Categories: Akhlak

The Spirit of Samurai

Bagikan

The Spirit of Samurai

Oleh: Ustad Arafat

Jika mendengar kata Samurai, apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita? Tentu sebilah pedang yang panjang dan melengkung khas Jepang.

Padahal istilah Samurai awalnya bukan dipakai untuk senjata, melainkan untuk seorang petarung. Samurai adalah nama bagi seorang petarung dari kalangan militer di abad pertengahan Jepang. Samurai bekerja untuk tuannya yang disebut Daimyo, atau terkadang mereka bekerja sendiri yang disebut Ronin.

Seorang Samurai menduduki tempat terhormat di mata masyarakat. Bisa dibilang mereka adalah bangsawan dari kalangan militer.

Seorang Samurai adalah ksatria yang gagah berani. Kemampuan bela dirinya bisa setara dengan sepuluh prajurit biasa. Mereka juga terpelajar. Dan ciri khas yang paling menonjol adalah, bertarung dengan penuh kode etik.

Maka, seorang Samurai tak akan menyerang diam-diam, atau melawan musuh yang sudah tidak berdaya. Spirit sebagai seorang Samurai benar-benar melambangkan keberanian dan integritas.

Keberadaan para Samurai mulai berkurang seiring dengan berakhirnya abad pertengahan. Untuk terus menghidupkan spirit yang penuh nilai luhur dari para ksatria ini, maka lambat laun pedang Katana yang biasa mereka gunakan akhirnya disebut sebagai Samurai.

Jadi, jika Samurai merujuk kepada nama para prajurit militer di masa lalu, sesungguhnya mereka semua telah tiada. Tetapi jika Samurai yang dimaksud adalah semangat petarung sejati, maka semangat tersebut terus hidup tertanam dalam sebilah pedang-pedang tajam dari Jepang.

Tak ubahnya dengan Ramadhan. Apakah yang disebut dengan Ramadhan? Jika merujuk kepada nama sebuah bulan yang berada di antara Sya’ban dan Syawal, berarti Ramadhan adalah bulan suci yang sekejap lagi akan meninggalkan kita semua.

Tetapi jika Ramadhan yang dimaksud adalah gaya hidup seorang muslim sejati, yang senantiasa melawan hawa nafsunya. Spirit sebagai mukmin yang menghidupkan siang malamnya dengan ibadah kepada Allah.

Maka ketahuilah, semangat tersebut terus hidup tertanam dalam hati setiap orang beriman.

Terima kasih duhai bulan mulia, kemarin engkau datang mengajarkan kami arti berjuang. Kini engkau berpisah setelah kami mengerti arti menjadi hamba. Secara zahir engkau memang pergi, tetapi secara hakiki engkau akan selalu bersama kami. Aamiin.

Muhyidin, SKM

Recent Posts

Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit

Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…

15 hours ago

Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga

Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…

15 hours ago

Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit

Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…

2 months ago

Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya

Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…

3 months ago

Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih

Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…

7 months ago

Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya

Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…

8 months ago

This website uses cookies.