Allāhu akbar. Allāhumma ahillahū ‘alainā bil amni (bil yumni), wal īmāni, was salāmi, wal islāmi, wat taufīqi li mā tuhibbu wa tardhā. Rabbī (rabbanā) wa rabbukallāhu.
“Allah Mahabesar! Ya Allah, tampakkanlah bulan sabit ini kepada kami dengan membawa keamanan (atau keberuntungan) dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta petunjuk bagi amal yang Engkau cintai dan ridhai. Rabb kami dan Rabb-mu (bulan sabit) adalah Allah.”
Pada akhir bulan Sya’ban, jangan sampai kita terluput dari membaca doa tampaknya hilal Ramadhan. Sesungguhnya, gambaran kesuksesan seorang hamba dalam mengisi bulan Ramadhan hadir di dalam doa ini.
Bahkan, dia pun akan menentukan apakah Allah Ta’ala berkenan memberi kekuatan kepada kita untuk menjalani Ramadhan dengan baik ataukah tidak.
Lalu, seperti apa doanya? Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Ithafu Ahlil Islam bi Khususiyatis Shiyam mengungkapkan dua redaksi doa.
Pertama, Rasulullah ﷺ berdoa dengan redaksi:
اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ (وفي رواية بِاليُمْنِ) وَالإِيمَانِ، وَالسَّلامِ وَالإِسْلامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَ تَرْضَى، رَبِّي (وفي رواية رَبُّنَا) وَرَبُّكَ اللَّهُ
“Allāhu akbar. Allāhumma ahillahū ‘alainā bil amni (bil yumni), wal īmāni, was salāmi, wal islāmi, wat taufīqi li mā tuhibbu wa tardhā. Rabbī (rabbanā) wa rabbukallāhu.”
“Allah Mahabesar. Ya Allah, tampakkanlah bulan sabit ini kepada kami dengan membawa keamanan (keberuntungan) dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta petunjuk bagi amal yang Engkau cintai dan ridhai. Rabbku (Rabb kami) dan Rabb-mu (bulan sabit) adalah Allah.”
Kedua, dalam riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, doa melihat hilal disampaikan dalam redaksi yang lebih pendek, yaitu:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ هِلَالُ رُشْدٍ وَخَيْرٍ
“Allāhumma ahillahū ‘alainā bil amni, wal īmāni, was salāmati, wal islāmi. Rabbī wa rabbukallāhu. Hilālu rusydin wa khairin.”
“Ya Allah, jadikanlah ini bulan ‘membawa’ keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, wahai bulan petunjuk dan kebaikan.”
Melalui doa ini, ada sejumlah permohonan yang kita sampaikan kepada Allah Ta’ala pada saat memasuki bulan Ramadhan. Apa sajakah itu?
Ada orang yang memasuki Ramadhan dengan hati tidak tenang karena masalah ekonomi, karena merasa berat berpuasa, karena awal Ramadhan yang berbeda, dan lainnya.
Maka, dengan doa ini, kita memohon kepada Allah agar diberi ketenangan hati dari sejak awal, pertengahan sampai berakhirnya Ramadhan.
Ada orang yang imannya hanya kuat di awal Ramadhan. Karena tidak dijaga, saat pertengahan atau akhir Ramadhan, imannya melemah sehingga ibadahnya pun mengendur.
Maka, dengan doa ini, kita memohon kepada Allah agar semangat kita dalam memuliakan bulan Ramadhan senantiasa terjaga dari awal sampai akhir.
Dengan doa ini kita memohon agar diberi keselamatan dari musibah yang menjadikan kita tidak bisa optimal dalam mengisi Ramadhan, semisal sakit atau lainnya.
Makna Islam di sini terkait erat dengan amalan yang lahir dari kuatnya keimanan.
Dengan doa ini, kita memohon agar diberi kekuatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah sepanjang Ramadhan. Sehingga, semua ibadah yang kita lakukan mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan.
Dengan doa ini, kita berharap agar datangnya hilal Ramadhan membawa kita pada khair (kebaikan) dan rusydin (petunjuk) untuk perubahan. Sehingga, selepas Ramadhan kita bisa menjadi manusia yang lebih baik.
Dengan hadirnya keikhlasan, semua ibadah yang kita lakukan sepanjang Ramadhan adalah karena Allah semata, bukan karena mengharap ridha manusia, atau demi kepuasan nafsu belaka.
Disarikan dari salah satu tausiyah Al-Ustadz Adi Hidayat, Lc. MA. dan lainnya.
Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…
Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…
Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…
Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…
Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…
Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…
This website uses cookies.