Ilustrasi foto: blud.co.id
Oleh: Muhyidin, SKM
Kesehatan tidak hanya dipengaruhi olehadanya faktor penyakit (agent) yang masuk ke dalam tubuh manusia. Dalam trias epidemiologi, status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh keseimbangan antara host (pejamu), lingkungan (environment) dan agent. Lingkungan merupakan kondisi dan pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme. Hendrik L.Blum (1974) menyatakan bahwa derajat kesehatan dipengaruhi oleh kombinasi 4 faktor, yaitu lingkungan, perilaku, genetik, dan pelayanan kesehatan.
Faktor-faktor lingkungan dapat dibagi ke dalam 5 kelompok yaitu:
Ilmu kesehatan lingkungan adalah ilmu multidisipliner yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara sekelompok manusia atau masyarakat dan mempelajari upaya untuk penanggulangan dan pencegahannya (Chandra, 2007). Ilmu kesehatan lingkungan mempelajari hubungan interaktif antara komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya penyakit dengan berbagai variable kependudukan seperti perilaku, pendidikan dan umur. Dalam hubungan interaksi tersebut, faktor komponen lingkungan seringkali mengandung atau memiliki potensial timbulnya penyakit. (Ikhtiar, 2017)
Kesehatan lingkungan merupakan bagian dari ilmu kesehatan masyarakat. Menurut CEA Winslow (1920), salah satu sasaran kesehatan masyarakat yaitu lingkungan hidup yang sanitair. Winslow berpendapat bahwa sanitasi memastikan kondisi lingkungan yang sehat sebagai tahap awal dalam kesehatan masyarakat.
Peran kesehatan lingkungan yaitu:
Pada awalnya analisis risiko digunakan dalam bidang pengendalian radiasi, bukan dalam industri kimia. Analisis risiko yang intensif telah dilakukan tahun 1975 untuk menyelidiki kematian karena kanker yang disebabkan oleh kebocoran reaktor nuklir. Teknik-teknik analisisnya kemudian diadopsi oleh Food and Drug Administration Amerika Serikat. USEPA selanjutnya menerbitkan pedoman tentang analisis risiko karsinogen tahun 1986. Kini analisis risiko digunakan untuk berbagai bahaya lingkungan, termasuk bahaya fisik dan biologis. Bahaya-bahaya fisik, kimiawi dan biologis lingkungan bisa menimbulkan efek yang merugikan kesehatan manusia dan kerusakan lingkungan. Kajian efek kesehatan dikenal dengan health risk assessment (HRA, analisis risiko kesehatan), sedangkan kajian efek lingkungan disebut ecological risk assessment (ERA) (Kemenkes, 2012).
Selanjutnya HIA tumbuh dan berkembang secara lebih spesifik menjadi environmental health risk assessment (EHRA) yang dialihbahasakan menjadi analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL). Di Indonesia, dalam peraturan perundangan, ARKL menjadi bagian analisis dampak kesehatan lingkungan (ADKL). ADKL sendiri dibedakan menjadi ADKL bagian Amdal dan ADKL untuk pencemaran pada umumnya (bukan bagian dari studi Amdal). Untuk ADKL dalam Amdal, yang dimaksudkan sebagai kajian aspek kesehatan masyarakat dalam konteks rencana usaha atau kegiatan baru, telah terbit Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 876/ Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (Kemenkes, 2012).
Mengacu pada Risk Assessment and Management Handbook tahun 1996, analisis risiko mengenal dua istilah yaitu risk analysis dan risk assessment. Risk analysis meliputi 3 komponen yaitu penelitian, asesmen risiko (risk assessment) atau ARKL dan pengelolaan risiko. Di dalam prosesnya, analisis risiko dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Ilustrasi dari paradigma dan proses analisis risiko dapat dilihat dari gambar 1 di bawah ini.
Gambar 1. Paradigma atau proses ‘risk analysis’ (National Risk Council, 1986)
Pada gambar 1 di atas diilustrasikan proses risk analysis secara utuh dimulai dari penelitian terkait agen risiko, dosis serta respon/efeknya terhadap kesehatan manusia yang dilakukan oleh peneliti. Sedangkan implementasi risk assessment atau ARKL dan pengelolaan risiko dilakukan oleh praktisi kesehatan lingkungan.
Secara operasional, pelaksanaan ARKL diharapkan tidak hanya terbatas pada analisis atau penilaian risiko suatu agen risiko atau parameter tertentu di lingkungan terhadap kesehatan masyarakat, namun juga dapat menyusun skenario pengelolaannya. Bagan alir penerapan ARKL sebagai bagian dari analisis risiko dapat dilihat pada gambar 2 dan 3.
Gambar 2. Bagan Alir Penerapan ARKL
Pada Gambar 2 di atas dijelaskan bahwa ARKL merupakan pendekatan yang digunakan untuk melakukan penilaian risiko kesehatan di lingkungan dengan output adalah karakterisasi risiko (dinyatakan sebagai tingkat risiko) yang menjelaskan apakah agen risiko/parameter lingkungan berisiko terhadap kesehatan masyarakat atau tidak. Selanjutnya hasil ARKL akan dikelola dan dikomunikasikan kepada masyarakat sebagai tindak lanjutnya.
Gambar 3. Kerangka Konseptual ARKL
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang termaktub dalam pasal 27 ayat (2) bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Ketenagakerjaan diarahkan pada peningkatan harkat, martabat, dan kemampuan manusia, serta kepercayaan pada diri sendiri dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera, adil, dan makmur, baik materiil maupun spiritual. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan higiene perusahaan, kesehatan dan keselamatan kerja yaitu:
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1969 Undang-Undang (UU) ini merupakan persetujuan konvensi organisasi perburuhan internasional (ILO) No.120 tentang higiene dalam perniagaan dan kantor-kantor. UU memuat ketentuan-ketentuan antara lain: kebersihan, ventilasi, suhu nyaman, kerapian, persediaan air minum, tempat ganti dan penyimpan pakaian, menyediakan kotak P3K, perlengkapan cuci dan sanitasi serta tempat duduk yang cukup.
Berikut ini adalah peraturan perundang-undangan Kesehatan Lingkungan berdasarkan stratifikasinya:
Undang-Undang terkait Kesehatan Lingkungan
Peraturan Pemerintah terkait Kesehatan Lingkungan
Peraturan dan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan terkait Kesehatan Lingkungan
Peraturan dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
Paparan dalam hal pekerjaan dan lingkungan adalah proses kontak antara individu dan suatu substansi dan dapat terjadi oleh satu atau lebih dari 4 rute yaitu inhalasi (pernafasan), melalui kontak kulit, injeksi dan dengan konsumsi (ingestion). Penilaian pajanan adalah ilmu yang terlibat dalam mengkarakterisasi jalur (pathways), jalur waktu, dan besaran dari kontak individu dengan materi yang diteliti.
Menilai paparan secara jelas sangat penting ketika mempertimbangkan apakah seseorang mungkin menderita penyakit akibat bahan kimia dengan profil toksikologi yang dipahami dengan baik dan eksposur – hubungan respon. Penilaian keterpaparan juga merupakan bagian penting dari studi epidemiologi. Kesalahan klasifikasi paparan dan penggunaan metode kategorikal sederhana telah terbukti melemahkan kemampuan penelitian untuk menentukan apakah ada hubungan antara kontak dan hasil kesehatan yang buruk.
Efek kesehatan yang disebabkan oleh paparan suatu bahan akan bergantung pada cara bahan kimia tersebut bekerja pada tingkat organik, seluler, atau sub-seluler. Ukuran ideal pemaparan harus secara akurat mencerminkan ‘dosis’ atau jumlah material yang relevan secara biologis. Jika efek kesehatannya akut, metrik keterpaparan harus dikaitkan dengan dosis yang diterima dalam waktu singkat. Jika penyakitnya kronis, periode waktu pajanan yang relevan mungkin lebih lama dan karenanya pajanan kumulatif dapat menjadi ukuran yang lebih berguna.
Pengaturan batas pajanan pekerjaan yang diatur secara umum memungkinkan adanya perbedaan dalam efek kesehatan akut dan kronis ini. Batas jangka pendek, biasanya dua sampai tiga kali lebih tinggi dari batas jangka panjang, ditetapkan untuk eksposur pendek, intens dan ‘puncak’. Waktu rata-rata untuk batas ini biasanya 10 –15 menit. Batasan jangka panjang ditetapkan untuk melindungi kesehatan pekerja dari efek kumulatif dan didasarkan pada rata-rata eksposur selama 8 jam untuk mencerminkan durasi shift kerja yang khas.
Biomarker atau penanda biologis adalah indikator terukur dari suatu keadaan atau kondisi biologis. Biomarker sering diukur dan dievaluasi untuk memeriksa proses biologis normal, proses patogenik, atau respons farmakologis terhadap intervensi terapeutik. Biomarker digunakan di banyak bidang ilmiah. Biomarker juga dapat diklasifikasikan berdasarkan aplikasinya, seperti biomarker diagnostik, staging biomarker penyakit, biomarker prognosis penyakit (biomarker kanker), dan biomarker untuk memantau respons klinis terhadap suatu intervensi. Kategori lain dari biomarker termasuk yang digunakan dalam pengambilan keputusan selama pengembangan obat awal.
Sumberdaya manusia (SDM) di bidang kesehatan lingkungan dan K3 sangat berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan terutama dalam upaya pencegahan terjadinya penyakit akibat kerja (PAK). Berbagai upaya promotif – preventif dan kuratif – rehabilitatif dilakukan yang tentu saja aspek promotif & preventif memiliki porsi yang lebih besar sebagai upaya kesehatan masyarakat. Dalam bidang K3, upaya promotif & preventif dilakukan dengan melalui manajemen risiko yang ada di tempat kerja untuk mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Dalam bidang kesehatan lingkungan, upaya tersebut dilakukan dengan pendekatan antisipasi, rekognisi, evaluasi, dan pengendalian. Upaya tersebut untuk memastikan lingkungan kerja tetap dalam batasan yang aman bagi kesehatan manusia dan mencegah terjadinya pencemaran ke lingkungan.
Melalui SDM kesehatan lingkungan dan K3 yang profesional di bidangnya, hal tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memiliki meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan arah pembangunan kesehatan yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2016 dimana pada periode 2020-2025 proporsi upaya promotif dan preventif lebih besar dibandingkan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Gambar 4. Arah Pembangunan Kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2016)
Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…
Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…
Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…
Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…
Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…
Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…
This website uses cookies.