Ilustrasi foto: esqnews.id
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ
“Kami menceritakan kepadamu ahsanul qasas dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelumnya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS: Yusuf: 3)
Perhatikanlah Surat Yusuf ayat 3 di atas, ketika Allah menyebutkan ada sebuah kisah dalam Al-Quran yang dinobatkan sebagai ahsanul qasas, yang artinya kisah yang paling baik.
Sebagaimana kita ketahui, Al-Quran banyak berkisah. Seperti Nabi Adam di surga, Nabi Musa melawan Fir’aun, para pemuda Ashabul Kahfi, hingga semutnya Nabi Sulaiman. Semua kisah yang tercantum dalam Al-Quran adalah husnul qasas (kisah yang baik). Namun ternyata Allah mendaulat satu di antaranya sebagai ahsanul qasas (kisah yang paling baik).
Tak lain dan tak bukan, yang terpilih sebagai ahsanul qasas adalah kisah Nabi Yusuf sendiri. Secara ringkas ceritanya dimulai ketika Nabi Yusuf dipisahkan dari ayahnya, sampai sang ayah kehilangan penglihatan karena banyak bersedih dan menangis.
Nabi Yusuf lantas menjadi pelayan rumah tangga bagi seorang pejabat pemerintah, namun beliau difitnah hingga dijebloskan ke dalam penjara. Berkat pengetahuan ta’wil mimpi yang dimiliki, Nabi Yusuf akhirnya bebas.
Ia kemudian diangkat menjadi petinggi kerajaan, hingga akhirnya Nabi Yusuf bisa kembali kepada ayahnya tercinta. Bahkan penglihatan sang ayah pulih lagi dengan izin Allah.
Dari rangkaian perjalanan kisah Nabi Yusuf di atas, terlihatlah mengapa cerita ini disebut sebagai ahsanul qasas. Karena pesan yang terkandung di dalamnya sangat jelas sekali kepada setiap mukmin, bahwa:
– Yang dipenjara kelak akan bebas
– Yang sakit kelak akan sembuh
– Yang berpisah kelak akan kembali
– Yang bersedih kelak akan bergembira
– Yang sulit kelak akan mudah
– Yang direndahkan kelak akan ditinggikan
Semua yang terjadi pada seorang mukmin itu akan indah pada waktunya. Maka tanamkan keyakinan kepada Allah bahwa segala rencana-Nya adalah yang paling baik. Penjara, sakit, perpisahan, kesedihan, kesulitan, atau direndahkan orang lain semuanya hanya sementara, dan kelak akan berganti dengan kebahagiaan sejati.
Yakinlah sepenuhnya kepada Allah, sehingga cerita hidup kita pun nanti akan menjadi ahsanul qasas versi kita sendiri.
Wallahu A’lam Bishawab
Wanita yang Dikirimi Salam dari Langit Dulu rumahnya semerbak gaharu dan gudangnya penuh sutra, emas…
Istri yang Menyerahkan Gilirannya Agar Tetap Membersamai Nabi SAW di Surga Ada seorang istri yang,…
Ternyata, Kewajiban dalam Rumah Tangga itu Sedikit Banyak pertengkaran rumah tangga bukan karena kurangnya cinta,…
Malam Ketika Al-Quran Diturunkan: Sejarah, Fakta, dan Hikmahnya Sepanjang sejarah, ada malam-malam yang lebih utama…
Pasukan Santri dalam Tubuh Kita: Belajar Ketekunan dan Pengorbanan Sel Darah Putih Pernahkah kita membayangkan,…
Strategi Iblis dan Seni Tipu Daya: Belajar Waspada dari "Pakar Marketing" Tertua di Dunia Iblis,…
This website uses cookies.