Sesuatu Itu Ada Tempatnya

sesuatu ada tempatnya
Ilustrasi foto: ashabulkahfie.com
Bagikan

Sesuatu Itu Ada Tempatnya

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Awal bulan kemarin saya kondangan di Hotel Convention Pondok Indah. Yang undang orang kaya, jelas mewah. Namanya undangan orang kaya, kita pantesin baju dan sepatunya. Mobil yang uda sebulan kotor, pagi2 saya belain cuci bersih.

Masuk ballroom nya, masya Allah bagus bener terutama bagian atasnya belum pernah saya liat yang seperti itu. Panitia menyediakan kursi dan meja panjang di tengah. Wah model di Hotel Mulia nih, pikir saya. Walau belum pernah ke hotel Mulia cuma saya dengar dari sodara yang datang hajatan artis Sandy Aulia tamunya duduk di kursi, pelayan yang mondar mandir ambil makanan yang mereka inginkan. Udah kayak di surga aja. ?

Konsep model gini keren abizz, memanjakan tamu. Ntar bakal saya videoin buat ledekin Feri yang diminta bikin video santunan gak selesai2. ??

Sebelum ucapan selamat ke mempelai, MC ngomong berulang2 tentang larangan makan sambil berdiri seraya menyebutkan haditsnya. Gak pa2lah nasehat seperti ini, kan disediain kursi masa iya masih ada yang berdiri, batin saya. Awalnya saya pikir dari pihak mempelai ada yang salafy ternyata dari kelompok Hidayatullah.

Selesai salaman saya cari makan. Sasaran pertama pondokan. Puter2 pondokan gak ada yang sepi. Semua pondokan antri panjang ternyata tamunya banyak. Waah kapan makannya ? yang lumayan pendek antrian somay. Saya antri, alhamdulillah dapet 4 item. Jelas gak nendang wong perut laper apalagi waktu menunjukkan jam 11.30. Antri lagi di kebab dapet setengah potong.

Jam 11.45 pondokan kambing guling tutup, saya mulai berpikir jangan2 tamunya lebih banyak dari menunya. Semua antrian masih panjang saya banting stir ke menu utama. Dan ternyata habis… ?  wah kacau nih mana dari pagi perut hanya diisi kue doang. Sengaja perut saya kosongin karena tau ini kondangan kelas kakap.

Dari korek2 menu utama saya dapet semacam lasagna dan daging tanpa nasi, iya nasinya habis. Saya ambil gak banyak kasian yang masih antri. Cari minum gak dapet ! Ini serius saking banyaknya tamu waktu saya antri somay disebelah saya ada minuman es teh, selesai antrian minuman itu habis. Ada minuman air es tapi gak ada gelas, saya cari gelas ke dalam balik lagi airnya habis… ?

Kira2 jam 12 setelah melakukan intelejen tingkat tinggi, saya liat di menu utama ada lauk. Buru2 saya ambil piring dan dapatlah nasi setengah sendok beserta 2 potong tahu tepung di meja dalam dan oseng2 kacang panjang di meja luar. Kalo gak gerilya kayak gini mana bisa ketemu nasi. Kenyang ? Gak. Makanan segini cuma buat kenyangin cacing di perut doang.

Jam 12.30 sebelum pulang, hasil dari jagain meja utama datanglah mie goreng, sepertinya tambahan karena masih panas mungkin dibuat karena makanannya uda habis, pikir saya. Namun piringnya gak ada, untung saya telah melakukan pengamatan menyeluruh. Dengan cepat saya ambil piring di meja pondokan dan tralala… makanlah kami sekeluarga mie goreng.

Alhamdulillah sepulang kondangan saya masuk angin. Akibat telat makan plus kena AC yang dingin.

Ayo tebak apa yang mau saya sampaikan…?

MC itu trus menerus mengungkap tentang larangan makan sambil berdiri. Setiap 10 menit selalu keluar hadits dari mulutnya sementara jumlah makanan kronis. Bukan hanya itu bahkan di beberapa tempat ada poster yang menghimbau tidak makan sambil berdiri. Saya yang makan berdiri sambil antri pondokan aja masih gak kebagian, apalagi pake acara duduk.

Alhasil nasehat itu tiada guna. Yang duduk karena emang mau duduk atau lagi jagain barang. Yang bikin saya kuatir adalah sikap orang2 terhadap hadits tersebut dengan kondisi seperti itu. Mereka akan melecehkan hadits dan ini terjadi karena MC salah timing saat memberi nasehat.

Dulu ulama uda wanti2 perihal memperdengarkan bacaan Al Quran di pasar, mereka melarangnya. Kita tau pasar tempat orang jual beli bukan untuk mendengarkan tausiah termasuk bacaan Al Quran. Memaksakkan bacaan Al Quran disana hanya akan menyebabkan Al Quran dicuekin. Hilang kemuliaan Al Quran kalo seperti ini. Di mobil pun sama, kalo kita stel murottal tapi kita ngobrol dengan keluarga lebih baik stel yang lain atau matikan. Itu sama aja gak menghargai Al Quran. Sebab Allah Ta’ala telah berfirman

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat (Al Araf : 204)

Kalo ada bacaan Al Quran harus didengarkan, kalo gak mau dengerin ya jangan distel. Begitupun dengan penyampaian hadits muslim tentang larangan makan sambil berdiri. Pertama makan sambil berdiri hukumnya makruh bukan haram. Kedua kondisinya tidak tepat. Kalo jumlah makanannya unlimited sehingga undangan gak perlu rebutan dan antri panjang uda pasti orang makan nyari kursi. Namun jika kondisinya seperti yang saya ceritakan diatas bahkan ketika seorang akhwat dengan wajah perpaduan antara Ayana Moon dengan Melody JKT48 tapi lebih cenderung ke Anisa Rahma… ? Bingung ya ? Intinya ini akhwat cantik.

Trus ini akhwat ngapain bang ? Gak ngapa2in, saya cuma mau cerita disana ada akhwat cantik aja jadi kalian gak perlu jauh2 ke Serang buat liat mahasiswi kebidanan kampusnya Feri.

Saat akhwat ini menasehati saya yang sedang makan mie goreng untuk duduk di kursi, saya cuma basa basi mengiyakan aja. Udah speechless duluan di kondangan ini. Pengen banget saya toyor mulutnya MC yang terus ngomong jangan makan sambil diri. Dia gak tau apa boro2 makan, minuman aja susah dapet. Untung keburu dateng akhwat cantik yang meluluhkan hati saya… cie cie cie. ?

14 abad yang lalu Al Quran sudah wanti2 agar penyampaian nasehat tepat sasaran.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.  (An Nahl : 125)

Allah tegaskan penyampaian dakwah harus dengan hikmah, kemudian turun lagi dengan mauizatul hasanah kemudian turun lagi dengan debat yang baik. Penyampaian kebaikan tidak asal ucap, tidak asal yang penting sudah disampaikan. Jika orang main asal2an malah berakibat Islam dikreditkan. Dia bukan lagi berdakwah meninggikan agama tapi malah menghancurkan agama ini.

Kemarin sabtu ada aksi mujahid 212, aksi yang bertujuan meneguhkan eksistensi Islam di negara ini. Namun bodohnya ada oknum HTI yang bawa spanduk bertuliskan : “Ganti rezim ganti sistem, saatnya syariah saatnya khilafah”. Ini bodoh kuadrat namanya. Pemerintah lagi nyari kambing hitam atas kasus kerusuhan demo kemarin, sebelumnya Wiranto uda ngomong aksi mahasiswa ditunggangi islam radikal. Eee… muncul spanduk mengundang kayak gini.

Kalian liat tak satupun, iya tak satupun ulama yang komentar atas demo rusuh kemarin sejak awal hingga sekarang. Ustad Salim Segaf malah asyik bikin kajian kitab An Nashoihud Diniyah di rumahnya hari Selasa malam. Kenapa mereka diam ? Agar umat ini juga diam, cukup menonton saja. Karena fitnah yang dilancarkan penguasa sangat masif. Sekali saja ulama bersuara maka semua tuduhan akan mengarah kepada mereka.

So… camkan baik2 segala sesuatu ada tempatnya. Tidak setiap kebaikan dapat diungkapkan. Liat situasi dan kondisinya. Itu sebabnya perlu pemahaman yang baik dari setiap muslim. Kalo belum paham ya ikutin ulama, jangan ikutin u-baru, rusak ente.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: