud Al-Mishri), Muhammad ﷺ: Rahmat bagi Wanita (Dr. Samiyah Manisi), Bilik-Bilik Cinta Muhammad ﷺ (Dr. Nizar Abazhah), Biografi Rasulullah ﷺ (Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad) dan lainnya.
Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…
Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…
Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…
Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…
Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…
Adakah Mushola (Tempat Shalat) di RS Santo Borromeus Bandung? Oleh: Muhyidin, SKM Bagi yang pertama…
This website uses cookies.