Wanita Tak Ingin Dimadu, Pria Ingin Taadud

Wanita tak mau dimadu
Ilustrasi foto: islamkafah.com
Bagikan

Wanita Tak Ingin Dimadu Sementara Pria Ingin Taadud

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Kemarin saya survey ke para senior, bapak2 paling tua di grup ini yakni angkatan ’96. Bukannya yang paling tua itu bang Deni ? Saya bukan paling tua tapi paling dewasa. Beda ya… ?

Saya tanya ke mereka : Misalkan nih misal ya… Ente jadi Si Doel yg gak sengaja punya istri 2 yakni Zaenab yang manis dan Sarah yg cantik. Trus mau diapain ?

The big five yaitu : Agus, Budi, Nursalam, Rudi, dan Zikri menjawab seragam ya udah diterima, tinggal dididik, diajarin ngaji. Duh… saya bersyukur mereka gak jadi pameran si Doel. Rano Karno ampe pusing bikin alur cerita agar permasalahan keduanya bisa selesai tanpa menyakiti salah satunya. Eee… ada yang enteng bilang : uda jadi istri kan ? ya uda mau diapain.

Budi yang pertama kali merespon WA menjawab : terlebih dahulu bersyukur kepada Allah sambil undang anak yatim 7 hari berturut2 kemudian akan membimbing keduanya. Jawaban keren sayang bukan keluar dari hatinya karena ternyata disampingnya ada ‘Dewan Pengawas’. Pantes aja jawabannya kayak ucapan Pak Tino Sidin : Bagus. ?

Selanjutnya Nursalam. Awalnya sih dia bilang pertanyaannya berat. Saya gak paham berat dimananya, apa berat di tanggung jawab atau berat karena gak bakal kesampaian. Gak nyampe semenit dia jawab bakal diajarin biar rukun dan patuh dan bisa bersinergi didik anak2. Dari semua yang jawab hanya Nursalam yang bawa2 anak.

Rudi jadi orang ketiga yang respon. Jawabannya singkat “ya tetep dijadiin istri”. Setdah… pertanyaan panjang2 jawabannya segitu doang. Emang kalo orang ketiga slalu bikin kacau keharmonisan. Saya timpalin lagi : udah gitu doang gak ada alasan lain. Kemudian dia jawab sebagai suami wajib didik istri, kalo gak (dididik) ntar orang lain yang nge-didik. Duh.. nyesel saya tambahin pertanyaan ini. ?‍♂

Selanjutnya Agus jawab diperlakukan dengan baik sebisa yang dia mampu. Saya pertegas jadi diterima kedua2nya. Dia jawab kan sudah dinikahi, ya diterima. Ini ambigu, gak jelas. Dia gak yakin bisa tegas mendidik istri tapi menerima keduanya. Dasar laki2… ? Tapi untung terakhir dia kasi note : di dunia nyata dia gak akan bisa seperti si Doel, ummi ane pasti ngamuk dan jatuh sakit kata Agus. Good lah… anak mami.

Zikri jadi the last man answering. Jawabannya tegas : dioptimalkan. Lha tiba2 saya jadi ingat posyandu. Kalian tau jika kesehatan balita menurun disuatu tempat maka fungsi posyandu harus dioptimalkan. Nah kira2 begitulah Zikri akan memfungsikan istrinya.

Angkatan ke bawah gak saya tanya, uda bakal sama jawabannya : TERIMA bang… Begitulah laki2, fitrah mereka adalah poligami sementara fitrah perempuan adalah monogami. Islam datang menyelaraskan keduanya. Mengatur syarat2nya agar tak ada yang terzhalimi.

Fitrah poligami ini demikian kuat sampe dalam hal yang absurd pun laki2 tak rela jika ada anak gadis cantik yang direbut orang lain. Saya chatting ama Iqbal, terakhir saya tulis “kayaknya jodoh nih. Ente jodoh ama temen ente. Saya jodoh ama Ayana Moon.” Iqbal langsung nanggepin “halu”.

Padahal kita sama2 tau itukan cuma sekedar tulisan, tapi seakan2 Iqbal gak rela Ayana diambil. Saya chatting ama Ferry pun sama cuma subyeknya Nissa Sabyan. Beda halnya jika saya chatting ama emak2. Walau belum pernah ditanya tapi saya yakin mereka akan jawab “Ooh.. gak pa2 yang penting bisa adil, bisa bla bla bla” sambil kasi wejangan bergizi. Hal ini bukan karena mereka lebih dewasa dari bapak2. Bagi mereka asalkan bukan suaminya yang taadud maka tak masalah. ??

Mereka akan menjelma jadi malaikat. Semua boleh taadud asal bukan suaminya.

Poligami naik daun lagi sejak ada kasus kelompok ta’aruf di bonbin Ragunan. Sekelompok akhwat bercadar menyediakan dirinya untuk dipoligami. Yang minat silakan datang ke bonbin guna liat ‘barang’, begitu kira2 misinya. Serem ya..? Gak sih. Namanya juga akhir jaman, asal gak zina boleh2 aja. Tapi kan kurang adab. Nah kalo bicara adab maka perhatikan keterangan berikut.

Semua Rasul yang diutus di muka bumi sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad ﷺ membawa misi tauhid, pengesaan Allah swt.

Tidaklah Kami mengutus sebelum engkau [Muhammad] seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; tidak ada ilah [yang benar] selain Aku, maka sembahlah Aku [saja].

(QS. Al-Anbiya’: 25)

Yang dimaksud pengesaan Allah adalah termasuk menjauhi thaghut sebagai tandingan dari Tuhan. Tauhid itu tidak cukup dengan menyembah Allah saja tapi juga menjauhi Thaghut.

Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul [yang berseru]: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.

(QS. An-Nahl: 36)

Dalam surah Al A’raaf dirinci ucapan para rasul dalam menjelaskan misi sucinya ini di muka bumi.

Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya. (QS. Al-A’raaf: 59).

Dan kepada kaum ‘Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya. (QS. al-A’raaf: 65).

Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya. (QS. Al-A’raaf: 73).

Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu’aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya. (QS. Al-A’raaf: 85).

Adakah pernah kalian baca para nabi dan rasul mendakwahkan taadud ? Tidak ada. Tidak pernah kita dengar perkataan nabi : “Wahai kaumku bertaadudlah kalian”. Memang beberapa nabi ada yang berpoligami seperti nabi Ibrahim, Daud, Sulaiman, dan Muhammad ﷺ. Namun tidak pernah mereka mendakwahkan taadud. Yang didakwahkan oleh mereka semua adalah TAUHID sebagaimana dijelaskan dalam ayat2 diatas.

Lalu segelintir orang bicara taadud, bikin status tentang taadud, bikin perkumpulan suami poligami, dan ngajak2 orang taadud. Hidupnya habis buat poligami. What..? lalu dimana tauhid sebagai risalah setiap nabi ?

Hukum nikah itu seperti sholat jenazah. Kalian gak sholat gak pa2, gak dosa. Mau foto2in orang yang lagi sholat gak pa2 atau mau selfi bareng mayit juga gak pa2. Kalian tidak akan disebut penentang syariat jika tidak sholat jenazah. Tapi seakan2 bagi sebagian orang taadud adalah syariat yang mesti dilaksanakan, seolah2 sunnah muakadah atau mendekati hukum wajib.

Berlinang air mata saya membaca kisah seorang istri sedang hamil ketiga sementara suaminya bicara terus menerus tentang taadud. Dalam keputusasaan si istri membolehkan suaminya poligami. Pekerjaan suami berdagang kalo uda selesai pulang ke rumah, banyak nganggurnya. Selama ini ekonomi keluarga ditopang oleh saudara2 dari istri. Hidup dalam satu atap aja uda susah bagaimana lagi dengan dua atap.

Taadud itu hukum Allah. Dirusak oleh orang2 miskin yang melaksanakannya. Ini sama halnya dengan hukum potong tangan bagi pencuri. Tanpa ada seruan, tanpa ada dakwah sebelumnya, dan tanpa adanya ekonomi Islam tiba2 dibuat hukum potong tangan bagi pencuri. Berapa ratus ribu tangan yang bakal terpotong dengan sistem ini.

Orang2 miskin yang beli berasnya literan melaksanakan taadud, berapa puluh wanita terzhalimi oleh ulah mereka.

Bab taadud bukan bab yang diperdengarkan di pengajian2. Bab yang dibahas dalam pengajian itu umumnya thaharah, sholat, puasa, tauhid, dan muamalah.

Laki2 punya nafsu untuk taadud, itu wajar. Perempuan menolak dimadu, itu juga wajar. Jangankan para perempuan, nabi Muhammad ﷺ pun melarang putrinya Fatimah dimadu oleh Ali bin Abi Thalib. Dan Ali pun tak keberatan dengan syarat ini. Kenapa pernikahan mereka bisa langgeng berdua tanpa ada wanita lain ? CINTA jawabannya.

Ali adalah pemuda miskin yang ingin melamar Fatimah. Dalam perjalanannya Fatimah pernah dilamar oleh pengusaha sukses seperti Abu Bakar atau orang terkenal seperti Umar bin Khathab. Namun keduanya ditolak oleh Rasulullah ﷺ, padahal kurang sholeh apa Abu Bakar dan kurang hebat apa Umar. Justru lamaran Ali yang miskin yang diterima Rasulullah ﷺ. Menikahlah Ali dengan mahar tameng Huthamiyah seharga 4 dirham (setara dengan 288 ribu rupiah). Itu tameng dulunya boleh dikasi oleh Rasulullah ﷺ, tanpa pemberian itu Ali tak punya apa2. Ali tak melupakan sejarah ini.

Tak ada dari kita yang saat menikah sudah punya mobil atau rumah. Paling hebat punya motor, itupun masih kredit. Kondisi ekonomi kita 11-12 ama kondisi Ali bin Abi Thalib. Cuma soal cinta bagai langit dan bumi. Cinta Ali kepada Fatimah luar biasa hingga tak pernah menduakan bahkan berpikir menduakan Fatimah. Sementara cinta kalian kepada istri, aah… sudahlah.

..

..

..

Yang penting kalo nanti cuaca mendung lagi, buruan kalian WA istri tanya ujan apa gak di rumah.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: