Ilustrasi foto: kompas.com
Oleh: Muhyidin, SKM
Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani. Epi berarti atas, pada, tentang. Demo berarti penduduk. Logos berarti studi atau ilmu. Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan status atau kejadian yang berhubungan dengan kesehatan populasi tertentu, dengan penerapan pada pengendalian masalah kesehatan (J.M. Last, 1996). Definisi lain dari epidemiologi yaitu Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (penyebaran) masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta determinannya (faktor – faktor yang mempengaruhinya) (Bustan M.N, 2002).
Dari pengertian epidemiologi di atas, terdapat 3 hal pokok, yaitu frekuensi, distribusi, dan determinan masalah kesehatan.
Tujuan Epidemiologi yaitu:
Pergeseran dari gaya hidup pemburu-pengumpul ke model pertanian menyediakan pasokan makanan yang lebih aman dan memungkinkan perluasan populasi. Namun, hewan peliharaan tidak hanya menyediakan makanan dan tenaga; mereka juga membawa penyakit yang bisa menular ke manusia. Orang-orang juga mulai sangat bergantung pada satu atau dua tanaman, sehingga makanan mereka sering kali kekurangan protein, mineral, dan vitamin. Orang-orang mulai hidup dalam kelompok yang lebih besar dan tinggal di tempat yang sama, sehingga lebih banyak peluang untuk penularan penyakit.
Pada masyarakat primitif yang sangat padat berkembang setelah revolusi pertanian. Penduduk padat seperti ini seringkali tidak memiliki sarana yang memadai untuk membuang sampah dan limbah yang cenderung menumpuk. Hewan pengerat dan vektor serangga tertarik ke pemukiman manusia, menyediakan sarana penyebaran penyakit. Pada masa ini, penyakit dipercayai terkait dengan kekuatan supranatural dan manusia harus berdamai dengan alam. Ketika peristiwa meningkatnya prevalens rabies dianggap terjadi akibat munculnya bintang sirius (anjing) di langit. Demikian juga meningkatnya kasus disentri pada penduduk di sekitar sungai Nil akibat adanya perubahan pada aliran sungai Nil yang terjadi karena adanya kekuatan supranatural.
Hippocrates – Bapak Kedokteran & Epidemiologi Pertama
Pada zaman ini, Hippocrates berpendapat bahwa sakit bukan disebabkan hal-hal yang bersifat supranatural. Terjadinya penyakit ada kaitannya dengan:
Kondisi dingin, panas, lembab dan kering dari bumi berpengaruh pada cairan tubuh, darah, cairan empedu kuning dan empedu hitam. Pada zaman ini Hippocrates telah menghubungkan antara kejadian sakit dengan faktor-faktor lingkungan dan diet yang mempengaruhi kesehatan.
Hippocrates adalah Bapak Epidemiologi. Dia dianggap sebagai The First Epidemiologyist, ahli epidemiolog pertama di dunia karena dialah yang pertama kali mengajukan konsep analisis kejadian penyakit secara rasional. Pikiran-pikirannya dituliskan dalam tiga bukunya: Epidemic I, Epidemic II, dan On Airs, Waters and Places. Dalam bukunya ini diajukanlah konsep tentang hubungan penyakit dengan faktor tempat (geografi), penyediaan air, iklim, kebiasaan makan dan perumahan. Dia yang memperkenalkan istilah epidemi dan endemi.
Galen adalah seorang ahli bedah tentara Rumawi iangsering dianggap sebagai The Father of Experimental Physiology. Dia mengembangkan teori Hippocrates dan mengembangkan konsep 2 elemen tambahan dimana status kesehatan berkaitan dengan kepribadian / temperament (personality type) dan lingkungan kerja & gaya hidup / Procatartic (lifestyle factors). Menurut Galen, penyakit terjadi oleh karena interaksi 3 kumpulan faktor yaitu tubuh, sikap hidup dan atmosfer. Dapat dikatakan pada masa Galen ini telah ada pemikiran bahwa penyakit terjadi karena dipengaruhi oleh lingkungan dan sikap hidup.
Pada era ini, penyebab penyakit (misal kolera) adalah emanasi material non-organik berupa gas berbau busuk. Miasma diyakini merupakan uap beracun yang dihasilkan dari dekomposisi atau pembusukan organik yang umum ditemukan dalam kehidupan.
Pada era ini terdapat konsep seminaria contagium oleh Fracatorius / Fracastoro (1478 M). Menurut konsep ini sakit terjadi karena adanya proses kontak /bersinggungan dengan sumber penyakit. Dapat dikatakan pada masa ini telah ada pemikiran adanya konsep penularan.
Deskripsi dan statistik vital populasi dengan metode pengukuran kuantitatif yang pertama kali oleh John Graunt (1662 M). Graunt disebut sebagai The Columbus of Biostatistics. Kajian hubungan kematian dan kepadatan pendudukan serta peletakan dasar-dasar International Classification of Disease (ICD) oleh William Farr (1839 M).
Penyelidikan epidemiologi lapangan pada kasus kolera oleh John Snow sehingga Snow disebut sebagai Bapak Epidemiologi Lapangan. Pada masa itu John Snow (1813-1858), melakukan observasi mengenai riwayat alamiah penyakit kolera, dan bagaimana model transmisi/penularannya. Snow mengamati bahwa :
Walaupun Snow telah memunculkan teori mengenai penyebab kolera adalah mikroorganisme
tertentu, tapi teori tersebut belum diterima sepenuhnya. Ketika terjadi wabah kolera di Inggris (1853-1854), John Snow membuat hipotesa penyebab wabah tersebut (walaupun kuman kolera belum ditemukan saat itu).
Snow percaya adanya agent / contagion yan gmenyerang pencernaan melalui mulut dan dapat disebarkan melalui air (waterborne) yang tercemar tinja. Air sungai yang tercemar ini merupakan medium penularan. Untuk membuktikan hipotesanya, Snow menggunakan 3 metode epidemiologi:
Beberapa peristiwa penting pada era ini yaitu:
Kelemahan dari postulate Koch ialah tidak dapat diterapkan pada semua penyakit:
• Pada penyakit-penyakit akibat virus (virus belum dapat di kultur)
• Pada penyakit-penyakit tertentu seperti campak –> penyakit ini dapat menyebabkan sakit
pada manusia, tapi tidak dapat menyerang semua binatang percobaan kecuali hanya pada
anjing-anjing kecil
• Penyakit-penyakit canine distemper, dapat menyerang anjing tapi tidak dapat menyerang
manusia –> sehingga harus ada host yang spesifik untuk kuman-kuman tertentu
• Ada kuman-kuman pathogen yang menginfeksi manusia tapi tidak menimbulkan sakit –> orang sehat terinfeksi virus sering tidak menimbulkan sakit
Pada era ini terjadi perubahan pola kesehatan dan pola penyakit yang berinteraksi dengan demografi, ekonomi, dan sosial. Transisi epidemiologi berkaitan dengan transisi demografi, begitu juga dengan transisi teknologi. Misalnya pergantian dari penyakit infeksi ke penyakit man-made disease atau lifestyle disease. Pergeseran penyakit ini dapat dibuktikan dengan berubahnya pola penyakit penyebab kematian tertinggi antara tahun 1960, dengan wabah penyakit pneumonia, tuberkulosis, dan diare, dengan 1990 penyakit jantung, neoplasma, dan penyakit otak-pembuluh darah.
Penyebab terjadinya transisi epidemiologi antara lain:
Beberapa peristiwa penting pada era ini, yaitu:
Referensi:
Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…
Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…
Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…
Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…
Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…
Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…
This website uses cookies.