Ilustrasi foto: networkmagic.in
Oleh: Muhyidin, SKM
Dalam konsep Safety Resilience atau Keselamatan yang Berketahanan memiliki 4 aspek yang harus dipenuhi yaitu Learn, Respond, Monitor dan Anticipate.
Pada tulisan ini saya ingin fokus ke aspek Monitor saja.
Tujuan pemantauan (monitor) adalah untuk mengawasi apa yang terjadi di lingkungan eksternal operasi dan di dalam (internal) organisasi itu sendiri. Sebuah organisasi harus sesiap mungkin untuk apa yang bisa terjadi untuk mempertahankan keberadaan organisasi tersebut dan itu membutuhkan pemantauan. Kurangnya pengetahuan tentang apa yang terjadi di luar dan dalam organisasi, tidak mengetahui keadaan atau kesiapan organisasi, akan menghambat potensi untuk merespons. Mengetahui apa yang harus dicari, atau mampu memantau apa yang berubah, atau mungkin berubah, begitu banyak dalam waktu dekat sehingga memerlukan tanggapan. Pemantauan harus mencakup kinerja sistem itu sendiri serta perubahan lingkungan. Ini adalah kemampuan untuk mengatasi hal yang bersifat kritikal (Hollnagel, 2015).
Kemampuan merespon organisasi juga tergantung pada kemampuan memonitor. Tanpa proses monitor, sistem harus selalu dalam keadaan siaga tinggi untuk setiap kemungkinan kondisi di mana respons telah disiapkan. Itu tidak mungkin dan tidak masuk akal (dari sudut pandang ekonomi atau produktivitas). Tanpa pemantauan, tanpa semacam peringatan dini, setiap situasi akan menjadi kejutan. Itu jelas bukan kondisi yang berkelanjutan (Hollnagel, 2015).
Pemantauan yang dilakukan organisasi dapat didasarkan pada indikator atau tren. Indikator (dari kata Latin indicō yang berarti ‘menunjukkan’) adalah sinyal, tanda atau simbol yang mewakili nilai saat ini, besaran atau arah sesuatu. Tren adalah kecenderungan umum dari suatu peristiwa yang diukur dari waktu ke waktu, misalnya bahwa suatu nilai tumbuh atau berkurang. Di mana indikator memberi tahu organisasi apakah ambang batas telah tercapai sedangkan tren memberi tahu organisasi bahwa ambang batas dapat atau akan dicapai dalam waktu dekat (di masa depan) jika perkembangan yang mendasari berlanjut dengan cara saat ini. Pemantauan mungkin sering memerlukan sensor, peralatan, atau teknologi khusus, terutama ketika proses fisik atau fisiologis terlibat. Pemantauan dapat dilakukan secara lokal atau jarak jauh; dalam kasus terakhir akses ke teknologi komunikasi dan saluran transmisi sangat penting. Pemantauan dalam banyak kasus bergantung pada orang sebagai sensor atau penafsir, paling tidak jika fokusnya adalah pada proses sosial atau organisasi.
Kemampuan monitoring dilakukan untuk mengukur dan memantau kinerja HSE baik internal maupun eksternal perusahaan. Kemampuan monitoring ini akan meningkatkan juga kemampuan sistem untuk mengatasi kemungkinan risiko dan peluang yang muncul dalam waktu dekat. Pada umumnya, setiap kegiatan monitoring akan memerlukan data yang valid dan juga indikator yang tepat, seperti HSE Leading dan Lagging Indicator. Tujuan utama dari indikator kinerja adalah untuk memberikan dasar untuk mengetahui bagaimana sebuah organisasi, atau proses, melakukan. Untuk tujuan itu, masuk akal untuk membedakan antara tiga jenis indikator kinerja: (1) lagging indikator (indikator akhir), yang mengacu pada apa yang telah terjadi atau keadaan organisasi di masa lalu; (2) current indikator (indikator saat ini), yang mengacu pada apa yang terjadi sekarang atau organisasi keadaan saat ini dan (3) leading indicator (indikator awal), yang mengacu pada apa yang mungkin terjadi atau untuk kemungkinan keadaan organisasi di masa depan (Hollnagel, 2018).
Ada beberapa pertanyaan diajukan sehubungan prinsip Safety Resiliance, dalam kaitannya dengan pemantauan (monitoring), apakah prosedur yang diterapkan memastikan pemantauan perusahaan secara permanen. Pertanyaan yang digunakan untuk mendiagnosis pemantauan (monitoring) landasan dalam konsep Resilliance Engineering :
Di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini, organisasi perlu melakukan monitoring kondisi eskternal yang dapat mempengaruhi organisasi. Beberapa penelitian memprediksi pandemi ini akan berlangsung lama. Maka organisasi perlu memantaunya, misalnya untuk merencanakan program pencegahan Covid-19 di tempat kerja seperti program Rapid Test dan online screening bagi karyawan/kontraktor yang akan melaksanakan WFO (work from office), rencana program vaksinasi melalui program vaksinasi Gotong Royong dan program lainnya seperti penyediaan masker, sabun, hand sanitizer, poster & media komunikasi lainnya di tempat kerja.
Program-program di atas memerlukan perencanaan dari organisasi mulai dari keuangan, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Komitmen manajemen puncak dan dukungan dari semua elemen organisasi agar organisasi bisa tetap berjalan dengan baik. Pembentukan tim Gugus Tugas untuk memonitor perkembangan Covid-19 dan bagaimana organisasi meresponnya dengan cepat sangat diperlukan. Koordinasi dengan Gugus Tugas daerah tempat organisasi berada serta pelaporan dan penanganannya jika ada karyawan/kontraktor/keluarga yang terinfeksi Covid-19 bisa ditangani dengan cepat.
Peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh pemerintah perlu dipantau terutama yang dapat mempengaruhi organisasi. Sebagai contoh Undang-Undang Cipta Kerja dan Peraturan Pelaksana di bawahnya perlu dimonitor sehingga organisasi bisa mengantisipasi kegiatan/program yang akan ditempuh ke depannya. Undang-Undang yang mempengaruhi organisasi seperti terkait perizinan, perpajakan, tenaga kerja, lingkungan hidup, sistem pengupahan, dan lainnya perlu dimonitor dan disiapkan mitigasinya oleh organisasi. Begitu juga dengan standar lainnya, misalnya sertifikasi OHSAS 18001 yang sudah diganti dengan ISO 45001 dengan masa transisinya, standar teknis engineering di industri pada organisasi sejenis dan lainnya sebagainya perlu dimonitor dengan baik oleh organisasi. Program monitor yang baik akan membuat organisasi tersebut menjadi lebih siap menghadapinya karena sudah ada persiapan sebelumnya.
Organisasi juga perlu memonitor situasi keamanan dan ketertiban yang bisa mempengaruhi keselamatan dan keamanan karyawan. Monitoring bisa dilaksankn dengan koordinasi dengan Kepolisian atau instansi pemerintah lainnya. Misalnya ketika ada kejadian gangguan keamanan di suatu daerah tertentu, maka organisasi perlu memberikan travel warning kepada karyawan untuk tidak berkunjung ke daerah tersebut. Contoh lainnya yaitu jika terjadi demonstrasi di tempat lain maupun di area kerja perusahaan, maka organisasi perlu memonitor dan menyiapkan langkah-langkah yang tepat dalam menghadapinya.
Program internal monitoring dapat terbagi menjadi 3, yaitu:
Organisasi perlu memonitor lagging indicator yang telah disepakati dan disetujui oleh manajemen puncak. Lagging indicator dipasang di area pintu/gerbang utama kantor/lapangan orgnisasi berada dan di update secara rutin, misalnya tiap bulan, sehingga setiap orang yang masuk (karyawan, kontraktor, dan visitor) bisa melihatnya. Selain dipasang di pintu masuk, lagging indicator juga bisa ditampilkan di intranet, sehingga organisasi bisa memonitor lagging indicator tersebut setiap membuka intranet perusahaan/organisasi. Berikut ini contoh lagging indicator yang ada di perusahaan geothermal secara korporasi:
Organisasi perlu memonitor current indicator untuk melihat sejauh mana performa organisasi saat ini. Monitor diperlukan untuk memastikan sasaran yang ingin dicapai berada di jalur yang tepat, sehingga apabila ada deviasi maka bisa dilakukan penyesuaian dan tindakan yang perlu diambil. Misalnya untuk sektor konstruksi, aktifitas monitoring ini bisa dilakukan secara daring sehingga setiap karyawan bisa melihat progres detail proyek yang sedang dilakukan selama proses konstruksi.
Sementara itu untuk organisasi di sektor sektor pembangkit listrik, monitoring current indicator dilakukan secara real time untuk melihat performa Power Plant. Berikut ini contoh indikator yang bersifat kritikal pada industri geothermal (seperti konsumsi uap, tekanan turbin, suhu turbin, tekanan kondensor, laju alir uap, dll) yang dimonitor setiap hari. Program monitoring ini dilakukan oleh operator di lapangan dan bisa dilihat oleh tim lainnya seperti engineering dan maintenance serta pimpinan organisasi terkait lainnya yang diberikan akses. Apabila muncul alarm indikator, maka bisa dilakukan upaya perbaikan secara lebih cepat.
Untuk aspek keselamatan, monitoring lingkungan konsentrasi gas H2S di area sumur dan menara pendingin (cooling tower) serta monitoring sistem proteksi kebakaran sprinkler system juga dibuat secara real time dan bisa dilihat dari control room yang beroperasi 24 jam. Jika alarm tersebut berbunyi dan terdeteksi di ruang control room, maka operator bisa langsung melakukan tindakan yang cepat untuk meresponnya.
Leading indicator ini dimaksudkan untuk memprediksi terjadinya peristiwa di masa depan. Leading indicator adalah tindakan proaktif, preventif, dan prediktif yang memberikan informasi tentang kinerja efektif kegiatan program keselamatan dan kesehatan yang dapat mendorong pengendalian bahaya di tempat kerja. Beberapa leading indicator yang perlu dimonitor diantaranya:
Leading indicator ini perlu direview secara periodik oleh manajemen puncak dan dipasang di intranet organisasi sehingga setiap karyawan bisa melihatnya. Leading indicator juga bisa dipasang di area depan pintu/gerbang kantor/lapangn organisasi berada. Leading indicator umumnya berdampingan dengan lagging indicator untuk dimonitor secara berkala.
Referensi
Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…
Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…
Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…
Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…
Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…
Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…
This website uses cookies.