Ilustrasi foto: advancedct.com
Oleh: Muhyidin, SKM
Berikut ini contoh dari implementasi ataupun program K3 dengan pendekatan faktor manusia di tempat kerja.
Pada industri pembangkit listrik panas bumi (geothermal power plant), turbin uap merupakan suatu penggerak mula yang mengubah energi potensial uap panas bumi menjadi energi kinetik dan selanjutnya diubah menjadi energi mekanis dalam bentuk putaran poros turbin. Putaran turbin ini kemudian menggerakkan rotor generator sehingga menghasilkan listrik. Sebelum dilakukan pengadaan turbin uap ini, dibuat desainnya terlebih dahulu yang melibatkan berbagai department, mulai dari engineering, operasi, perawatan (maintenance), HSE (health, safety & environment), dan SCM (supply chain management). Proses routing approval, review dokumen dan sebagainya terdokumentasi dalam proses Management of Change (MoC) yang tercatat di dalam sistem secara daring. Beberapa pertimbangan dalam pembelian ini yaitu:
Dikarenakan pembelian turbin uap ini diproduksi di Jepang, setelah persyaratan disain dikirim dan dilakukan pembuatan turbin tersebut. Sebelum dikirim ke Indonesia, perwakilan beberapa departemen dikirim di Jepang untuk melakukan inspeksi, pelatihan penggunaan mesin & peralatannya, serta memastikan mesin berfungsi dengan aman ketika dilakukan uji coba disana.
Setelah produksi selesai, mesin turbin dikirim dan dipasang di Indonesia. Selain pemasangan mesin turbin, dilakukan juga pemasangan alat instrumentasi untuk memonitor kinerja mesin sehingga operator bisa memonitornya dari ruang Control Room. Tim operator, perawatan, engineering dan terkait lainnya diberikan pelatihan di lokasi (onsite training) langsung dari manufakturnya. Sistem alarm terpasang di Control Room sehingga jika ada alarm berbunyi operator bisa meresponnya untuk mengambil tindakan yang akan diambil berikutnya.
Area Control Room didesain sedemikian rupa agar ergonomis. Meja komputer dan display disusun se-ergonomis mungkin, mulai dari pengaturan pencahayaan, posisi monitor, telepon, sistem alarm, kursi yang ergonomis (bisa diatur naik turun, kanan kiri, dll).
Turbin uap juga dipasang safety valve, rambu peringatan dan alat pengaman lainnya, sehingga jika terjadi kerusakan/gangguan akan mencegah terjadinya kecelakaan dan kemungkinan kerugian lainnya. Terdapat juga tombol emergency stop untuk keadaan darurat. Setiap hari operator akan melakukan inspeksi untuk memastikan semua mesin berjalan normal dan tidak ada deviasi. Dalam 1 tahun dilakukan beberapa kali simulasi jika terjadi keadaan darurat di power plant sehingga operator dan pihak terkait terbiasa menangani berbagai kemungkinan yang ada termasuk jika ada kasus terburuk (worst case).
Dari sisi higiene industri, tiap tahun dilakukan noise mapping (pemetaan kebisingan) dan noise dosimeter (pengukuran kebisingan pada pekerja). Tim operator & perawatan diberikan pelatihan terkait bahaya kebisingan dan cara pencegahannya, termasuk dilakukan pemeriksaan audiometri secara berkala saat MCU tahunan.
Untuk memastikan konsistensi dan meningkatkan reliabilitas, SOP untuk pengoperasian dan perawatan dibuat. Secara berkala, SOP tersebut direview, termasuk jika terjadi gangguan/insiden di produksi dan dilakukan investigasi kecelakaan, maka SOP tersebut dapat direvisi untuk menggambarkan kondisi terbaru dan masukan dari hasil investigasi untuk perbaikan ke depan. Diharapkan dengan program-program tersebut yang telah menerapkan faktor manusia dapat meningkat performa reliabilitas dan performa keselamatan di tempat kerja.
Alat pelindung diri yang diperlukan di lapangan dilakukan assessment kebutuhan sesuai dengan bahaya yang ada di tempat kerja. Masukan dari berbagai department ditampung dan didiskusikan bersama. APD yang akan dibeli harus memenuhi spesifikasi minimal yang telah ditetapkan perusahaan. Sebagai contoh departemen perawatan memerlukan APD berupa safety helmet, safety gloves, apron, safety shoes, dan safety glass, maka mereka akan mengirimkan request jenis APD dan ukurannya. Tim HSE dan SCM selanjutnya akan mereview dan melakukan pembelian APD tersebut.
Saat di lapangan/tempat kerja, tim HSE dan leader dari departmen akan melakukan inspeksi termasuk kepatuhan karyawan terhadap prosedur K3 dan penggunaan APD-nya. Jika ada pelanggaran, maka karyawan dan supervisornya akan diberikan arahan. Temuan tersebut selanjutnya didokumentasikan ke dalam system agar di follow up oleh person in charge (PIC) di area tsb. Apabila terdapat kerusakan APD, maka karyawan bisa melakukan request penggantian melalui leadernya dan tercatat di sistem.
Apabila terjadi insiden (nearmiss maupun accident/kecelakaan) baik itu terkait keselamatan, kesehatan kerja & lingkungan (K3L) maupun insiden terkait terganggunya proses operasi, maka akan dilakukan pelaporan insiden ke dalam sistem pelaporan. Setelah dimasukkan ke sistem yang dimiliki perusahaan, maka otomatis leader dari area yang terdapat insiden tersebut akan mendapatkan notifikasi via email. Selanjutnya leader akan memverifikasi kejadian insiden tersebut dan menyetujuinya ke dalam sistem dan membentuk tim investigasi lintas department sesuai prosedur dan kriteria yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Untuk pelaporan nearmiss & insiden, semua karyawan dan kontraktor didorong untuk melaporkan kejadian tsb dan akan ditindaklanjuti oleh perusahaan. Bahkan, karyawan / kontraktor yang melaporkan nearmiss dan telah diverifikasi serta dimasukkan ke dalam sistem maka pelapor akan diberikan reward berupa souvenir dari perusahaan. Pelaporan bisa dilakukan siapa saja, baik lewat jaringan komputer maunpun lewat telepon genggam / handphone.
Tahapan investigasi insiden/kecelakaan kerja tersebut seperti di bawah ini:
Pengumpulan data adalah mengumpulkan semua fakta yang terkait dengan kejadian tersebut. Informasi yang harus dikumpulkan terdiri dari peristiwa dan kondisi sebelum, selama dan setelah kejadian; keterlibatan personil (termasuk tindakan yang diambil atau tidak diambil); faktor lingkungan; dan informasi lain yang relevan dengan kejadian tersebut.
Ketika melakukan proses pengumpulan data, 4P perlu diingat untuk memudahkan mengingatnya. 4P tersebut yaitu People, Position, Paper and Parts (Personil, Posisi, Dokumen, Bukti Fisik).
Terlepas dari ukuran insiden, tim yang terdiri dari berbagai departemen perlu memiliki campuran keterampilan dan pengetahuan yang tepat untuk mengidentifikasi akar penyebab insiden.
Peran yang tercantum di bawah ini bermanfaat untuk dipertimbangkan, tetapi ingat bahwa satu orang mungkin dapat mengisi lebih dari satu posisi:
Urutan peristiwa adalah kompilasi peristiwa yang diatur dalam urutan waktu. Idenya adalah bahwa seseorang yang melihat urutan dapat dengan cepat memahami peristiwa apa yang terjadi dan kapan. Urutan peristiwa adalah cara yang sangat baik untuk mengatur data dari suatu kejadian dan mencegah tim dari melompat ke kesimpulan.
Tepat sebelum menentukan akar penyebab masalah, kembangkan daftar sistem perlindungan (protective systems) yang diprakarsai (juga dikenal sebagai perlindungan/safeguard) yang mungkin terkait dengan insiden tersebut. Setelah teridentifikasi, tentukan apa yang ada dan bekerja, apa yang ada dan tidak berfungsi, dan apa yang tidak ada tetapi bisa berhasil. Latihan ini dapat mengungkapkan perlindungan tambahan. Sistem perlindungan dapat dianggap sebagai penghalang fisik (perangkat keras atau teknik / hardware or engineering) atau hambatan administratif (sistem manajemen).
Pada tahap ini, berdasarkan pengumpulan data, kita telah mengembangkan gambaran yang jelas tentang apa yang terjadi dalam urutan kronologis antara titik terakhir operasi normal dan insiden. Sekarang kita menggunakan urutan peristiwa tersebut untuk membantu mengatur informasi dan memfasilitasi pembuatan analisa menggunakan metode Why Tree maupun 5 Why untuk menemukan akar penyebab sebenarnya dari insiden tersebut. Kita mulai dengan penyebab fisik, diikuti oleh penyebab manusia dan, sebagian besar waktu, berakhir dengan penyebab tingkat sistem. Ada kalanya penyebab manusia adalah penyebab terendah yang dapat ditentukan.
Penyebab sistem umumnya kegagalan sistem manajemen atau kekurangan yang mengarah ke suatu insiden. Sistem manajemen merupakan campuran dari kebijakan, prosedur, peran dan tanggung jawab, dan proses kerja yang membentuk jaringan pendukung untuk organisasi. Contohnya termasuk prosedur usang, manajemen proses perubahan tidak ada, akuntabilitas kepemimpinan atau efektivitas komunikasi.
Investigasi jangan berhenti hanya sampai level manusia/orang (human) saja. Carilah hingga menemukan masalah hingga level system. Orang bisa berganti. Jika hanya menyalahkan orang saja, maka insiden dapat berulang dan akibatnya orang tidak mau melaporkan kejadian insiden tersebut.
Dalam mengkonfirmasi atau mengesampingkan kemungkinan penyebab fisik, manusia, dan sistem secara sistematis, verifikasi asumsi Anda dengan fakta. Gunakan metode berikut untuk memverifikasi penyebab:
Setelah diketahui akar masalahnya maka buatlah rekomendasi dari hasil investigasi insiden tersebut. Tim perlu mengidentifikasi tindakan atau rekomendasi korektif yang mengatasi bahaya langsung dan menghilangkan penyebab sistem yang diidentifikasi dalam insiden tersebut. Dalam membuat rekomendasi, buatlah secara SMART (specific, measurable, accountable, relevant, time limit).
Dokumentasi sangat penting karena beberapa alasan:
Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…
Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…
Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…
Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…
Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…
Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…
This website uses cookies.