Ilustrasi foto: bandungkita.id
Oleh: Deni Prasetio, SKM
Masuk surga itu gampang kata Gus Baha, karena syaratnya cukup satu yaitu menjadi hamba Allah.
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (QS Al Fajr: 27-30)
Yang diperintahkan pertama kali adalah menjadi hamba Allah, setelah syarat ini terpenuhi perintah selanjutnya adalah masuk kedalam surgaNya. Kalian liat ayatnya fad khuli fi ‘ibadi, pake kata sambung “fa” artinya butuh waktu. Ada syarat2 yang harus dipenuhi untuk menjadi hamba-Ku sehingga memerlukan waktu. Wad khuli jannati, pake kata sambung “wa” yang berarti bersamaan, gak butuh waktu. Bahasa mudahnya begitu seseorang menjadi hamba-Ku maka otomatis dia masuk kedalam surga-Ku.
Kunci surga adalah menjadi hamba Allah dan kunci menjadi hamba Allah ada pada akhir surat al Furqon. Yang bikin syarat menjadi hamba Allah itu susah adalah sifat yang disebutkan menggunakan fi’il mudharih (present & future tense) artinya ada kesinambungan. Bahasa mudahnya ada istiqomah dalam tahajud, doa, sedekah, dan amal2 lainnya. Dan yang namanya istiqomah itu berat bestie…
Kata infaq diulang sebanyak 74 kali di 25 surat dalam Al Quran. Banyaknya kata ini agar sedekah menjadi pondasi hidup seorang muslim. Dua pekan lalu saya telpon Alim dan kalimat pertama yang keluar dari lisan saya adalah apakah rumah ortunya uda laku kejual. Alim surprise pagi2 uda ngomongin warisan. Saya cerita ada tetangga yang saban hari nongkrong didepan gang rumah. Itu yang biasa nongkrong kalo gak ojol ya pengangguran, orang susah semua gak ada yang level UMP. Tetangga ini sehari2nya nelangsa mau makan modalnya cuma indomie 1 bungkus. Bikinnya numpang di rumah orang, air dan gas boleh nebeng. Mo ngopi modalnya 1 sachet kopi seribuan, nyeduhnya juga numpang.
Hingga satu ketika Allah takdirkan dia dapet warisan 1,7 milyar dari penjualan rumah ortunya. Dan tring… tiba2 dia auto ilang. Gak keliatan lagi ditempat tongkrongan, HP beserta nomernya uda ganti. Hidupnya berubah, dulu orang liat dia susah sekarang dia yang liat orang susah. Sayangnya duit 1.700 juta dikantongin sendiri, tak satupun dari temen2nya yang dhuafa kebagian sedekahnya. Satu sen pun gak ada yang ngerasain. Boro2 traktiran kebuli Ajwad, kopi kenangan satu cup aja gak ada. Padahal kalo dia ‘buang’ duit 20 juta teman2 tongkrongannya gak bakal jatuh miskin.
Dulu dia tak pernah berbagi, orang mikirnya wajarlah dia miskin. Namun ketika dia punya uang cash 1,7 milyar tidak juga berbagi maka orang mengatakan dia pelit. Ternyata pelit itu bukan penyakitnya orang kaya an sich, orang miskin juga bisa kena. Cuma karena kemiskinan menutupinya maka orang gak tau. Itu sebabnya Al Quran menyuruh kita untuk bersedekah baik di waktu lapang maupun sempit.
“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Ali-Imran: 134).
Kedermawanan terlihat ketika seseorang berinfak dikala sempit, lebih2 lagi dikala lapang. Maka ketika tanganmu terbelenggu dari sedekah dengan dalih kondisi sempit. Sungguh jika pintu langit terbuka untukmu tanganmu tetap akan terbelenggu. Coz sedekah tidak tergantung pada finansial tapi pada kedermawanan hati. Solusi Al Quran biar gak jadi orang kikir maka bersedekahlah dikala susah.
Ada eks kader PKS nonton bola timnas Indonesia vs Filipina bersama istrinya di GBK. Saya liat harga tiketnya 550 ribu. Allah kasi nonton bola di tv gratis gak pake beli tiket dan transport, ee… dia bela2in bayar 1,1 juta.
Ada cerita anak yatim begini. Satu ketika anak yatim liat handphone istri saya: Bunda ini handhonenya flip ya. Harganya pasti mahal, ada gak 1 juta, tanyanya. Semua barang yang mahal bagi anak yatim selalu dihargai dengan angka 1 juta. Coz uang sejuta bagi anak yatim cukup besar. Karena selama ini rata2 amplop yang mereka terima 100 atau 200 ribu.
Maka ketika ada ikhwan yang menghabiskan uang jutaan hanya untuk sebuah tontonan, rasanya pengen ketok kepalanya. Nih orang bisa2nya hura2 n ketawa2 ngabisin duit 1 juta kayak sedekahnya 10 juta. Level amplop 200 ribu aja sok2an nonton di GBK.
Ada selebritis piara kucing. Sebulan habis 3 juta buat biaya makannya. Dalam hati saya berarti (harusnya) dia telah menghabiskan 10 juta untuk sedekah. Ada orang punya baby 8 bulan disekolahin. Aje gile… baby belum bisa ngomong dan jalan uda buang2 duit.
Yang saya gak habis pikir ada akhwat yang nguburin suaminya spesialis anestesi di San Diego Hills. Emang sih kita tau spesialis anestesi itu sultannya para dokter spesialis. Walau kaya tapi buang duit ratusan juta untuk tanah ukuran 1×2 meter adalah sia2. Emang kalo kuburan mahal gitu bebas dari pertanyaan Munkar Nakir atau gak kena azab kubur? Tarbiyah itu bukan batu loncatan yang abis loncat gak ditengok lagi. Biar kata kalian sekarang uda gak ngaji tapi pondasi sedekah harus tetap ada. Berani buang duit ratusan juta untuk hal yang gak penting adalah perbuatan bodoh.
Di sisi lain anak2 yatim yang belum pernah makan burger masih banyak, orang miskin yang menghiba dihadapan Tuhannya masih banyak. Sedekah harus jadi pondasi hidup kita. Karena setiap satu sen rupiah akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.
Ada orang kaya gak mau tinggal satu atap dengan anaknya yang sudah menikah, lebih baik dia sewa rumah atau bikin rumah baru padahal rumah yang ada besar. Tapi ada juga orang kaya yang gak peduli tinggal di kontrakan yang penting sedekahnya jor2an.
Sedekah itu bukan tergantung kalian kaya atau tidak tapi tergantung kedermawanan hati.
Maka sedekah itu dimulai dari sekarang bukan dimulai ketika finansial membaik. Ada dokter spesialis pendapatannya 100 juta/bulan ditawari proposal ramadhan jawabannya iya nanti kalo ada rezeki. Saya gak ngerti konsep rezeki yang ada dipikirannya padahal di tabungannya ada ratusan juta dan di depositonya ada milyaran. Akhirnya hingga Ramadhan usai dia gak sedekah. Begitulah jika sedekah belum menjadi pondasi hidup.
Cerita2 diatas riil adanya, orangnya masih hidup. Sengaja tidak saya detilkan agar kalian fokus pada perilaku bukan kepada individu.
Kalo kita buka Al Quran dari al Fatihah maka yang pertama kali kita temui adalah kata sholat dan infak. Baru nanti ketemu ayat haji dan puasa. Sujud dan sedekah adalah karakternya ‘ibadalana. Jadi fokus utama kita adalah mendawamkan amal ini, soal surga pasti ngikut.
So… beragama itu jangan rancu. Pertandingan bola hanya tontonan maka jangan biarkan dompetmu terbuka. Sementara sedekah adalah tuntunan maka jangan biarkan dompetmu tertutup. Jangan sampai bola jadi tuntunan sementara fakir miskin jadi tontonan.
Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…
Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…
Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…
Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…
Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…
Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…
This website uses cookies.