Rule No.2: Pintu Rezeki

Pintu rizki
Ilustrasi foto: kabarmakkah.com
Bagikan

Rule No.2: Pintu Rezeki

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Kesalahan kita adalah meyakini rezeki hanya datang lewat usaha/kerja. Mau dapet duit ? makanya kerja. Anak2 dididik sedari kecil agar belajar di sekolah favorit trus kuliah di UN trus kerja di perusahaan plat merah dan kalo uda kaya baru menikah. Begitu pola yang dibangun. Ingin sukses maka tiru cara2 yang dilakukan konglomerat. Beragam cara menjadi kaya datangnya dari orang2 kafir workaholic sehingga tak mengenal Tuhannya. Ada konglomerat perempuan Cina punya kekayaan milyaran dollar (pernah saya baca di google tapi lupa namanya) gak pernah datang ke sekolah anaknya bahkan untuk ambil raport. Hidupnya disibukkan oleh kerja, kerja, dan kerja. Dia boro2 kenal Tuhan, anaknya aja lupa. Kalo ayah lupa keluarga karena sibuk kerja itu biasa tapi kalo ibu lupa anak itu luar biasa.

Rusak nilai kasih sayang akibat kesalahan orang2 kafir. Ee… orang muslim ngikutin. Si kafir gak kenal anak masih kaya, lha yang muslim uda hancur2an ama keluarga tetep kere. Beragam tips kesuksesan dari Jack Ma, Steve Jobs hingga Michael Dell dipelajari. Semua nasihat mereka diikuti hingga dia sukses menjadi peniru tapi gagal jadi orang sukses.

Iyalah.. tips, cara, trik, strategi, dsb bisa dicopy tapi hasilnya tidak bisa di-paste.

Secara tidak sadar kita telah membatasi kekuasaan Allah yang tiada batas, keyakinan kita melemah. Yang namanya uang diyakini ada jika bekerja di kemenkes, RS, sekolah, kantor, philantrophy, atau berniaga. Rezeki yang besar itu ada pada perusahaan di sepanjang jalan Sudirman. Level kedua di sekitaran Kuningan. Begitu yang dipahami orang awam.

Padahal Allah katakan rezeki kita ada di langit, dimanapun berada selama masih bernaung dibawah langit maka selama itu ada rezeki.

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. (Adz Dzariyat : 22)

Rezeki itu bukan bernaung di gedung2 perkantoran, gedung pemerintahan, atau bernaung pada seseorang. Hebatnya ayat ini, Allah tidak hanya memberitahu bahwa di langit lah ada rezeki kita tapi juga kasi tau bahwa di langit lah terdapat apa yang dijanjikan. Selama langit masih ada maka selama itulah rezeki kita masih ada. Jika langit runtuh yakni saat kiamat maka tak ada lagi rezeki bagi semua mahlukNya. Atau jika kita sudah tidak bernaung diatas langit yakni saat mati maka rezeki kita sudah tidak ada. Ayat ini memberi ketenangan (seharusnya).

Paham ya… jangan membatasi kekuasaan Allah dalam pikiran kita. Siapa yang menyempitkan kemampuan Allah dalam hal membagi rezeki maka rezekinya akan sempit. Sebaliknya yang meyakini keluasan rezeki Allah maka rezekinya akan luas. Ini namanya keyakinan. Bekerja bukanlah satu2nya pintu rezeki yang ada di dunia ini.

Ayat di atas tidak sendirian, dalam ayat lain Allah tegaskan jaminan rezekiNya kepada manusia.

1.           Rezeki yang Telah Dijamin

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Hud : 6)

2.           Rezeki Hasil Usaha

“Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An Najm : 39)

3.           Rezeki karena Bersyukur

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim : 7)

4.           Rezeki karena takwa & tawakkal

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

5.           Rezeki karena Istighfar

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

6.           Rezeki karena Menikah

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu, baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An Nur : 32)

7.           Rezeki karena Anak

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (Al Isra : 31)

8.           Rezeki karena Sedekah

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Al Baqarah : 245)

Ada jaminan 8 pintu rezeki dari Allah Ta’ala namun manusia tidak meyakininya. Banyak yang sibuk kerja sehingga tidak tahu agama. Berbondong2 jutaan manusia menyemut pada satu pintu rezeki karena usaha. Job Fair kemarin di Serang ribuan orang antri sampe pingsan. Tidak sedikit yang meninggalkan sholat demi mendapatkan panggilan kerja. Belum kerja sudah mendurhakaiNya, gimana lagi kalo uda kerja ?

Aah.. sok tau nih, bang Deni tau dari mana mereka gak sholat, emang nanya ke Feri penguasa Serang ? Gak lah. Orang segitu banyaknya gimana sholatnya. Lagian masjid mana, jika ada, yang bisa tampung ribuan jamaah. Kalo ada musholla pun gak bakal bisa tampung. Ujung2nya di jama’, itupun kalo inget.

Manusia takut miskin itu sebabnya segala upaya ditempuh demi selembar rupiah. Kenapa ada rasa takut ini ?

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. [ QS. Al Baqarah : 268 ].

Setan bikin was-was ke dada manusia. Dihembus2kan kekuatiran, kecemasan, kegelisahan, keresahan, dan semua bentuk ketakutan akan rezeki. Sehingga dipuncak ketakutannya itu tatkala setan menyuruh manusia berbuat kejahatan maka manusia pun mengikutinya. Entah sudah berapa banyak kita mendengar penjambret beraksi demi sekaleng susu atau biaya operasi anaknya, pelacur berkeliaran demi ekonomi rumah tangga. Iya.. semua kejahatan itu karena motif ekonomi dan diawali oleh was-was.

Ada 8 ayat Allah menjanjikan rezeki dan hanya 1 ayat setan menjanjikan kemiskinan. Mana yg kalian yakini  rezeki atau kemiskinan ? coba kalian jawab.

Saya ubah pertanyaannya. Allah berjanji 8 kali sementara setan berjanji sekali, janji siapa yang dipercaya ?

Saya ubah lagi. Antara janji Allah dengan janji setan, mana yang kalian percayai ?

Sudah pasti jawaban kalian semua adalah JANJI ALLAH. Apa bener begitu..? kalau bener begitu berarti target santunan yatim 30 juta ketutup dong…..

 Ngomong emang paling gampang, buktinya keyakinan kita terhadap 8 kali janji Allah kalah oleh sekali omongan setan.

“Rezeki itu seperti hidangan di meja ini”, kata saya kepada Budi. “Ada air, cilok, amplang, dan emping. Tinggal kemauan ente mau ngambil yang mana”.

Iya segitu mudahnya Allah buat bagi kita sebagai mahlukNya. Ada banyak pintu disediakan sebagaimana ada banyak hidangan. Semua sudah terhampar hanya diperlukan upaya kecil dari kita yakni menggerakkan tangan mengambil rezeki tersebut. Manusia diberikan kebebasan untuk memilih, dia mau nentuin sendiri rezekinya diluar yang terhidang. Yang ada usahanya gagal, bisnisnya bangkrut, dan upayanya kandas.

Ada kenalan saya broker batubara. Satu ketika ada investor Cina yang mau beli batubara di Indonesia, dia sampe terbang ke Cina pake duitnya sendiri untuk urus ini. Ujung2nya malah gagal. Uang habis belasan juta hanya untuk hal yang sia2. Duit dapetinnya susah malah hilang percuma, uda bagus tuh duit bukan boleh pinjem. Kalau boleh ngutang gimana ngembaliinnya. Ini contoh orang yang tidak mendapat kemudahan.

Ternyata saat menjemput rezeki yang sudah ditetapkan pun manusia membutuhkan kemudahan. Agar tak salah jalan atau agar tidak jatuh bangun trus. Kalo masih bisa bangun masih mending. Yang parah yang jatuh jatuh gak pernah bangun. Jadi yang perlu dicari sebelum mencari rezeki adalah kemudahan mendapatkannya.

So…kalian yakin dengan janji Allah perihal rezeki ? Jika yakin tentu hidupmu takkan sesulit ini. Astaghfirullahal ‘azhim. ??

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: