Pemberian Itu Harus Membahagiakan

PemberianHarusMenyenangkan
Ilustrasi foto: majalahnabawi.com
Bagikan

Pemberian Itu Harus Membahagiakan

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Amal sedekah itu harus membahagiakan si penerima. Walau secara normal setiap orang akan bahagia jika diberi sesuatu namun ada pemberian yang menyakiti perasaan si penerima

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian batalkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti (yang diberi). (QS. Al-Baqarah [2]: 264)

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

QS. Al-Baqarah [2]: 262

Yang dilarang bukan menyebut pemberian tetapi mengungkit2 pemberian sehingga menyakiti perasaan si penerima. Islam tegas melarang ini bahkan menggolongkan orang tersebut dalam kelompok rugi.

Ada riwayat dari sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Tiga golongan manusia yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat, tidak melihat mereka, tidak mensucikan dosanya dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.”
Abu Dzar berkata lagi, “Rasulullah ﷺ mengulanginya sampai tiga kali.

Abu Dzar berkata, “Mereka gagal dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?”


Beliau ﷺ menjawab,
الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
“Orang yang melakukan isbal, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang (berusaha) membuat laku barang dagangan dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 106)

Ntah bagaimana saya bersyukur 3 kali ngadain santunan selalu membuat bahagia si penerima.

Bertahun2 hidup mengasuh anak yatim (kecuali Nisa yang belum setahun) tiba2 datang alumni FKM membawa silaturahim sekaligus sumbangan. Gak pernah komunikasi, gak pernah ada berita tau2 nongol 2 pria di rumah mereka. Jika nabi Luth terkejut didatangi 2 laki-laki ganteng sementara mereka terkejut campur bahagia didatangi kami yang kelewat ganteng, maksudnya gantengnya uda lewat sekarang sisa tuanya… ?

Aah… bisa aje nih bang Deni. Sebetulnya mereka surprise ketika kami memberikan bantuan sumbangan 5 juta rupiah. Nominal yang jauh lebih besar dari UMP Jakarta saat itu yang masih 3,65 juta. Semua feedback yang mereka berikan berisi kata surprise. Gak menyangka keberadaannya masih diingat oleh rekan2.

Lagi2 mereka surprise untuk kedua kalinya saat kami ajak belanja sepatu dan baju pada santunan kedua di bulan Dzulhijjah tahun berikutnya. Sesuatu yang mungkin jarang mereka lakukan sejak sang pengayom tiada. Pilih yang bagus, kata saya. Ini yang ngomong mantan purchasing hotel yang kalo beli barang mengutamakan kualitas bukan harga. Kalian kalo nginep di hotel trus liat barang2 disana maka jangan bandingin dengan di rumah. Bisa lieur, semua produk luar. Sendok dan garpu hotel tebel2 beda dengan di rumah yang gampang penyok.

Oh iya sebelumnya anak yatim kami belikan tas merk Alto karena di mall tasnya jelek2. Mulailah kami bombardir mereka dengan kebahagiaan. Pertama saat belanja, kedua saat kami ajak makan kebuli, sumbangan dari orang baik. Ketiga kami bekali dengan uang saku 2,5 juta per keluarga. Keempat transportasi mereka PP dari rumah ke lokasi via gocar diganti. Sudah ? Belum masih ada lagi yang kelima, bom terakhir.

Verry saya minta transfer sisa uang 3 pekan kemudian. Mereka kaget, ini uang apa kan kemarin udah dikasi. Apalagi melihat nominalnya 5,1 juta. Tak menyangka bakal dapat sumbangan lagi, ucapan syukur dan terima kasih tak henti2 mereka sampaikan. Dan yang penting adalah doa mereka untuk panitia dan para donatur.

Emang bener kata orang yang bilang kalo hidup ingin bahagia maka bahagiakan orang lain. Seperti disebutkan dalam hadits berikut.

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.”

HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453.

Intisari dari kegiatan kita adalah menghilangkan kesusahan, utang, dan lapar sehingga menimbulkan kebahagiaan. Semua tujuan diatas kita gabung dalam satu kegiatan yakni santunan alumni FKM. So.. jika kalian bersedekah, upayakan sedekahmu menimbulkan raut kebahagiaan di wajah penerima. Bisa dengan nominal uang yang tak terduga, waktu pemberian yang tak disangka2, atau item pemberian.

Ramadhan kali ini kita ulangi lagi kebahagiaan di wajah keluarga yatim FKM dengan cara yang berbeda. Di tengah wabah corona yang mengakibatkan kesulitan ekonomi tiba2 muncul notif transferan uang 1 juta di rekening mereka. Lebih surprise daripada dulu didatangi 2 laki-laki kelewat ganteng. Biasanya santunan diberikan akhir Ramadhan atau Dzulhijjah, sekarang sebelum Ramadhan uda dapet santunan.

Mereka surprise sih biasa bang. Oo…jangan salah, awal Ramadhan kemarin masuk lagi notif ke rekening mereka. Lho kan uda diberikan qo dikasi lagi, begitu pertanyaan mereka. Begitu terharunya mereka dengan pemberian ini hanya satu kalimat yang bisa diucapkan : “Semoga Allah membalas amal bapak dan ibu”. Secara jumlah santunan tahun lalu lebih besar dari sekarang namun secara waktu santunan sekarang lebih berarti karena ada kondisi corona. Amal seperti ini yang akan dicintai Allah, amal yang mengantarkan kepada kebahagiaan. Jangan kita yang rutin sedekah selalu monoton dalam pemberian. Monoton nominal atau monoton dari sisi waktu, nanti orang uda gak surprise lagi dan kebahagiaan jadi hilang. Paham ya…?

Akhirnya saya berhasil mempertahankan ciri khas penulisan tanpa bisa direvisi. Orang lain punya ciri khas gaya bahasa, saya punya ciri khas nama. Walau paragraf ini gak penting tapi harus ada demi sebuah tujuan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: